Apa Kata Hamka tentang Al-Kalaliy?

Tulisan Hamka dalam Majalah Panji Masyarakat, No. 201, 15 Juni 1976, bertajuk "Al-Imam (Majalah Islam Pertama di Nusantara, dan Penerbitnya Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalali). (Foto: Misykah.com)
Tulisan Hamka dalam Majalah Panji Masyarakat, No. 201, 15 Juni 1976, bertajuk “Al-Imam (Majalah Islam Pertama di Nusantara, dan Penerbitnya Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalali). (Foto: Misykah.com)

 

“Maka bolehlah Syaikh Mohammad bin Salim Al-Kalaliy dideretkan dengan nama-nama peranakan Arab yang lain, yang berjasa besar dalam perkembangan Islam di sini; Syaikh Abdushshamad Al-Falimbaniy bin Syaikh Abduljalil Al-Yamaniy Al-Mahdaniy Ash-Shan’aniy dan Syaikh Muhammad Nuruddin Ar-Raniriy Al-Qurasyi.”HAMKA

 

SEBULAN yang lalu, Saudara Irman I. Pangeran membawa satu rangkap fotokopi tulisan Hamka yang dimuat di Majalah Panji Masyarakat edisi No. 201, 15 Juni 1976, ke meja redaksi Misykah.com. Irman adalah jurnalis pada media on-line Atjehpost.co, dan juga pimpinan redaksi Misykah.com yang seluruh pengelola dan penulisnya adalah sukarelawan. Saat itu, Irman sedang merunut jejak kehidupan Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy yang wafat di Lhokseumawe pada 1946. Hasil penelusurannya kemudian dimuat berturut-turut oleh Atjehpost.co; “Syaikh Al-Kalaliy, Pembaharu yang Terlupakan”, “Al-Kalali, Direktur Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara”, dan “Kampung Arab di Lhokseumawe”.

Di antara dokumen berharga yang ditemukan Irman dalam penelusuran itu ialah kliping tulisan Hamka di tahun 1976, yakni 38 tahun yang lalu. Tulisan itu bertajuk “Al-Imam (Majalah Islam Pertama di Nusantara dan Penerbitnya Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalali)”. Di sebelah kanan tajuk disertakan gambar Syaikh Muhammad Al-Kalaliy. Bernilainya dokumen yang sudah berusia 38 tahun ini tidak saja lantaran ia memuat sebuah kesaksian tentang hidup Syaikh Muhammad Al-Kalaliy tapi lebih itu ialah karena ia datang dari seorang tokoh ulama, sejarawan dan pemikir Islam terkemuka di Dunia Islam, Hamka; Haji Abdul Malik Abdul Karim Amrullah.

“Kliping ini saya dapat dari Ustadz Baihaqi, Imum Chiek (imam besar) Masjid Baiturrahman, Lhokseumawe,” kata Irman waktu itu.

Di Kota Lhokseumawe, orang yang memiliki dokumen ini, saya kira, sangat langka. Syukur sekali, Ustazd Baihaqi telah menyimpannya untuk waktu sekian lama. Maka kepadanya, dan kepada Saudara Irman, yang berkat usahanya, dokumen penting ini sampai ke meja Redaksi Misykah.com, patut disampaikan penghormatan dan apresiasi yang mendalam.

Mengingat tulisan Hamka itu terbit pada waktu yang sudah begitu jauh dari hari ini, dan sukar kiranya dijangkau oleh para pembaca generasi muda, maka timbul hasrat Redaksi untuk mempublikasikan isi tulisan itu kembali. Tugas ini kemudian dibebankan kepada saya.

Apa Kata Hamka tentang Al-Kalaliy

Berbicara tentang sejarah pembaruan pemikiran Islam di Asia Tenggara, Buya Hamka, tampaknya, tidak pernah luput menyinggung peran Al-Imam, majalah Islam pertama di Asia Tenggara, berikut penerbit dan penulisnya, terutama Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy dan Syaikh Thahir Jalaluddin.

Dalam ceramah yang disampaikannya di hadapan hadirin Jam’iyyah Asy-Syubban Al-Muslimin di Kairo pada Januari 1958 mengenai pengaruh ajaran Muhammad ‘Abduh di Indonesia, ia menyebut Al-Imam dan kedua tokoh itu.

Panjang lebar tentang Al-Imam dan para penggagasnya telah pula ditulis Hamka dalam biografi Haji Abdul Karim Amrullah yang bertajuk Ayahku. Buku itu untuk pertama sekali dicetak dan diterbitkan pada tahun 1950.

Selang 16 tahun kemudian, sesuatu telah membawa Hamka untuk kembali menulis tentang Al-Imam. Kali ini, ia tampak lebih banyak menuturkan tentang penerbit atau direkturnya, Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy.

Dalam tulisan-tulisannya itu, Hamka memaparkan tentang bagaimana pemikiran para pembaharu Islam di Timur Tengah yang disiarkan lewat majalah Al-‘Urwatul Wutsqa dan Al-Manar telah menjangkau Asia Tenggara. Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy, seorang hartawan Arab yang pada waktu itu tinggal di Singapura, adalah salah seorang yang percaya dengan suara-suara pembaharuan itu. Dengan kaca mata cintanya kepada umat Islam di Asia Tenggara, ia melihat pemikiran yang diusung oleh para pembaharu itu merupakan jalan untuk bangkit dari keterlenaan dan kebodohan. Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam menilai Al-Kalaliy sebagai salah seorang yang termasuk dalam silsilah awal gerakan pembaruan Islam di Nusantara, di mana banyak pendukung pembaruan terhubung dengannya dan terus melakukan dialog (2011, h. 212).

Dalam Ayahku, Hamka menulis, Al-Kalaliy bersahabat karib dengan Syaikh Muhammad Thahir bin Muhammad Jalaluddin Al-Azhariy, ulama Minangkabau yang kala itu baru saja menyelesaikannya studinya di Al-Azhar, Kairo. Persahabatan ini ternyata telah membuka jalan bagi Al-Kalaliy untuk membuktikan cintanya kepada tanah air (wathan) Islam. Maka pada 1 Jumadil Akhir 1324 H (23 Juli 1906), ia dan sahabatnya, Syaikh Muhammad Thahir, telah menerbitkan majalah Islam pertama di Asia Tenggara, yang mereka namai Al-Imam.

“Dalam kata pendahuluannya, penerbitnya Syaikh Mohammad bin Salim Al-Kalali telah menyatakan bahwa dia merasa terpanggil buat menerbitkan majalah Islam ini, untuk membangunkan bangsa dan kaumnya dari lena ketiduran dan kemalasan yang telah menyerang sejak bertahun-tahun. Rasa cintanya kepada Wathan (Tanah Air) itulah yang mendorong beliau untuk menerbitkannya,” demikian tulis Hamka dalam Panji Masyarakat, 38 tahun yang lalu.

Kendati majalah yang diterbitkan Syaikh Al-Kalaliy adalah suara pembaharuan yang menentang berbagai rupa kebodohan, namun dari tulisannya tampak sekali kehalusan budi bahasa dan kerendahan hatinya. Seperti dikutip Hamka, Al-Kalaliy menulis di akhir pendahuluannya untuk Al-Imam:

“Memohonlah kami kepada Allah Ta’ala bahwa menyampaikan Ia akan kehendak kami ini pada barang yang menjadikan kebajikan kepada segala saudara kami dunia dan akhirat. Serta mendapat petunjuk dari-Nya pada jalan yang benar. Oleh karena tiada pada kami daya upaya yang demikian melainkan dengan pertolongan-Nya. Barang apa perkataan yang betul dalam majalah ini semata-matala dengan hidayat-Nya. Dan barang apa yang salah ialah taqshir (kelemahan—TM) daripada kami. Maka memohonlah kami daripada-Nya maka ampunan, fa innahu ghafurun rahim.”

Ilmu pengetahuan dan keluasan wawasan yang dimiliki Al-Kalaliy telah menjadikannya seorang yang arif lagi bijak. Ia juga terlihat sabar dan lapang dada dalam mengarahkan dan membimbing saudara-saudaranya seaqidah. Tulisannya dalam Al-Imam edisi no. 4, yang dikutip Hamka, menampilkan sisi kepribadiannya tersebut.

Al-Kalaliy menulis:

“Telah sampai kepada Al-Imam berbagai-bagai pertanyaan dari orang di sebelah Padang Sumatra perihal pengarang kami ini. Adakah ianya Muhammad Thaher Jalaluddin Menangkerbau ataupun Muhammad Thaher Jalaluddin orang Mesir?

Sebab kesamaran pada pengetahuan mereka itu adalah gelaran Al-Azhariy. Maka sangatlah heran kami, karena sepatutnya bagi ahli negeri yang telah termasyhur banyak menimbulkan orang-orang berilmu, bahwa tiada kiranya mereka itu membuang tempo mereka itu dengan berbahas akan kulit meninggalkan isinya. Apakah yang memberi gerun kepada mereka itu mengetahui akan keturunan pengarang kita ini jika tiada memberi faedah kepada mereka itu segala perkataan Al-Imam.

Sebenarnya bukanlah pengarang ini orang yang gemar bermegah-megah dengan bangsa atau keturunan, tiada indah kepadanya apa jua bangsa dikatakan orang kepadanya selama ia memasukkan dirinya kepada ahli ilmu. Bahkan sebenarnya ia bukan orang Mesir. Akan tetapi oleh karena ia sangat kasihan tempat yang membukakan mata hatinya dinisbahkannyalah ia kepada Al-Azhar.

Sesungguhnya asalnya itu Menangkerbau, bernama Mohammad Thaher bin Syaikh Mohammad yang digelar akan dia tatkala jadi Hakim pada masa perang hitam putih di Menangkerbau dengan Faqih Shaghir, karena ia mendapat ilmu daripada masa mudanya, seperti ternyata di dalam buku cerita Gubernement Belanda di Betawi.”—selesai.

Maka wajar jika seorang sastrawan sekaliber Hamka kemudian mengakui bahwa kalimat-kalimat yang ditulis Al-Kalaliy dalam Al-Imam lebih dapat menyentuh pembacanya.

“Terasa bahwa bahasa Melayu Al-Kalali lebih berirama dari bahasa Syaikh Thaher,” simpul Hamka.

Hamka juga mengatakan, Bahasa Melayu yang dipakai Al-Kalaliy telah mulai halus, tidak lagi semata-mata terikat kepada jalan Bahasa Arab.

Sekalipun dicetak dan terbit di Singapura, majalah Islam bulanan ini berhasil beredar luas di beberapa daerah, dan mempunyai perwakilan. Tempat dan nama perwakilan tercantum pada kulit dalam kedua (omslag II) majalah. Haji Abdulkarim bin Syaikh Kisa’iy (kemudian, Dr. Abdulkarim Amrullah), ayah Hamka sendiri, adalah perwakilan Al-Imam di Danau Maninjau. Selain dia, Hamka juga menyebutkan dua tokoh lain yaitu Sayyid Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Syahab di Betawi, dan Haji Abdullah bin Haji Ahmad di Padang Pajang.

Hubungan Abdulkarim dengan Al-Kalaliy yang telah terjalin sejak ia menjadi perwakilan Al-Imam di Danau Maninjau telah mengantarkannya pada suatu waktu dalam tahun 1930 untuk berkunjung ke kediaman mantan penerbit dan direktur majalah itu di Lhokseumawe. Pemuda Hamka yang kala itu masih berusia 22 tahun ikut dalam kunjungan.

“Syaikh Mohammad bin Salim Al-Kalaliy menjamu makan ayahku di rumah beliau,” tulis Hamka mengenang Al-Kalaliy, “kelihatan beliau sudah tua. [Dalam kesempatan itu] sampai juga rupanya percakapan kepada Al-Imam yang ayahku jadi wakilnya di Danau Sumatra pada tahun 1906 itu, yang waktu itu penulis ini (Hamka) belum lahir.”

Pertemuan dengan Al-Kalaliy di tahun 1930 tampaknya telah meninggalkan suatu kesan tersendiri bagi Hamka. Menurutnya, Syaikh Mohammad bin Salim Al-Kalali adalah seorang perantau Arab yang dapat dibanggakan keluasan ilmunya, kebesaran cita-citanya, dan faham-fahamnya dalam agama.

Tanpa ragu lagi Hamka kemudian mengatakan, “Maka bolehlah Syaikh Mohammad bin Salim Al-Kalaliy dideretkan dengan nama-nama peranakan Arab yang lain, yang berjasa besar dalam perkembangan Islam di sini; Syaikh Abdushshamad Al-Falimbaniy bin Syaikh Abduljalil Al-Yamaniy Al-Mahdaniy Ash-Shan’aniy dan Syaikh Muhammad Nuruddin Ar-Raniriy Al-Qurasyi.”

Kecuali itu, ia juga seorang hartawan. Kata Hamka, Al-Kalali memiliki harta benda dan usaha di Cirebon. Di Pulau Pinang, dia mempunyai usaha yang diberikannya nama “Pulau Pinang Al-Kalali & Co., dan di Lhokseumawe ada cabang usaha ekspor dan impor miliknya.

Hamka juga mengutip keterangan Sayyid bin Abdurrahman bin Syahab yang meyebut Al-Kalaliy sebagai seorang yang mashur, terkenal luas pandangannya dan jauh perantauannya, yang setengah abad lalu berulang-ulang mendatangi Madagaskar, dan telah menemukan persamaan Bahasa Melayu dengan Bahasa Malagasi.

Al-Kalaliy dan Aceh

Menurut Hamka, Al-Kalaliy sangat mencintai Aceh, dan karena itulah ia membelanjai seorang putra Aceh untuk mendapat pendidikan yang lebih maju. Putra Aceh itulah yang kemudian menjadi seorang tokoh terkenal di Indonesia, yaitu Prof. Dr. Teungku Mohammad Hasbi As-Shiddiqiy.

Suatu hal lain yang barangkali juga dapat ditambahkan sebagai bukti ia mencintai Aceh adalah andilnya dalam penelitian sejarah Aceh, terutama sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai, sekalipun dalam usia yang sudah terbilang lanjut. Ia telah banyak membantu para sarjana membacakan epigrafi pada makam-makam kuna di kawasan tinggalan sejarah Samudra Pasai, baik sarjana Aceh sendiri maupun sarjana Barat.

Dalam hal ini, bantuan yang diberikannya kepada beberapa sarjana Barat tidak pernah berarti ia seorang yang “berteman” dengan imperialisme Barat. Ia adalah sosok yang bersikukuh bahwa alam Melayu atau Jawiy adalah tanah air Islam yang tidak bisa diganggu-gugat. Karena itu makanya Michael Laffan setelah menyinggung bantuan ilmiah Syaikh Al-Kalaliy kepada pemuda H. J. K. Cowan (sarjana Barat yang meneliti Samudra Pasai pada 1938), segera ia menyatakan bahwa Syaikh Al-Kalaliy tidak sama seperti mantan koleganya di Al-Imam, Muhammad bin ‘Aqil, yang bersama dengan ‘Ali bin Ahmad bin Shahab, bersedia menjadi penasehat Inggris di Betawi dan Singapura (2011, h. 212).

Al-Kalaliy sangat mencintai Aceh. Karena itulah, barangkali, ia memilih Lhokseumawe sebagai tempat dia menghabiskan masa tuanya sekalipun banyak tempat lain telah pernah dikunjungi. Suatu hal yang kemudian belum terjawab adalah mengapa ia mencintai Aceh? Untuk tokoh sebesar Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy yang menurut Hamka, luas ilmunya, tinggi cita-citanya, dan sederet dengan Nuruddin Ar-Raniriy, tentu pilihannya itu tidak semata-mata soal pribadi. Ia tentu punya pandangan khusus tentang Aceh. Tapi, dari mana itu akan diketahui. Lhokseumawe, tempat di mana ia menghembuskan nafas yang penghabisan, tidak menyimpan apapun warisan intelektualnya.

Satu-satunya jawaban yang mungkin disarankan untuk sementara ini ialah karena Aceh merupakan negeri Islam yang dalam sejarah tercatat sebagai negeri Islam terawal di Nusantara di mana semangat Islam senantiasa bergelora, tidak pernah putus. Al-Kalaliy tampaknya mengidamkan negeri yang memiliki semangat demikian rupa. Perhatikanlah baris-baris terakhir yang ditulis Hamka dalam Panji Masyarakat, 1976 ini:

“Pada masa sedang meletus hebatya Revolusi Indonesia tahun 1946 yang di Aceh sendiri gelora itupun sedang meningkat, waktu rakyat Aceh di bawah kerahan ulama-ulama dan pemimpin menyentak rencong menumbangkan penjajah dan kaki tangannya, di waktu itu pulalah orang tua yang berjasa itu melepaskan nafas terakhir dalam usia lebih dari 80 tahun, di Kota Lhokseumawe.”

Kehadiran Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy di tengah-tengah masyarakat Aceh tampaknya bukan untuk menikmati hari tua yang tenang, tapi justru untuk tugas menjaga dan memupuk semangat dan gelora Islam yang dimiliki masyarakat Aceh. Tampaknya, ia yakin, Aceh adalah benteng paling kokoh untuk Islam, dan pangkalan Wathan (Tanah Air) Islam di Asia Tenggara, namun masyarakatnya harus terus diajari dan disadarkan akan hakikat diri mereka. Ia memilih Aceh karena memilih Islam, persis seperti saat ia memilih pandangan-pandangan Jamaluddin Al-Afghaniy dan Muhammad ‘Abduh yang juga karena memilih Islam.

Peristiwa-peristiwa di Aceh dalam tahun 1946, seperti yang diutarakan Hamka, boleh jadi, salah satu buah hasil dari pilihannya untuk menetap di Aceh. Namun, dalam waktu itulah kiranya tugas Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy sebagai muslim yang bertanggung jawab untuk menegakkan agamanya, telah ditetapkan untuk usai. Ia pulang ke Rahmatullah pada 1365 H (1946) di Lhokseumawe. “Di tepi pantai Aceh yang damai tenang itu,” kata Hamka.

Siapakah Al-Kalaliy?

Pertanyaan ini tampak aneh dan janggal setelah uraian panjang Hamka tentang Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy. Ya. Karena tulisan-tulisan Hamka tentang tokoh yang menurutnya sangat berjasa bagi Islam di sini, di Asia Tenggara, pada permulaan abad ke-20, sesungguhnya justru meningkatkan rasa ingin tahu untuk yang lebih jauh. Al-Kalaliy dalam penuturan Hamka muncul seiring kemunculan Al-Imam. Tapi bagaimanakah tokoh ini sebelum kemunculan Al-Imam adalah bagian yang secuil saja diungkapkan.

Sedikit sekali yang diketahui tentang Al-Kalaliy sebelum Al-Imam. Di mana ia telah dilahirkan, bagaimana ia menghabiskan masa kanak-kanak dan mudanya sampai menjadi seorang yang berillmu pengetahuan luas sekaligus saudagar, bahkan bagaimana ia berkenalan dengan pemikiran-pemikiran para pembaru di Timur Tengah, atau bagaimana awal persahabatannya dengan Syaikh Muhammad Thahir, sahabat seperjuangannya dalam menerbitkan Al-Imam, serta hal-hal lain, yang semuanya masih tanpa jawaban. Dan sekali lagi, dari mana hendak dicari jawabnya?

Media online Al-Wushtha News ( http://alwstanews.com) pada 09/12/2013 telah meng-upload tulisan yang diambil dari Hadrmaut; Fushul fi Ad-Duwal wa Al-A’lam wa Al-Qaba’il wa Al-Ansab aw Syuzur min Manajim Al-Ahqaf (Hadramaut; Beberapa Pembahasan mengenai Negeri-negeri, Tokoh-tokoh, Suku-suku dan Nasab-nasab Keturunan, atau, Batang-batang Emas dari Tambang-tambang Al-Ahqaf [gua-gua]), salah satu karya tulis Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad An-Nakhibiy. An-Nakhibiy adalah seorang ulama kelahiran Yaman pada 1317 H dan wafat di Jeddah pada 25 Jumadil Awal 1428 H. Ia murid dari Syaikh Salim bin Mubarak Al-Kalaliy di Kampung Tabalah, pesisir Hadramaut, timur laut Daerah Asy-Syihr (Mudiriyyah Asy-Syihr; Ash Shihr Distric).

Dalam satu bagian dalam bukunya itu, Syaikh ‘Abdullah An-Nakhibiy menulis tentang gurunya, Syaikh Salim bin Mubarak bin ‘Abdurrahman bin Salim Al-Kalaliy, yang wafat pada 20 Syawwal 1362. Ia menyebut gurunya ini sebagai seorang yang ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu; Tafsir, Hadits, Sirah, Tarikh, Falak dan lainnya, dan telah berhasil mengembalikan kedudukan Tabalah sebagai pusat ilmu pengetahuan seperti sejarahnya di masa silam. Ia juga mendaftarkan karya-karya Syaikh Salim bin Mubarak Al-Kalaliy yang antara lain adalah sebuah tulisan singkat bertajuk:

رسالة في نسب آل الكلالي وفكرة عن الرجال المشهورين منهم كالشيخ العلامة عوض الكلالي ساكن عرف والشيخ محمد سالم الكلالي ساكن اندونيسيا

(Tulisan Singkat tentang Nasab Keturunan Al-Kalaliy dan Satu Pemikiran tentang Tokoh-tokoh Terkenalnya; di antara mereka Syaikh Al-‘Allamah ‘Awadh Al-Kalaliy yang tinggal di ‘Araf dan Syaikh Muhammad Salim Al-Kalaliy yang tinggal di Indonesia)

Sekalipun tulisan singkat (Risalah) itu untuk sementara ini belum berhasil diperoleh, tapi dari apa yang ditulis An-Nakhibiy dapat diyakini tokoh yang dimaksud dengan Syaikh Muhammad Salim Al-Kalaliy itu adalah Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy yang tinggal dan wafat di Lhokseumawe, Aceh. Sebab sejauh ini memang tidak ada Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy lain yang terkenal, dan tinggal di Indonesia.

Surat wasiat yang ditulis Syaikh Muhammad bin Salim bin Mubarak Al-Kalaliy pada 25 Rabi'ul Awal 1301 H/24 Januari 1884, di Tabalah, Asy-Syihr, Hadrmaut. (Sumber: Facebook ملتقى أبناء قبيلة الكلالي)
Surat wasiat yang ditulis Syaikh Muhammad bin Salim bin Mubarak Al-Kalaliy pada 25 Rabi’ul Awal 1301 H/24 Januari 1884, di Tabalah, Asy-Syihr, Hadrmaut. (Sumber: Facebook ملتقى أبناء قبيلة الكلالي)

Selanjutnya, satu dokumen menarik telah dijumpai pula, dan ini semata-mata karena taufiq dari-Nya. Dokumen itu di-upload di halaman kronologi sebuah akun media sosial Facebook dengan nama Multaqa Abna’ Qabilah Al-Kalaliy (Forum Anggota Kabilah Al-Kalaliy). Salah sedikit, pengguna akun tidak menyertai dokumen ini dengan suatu keterangan pun, semisal dari mana diperoleh atau di mana dokumen tersimpan. Jelasnya, dokumen itu berupa manuskrip sebuah surat wasiat yang pada baris 9-11 dijumpai nama panjang penulisnya:

أقول وأنا الفقير إلى الله تعالى محمد بن سالم بن مبارك بن محمد بن علي بن محمد بن سالم بن عمر بن محمد بن سالم بن عمر بن فضل بن عقيل بن رجب بن فضل بن شملان الكلالي

(…Saya yang sangat memerlukan Allah Ta’ala, Muhammad bin Salim bin Mubarak bin Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad bin Salim bin ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin ‘Umar bin Fadhl bin ‘Aqil bin Rajab bin Fadhl bin Syamlan Al-Kalaliy, menyatakan…)

Pada bagian akhir surat juga dituliskan:

وكتب بيده محمد بن سالم بن مبارك بن محمد الكلالي

(…Muhammad bin Salim bin Mubarak bin Muhammad Al-Kalaliy telah menulis [surat wasiat ini] dengan tangannya sendiri)

Surat wasiat itu berisi pernyataan Muhammad bin Salim bin Mubarak bin Muhammad Al-Kalaliy mewaqafkan rumah beserta seluruh harta benda, di dalam maupun di luar rumah, untuk anak-anak dan keluarganya. Surat itu ditulis dengan tangannya sendiri pada tanggal hari Kamis, 25 (dua puluh lima) bulan Rabi’ul Awwal tahun 1301 (seribu tiga ratus satu) hijriah, atau 24 Januari 1884.

Siapakah Muhammad bin Salim bin Mubarak bin Muhammad Al-Kalaliy penulis wasiat ini? Sebuah petunjuk terang telah dijumpai dalam teks surat ketika empunya menyebut batas-batas tanah rumah yang diwaqafkan kepada anak-anaknya. Di situ tertulis:

بحد الدار المذكور مغربا دار آل بلكور ومشرقا الطريق السالك ودار المشايخ آل بن إسحاق ونجديا المقبرة وبحريا دار الشيخ سالم بن مبارك المعلم والطريق السالك من جهة المطلع إلى جهة المغرب

(…dengan batas rumah yang disebutkan; di sebelah barat berbatasan dengan rumah keturunan Balkur, di sebelah timur berbatasan dengan jalan laluan dan rumah para syaikh keturunan Ibn Ishaq, di sebelah arah Nejd [utara] berbatasan dengan perkuburan dan sebelah arah laut [selatan] berbatasan dengan rumah Syaikh Salim bin Mubarak Guru dan jalan laluan, mulai sebelah terbit matahari [timur] sampai sebelah terbenamnya [barat]..)

Syaikh Salim bin Mubarak Al-Mu’allim (Guru) yang disebut dalam teks tentu Syaikh Salim bin Mubarak Al-Kalaliy. Ibrahim Ahmad Al-Maqhafiy dalam Mu’jam Al-Buldan wa Al-Qaba’il Al-Yamaniyyah (2002) menyebutkan, salah seorang yang terkenal dari orang-orang Kalal (Al-Kalaliyyun) di Tabalah, Hadramaut, adalah ulama besar Salim bin Mubarak bin Salim Al-Kalaliy yang wafat pada 1362 H. Hidupnya telah dihabiskan sebagai guru di kampungnya itu. Ia juga mempunyai beberapa karya tulis (manuskrip) dalam bidang ilmu Nahw dan Fiqh.

Dari teks surat wasiat diketahui Syaikh Salim bin Mubarak bin Salim Al-Kalaliy, penulis Tulisan Singkat tentang Keturunan Al-Kalaliy dan Satu Pemikiran tentang Tokoh-tokoh Terkenalnya, ternyata tidak saja mengenal Tuan Syaikh Muhammad bin Salim Al-Kalaliy kita, tapi juga bertetangga dengannya di kampung Tabalah.

Tabalah adalah satu kampung di utara Kota Asy-Syihr. Pusat Informasi Nasional Yaman (Al-Markaz Al-Wathaniy lil Ma’lumat, Yaman) menyebutkan, kampung ini berjarak 6 km dari Kota Asy-Syihr. Di Tabalah terdapat beberapa bangunan bersejarah, salah satunya ialah benteng Ibn Syaikh ‘Ali yang dibangun pada abad ke-18 M. Benteng ini terletak di puncak sebuah bukit menghadap ke lembah ‘Araf di laluan kafilah-kafilah yang berangkat dari Asy-Syihr menuju Hadramaut.

Sayyid ‘Abdurrahman bin ‘Ubaidillah As-Saqqaf dalam Idamul Qut (2005, h. 218) menukilkan keterangan Ath-Thayyib Bamakhramah Al-Himyariy, Tabalah adalah sebuah kampung dekat Asy-Syihr di jalan menuju [lembah] Hadramaut. Di kampung ini terdapat beberapa mata air panas pada bidang tanah yang agak tinggi. Airnya dipakai untuk mengairi lahan pertanian, kebun-kebun kurma dan kelapa. Antara satu mata air dan lainnya beda-beda; ada yang sangat panas dan banyak airnya, dan ada yang kurang panas tapi sedikit airnya. “Ini suatu keajaiban,” catat Ibn Bamakhramah yang hidup antara 870-947 Hijriah.

Sayyid ‘Abdurahman menambahkan, mata air panas (air belerang) di Tabalah yang berjumlah tujuh mata air ini didatangi para pengunjung dari berbagai pelosok yang jauh untuk terapi.

Salah satu mata air panas (air belerang) di kampung Tabalah, Asy-Syihr, kampung asal Tuan Syaikh Muhammad bin Salim bin Mubarak Al-Kalaliy. (Sumber: alseyahamagazine.com/yanabiahadramot.jpg)
Salah satu mata air panas (air belerang) di kampung Tabalah, Asy-Syihr, kampung asal Tuan Syaikh Muhammad bin Salim bin Mubarak Al-Kalaliy. (Sumber: alseyahamagazine.com/images/yanabiahadramot.jpg)

Di kampung inilah tampaknya Tuan Syaikh Muhammad bin Salim bin Mubarak Al-Kalaliy lahir dan dibesarkan sebelum menjelajah berbagai pelosok dunia, dan kemudian melabuhkan sauh perjalanan hidupnya di sebuah kota tepi laut Selat Malaka bernama Teluk (Aceh: Lho’) Samawi atau yang hari ini adalah Lhokseumawe.

Mengacu kepada teks surat wasiat yang ditulis Tuan Syaikh Muhammad bin Salim bin Mubarak Al-Kalaliy di Tabalah pada hari Kamis, 25 Rabi’ul Awwal 1301 (24 Januari 1884), diketahui bahwa semasa di Tabalah, ia mempunyai dua orang putri, Qamar dan Badriyyah; seorang saudara perempuan bernama Faththamah binti Salim bin Mubarak Al-Kalaliy; seorang saudara laki-laki, ‘Awadh bin Salim bin Mubarak Al-Kalaliy; dan dua orang keponakan, Salim bin ‘Awadh bin Salim Al-Kalaliy dan Sa’idah binti ‘Awadh bin Salim Al-Kalaliy. Dalam surat wasiat ini tidak tersebut nama istrinya; apakah pasangan hidupnya kala itu telah meninggal dunia atau memang sengaja tidak disebutkan, tidak dapat diketahui. Namun, tampaknya, surat wasiat ini telah ditulis dalam rangka persiapannya meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama, dan waqaf seluruh harta miliknya itu adalah sebagai bukti cinta yang tulus kepada kedua putrinya dan keturunan mereka, sebagaimana dinyatakan dalam surat itu. (Taqiyuddin Muhammad)

 

Artikel Terkait :

Al-Kalaliy: Pembaharu yang Terlupa di Tengah Kota