Teungku Paya Bakoeng

Teungku Paya Bakoeng

Oleh Taqiyuddin Muhammad

 

Masjid-dan-Makam-Tgk-Chik-Paya-Bakoeng
Kompleks Masjid dan Makam Teungku Chik Paya Bakoeng (foto: Dok. CISAH)

 

BELUM diketahui secara pasti sejak kapan di Paya Bakoeng didirikan sebuah lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan dayah. Namun, dayah ini telah terkenal sejak sebelum 1899 (Ahmad, dkk, 1993: 63). Sejak ± 1903, Dayah Paya Bakoeng di bawah pimpinan Teungku Paya Bakoeng atau Teungku Di Mata Ie, dan bersama-sama dengan menantunya, Teungku Di Barat, telah banyak menarik murid-murid dari seluruh Aceh (Alfian, 1987: 214).

Nama asli Teungku Paya Bakoeng atau Teungku di Mata Ie adalah Muhammad Khatib (Keterangan Aboe Bakar dalam terjemahan buku “Aceh” karangan H.C. Zentgraaff (1983) halaman 168). Gelar Teungku Di Mata Ie bermakna tuan dari segala mata air sungai-sungai Pasai, Keureuto dan Jamboe Aye (Zentgraaff, 1983: 168).

Mengenai asalnya, T. Abdul Aziz (71 tahun), tokoh tua di Paya Bakoeng, mengaku pernah mendengar orang-orang tua di gampongnya dulu mengatakan bahwa Teungku Paya Bakoeng berasal dari Bantan (Banten). Hubungan Aceh dengan Banten nampaknya memang sangat erat sampai dengan waktu itu hingga tidak mustahil bila tokoh-tokoh ulamanya saling berganti kedudukan.

Teungku Paya Bakoeng adalah ulama yang selalu berada dalam kelompok Teuku Cut Muhammad atau Teuku Chik Di Tunong. Yang terakhir ini, yang juga merupakan suami dari pahlawan wanita terkenal, Cut Meutia, adalah seorang pejuang yang telah turut serta melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama-sama dengan Sultan Aceh dan Panglima Polem, terutama ketika daerah Pasai dijadikan sebagai pusat pertahanan.

Karena jasa-jasanya kepada Sultan, Teuku Chik Di Tunong diangkat menjadi uleebalang Keureuto dengan sebuah surat pengangkatan ber-cap sikeureung (cap Kerajaan Aceh). Sebagai seorang uleebalang yang diangkat Sultan di wilayah Keureuto yang luas, ia dengan demikian juga merupakan pimpinan tertinggi pasukan muslimin di wilayah tersebut. Ia seorang pemimpin yang ditaati oleh kawan-kawannya dan ditakuti oleh Belanda (Ahmad, dkk., 1993: 40).

Mengenai perlawanan Teuku Di Chik Tunong, Zentgraaff (1983:152), antara lain, menulis, “Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Teuku Chik Tunong secara nekat dan gagah berani dengan didampingi isterinya yang seperti mutiara itu sungguh-sungguh merupakan sebuah cerita yang khusus juga. Tak disangka-sangka dan cepat laksana kilat, ia memukul kita, sekali di sini dan sebentar lagi di sana untuk kemudian menghilang jauh-jauh.”

Begitulah gambaran perjuangan Teuku Chik Di Tunong yang tidak pernah berhenti sampai dengan Panglima Polem pada pertengahan kedua tahun 1903 turun dari bergerilya. Dengan mempertimbangkan berbagai kondisi perjuangan pada waktu itu, Teuku Chik Di Tunong, akhirnya, memutuskan untuk melakukan hal serupa. Namun, tindakan tersebut sesungguhnya tidak berarti benar-benar menyerah kepada Belanda.

Bulan-bulan pertama di tahun 1905, Belanda memperoleh petunjuk bahwa Teuku Chik Di Tunong ikut memegang suatu peranan dalam peristiwa Meurandeh Paya, 26 Januari 1905, yang menewaskan 16 serdadu Belanda yang sedang patroli. Atas dasar itu, Belanda menangkap Teuku Chik Di Tunong pada 5 Maret 1905, dan kemudian menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Teuku Chik Di Tunong syahid mempersembahkannya darahnya untuk kemerdekaan bangsa lewat sebuah eksekusi tembak yang dilakukan kepadanya di pantai Lhokseumawe pada 25 Maret 1905.

Kesyahidan Teuku Chik Di Tunong ternyata membangkitkan gelora perlawanan terhadap Belanda dari berbagai kalangan, terutama para ulama pejuang yang di antara mereka adalah pendukung utama Teuku Chik Di Tunong, Teungku Paya Bakong.

Menurut Zentgraaff (1983: 168), Teuku Paya Bakong muncul kembali dalam peperangan tak lain karena kebenciannya atas hukuman mati yang dijatuhkan terhadap Teuku Chik Di Tunong. Dalam tahun 1906, dua kali pasukan Teungku Paya Bakoeng dan menantunya Teungku Di Barat menyerang Belanda dengan senjata tajam.

Pertama, pada 29 Juli di Kenegerian Hakim Krueng, yang dapat menewaskan tiga Belanda dan melukai empat lainnya serta membawa lari tiga pucuk senapan. Pada 24 November, pasukan muslimin di bawah komando Teungku Paya Bakoeng berhasil menewaskan dua dan melukai tujuh anggota patroli Belanda serta merampas satu senapan. (Alfian, 1987: 214).

Pejuang Aceh di bawah pimpinan Teungku Paya Bakoeng dan Teungku Di Barat terus memperhebat perlawanan dalam tahun-tahun berikutnya. Namun, dalam tahun-tahun 1909 dan 1910 Belanda dapat mempersempit ruang gerak keduanya. Pada 1910, kemenakan dan saudara Teungku Paya Bakoeng gugur.

Kemudian salah seorang dari pemimpin pasukannya bersama delapan orang pengikutnya menyerah. Imuem Beuna dan dua pengikutnya dan ipar Teungku Di Barat tertawan. Di samping itu gugur pula Teungku Mat Saleh, putera Teungku Seupoet Mata, Cut Meutia dan lain-lainnya (Alfian, 1987: 215).

Teungku Paya Bakoeng memang sudah menjadi target incaran Belanda sejak 1905 Namun, selama dua belas tahun lamanya, ia berhasil menjauhkan diri dari kejaran-kejaran yang bagaimanapun ketatnya. Gunung-gunung dan hutan-hutan merupakan tempat perlindungan yang baik bagi dirinya. Sering kali jika Belanda sudah semakin mendesaknya, maka ia memilih untuk menyingkir ke Samarkilang dan sebelah timur daerah Gayo di mana pengetahuan Belanda masih kurang sekali tentang daerah tersebut.

Kata Zentgraaff (1983: 168), “Hampir semua pemimpin patroli kita yang cakap-cakap telah pernah menemui jejak-jejaknya; Van der Vlerk dan Behrens kadang-kadang berhasil mendekatinya sampai pada jarak yang sangat dekat, namun ia tetap dapat meloloskan dirinya.”

Zentgraaff (1983: 168-9) lantas menyebutkan bahwa suatu kali di tahun 1913, Behrens melakukan penyerbuan di dekat Alue Garoet. Teungku Paya Bakoeng terdesak dan sempat tersangkut serban dan tasbihnya di semak-semak. Ia mendapat luka-luka di bagian pahanya dalam penyerbuan tersebut. Selang beberapa tahun setelahnya, tanggal 16 Juli 1917, secara kebetulan sebuah patroli di bawah pimpinan sersan bumi putera bernama Tugimin menemukan sebuah ladang di rimba Samarkilang.

Ada dua pondok kecil yang tidak begitu menarik perhatian dalam ladang tersebut. Patroli itu kemudian menembak dua laki-laki Aceh, paha salah satu mayat terlihat membengkak akibat luka yang telah lama. Walaupun Teungku Di Mata Ie mendapat luka-luka pada pahanya di tahun 1913, namun patroli itu ragu jika itu adalah jasad Teungku Di Mata Ie. Namun, beberapa penduduk setempat yang melihat mayat itu bersujud takut mereka terkena petaka, dan mengatakan: Janganlah Teungku marah, ini bukan kesalahan kami!

Zentgraaff (1983: 169) juga menambahkan bahwa istri Teungku Di Mata Ie dapat mengenalnya dengan melihat kepada gelang kakinya.

Mengenai kronologi kesyahidan Teungku Di Mata Ie, Zentgraaff boleh saja menulis demikian, tapi rakyat Paya Bakoeng yang selalu mengikuti dan membicarakan berbagai sepak terjang Teungku, punya cerita yang berbeda.

T. Abdul Aziz pernah mendengar orang-orang tua di gampongnya, dulu, menceritakan bahwa Teungku Di Mata Ie adalah seorang yang dianugerahi karamah, ia dapat selamat dari pengejaran-pengejaran Belanda dengan seizin dan pertolongan Allah, dan di akhir hayatnya, ia menghilang dalam rimba dan tidak pernah didengar kabarnya lagi.

Demikianlah, setelah melalui perjalanan hidup yang berat dalam memperjuangkan Agama dan bangsanya, Teungku Paya Bakoeng atau Teungku Di Mata Ie barangkali sudah tahu bahwa masa perjuangannya menjelang usai. Ia terpaksa harus melepaskan tanggung jawab yang dipikulnya selama ini kepada generasi penerusnya, tetapi ia takkan pernah rela berdamai atau tunduk dan tinggal bersama dengan musuhnya.

Ia lebih memilih di penghujung hidupnya untuk mengasingkan diri, jauh dari jangkauan tangan musuh. Gunung dan rimba raya di pedalaman Aceh adalah tempat yang sukar dicapai. Di sana ia menemukan kemerdekaannya, lalu meninggalkan dunia yang fana ini dengan jiwa yang tak pernah sudi melihat tanah airnya ditaklukkan dan dijajah oleh musuh.

Teungku Paya Bakoeng pulang ke rahmatullah dengan meninggalkan pengaruh semangatnya yang masih membekas dan tercetak kuat dalam batin para pengikutnya. Mereka lantas menggagas pasukan Samarkilang terkenal yang pemimpinnya baru dapat dilumpuhkan Belanda setelah sekitar dua puluh tahun sejak meninggalnya (Zentgraaff, 1983:169).[]

* Taqiyuddin Muhammad adalah peneliti sejarah kebudayaan Islam

 

Pernah dimuat di: AtjehPost.com