Ada Sultan Terlupakan di Gampong Pande Banda Aceh

Nisan makam para sultan zaman Aceh Darussalam: Sultan 'Adilullah bin Munawwar Syah dan Sultan 'Ali Ri'ayah Syah bin Munawwar Syah. (Foto: CISAH)
Nisan makam para sultan zaman Aceh Darussalam di kompleks makam Tuan di Kandang, Gampong Pande, Kuta Raja, Banda Aceh; Sultan ‘Adilullah bin Munawwar Syah dan Sultan ‘Ali Ri’ayah Syah bin Munawwar Syah. (Foto: CISAH)

DALAM buku seorang antropolog bangsa penjajah yang terbit sejak lebih dari 100 tahun yang lalu sudah diutarakan, “Sejarah Aceh, begitu pula negeri-negeri pesisir dan kepulauan yang berada di bawahnya, sesungguhnya masih harus ditulis.” Snouck Hurgronje, antropolog kolonialis yang juga kondang dengan nama samaran Abdul Ghaffar ini menilai bahwa Sumber-sumber Eropa hanya menghasilkan data fragmentaris saja, sementara yang terdapat dalam kronik Melayu dan penuturan anak negeri cuma dapat menampilkan cara berpikir para pengarangnya dan orang-orang yang hidup di zaman yang sama. Untuk dijadikan sebagai sumber sejarah, berbagai cerita tutur itu baru dapat digunakan setelah melalui penyaringan yang ketat.

Dalam roda waktu yang berputar selama 100 tahun lebih itu, sejarah Aceh hampir tak pernah henti digali oleh para pakar sejarah. Sederetan tokoh-tokoh besar tampil memberikan kontribusinya. Sebutlah di antaranya Ali Hasjmy, M. Zainuddin, M. Yunus Jamil, M. Said, Ibrahim Alfian, Muhammad Gade Ismail, Rusdi Sufi dan lainnya. Namun, Aceh memang memiliki sejarah yang besar. Sejarahnya ternyata tidak selesai digali dalam tempo 100 tahun yang sudah lalu, dan ke depan, sepertinya juga masih perlu waktu yang lama.

Selain raja-raja dan sultan Lamuri era pertengahan awal dan kedua abad ke-15 M yang tidak pernah dijumpai nama-nama mereka dalam literatur sejarah apapun, baru-baru ini, pada Ahad kemarin (8/12), tersingkap pula dua nama sultan dari periode Kerajaan Aceh Darussalam yang selama ini belum pernah terdengar tentang mereka. Keduanya adalah Sultan Ali Ri’ayah Syah bin Munawwar Syah bin Muhammad Syah, dan Sultan ‘Adilullah bin Munawwar Syah. “Sejauh bacaan saya, kedua nama sultan ini tidak pernah saya jumpai dalam apapun tulisan mengenai silsilah sultan-sultan Aceh. Para ahli sejarah tidak pernah mencantumkan nama mereka dalam silsilah-silsilah tersebut,” tutur Taqiyuddin, peneliti sejarah dari CISAH, Lhokseumawe.

Bermula dari ziarah yang hanya bertujuan untuk melepas kerinduan dengan tokoh-tokoh sejarah yang dimakamkan di kompleks makam Tuan di Kandang, Gampong Pande, Banda Aceh, sebagaimana diakui Taqiyuddin kepada Mizuar Mahdi dan Syahrial Qadri dari misykah.com, ia akhirnya tertarik untuk membaca inskripsi pada nisan-nisan makam yang belum pernah dibacanya. “Dulu (setelah tsunami-red), beberapa kali saya datang ke sini, nisan-nisan makam itu dalam posisi rebah, terguling gelombang tsunami, sehingga sukar untuk dilakukan pembacaan,” ujar Taqiyuddin setelah melihat nisan-nisan itu kini sudah tegak dan diurutkan kembali sedemikian rupa.

Dalam ziarah ke Gampong Pande yang beberapa pekan sebelumnya telah dihebohkan oleh penemuan koin-koin emas (dirham), Taqiyuddin menemukan tiga tokoh sejarah dari zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Masing-masing adalah Sultan ‘Adilullah bin Sultan Munawwar Syah yang meninggal pada hari Ahad waktu ‘Ashar, 30 Jumadal Ula 947 H (1540 M), kemudian Sultan ‘Ali Ri’ayah Syah bin Munawwar Syah bin Muhammad Syah yang meninggal pada hari Rabu 14 Sya’ban 947 H (1540 M), yakni dua bulan setengah setelah kemangkatan saudaranya, Sultan ‘Adilullah, dan Muzhaffar Syah bin Sultan ‘Ali Ri’ayah Syah (cucu Munawwar Syah) yang meninggal sebelum ayahnya, pada 3 Rabi’ul Akhir tahun yang sama.

Taqiyuddin kemudian menjelaskan, “Sementara ini, yang sering disebutkan dalam silsilah sultan-sultan Aceh, bahwa sepeninggal Sultan ‘Ali Mughayat Syah bin Syamsu Syah bin Munawwar Syah pada 936 H (1530 M), Aceh diperintah oleh Sultan Shalahuddin bin ‘Ali Mughayat Syah yang kemudian digantikan oleh Sultan ‘Ala’uddin ‘Riayah Syah bin ‘Ali Mughayat Syah. Kedua sultan di Gampong Pandei ini tidak pernah dicantumkan. Muzhaffar Syah bin ‘Ali Ri’ayah Syah, yang tampaknya tidak memerintah sebagai sultan juga tokoh sejarah yang majhul selama ini.”

Menurut Taqiyuddin, dari data-data terakhir ini kita berhasil mengetahui sebuah fakta sejarah yang baru di mana setelah Sultan ‘Ali Mughayat Syah bin Syamsu Syah wafat, kendali pemerintahan Aceh diambil kembali oleh paman-pamannya dari pihak ayah, yaitu Sultan ‘Adilullah bin Munawwar Syah dan ‘Ali Ri’ayah Syah bin Munawwar Syah. Bunyi inskripsi pada nisan keduanya juga mensinyalir kepemerintahan mereka yang berlangsung baik. Dan baru setelah itu, Sultan ‘Alauddin bin ‘Ali Mughayat Syah menjadi sultan di Aceh.

Seperti pernah diberitakan misykah.com, Sultan Munawwar Syah tersebut adalah ayah dari Sultan Syamsu Syah, dan makamnya terdapat di Pante Raja, Pidie Jaya. Ia juga adalah putera dari Sultan Muhammad Syah yang makamnya berada dalam benteng Kuta Leubok, Aceh Besar. Inskripsi pada nisan ‘Ali Ri’ayat Syah di Gampong Pande ini juga kembali mempertegas bahwa Sultan Munawwar Syah adalah putera dari Sultan Muhammad Syah Lamuri.

Berbagai titik terang mengenai sejarah Aceh memang mulai tampak sedikit demi sedikit, tapi diyakini bahwa yang masih terkubur oleh masa juga masih teramat banyak. “Kita akan terus mencari, dan semoga Allah senantiasa memudahkan jalan,” ujar Taqiyuddin yakin. (Mizuar Mahdi dan Syahrial Qadri)