Al-Kalaliy: Pembaharu yang Terlupa di Tengah Kota

Gambar Tuan Syaik Muhammad bin Salim Al-Kalaliy di rumah keluarga keturunannya di Gampong Hagu Selatan, Lhokseumawe. Pada bagian bawah gambar ini ikut dimuatkan keterangan tentang keluarga Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy telah mewaqafkan tanah seluas 4,192,50 meter persegi untuk Panti Asuhan Muhammadiyah Lhokseumawe pada 1967. (Foto: Misykah.com)
Gambar Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy yang terpajang di rumah keluarga keturunannya di Gampong Hagu Selatan, Lhokseumawe. Pada bagian bawah gambar ini ikut diterangkan tentang keluarga Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy yang telah mewaqafkan tanah seluas 4,192,50 meter persegi untuk Panti Asuhan Muhammadiyah Lhokseumawe pada 1967. (Foto: Misykah.com)

“BETAPAPUN sungguhnya engkau berbuat demi kebaikan masyarakatmu, tetap saja pada akhirnya engkau mesti bersedia untuk tidak diingat setelah kepergianmu.” Kalimat itu terbetik tiba-tiba dalam kelabu cuaca mendung sore Kamis, 7/8/2014, lalu.

Saat itu, saya bersama Safar Syuhada (Redaktur Pelaksana Misykah.com) sedang berada di hadapan satu kubur di pinggiran Jalan Al-Kalali  di bilangan Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Kubur itu berada dalam satu kompleks kuburan berukuran sekitar 3×12 meter persegi dan tidak begitu jauh dari ujung timur jalan.

Sekilas, keberadaan kompleks kuburan di tengah lingkungan permukiman yang padat itu terkesan ganjil. Tapi dalam waktu yang sama, kubur-kubur tersebut seperti mengingatkan kita kepada suatu waktu di zaman silam. Waktu di mana keadaan lingkungan sekitar kompleks kuburan sangat jauh berbeda. Kubur-kubur itu dengan demikian lebih dari sekadar tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang telah tiada. Keberadaannya ibarat memori yang menyimpan cerita masa lalu, atau seperti monumen yang mengabadikan suatu bagian penting dari sejarah Kota Lhokseumawe. Memori atau monumen itu masih bertahan sampai kini kendati telah dikepung oleh segala hal yang baru dan terus bergerak di sekelilingnya. Malah, meski tidak terawat sebagaimana mestinya.

Di situlah kami berada pada sore yang bercuaca kelabu itu.

Ziarah ke kompleks kuburan ini bukanlah kali pertama bagi saya. Kini, hampir sembilan tahun sejak pertama sekali saya mengunjunginya, dan kondisinya sampai sekarang masih sama.

Kubur Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy dalam sebuah kompleks makam di pinggiran Jalan Al-Kalali, Gampong Hagu Selatan, Lhokseumawe. (Foto:Misykah.com)
Kubur Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy dalam sebuah kompleks makam di pinggiran Jalan Al-Kalali, Gampong Hagu Selatan, Lhokseumawe. (Foto:Misykah.com)

“Sayang,” keluh seorang wanita paruh baya yang tinggal di rumah bersebelahan dengan kompleks makam, “kuburan ini belum dipagari. Jadi, kadang-kadang, kalau sudah malam, ada anjing-anjing yang lewat. Kalau siang, bisalah kita jaga dan bersihkan, tapi kalau malam bagaimana?!”

Kunjungan kali pertama saya ke kompleks kuburan ini di penghujung 2005 tidak lain adalah karena ingin mencari kabar tentang seorang tokoh yang disebut H.M. Zainuddin dalam Tarich Aceh dan Nusantara. Sejarawan Aceh itu menulis, “Controleur Scheffen di Lhok Seumawe beserta dengan Tuan Syaikh Muhammad Kalali pada suatu hari telah pergi ke Geudong buat memeriksa kuburan-kuburan purbakala. Dengan petunjuk T.R. Pidie, kedua Tuan-tuan itu berjalan ke Blang Peuria dekat pasar Geudong buat menyaksikan sebuah kuburan. Sayang sedikit, kuburan itu telah dirusakkan oleh sebatang kayu besar yang tumbuh di atas kuburan itu. Supaya tulisan-tulisan yang terlukis di tembok-tembok kuburan itu dapat dibaca, batang kayu itu disuruh tebang akarnya, disuruh buang, dan belahan tembok itu dibawa ke Lhok Seumawe ke rumah Tuan Muhammad Al-Kalali oleh Controleur Scheffen. Photo dan rekaman dari batu nisan itu dikirim ke Betawi (Jakarta).”

Maka, rumah Tuan Syaikh Muhammad Al-Kalali itulah yang menjadi tujuan dalam kunjungan pertama saya. Namun, tak ada sesuatu pun yang tersisa dari masa itu yang saya jumpai kecuali sebuah foto Tuan Syaikh Muhammad Al-Kalali yang berukuran besar di rumah keluarga keturunannya dan kubur dengan batu nisan bertulis Arab:

Tulisan pada nisan kubur Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalali yang wafat pada 1946. (Misykah.com)
Tulisan pada nisan kubur Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalali yang wafat pada 1946. (Misykah.com)

الشيخ محمد بن سالم الكلالي توفي سنة 1365 (1946)

Berbeda dengan kunjungan yang pertama, ziarah ke kuburnya pada sore Kamis silam semata-mata panggilan kerinduan untuk berziarah dan mendoakan tokoh penting itu. Kondisi kompleks kuburan yang terkesan seperti sesuatu yang sama sekali tidak penting membuat terenyuh dan tiba-tiba terbetiklah kalimat seperti pada baris-baris pertama tulisan ini.

Empunya kubur yang telah meninggal dunia sejak 68 tahun silam adalah sosok yang telah mencetak berbagai jejak kebaikan, tidak hanya untuk skop kecil daerah yang sekarang dinamai dengan Kota Lhokseumawe, tapi juga untuk sejumlah negeri kaum Muslimin di Asia Tenggara.

Ia sosok yang memiliki keterkaitan penting dengan sejarah hidup banyak orang, baik mereka sebagai bagian dari masyarakat Muslim di Asia Tenggara apatah lagi sebagai warga Kota Lhokseumawe di mana tokoh ini telah beristirahat untuk selamanya. Dari gelar syaikh di awal namanya sudah menunjukkan ada sekian banyak orang pernah berhutang budi kepadanya; terutama sekali murid-muridnya. Sayangnya, masih sangat sedikit yang dapat diketahui tentang pribadi dan kiprahnya.

Penggagas Al-Imam     

Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy adalah sahabat Syaikh Thahir Jalaluddin Al-Azhariy yang telah bersama-sama membidani lahirnya Al-Imam, majalah Islam pertama di Dunia Melayu yang berbahasa Jawiy. Al-Imam yang terbit pertama sekali di tahun 1906 di Singapura merupakan majalah pembawa suara pembaharuan Islam dalam masyarakat-masyarakat Muslim di Asia Tenggara yang kala itu masih berada di bawah tekanan bangsa-bangsa penjajah Barat.

Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dalam pidato yang dibacakannya saat menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar, Mesir, pada 1958, menyebutkan, sejak majalah Al-Manar diterbitkan pada tahun 1315 H (oleh Sayyid Rasyid Ridha—red), sampai majalah itu berhenti terbit, Syaikh Thahir Jalaluddin bersama-sama dengan Tuan Syaikh Muhammad Al-Kalaliy, seorang keturunan Arab, menerbitkan majalah Al-Imam di Singapura, yang isinya telah jelas mengambil haluan Al-Manar.

Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy adalah direktur  Majalah Al-Imam yang terbit di Singapura mulai 1906. Al-Imam merupakan majalah Islam pertama di Asia Tenggara yang mengumandangkan suara pembaharuan demi kebangkitan bangsa-bangsa Islam dari kelenaannya. (Repro: Misykah.com)
Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy adalah direktur Majalah Al-Imam yang terbit di Singapura mulai 1906. Al-Imam merupakan majalah Islam pertama di Asia Tenggara yang mengumandangkan suara pembaharuan demi kebangkitan bangsa-bangsa Islam dari kelenaannya. (Repro: Misykah.com)

Ketika W. R. Roff membicarakan tentang tujuan penerbitan Al-Imam dalam bukunya The Origin of Malay Nationalism (1967), ia mengutip editorial pembuka yang ditulis Syaikh Muhammad Al-Kalaliy:  Al-Imam bertujuan untuk mengingatkan mereka yang telah lupa, membangkitkan mereka yang sedang tertidur, membimbing mereka yang tersesat, dan memberikan suara kepada mereka yang berbicara dengan kebijaksanaan (hikmah).

Roff juga mengutip isi salah satu artikel pertama yang diterbitkan Al-Imam yang membicarakan tentang “Tugas yang Tepat: Apa yang paling Dibutuhkan untuk Kebaikan Rakyat Kita.” Dimulai dengan menegaskan tugas para pemimpin rakyat untuk mendiagnosa dan memberikan resep mujarab untuk penyakit yang diderita oleh rakyatnya, penulis artikel itu melanjutkan: “Barangkali dapat dikatakan bahwa suatu hal yang paling kita butuhkan adalah keterampilan kerja dan  pertanian, atau pengetahuan tentang bagaimana mempertahankan negara kita dari musuh-musuhnya, atau bahwa kita perlu pendidikan untuk menyelamatkan kita dari rawa apatis dan kemalasan, atau bahwa kita harus belajar untuk bersatu demi kebaikan bersama. Semua ini benar. Tapi satu hal yang akan memperkuat dan mewujudkan semua keinginan kita adalah pengetahuan tentang perintah Agama kita. Agama merupakan penyembuh terbukti untuk semua penyakit yang diderita oleh masyarakat kita.”

Al-Imam telah dimulai oleh empat tokoh yang memiliki hubungan luas dengan Timur Tengah. Mereka adalah Syaikh Muhammad Thahir bin Jalaluddin Al-Azhariy dari Minangkabau, Sayyid Syaikh bin Ahmad Al-Hadi, seorang Arab kelahiran Malaka, Haji Abbas bin Mohd. Taha dari Singapura, dan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy, yang selain seorang ulama, ia juga seorang saudagar dari Aceh. Syaikh Muhammad Al-Kalaliy menjadi direktur selama dua tahun pertama penerbitan majalah Al-Imam.

Keturunan Arab   

Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy—atau tepatnya Al-Kulaliy—berasal dari Yaman. Menurut Ibrahim Ahmad Al-Maqhafiy dalam Mu’jam Al-Buldan wa Al-Qaba’il Al-Yamaniyyah (2002), orang-orang Kulal adalah keturunan dari ‘Abdu Kulal Al-Akbar yang bertempat tinggal di Wadi Nakhlan dan Asy-Sya’baniyyah di Ta’iz. Satu kelompok dari orang-orang Kulal tinggal di daerah Tubalah, Provinsi Asy-Syihr di Hadramaut. Mereka menetap di sana sejak pemerintahan Dinasti Ar-Rasuliyyah, dan sampai sekarang mereka masih memiliki harta kekayaan dan lahan pertanian di daerah itu.

Salah seorang ulama terkenal dari orang-orang Kulal di daerah Tubalah, Hadramaut, ialah Al-‘Allamah Salim bin Mubarak bin Salim Al-Kulaliy yang meninggal dunia pada 1361 H. Ulama ini telah menghabiskan umurnya sebagai pendidik di daerahnya dan telah menulis beberapa karangan dalam ilmu Nahw dan Fiqh. Sumber lain menyebutkan, Syaikh Salim bin Mubarak Al-Kulaliy juga telah menulis sebuah risalah (tulisan singkat) mengenai orang-orang terkenal dari keturunan Al-Kulaliy, termasuk di antaranya tentang Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kulaliy yang tinggal di Indonesia. Risalah itu bertajuk Risalah fi Nasab Al Al-Kulaliy wa Fikrah ‘an Ar-Rijal Al-Masyhurin. Saya telah berusaha untuk mendapatkan risalah ini, namun belum berhasil.

Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy yang meninggal dunia di Lhokseumawe pada 1365 H/1946 M berasal dari Hadramaut. Kelahirannya diperkirakan di sekitar tahun 1856 M. Masa kecil dan kapan ia berhijrah ke Aceh atau ke Singapura, masih belum dapat diketahui. Sementara tentang kembalinya ke Lhokseumawe dari Singapura bisa jadi setelah ia mengakhiri jabatannya sebagai direktur Al-Imam pada 1908 M. Kepulangannya ke ke Aceh barangkali juga ada kaitannya dengan masyarakat Arab yang telah tinggal lama di Lhokseumawe. Dari keterangan sebuah sumber yang saya peroleh pada 2005, di Gampong Hagu Selatan itu dulunya ada kawasan yang disebut dengan Kampung Arab.

Kendati Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy adalah seorang Arab tapi negeri-negeri Islam di Asia Tenggara telah menjadi negerinya. Sundusia Rosdi dalam tulisannya “Sumbangan Cendikiawan Peranakan Arab dalam Persuratan Melayu: 1900-an sampai 1960-an” yang dimuat Bibiloasia (Vol. 5, Issue 4, Jan 2010) mengutip tulisan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy dalam Al-Imam edisi 23 Juli 1906: “……sudah minum kami akan air susunya dan telah tumbuh daripadanya daging darah kami dan telah terbit daripadanya nikmat perhatian kesenangan kami. Tidakkah jadi terhutang kami kepada negerinya dan anak-anaknya?!”

Pandangannya itu telah membawanya kembali ke Lhokseumawe, Aceh, untuk membaktikan dirinya bagi kebaikan masyarakat. Sebagai seorang ulama yang membawa pemikiran-pemikiran pembaharuan Islam mengikuti langkah-langkah Jamaluddin Al-Afghaniy, Muhammad ‘Abduh dan Sayyid Rasyid Ridha, tentu tidak sedikit tantangan yang dihadapinya. Bahkan, konon, ia pernah dicap sesat, dan sekolah Al-Irsyad yang didirikannya bersama muridnya, Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqiy, dituduh menyesatkan. Namun demikian, ia tidak pernah surut untuk melakukan apa yang diyakininya sebagai suatu kemaslahatan bagi masyarakatnya.

Sumbangan bagi Arkeologi Islam

Dalam perjalanan arkeologi Islam di Indonesia, Syaikh Muhammad Al-Kalaliy adalah seorang tokoh yang telah berperan dalam penyingkapan nama-nama tokoh dari zaman Kerajaan Samudra Pasai lewat pembacaan inskripsi pada makam-makam peninggalan sejarah Kerajaan itu.

Satu kompleks makam peninggalan sejarah Samudra Pasai di Balng Peuria, dekat Pasar Geudong, yang pernah dikunjungi Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy pada 1932. Ia berhasil menyingkap seorang tokoh bernama Ya'qud di kompleks makam tersebut. (Foto: Misykah.com)
Satu kompleks makam peninggalan sejarah Samudra Pasai di Balng Peuria, dekat Pasar Geudong, yang pernah dikunjungi Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy pada 1932. Ia berhasil menyingkap seorang tokoh bernama Ya’qub di kompleks makam tersebut. (Foto: Misykah.com)

Peran Syaikh Muhammad Al-Kalaliy dalam bidang arkeologi Islam tampak dalam tulisan H.M. Zainuddin sebagaimana telah dikutip sebelumnya. Selain itu, H.M. Zainuddin juga memberitahukan, ia telah mendapatkan dua tulisan batu nisan di kompleks makam Teungku di Iboih dari Syaikh Muhammad Al-Kalali.

Uka Tjandrasasmita dalam Arkeologi Islam Nusantara juga menyebutkan, penelitian yang dilakukan oleh G.L. Ticheman pada 1940 untuk satu makam kuno milik seorang wanita di Samudra Pasai (makam Nahrasyiah—red) juga telah dibantu pembacaan inskripsinya oleh Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy.

Di belakang Jejak Ayah

Banyak sisi yang belum dapat digali dari kehidupan Syaikh Muhammad Al-Kalaliy. Informasi tentang keluarga keturunannya juga masih sedikit yang diketahui. Namun di antara tokoh-tokoh yang terkenal dari keturunannya dan telah mengikuti jejak-jejak sang ayah adalah Asad bin Muhammad Al-Kalaliy dan Aisyah binti Muhammad Al-Kalaliy.

Asad Al-Kalaliy adalah pengarang Kamus Indonesia-Arab Al-Kalaliy. Ia lahir di Cirebon pada 1904. Pengetahuan Bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam diperolehnya pertama sekali dari ayahnya sebelum kemudian ia menjadi murid di sekolah Al-Irsyad yang didirikan Syaikh Muhammad Sukarti. Setelah lulus, pada 1923 ia menjadi tenaga pengajar di sekolahnya itu. Pada 1928, ia diangkat menjadi editor Al-Ahqaf, sebuah buletin mingguan berbahasa Arab yang terbit di Surabaya. Tahun 1972, Asad Al-Kalaliy berhasil mendirikan sebuah yayasan yang dinamainya Muassasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Cirebon dan ia sendiri yang memimpinnya.

Aisyah binti Muhammad Al-Kalaliy adalah pendidik dan pemimpin Pondok Tahfizh Al-Qur’an di Kota Pekalongan. Ia lahir di Gampong Hagu, Lhokseumawe, pada 22 September 1924. Pondok tahfizh yang dipimpinnya dikhususkan untuk putri. Sejak berdirinya pada 1989, pondok tahfizh itu telah meluluskan ratusan hafizhah yang akan memelihara Al-Qur’an lewat hafalan mereka.

Makam Lain

Dalam kompleks kubur yang sama juga didapati kubur seorang wanita dengan nisan terbuat dari batu alam yang berukir ornamen dan kaligrafi. Pada nisan ini terdapat inskripsi berbunyi:

Kubur Al-Marhumah Syaikhah binti Ahmad bin Abdullah yang wafat pada 1329 H/1911 M di Kompleks makam Al-Kalali, Gampong Hagu Selatan, Lhokseumawe. (Foto: Misykah.com)
Kubur Al-Marhumah Syaikhah binti Ahmad bin Abdullah yang wafat pada 1329 H/1911 M di Kompleks makam Al-Kalali, Gampong Hagu Selatan, Lhokseumawe. (Foto: Misykah.com)

1. هذه ضريحة المرحومة شيخة

2. بنت أحمد بن عبد الله تو

3. فيت يوم الجمعة 15 من ربيع

5. الأخر الفاتحة

6. سنة 1329

(1. Inilah kubur Al-Marhumah Syaikhah; 2. binti Ahmad bin Abdullah; 3. wafat pada hari Jum’at 15 dari Rabi’ul; 4. Akhir yang pembuka tahun 1329.

Pemilik makam bernama Syaikhah binti Ahmad bin Abdullah dan wafat pada 15 Rabi’ul Akhir 1329 H atau 16 Maret 1911 M. Dari tanggal wafatnya, ia telah meninggal dunia sekitar 35 tahun lebih dahulu dari waktu meninggalnya Syaikh Muhammad Al-Kalaliy. Belum diketahui sejarah hidup tokoh bernama Syaikhah ini, tapi boleh jadi punya hubungan yang kuat dengan Syaikh Muhammad Al-Kalaliy atau dengan keluarganya. (Taqiyuddin Muhammad)