Aceh di Mata Sejarawan Asal Bangladesh

(Wawancara Khusus dengan Profesor Muhammad Abdul Karim)

Prof Muhammad Abdul Karim
Prof. Muhammad Abdul Karim Sedang Menjelaskan Kepada Reporter Misykah.com di Hotel Lido Graha Lhokseumawe.

PENAMPILANNYA sangat sederhana. Ia murah senyum dan ramah. Begitulah sosok Sejarawan Islam, Muhammad Abdul Karim (58 tahun). Lahir dan dibesarkan di Pakistan Timur (kini Bangladesh), ia hijrah ke Indonesia pada tahun 1979. Tujuh belas tahun kemudian, ia resmi berstatus Warga Negara Indonesia atau WNI.

Setelah meraih gelar Doktor (S3) dalam bidang Sejarah Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2003, Muhammad Abdul Karim lantas menjadi Guru Besar Tetap Sejarah dan Peradaban Islam  Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga sejak 2008.

Sejak 2005 sampai sekarang, Muhammad Abdul Karim juga sebagai anggota Dewan Pakar Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Tulisannya telah menghiasi berbagai jurnal dan media baik nasional maupun internasional. Ia menjadi narasumber di berbagai seminar lokal, nasional dan internasional.

Profesor Muhammad Abdul Karim sudah beberapa kali datang ke Aceh. Kali ini ia kembali memenuhi undangan Universitas Malikussaleh (Unimal) untuk mengisi tiga kegiatan di Lhokseumawe. Pertama, memberi kuliah umum kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi Unimal sehubungan pembukaan Program Studi Ekonomi Islam. Ia memaparkan Kebijakan Ekonomi Islam; Catatan Historis tentang Gagasan Ekonomi pada Era Pemerintahan Klasik.

Kedua, menjadi narasumber seminar nasional. Muhammad Abdul Karim menyampaikan makalah dengan tema: Masyarakat Islam; Beberapa Catatan Historis dalam Membangun Ekonomi Nasional Berbasis Ekonomi Daerah. Ketiga, ia terlibat menyusun kurikulum Ekonomi Islam FE Unimal.

Senin sore, 25 November 2013, misykah.com mendapat kesempatan wawancara khusus dengan Profesor Muhammad Abdul Karim. Pertemuan kami difasilitasi Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh, Danial S.Ag., M.A., yang juga mahasiswa Program Doktor di UIN Sunan Kalijaga.

Dalam wawancara yang berlangsung di Hotel Lido Graha Lhokseumawe, kami menanyakan sejumlah hal, mulai cerita kedatangan Muhammad Abdul Karim ke Indonesia, alasannya memilih menetap di Republik ini, dan yang paling utama soal sejarah hubungan Bangla dengan Aceh.

Perbincangan kami turut diwarnai canda tawa, sebab Profesor Muhammad Abdul Karim merasa berada di Aceh seperti pulang ke kampung asalnya di Bangladesh. “Bapak kalau ke Bangladesh, seratus  persen orang yakin bapak orang sana,” kata Muhammad Abdul Karim kepada Taqiyuddin Muhammad yang membuat kami tertawa renyah.

“Tadi siang saya makan di sini, saya merasa berada di tanah leluhur karena rasanya sama,” ujar Muhammad Abdul Karim berbagi kebahagian.

Ia juga mengungkapkan rahasia suksesnya. “Saya bisa berhasil karena motto saya: pantang menyerah,” ujarnya.

Saat sekolah dasar di kampung halamannya, Muhammad Abdul Karim juara pertama sekabupaten, kemudian di sekolah lanjutan menengah pertama juara seprovinsi, dan pada lanjutan menengah atas, ia menggondol juara dua tingkat nasional. “Terus S1 dan S2 juara tiga. Jadi selama disana tidak pernah saya bayar uang kuliah, bahkan dapat tiap bulan, dan Alhamdulillah lebih dari kebutuhan saya.

Kemudian datang ke Indonesia juga dibiayai Pemerintah, dan sampai S3 saya tidak pernah keluarkan uang kuliah, kecuali untuk konsumsi,” kata Muhammad Abdul Karim.

Sebagai seorang guru besar, Profesor Muhammad Abdul Karim juga menyampaikan pesan moral dengan mengutip syair dari Asadullah Khan Ghaleb, penyair India Selatan yang hidup di penghujung abad ke-19. “Dari dunia musafer ham, cola kaber hame tikana, age-age clakoi, koi peache rawana”. Artinya, kata dia, di dunia ini kita bagaikan musafir: ada yang datang duluan, pergi duluan. Ada yang datang belakangan, juga pergi belakangan.  

Berikut petikan wawancara kami dengan Profesor Muhammad Abdul Karim:

 

Bagaimana ceritanya sehingga Anda sampai ke Indonesia? 

Tamat SMA saya masuk S1 di Dhaka University, terus ada pengumuman testing kuliah ke luar negeri di koran. Saya ikut dan  terpilih untuk kuliah di beberapa universitas di luar negeri termasuk di Al-Azhar University, Mesir. Tinggal berangkat, tiba-tiba pendiri Bangladesh terbunuh, akhirnya batal. Ada banyak lagi yang tidak jadi, terakhir tinggal dua: Universitas Madinah sama Indonesia.

Saya menjumpai dosen saya Prof. Dr. Latifah Akand, M.A., dan saya sampaikan, “Bu, ini saya tinggal dua: Madinah sama Indonesia”. Dia mengatakan, “Kalau ke Arab Saudi sudah ada ribuan eks (alumni), tidak ada yang mau ke Indonesia sama sekali. Sebaiknya Anda ke sana dan Anda orang pertama ke sana, minimal Anda belajar sejarah Islam Indonesia dan Malaysia”.

Terus saya ketemu seorang profesor yang kesehariannya sangat sederhana. Saya kalah dengan dia soal kesederhanaan. Dia bilang “Anda sebaiknya ke Indonesia, tidak ada yang mau ke sana, tapi Anda coba hidupnya sederhana. Nggak apa-apa kalau gagal, minimal Anda belajar bahasa Indonesia”.

Dan ketiga saya jumpai Direktur Lembaga Bahasa, juga guru besar. Dia ikut mendorong saya ke Indonesia. Dia katakan, “Anda kalau gagal tidak apa-apa yang penting belajar bahasa Indonesia”.

Jadi, atas dorongan tiga guru besar dan saya istikharah, akhirnya ke Indonesia.

Itu tahun berapa?

Saya tiba di Jakarta 8 November 1979, sebulan kemudian ke Yogyakarta, masuk IAIN Sunan Kalijaga.

Ketika pertama kali tiba di Indonesia, apa kesan Anda?

Kesan saya pertama di Jakarta, saya tiba Kamis sore, saya dibawa ke Wisma Sejahtera. Di sana, saya dipinjamkan uang untuk uang saku. Jadi, di situ kelebihan orang Indonesia: perhatiannya luar biasa. Kemudian saya diajak ke daerah Bogor, waktu itu saya hanya tahu bahasa Indonesia “selamat datang” dan “terima kasih”. Saya diperkenalkan kepada orang-orang di sana dan perhatiannya bagus sekali.

Terus malam Minggu saya diajak teman yang juga mahasiswa. Karena saya mahasiswa pertama dari Bangladesh, jadi perhatiannya luar biasa. Kami jalan-jalan, dia bawa temannya, tiba-tiba di tengah jalan jemput perempuan satu. Dia bilang “this is my sister”, tidak lama temannya jemput perempuan satu lagi dan dia bilang, “this is my sister”.

Saat dalam mobil, saya duduk di depan dan dia dibelakang, saya lihat dari kaca dia ciuman, tadi dia bilang sister, kok ciuman? Terus saya bilang “You said she is your sister, but why you kiss her?” Baru dia cerita, “this is my fiance, next month we are getting married”.

Terus saya pikir, bagaimana kelakuan orang Islam di Jakarta ini! Tapi setelah saya masuk ke daerah pedesaan, baru kesan jelek terhadap orang Islam hilang dan Islam itu hidup.

Mengapa memilih menetap di Indonesia?

Pertama, saya sama sekali tidak ada niat mau tinggal di Indonesia, apalagi mau nikah, rencana saya cuma belajar. Mungkin kalau saya ada niat, situasinya akan lain. Akhirnya saya tercantol kepada seorang gadis dari Medan, dikenalkan oleh adik kandung saya yang datang untuk kuliah di Indonesia dan sekarang mengajar di Bangladesh.

Lambat laun kelihatannya hatinya terbuka hingga akhirnya saya nikah.Setelah nikah pun tidak ada niat untuk tinggal di Indonesia, sampai pada 31 Januari 1993, jam 01.00 dinihari, istri tanya sama saya sampai kapan mau kerja bakti, ngajar kemana-mana tapi uang tidak ada ‘kan?. Pulang saja ke Bangladesh, karena ketika saya bawa pulang dia tahun 1992, diundang oleh Prof Lathifah, waktu itu saya tanya, apa ada lowongan. Dia tanya balik, coba tanya ke istrimu, apakah kamu mau balik ke Bangladesh atau tidak, karena yang menentukan Anda, mau kembali atau tidak.Singkat cerita, akhirnya saya menjadi WNI tahun 1996.

Setelah itu, 1997 saya dikenalkan oleh Pak Atho’ Mudhar, Dekan Fakultas Adab. Kata dia kepada pihak fakultas, “Ini ada aset fakultas, dia ahli sejarah, ibaratnya dia ini kamus berjalan, disamping dia ahli bahasa Urdu”.Terus pada bulan September, saya dipanggil dan ditawarkan jadi PNS. Beberapa hari kemudian ada pengumuman penerimaan PNS.Akhirnya ikut tes, Alhamdulillah saya lulus jadi juara satu. Full PNS tahun 2.000.

Apa yang paling menarik dari sejarah Islam di Indonesia?

Kalau sejarah Islam di Indonesia itu yang paling menarik karena dia umpama pasar; dari luar itu ramai suaranya, tapi di dalamnya tidak ada yang berkelahi, kalau dari jauh kelihatannya seperti ada yang berkelahi. Aryinya, meskipun sesama tokoh Islam ada beda pendapat, tetapi Islam tetap maju terus. Sama-sama pembangun nasional.

Dan satu hal juga, mahasiswa di sini bisa belajar tidak hanya di bangku, tapi juga di masyarakat. Kalau di sana (Banglaadesh-red) ‘kan semua belajar di asrama.

 Bagaimana pertalian Aceh dengan Bangladesh?

Yang pertama kita kenal India atau Asia Selatan, lantas kita kenal India Muka dan India Belakang, jadi sejak dulu ini satu wilayah, Asia Selatan dan Indonesia. Indonesia itu di buku “Handbook of Indonesia” terbitan Kemlu tahun 1976, itu ada India Muka dan India Belakang. India Belakang yaitu kita, Indonesia. Buktinya Indonesia dan Asia Selatan terletak di Utara Samudra Hindia, jadi selatan Indonesia dan India itu samudera India.

Kemudian pada masa pra-Islam, di buku Glimpses of World History terbitan London, 1949, tercatat bahwa ketika orang-orang India pertama singgah di Indonesia, maka Indonesia masuk pada zaman sejarah.

Dan masyarakat India, kebanyakan dari India bagian timur, Coromandel termasuk Bangladesh. Kalau Teori Gujarat itu belakangan. Raja Dharmapala itu berkuasa tahun 778 sampai 810 Masehi, dia pernah datang ke Jawa berkaitan dengan Candi Kalasan, agama Budha, berdiri pada tahun 700 Sakha, berarti 778 Masehi. Apakah dia datang untuk peresmian atau peletakan batu pertama itu belum jelas sejarahnya.

Dan banyak bukti sejarah itu saya dapatkan dari sejarah nasional dan buku Indonesia, bukan dari sana, termasuk Raja Balaputra coba kirim Duta Besar pada tahun 862 Masehi ke Raja Bangla agar Raja Bangla mengizinkan supaya membangun asrama, orang Budha bilang asroom, itu untuk murid-murid Swarna Dwipa dan Swarna Bhumi. Swarna Dwipa adalah Sumatra, dan Swarna Bhumiadalah Pulau Jawa. Terus Balaputra di Palembang itu.

Inilah hubungan pertama Raja Bangla, dia lahirnya di Bangladesh sekarang, tapi Ibukota di Kajuk dekat Allahabad, sekarang India. Dan itulah kerajaan Budha yang paling jaya pada waktu itu, seluruh India dia kuasai kecuali Pakistan dan Jabon, Jabon itu wilayah Islam.

Selanjutnya, pada masa Islam di sana, di sini mulai masuk Islam. Jalur Islam ke Indonesia kan ada dua jalur, yang pertama jalur darat dan laut. Darat itu dari Mekkah ke Al-Madain atau Baghdad sekarang terus Kabul ke Kashmir, Sinkiang atau Xinjiang sekarang, Zaitun terus ke Kanton, Kanton itu Hongkong. Dari situ masuk ke bawah Melayu.

Itu jalur darat, jalur sutra masuk sebagian. Jalur laut dari Mekkah ke Aden, terus Teluk Persia langsung ke Malabar, dari Malabar itu ada dua jalur. Dari Malabar antara Srilanka dan India itu kan selat, itu dua jalur. Satu jalur langsung ke Malaka, Aceh dan Malaysia, satu lagi pesisir Coromandel, sampai Chittagong, Bangladesh kan pelabuhan terbesar, ke Birma atau Myanmar masuk ke Malaka.

Ketika saya diundang ke Malaysia pada 19 Januari 2013 untuk memberi semacam wejangan yang pesertanya semua guru besar. Di situ ada yang ahli sejarah bilang Islam masuk ke Indonesia melalui Kedah. Katanya, ini buktinya ada Prof. Jadi, mengapa orang Indonesia ngotot Islam pertama di Aceh, saya heran, tapi data historis ada. Jadi saya bilang pendapat Prof. benar, pendapat Indonesia juga benar.

Saya katakan itu kan jalur dari India Selatan belah dua, satu langsung ke Aceh-Malaka, satu ke pesisir Coromandel, Chittagong, Chattagramsampai masuk ke Selat Malaka. Antara dua jalur yang pertama itu hanya berlaku enam bulan, jadi yang datang langsung ke Aceh itu benar juga, tapi yang ke Malaka juga benar. Dan jalur yang 12 bulan itu yang selalu ramai pesisir Coromandel, Cathgaon, Chattagramnamanya, terus ke Arakan.

Karena antara teluk Bangladesh, dari Aceh ke Bangladesh, teluk Bangla itu kan ombaknya sangat ganas. Jadi, kalau musim tenang pun, ini saya baca di geografi, gelombang lautnya sampai 3-5 meter. Apalagi musim ganas, contoh ganasnya pada tahun 1970, ada tsunami-lah, istilahnya, itu 22 meter goar, goar itu sama dengan 90 cm x 1 kurang lebih 20 meter tinggi airnya menyapu dengan 300 meter kecepatan per jam.

Jadi di pesisir Bangladesh itu ada pagisan timur (nama badai-red), saya saksi sejarah, ada tiga juta rakyat mati. Jadi ini ganasnya teluk Bangladesh atau Bengal itu, maka para pedagang muslim itu memilih Coromandel, 12 bulan selalu lancar. Jadi pendapat Prof. Faisal yang orang Malaysia benar, dan pendapat Indonesia juga benar.

Kembali ke Bangladesh, ketika Islam masuk, itu kan sebelum ada Islam secara formal, para pedagang merangkap sufi, waliyullah, mereka itu masuk ke pedalaman seperti Aceh. Mereka bikin khanka atau asrama, para sufi mengajar disitu, makan di situ, semua disitu. Itu kan, secara alami, waktu itu berlangsung pendidikan Islam atau penyebaran Islam.

Nah, waktu itu kan mereka datang dari pesisir, tentu mereka ada famili/kaum kemudian muncul lama-lama Islam banyak. Kesultanan Islam pertama di India Timur, sekarang sebagian atau 60 persen masuk Bangladesh, sisanya masuk India, itu berdiri tahun 1194 Masehi.

Itu Ikhtiyaruddin Khalji, itu sumber utamanya, History of India, saya punya. Terus sekarang ada dua teori, Bangladesh dan Gujarat. Kalau teori Gujarat, ada beberapa sejarawan mengatakan termasuk dalam buku Aliya. Aliya itu mengatakan dari Gujarat. Tapi saya nggak sempat debat sama dia,waktu itu kita masih kecil. Jadi soal teori Gujarat—saya bicara singkat—itu baru masuk wilayah Islam secara formal 1305 M.

Sedangkan Ikhtiyaruddin Khalji 1198 M, satu abad lebih dulu dan dari dua jalur dari India Utara itu Islam baru saja mendarat di bawah kaki gunung Himalaya. Itu mayoritas muslim, kemudian satu jalur laut. Chattagram, itu nama desa Islam, jadi kayak di Aceh Serambi Mekkah, Islamabad  terus ada berapa nama lagi, jadi di situ kayak-kayak budaya Aceh.

Menurut Snock Hugronje,pakar Indonesia-Belanda, dia punya dua teori bahwa Islam datang ke Indonesia dari India. Dia nggak mengakui Arab, nggak mengakui Persia, nggak mengakui dari Cina. Jadi dia tidak setuju bahwa Islam pertama datang ke Indonesia dari Gujarat.

Teori dia, batu nisan-batu nisan yang ada diuji laboratorium arkeologi di Belanda, tidak ada satu batu nisanpun baik dari Jawa, Sulawesi atau Sumatra itu menyatakan bahwa itu dari Gujarat, sebelum abad ke 15, termasuk batu nisan Sultan Malikussaleh itu diuji, mirip batu nisan yang ada di Benggal. Ini data historis.

Setelah abad ke-15, ada batu nisan yang ada di Indonesia, ada yang mirip dengan di Gujarat, ada yang mirip di Bengal. Tapi kan sebelumnya tidak ada. Mengapa Gujarat?Setelah datang Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Fanshuri Cs, itu kan dari Gujarat semua. Dan mereka, satu hal kan meresap tasawuf itu mudah, sampai sekarang tarekat itu masih sangat kental, mulai abad 17-18. Kalau Hamzah Fansuri abad ke-16, yang lain abad ke-17.

 Bagaimana tentang masyarakat dan kebudayaan India, khususnya India Selatan dan India Timur?

Ok, mungkin bapak katakan saya egois. Saya tidak egois, tapi data historis bahwa dari pesisir selatan India dan Bangladesh itu selama 12 bulan datang pedagang baik ke Sumatra maupun ke Malaysia. Ini kan Teorinya Ismail Taib. Saya katakan kalau itu sultannya dari Mesir di sini, saya katakan apakah orang Aceh mau dikatakan turunan dari budak (Mameluk-red)? Nggak ada yang maukan nenek moyangnya budak semua, itu pertanyaan saya. Dia tidak bisa jawab.

Terus, yang kedua, sejarah menyatakan baik sejarah Pasai maupun sejarah Melayu, diikuti oleh Tome Pires. Tome Pires ini ahli sejarah Indonesia yang paling autentik diakui oleh dunia. Dari  abad ke-16, seorang Portugis.

Diakatakan, Malikussaleh atau Meurah Silu tidak diragukan bahwa dia pendiri Dinasti Pasai. Dari mana dia datang? Dia datang dari Bengal.

Kemudian waktu itu, di India Timur ada Kerajaan Islam, terjadi konflik dalam istana. Meurah Silu kalah. Akhirnya, dia bersama pengikutnya meninggalkan tempat itu sampai ke Sumatra dan Samudro. Samudro itu artinya Samudra. Pasai itu artinya tepi, bahasa Bangla dan Sansekerta.

Dan tadi saya katakan, saya merasa sekarang ada di Bangladesh, karena masakannya sama, bumbunya sama.

Hal lainnya, tahun 2011 kita disuguhi Tari Sirih(Ranup Lampuan-red). Ibnu Baththutah menyatakan, “Saya kunjungi berbagai Negara, tapi tidak pernah jumpai seperti yang ada pada orang Bengal. Kemana pun pergi dari rumah, termasuk orang miskin, minimal disuguhi sirih. Sekarang di sana mulai hilang makan sirih itu.

Dan seperti yang saya katakan juga tadi, orang–orang di sini (Aceh) mirip seperti orang Bangladesh.

Artinya Anda meyakini bahwa orang-orang dari Bengal dan pantai Coromandel, mereka telah berhijrah kemari?

Ya, buktinya saya lihat mulai dari Peurlak, Aceh Timur, sampai ke Sigli, Pidie, saya lihat kebanyakan orang-orang kurus kering seperti saya, perawakannya sama.

Saya juga masih ingat, tahun 1994, dalam perjalan dalam bis di Jakarta, ada orang Aceh tanya ke saya pakai bahasa Aceh, dikira saya orang Aceh. (Taqiyuddin Muhammad, Irmansyah, Safar Syuhada)

 

Biodata Prof. DR. Muhammad Abdul Karim, MA

Nama                                      : Muhammad Abdul Karim

Tempat/Tanggal Lahir           : Pakistan Timur (Bangladesh), 1 Mei 1955

Pendidikan                             :

-          Meraih gelar B. A. Honours dan M.A., di University of Dhaka dalam bidang Islamic History & Culture, S2 (M.A) kedua kali dalam bidang yang sama

-          Meraih gelar S3 (Doktor) dalam bidang Sejarah Islam, di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 Pekerjaan                             :

-          Guru Besar Tetap Sejarah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

-          Ketua dan Anggota Tim Penilai Disertasi S3

-          Moderator Diskusi Ilmiah bagi Dosen Tetap (Jumat malam) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

-          Dosen Program Pascasarjana (PPs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

-          Guru Besar (Sejarah Islam) Tidak Tetap PPs. UGM, UII Yogyakarta, UMS Solo dan Unisula Semarang

-          Anggota Dewan Pakar Pusat Studi Islam UII Yogyakarta

 

 Buku karangannya               :

 -          Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam

-          Wacana Politik Islam Kontemporer

-          Islam Nusantara

-          Islam di Asia Tengah, peraih reward sebagai Juara Nasional I, RI tahun 2007

-          Islam dan Kemerdekaan Indonesia: Membongkar Marjinalisasi Peranan Islam dalam Kemerdekaan RI

-          Menggali Muatan Pancasila dalam Perspektif Islam

-          Sejarah Islam di India

-          Bulan Sabit di Gurun Gobi” (proses terbit Desember 2013) 

 -          Sejarah Peradaban Islam di Indonesia (ditulis bersama Mundzirin Yusuf, dkk.)

 -          Sejarah Peradaban Islam (ditulis bersama Siti Maryam, dkk. (ed.)