Baba Dawud Al-Jawiy dan Tafsir Al-Qur’an di Aceh Abad ke-17 M

Gambar-gambar yang terpajang pada dinding sebuah "balee" (balai belajar) di Dayah Tanoh Abe, Seulimum, Aceh Besar. (Foto: Misykah.com)
Gambar-gambar yang terpajang pada dinding sebuah “balee” (balai belajar) di Dayah Tanoh Abe, Seulimum, Aceh Besar. (Foto: Misykah.com)

DALAM tahun 2005, saya bersama beberapa teman berkunjung ke Dayah Tanoh Abe, sebuah perguruan Islam terkemuka dan memiliki sejarah panjang di Kecamatan Seulimum, Aceh Besar. Setelah menaiki sebuah balai dalam kompleks dayah, terlihat pada dinding kamar balai pajangan gambar-gambar sejumlah tokoh dunia dan pahlawan. Beberapa gambar dokumen sejarah juga ikut menghiasi dinding.

Selembar fotokopi manuskrip—mungkin, dua halaman manuskrip yang difotokopi kemudian disambungkan—terlihat sudah dibingkai dan dikacakan. Lembaran fotokopi manuskrip itu merupakan halaman-halaman akhir (kolofon) dari sebuah tafsir dalam bahasa Jawiy (Pasai/Melayu) yang sangat terkenal di Asia Tenggara, yakni Turjuman Al-Mustafid.

Pengarang Turjumanul Mustafid adalah ulama terkenal dan terkemuka di zaman Kerajaan Aceh Darussalam, Syaikh ‘Abdur Ra’uf bin ‘Ali Al-Jawiy Al-Fanshuriy, yang bergelar Al-Watsiq bi Al-Malik Al-Jaliy. Ia wafat pada 1105 H/1693.

Fotokopi kolofon manuskrip Turjumanul Mustafid yang telah dibingkai dan dikacakan di Dayah Tanoh Abe, Seulimum, Aceh Besar. (Foto: Misykah.com)
Fotokopi kolofon manuskrip Turjumanul Mustafid yang telah dibingkai dan dikacakan di Dayah Tanoh Abe, Seulimum, Aceh Besar. (Foto: Misykah.com)

Banyak sisi yang menarik pada lembaran fotokopi manuskrip ini. Antara lain, khath-nya yang unik dan indah. Sama sekali tidak diragukan akan kekunoannya kendati tidak dijumpai tarikh penyalinan. Yang lebih penting lagi adalah data-data sejarah yang dapat dipetik dari teks manuskrip itu.

Teks yang berjumlah 20 baris (12+8) itu, selengkapnya, berbunyi :

1. وقد كمل تفسير القرآن المجيد المسمى ترجمان المستفيد ترجمة شيخنا

2. وقدوتنا إلى الله تعالى العالم العلامة والولي الفاني في الله أمين الدين

3. عبد الرؤف ابن علي الجاوي الفنصوري رحمه الله تعالى وشكر سعيه [و] نفعنا

4. بعلومه في الدنيا

(Teks Arab ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Jawiy. Trankripsinya:)

4. Telah sempurnalah tafsir Qur’an yang amat mulia yang dinamai

5. dengan Turjumanul Mustafid yang dijawikan akan dia oleh oleh Syaikh kita dan ikutan

6. kita kepada Allah Ta’ala yang ‘alim lagi ‘allamah lagi waliyullah yang fani fillah Amin

7. Ad-Din (Aminuddin) ‘Abdur Ra’uf anak ‘Ali Jawiy lagi Fanshuriy dikasihan Allah Ta’ala jua

8. kiranya akan dia dan diterima-Nya usahanya dan diberi Allah manfaat jua kiranya akan kita

9. dengan barakah ilmunya dalam dunia dan dalam akhirat perkenankan olehmu hai Tuhanku

10. ويزيد عليه أصغر تلامذه (كذا) وأحقر خدامه باب داود الجاوي ابن

11. إسماعيل ابن أغا مصطفى ابن أغا علي الرومي غفر الله لهم قصصه

12. المأخوذ أكثره من الخازن وبعض روايته في القراءة بأمره

12. dan menambah

13. atasnya sekecil muridnya dan sehina-hina khadimnya yaitu Baba Dawud Jawiy anak Isma’il

14. anak Agha Mushthafa anak Agha ‘Ali Rumiy diampun Allah jua kiranya sekalian mereka

15. segala qisahnya yang diambil kebanyakan daripada Khazin dan setengah riwayatnya pada khilaf

16. qira’ah dengan suruhnya

16. ولله الحمد والمنة وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وآله و

17. وصحبه أجمعين  

17. dan bagi Allah segala puji dan anugerah dan rahmat Allah

18. dan sejahteranya atas Muhammad penghulu kita dan atas

19. segala keluarganya dan segala shahabatnya

20. sekalian tammat.

 

Baba Dawud dan Turjumanul Mustafid

Saya belum pernah melihat naskah manuskrip Turjumanul Mustafid yang diakhiri baris-baris di atas, namun suatu hal yang tertangkap dengan jelas dari teks tersebut bahwa kerja penyempurnaan tafsir ini telah dilakukan oleh sang guru dan muridnya: Syaikh Aminuddin ‘Abdur Ar-Ra’uf bin ‘Ali Al-Jawiy Al-Fanshuri dan Baba Dawud Al-Jawiy bin Isma’il bin Agha Mushthafa bin Agha ‘Ali Ar-Rumiy.  Dalam teks baris 10-16 disebutkan, Baba Dawud Al-Jawiy menambahkan ke dalam Turjumanul Mustafid kisah-kisah yang sebagian besarnya diambil dari tafsir Al-Khazin dan qira’ah-qira’ah yang diriwayatkan oleh gurunya, Syaikh ‘Abdur Rauf. Diterangkan pula, penambahan ini adalah atas perintah Syaikh ‘Abdur Ra’uf kepada Baba Dawud.

ويزيد عليه أصغر تلاميذه …… قصصَه المأخوذ أكثره من الخازن وبعضَ روايته في القراءة بأمره

Dan menambah atasnya sekecil muridnya……….. segala qisahnya yang diambil kebanyakan daripada Khazin dan setengah riwayatnya pada khilaf qira’ah dengan suruhnya.”

Ada beberapa hal yang dapat dipahami dari keterangan ini:

Pertama, Syaikh ‘Abdur Ra’uf telah meminta muridnya, Baba Dawud, untuk menambahkan kisah-kisah ke dalam Turjumanul Mustafid begitu pula qira’ah-qira’ah yang diriwayatkannya.  Maka, ungkapan “sekecil muridnya” tidak niscaya dipahami bahwa Baba Dawud merupakan murid termuda di kalangan murid-murid Syaikh ‘Abdur Ra’uf. Ungkapan “sekecil muridnya dan sehina-hina khadimnya” dapat dikatakan sebagai pengungkapan sikap rendah hati (tawadhu’) yang selalu menghiasi perilaku seorang ulama. Baba Dawud, dengan demikian, bisa dikatakan sebagai murid sekaligus sahabat bagi gurunya, Syaikh ‘Abdur Ra’uf.

Kedua, Baba Dawud menambahkan kisah-kisah itu dari berbagai tafsir, namun yang terbanyak diambilnya adalah kisah-kisah yang terdapat dalam tafsir Al-Khazin.

Ketiga, Syaikh ‘Abdur Ra’uf dengan demikian juga seorang yang ahli dalam qira’ah (ilmu Al- Qira’ah), dan Baba Dawud menambahkan qira’ah-qira’ah yang diriwayatkan gurunya itu.

Keempat, permintaan Syaikh ‘Abdur Ra’uf kepada Baba Dawud dapat menjadi suatu pertanda bahwa Baba Dawud telah mencapai tingkat keilmuan yang  tinggi di masa hidup gurunya. Hal itulah yang membuat dia layak untuk melakukan tugas yang dipercayakan. Sang guru pun, boleh jadi, telah mengamati serta mengakui kelebihan muridnya dalam bidang ilmu tafsir sehingga tugas tersebut diserahkan kepadanya. Tidak tertutup kemungkinan pula, Turjumanul Mustafid yang telah disempurnakan dengan penambahan-penambahan dari Baba Dawud telah dibacakan pula di depan gurunya dan direstui. Jika benar, maka naskah manuskrip (makhthuthah) Turjumanul Mustafid yang berakhir dengan halaman-halaman yang memuat teks di atas dapat dikatakan sebagai naskah Turjumanul Mustafid yang telah disempurnakan di zaman pengarangnya, dan karena itu amat layak untuk diberi perhatian serta dikaji. 

Halaman permulaan Juz 10 dari naskah manuskrip Turjumanul Mustafid yang dijumpai di Geurugok, Gandapura, Bireuen. (Foto: Misykah.com)
Halaman permulaan Juz 10 dari naskah manuskrip Turjumanul Mustafid yang dijumpai di Geurugok, Gandapura, Bireuen. (Foto: Misykah.com)

Kisah Penambahan Kisah-kisah

Mengapa Syaikh ‘Abdur Ra’uf meminta muridnya untuk menambahkan kisah-kisah, dan mengapa Baba Dawud banyak menukilkannya dari tafsir Al-Khazin?

Turjumanul (Tarjamanul) Mustafid fi Tafsir Al-Qur’an Al-Majid berarti penerjemah bagi orang yang mengambil faedah tentang tafsir Al-Qur’an yang mulia. Dari judul yang diberikan tampak jelas tafsir ini merupakan buah hasil dari suatu pengetahuan yang kaya dalam tafsir Al-Qur’an, yang kemudian diusahakan untuk diterjemahkan supaya dapat dibaca di seluruh kawasan yang berbahasa Jawiy di Asia Tenggara.

Dari seluruh karya tafsir Al-Qur’an yang ditulis oleh para ulama tafsir, Syaikh ‘Abdur Ra’uf memilih tafsir karya Al-Qadhi Al-Imam Al-‘Allamah Nashiruddin Abu Sa’id ‘Abdullah bin ‘Umar Al-Baidhawiy Asy-Syafi’iy (wafat di Tibriz 685 H atau 692 H) yang berjudul Anwar At-Tanzil wa Asrar At-Ta’wil sebagai sandaran utamanya hingga ada yang menganggap Turjumanul Mustafid sebagai terjemahan  tafsir tersebut. Mengapa tafsir Al-Baidhawiy? Tentang pentingnya tafsir ini dapat kiranya dipadai dengan menukilkan beberapa patah kata dari pengarang Kasyf Azh-Zhunun.

Haji Khalifah menulis dalam Kasyf Azh-Zhunun, “Tafsir Al-Baidhawiy ini adalah sebuah karya tulis (kitab) yang teramat penting dan sudah terkenal sekali. Di dalamnya, ia memuat [ringkasan] dari Al-Kasysyaf (karya Az-Zamakhsyariy) pada hal-hal yang menyangkut Al-I’rab, Al-Ma’aniy dan Al-Bayan; dari At-Tafsir Al-Kabir (karya Fakruddin Ar-Raziy) pada hal-hal yang menyangkut Al-Hikmah dan Al-Kalam; dan dari tafsir Ar-Raghib pada hal-hal yang menyangkut Al-Isytiqaq, pengertian-pengertian yang rumit serta isyarat-isyarat yang tersirat. Lantas ia menambahkan ke semua itu buah pikir yang dilepaskan oleh petik api pikirannya. Sehingga, hilanglah karatan keraguan dari batin serta bertambahlah kedalaman dan keluasan dalam ilmu pengetahuan.”[1]

Haji Khalifah lantas mengatakan, “Atas anugerah Allah Ta’ala, karya tulis ini kemudian memperoleh sambutan baik dari mayoritas pakar dan ulama-ulama yang utama. Mereka melakukan kajian serta menuliskan hasyiyah untuknya. Di antara mereka, ada yang menuliskan komentar untuk beberapa surah dari tafsir tersebut, ada juga lainnya yang menuliskan hasyiyah yang lengkap, dan ada yang hanya menuliskan komentar untuk beberapa tempat dalam tafsir.”[2]

Haji Khalifah lalu menyebutkan lebih dari 40 hasyiyah yang telah dituliskan untuk tafsir Al-Baidhawiy yang menandakan ketinggian kedudukan tafsir ini di kalangan para ulama, antara lain: Hasyiyah Muhyiddin Muhammad Al-Qujawiy (wafat 951 H) dan Hasyiyah Ibnu Al-Munjid, guru dari Sultan Muhammad Khan Al-Fatih.[3] Husain Adz-Dzahabiy menyebutkan, hasyiyah-hasyiyah yang sangat populer dan paling banyak beredar serta sangat berguna adalah Hasyiyah Qadhi Zadah, Hasyiyah Asy-Syihab Al-Khaffajiy dan Hasyiyah Al-Qunawiy.[4]

Muhammad Al-Fadhil bin ‘Asyur menyebutkan, tafsir ini telah menempati bagian puncak dari “struktur piramida” materi-materi yang diuji untuk kelulusan para sarjana ilmu-ilmu Islam di seluruh kawasan Islam di barat dan di timur. Kedudukan tersebut pertama sekali mengakar di kawasan Timur Tengah dan Timur Jauh, dan secara konsisten menjadi bagian dalam kurikulum pelajaran di wilayah-wilayah Persia, Afghan dan India. Dan ketika berbagai instrumen pendidikan Islam terbawa masuk dari negeri-negeri Persia ke Asia Kecil dan seluruh kerajaan di bawah Dinasti Utsmaniyyah, pembelajaran tafsir ini juga ikut terbawa ke sana. Sementara di Mesir, tafsir ini sudah terkenal sebelum Mesir berada di bawah bendera Dinasti Utsmaniyyah sebab di antara penulis komentar untuk tafsir ini adalah dua orang ulama Mesir di penghujung abad ke-9 H dan permulaan abad ke-10 H, yaitu Al-Qadhi Zakariyya Al-Anshariy dan Al-Imam As-Suyuthiy. Dalam abad ke 10 H, seiring dengan bergabungnya institut-institut keilmuan yang penting di negeri-negeri Arab, terutama Al-Azhar dan Az-Zaitunah, di bawah mahkota Dinasti Utsmaniyyah, tafsir ini menjadi semakin besar kedudukannya. …Maka tafsir ini kemudian menjadi bahan wajib ajar mulai pelosok India sampai dengan Barat Jauh (Al-Maghrib Al-Aqsha), dan semakin menguat di abad ke 11 H dengan munculnya dua hasyiyah yang ditulis oleh ‘Abdul Hakim As-Sayyalakutiy dari Lahore dan Syihabuddin Al-Khaffajiy dari Mesir.[5] 

Halaman permulaan surah At-Taubah dari naskah Turjumanul Mustafid yang dicetak di Mumbai, negara bagian di India, pada 1370 H/1951 M. Naskah ini dijumpai di Geurugok, Gandapura, Bireuen. (Foto: Misykah.com)
Halaman permulaan surah At-Taubah dari naskah Turjumanul Mustafid yang dicetak di Mumbai, negara bagian di India, pada 1370 H/1951 M. Naskah ini dijumpai di Geurugok, Gandapura, Bireuen. (Foto: Misykah.com)

Dari nukilan-nukilan di atas sudah dapat dipahami kiranya mengapa Syaikh ‘Abdur Ra’uf memilih tafsir Al-Baidhawiy sebagai sandaran utamanya. Penerjamahan buah pengetahuan yang dipetik dari tafsir ini ke dalam bahasa Jawiy dengan demikian merupakan suatu sumbangan terpenting bagi pengembangan ilmu tafsir dan pembelajarannya dalam masyarakat-masyarakat Islam Jawiy (Melayu) di Asia Tenggara.

Lantas mengapa Syaikh ‘Abdur Ra’uf meminta muridnya Baba Dawud Al-Jawiy untuk menambahkan kisah-kisah ke dalam Turjumanul Mustafid?

Sebagaimana telah disebutkan oleh Haji Khalifah dengan sangat tepat bahwa Al-Baidhawiy dalam menuliskan tafsirnya telah mengacu kepada tiga karya tafsir: Al-Kasysyaf, At-Tafsir Al-Kabir, dan tafsir Ar-Raghib Al-Isfahaniy dalam hal-hal seperti tersebut di atas. Porsi kisah tidak mendapatkan ruang yang lebar dalam tafsir Al-Baidhawiy begitu pula dalam tafsir-tafsir yang menjadi acuannya.

Muhammad Husain Adz-Dzahabiy mengatakan, Al-Baidhawiy—rahimahullah—sangat sedikit menyebutkan kisah-kisah Isra’iliyyat, dan kisah-kisah yang disebutnya pun selalu diawali dengan kata: qila (dikatakan; konon katanya) atau ruwiya (dikisahkan) , untuk menunjukkan kelemahan kisah tersebut.[6]  

Sisi inilah yang tampaknya ingin diperbaharui Syaikh ‘Abdur Ra’uf dalam Turjumanul Mustafid sehingga tafsir berbahasa Jawiy ini juga meliputi kisah-kisah yang dapat kiranya mendatangkan lebih banyak faedah kepada pembacanya. Tidak tertutup kemungkinan, suatu kondisi sosial dan taraf pemikiran masyarakat Aceh kala itu telah mendorong Syaikh ‘Abdur Ra’uf untuk menambahkan kisah-kisah dalam tafsirnya.   

Kerja penambahan tersebut kemudian diserahkan kepada muridnya, Baba Dawud Al-Jawiy, dan atas penyerahan tugas tersebut kepadanya dapat dipahami, Baba Dawud adalah seorang ulama yang ahli dalam ilmu tafsir. Sebab, kerja yang dilimpahkan kepada Baba Dawud ini hakikatnya bukanlah suatu kerja yang mudah, dan hanya akan mampu dilakukan oleh seorang alim yang telah mapan dalam ilmu pengetahuannya dan pakar dalam ilmu tafsir Al-Qur’an.

Untuk mencapai tujuan sebagaimana maksud gurunya, Baba Dawud memilih menukilkan dari berbagai tafsir, dan yang terbanyak diambilnya adalah kisah-kisah dari tafsir Al-Khazin. Tidak disebutkan tafsir-tafsir selain tafsir Al-Khazin namun hal ini tentu dapat diketahui dari dalam naskah Turjumanul Mustafid.

Pemilihan tafsir karya Al-Khazin (Abu Hasan ‘Ali bin Muhammad Al-Baghdadiy Asyafi’iy, wafat 741 H) sebagai sumber utama kisah-kisah yang ditambahkan dalam Turjumanul Mustafid adalah dikarenakan tafsir yang diberi judul Lubab At-Ta’wil fi Ma’ani At-Tanzil ini terkenal memuat secara luas peristiwa-peristiwa sejarah dan kisah-kisah umat-umat terdahulu.[7] Kerja Baba Dawud dalam menukilkan kisah-kisah dari tafsir Al-Khazin yang merupakan ringkasan dari Ma’alim At-Tanzil karya Al-Baghwiy ini seyogyanya dapat dicermati dan dikaji untuk dapat diketahui perkembangan ilmu tafsir di Aceh dan Asia Tenggara dewasa itu.

Menerawang Baba Dawud Al-Jawiy

Tentang Syaikh ‘Abdur Ra’uf dan tafsirnya Turjumanul Mustafid sudah sangat sering terbaca dalam berbagai tulisan mengenai sejarah Aceh. Sementara mengenai Baba Dawud Al-Jawiy, sejauh yang diketahui, A. Hasjmy telah membicarakan dan menyebutnya dengan Teungku Chik di Leupu. Begitu pula para pengkaji seperti Azyumardi Azra, Wan Mohd. Shaghir Abdullah kemudian Mehmet Ozay.

Belum banyak yang dapat diketahui tentang Baba Dawud selain ia seorang ulama Aceh berdarah keturunan Turki sehingga lebih dikenal dengan Baba Dawud Ar-Rumiy. Ar-Rum adalah kata-kata dalam bahasa Arab untuk menyebut bangsa Romawi yang imperiumnya berpusat di Konstantinopel. Setelah Dinasti Ustmaniyyah (bangsa Turki) berhasil menundukkan imperium Romawi dan menguasai Konstantinopel, nisbah Ar-Rumiy tetap digunakan untuk menandakan orang-orang yang datang dari ibukota pemerintahan Dinasti Utsmaniyyah.

Dalam teks secara lengkap dituliskan nama: Baba Dawud Al-Jawiy bin Isma’il bin Agha Mushthafa bin Agha ‘Ali Ar-Rumiy. Ada perbedaan pandangan mengenai apakah Baba Dawud telah datang dari Turki atau ia seorang yang terlahir dari ayahnya yang Turki dan ibunya Aceh. Dari cara penulisan nisbah pada teks nama ada sedikit keganjilan. Biasanya, nisbah atau beberapa nisbah berada di ujung sekali setelah nama yang bersangkutan dan silsilah keturunannya semisal ‘Abdur Ra’uf bin ‘Ali Al-Jawiy Al-Fanshuriy. Tapi di sini, nisbah Al-Jawiy secara khusus ditulis setelah nama Baba Dawud sementara nisbah Ar-Rumiy ditulis setelah nama ayah dan kakek-kakeknya. Teks ini, barangkali, hendak mempertegas bahwa Baba Dawud adalah seorang Jawiy, lahir dan besarnya di Aceh, hanya saja ia berasal dari keturunan yang ayah dan kakek-kakeknya berasal dari Rum atau Turki.

Teramati pula bahwa nama ayahnya tidak diawali gelar Agha seperti nama kakek-kakeknya yang bergelar Agha. Asal kata agha bisa jadi dari bahasa Turki, Persia atau Moghul dengan makna yang bervariasi antara lain ketua, panglima, kepala suku atau pelayan yang dikebiri. Agha juga merupakan gelar yang digunakan untuk para komandan pasukan elit infanteri Dinasti Utsmaniyyah yang disebut dengan Janissary (al-Inkasyariyyah; bala tentara baru).[8]

Tampaknya, ayah Baba Dawud yang bernama Isma’il bukan seorang Janissary tapi ia putra dari seorang komandan Janissary di Turki. Isma’il inilah yang sepertinya telah berhijrah dan bermukim di Aceh. Latar belakang hijrahnya ke Aceh belum diketahui, dan kemungkinan seperti yang disebut Azyumardi Azra bahwa Isma’il adalah salah seorang “serdadu bayaran Turki”, tidak memiliki sandaran yang kuat. Perihal hijrah Isma’il ke Aceh bisa saja atas sebab lain di luar urusan kemiliteran. Wan Mohd. Abdullah mencoba memberi kemungkinan lain bahwa Isma’il ini boleh jadi seorang tokoh sufi dalam Thariqat Al-Qadiriyyah. Tapi argumentasi untuk kemungkinan ini pun hakikatnya sangat lemah.

Menarik, nama Baba Dawud itu sendiri. Baba: kata-kata dalam bahasa Persia bermakna ayah dan juga digunakan dengan makna kakek. Baba dengan makna yang serupa juga digunakan dalam Turki dan Urdhu. Sementara kata bab sebagaimana tertulis dalam teks merupakan kependekan dari kata baba. Di sebagian kawasan Islam, kata-kata ini kemudian menjadi sebuah peristilahan untuk menyebut para tokoh sufi yang besar.[9] Dalam thariqat Al-Baktasyiah (Bektashi Order), Baba atau Bab merupakan peringkat syaikh yang hanya dapat dicapai seorang darwis dalam waktu yang lama, yaitu setelah ia dapat memahami dan mengerti simbol-simbol (rumuz).[10] Thariqat ini menyebar di Turki dan behubungan erat dengan Janissary.[11]

Dari sisi kenyataan kakek-kakeknya yang bergelar Agha (komandan Janissary) dan Baba yang dipasangkan pada namanya, mengundang dugaan akan keterlibatannya dalam thariqat Al-Baktasyiah. Tapi kenyataan tersebut sesungguhnya tidak serta merta mendukung dugaan ini, bahkan mungkin sangat jauh dari dugaan. Baba yang dipasangkan pada namanya bisa jadi hanya berarti ia seorang syaikh, guru, atau seorang tokoh sufi besar di luar thariqat Al-Baktasyiah. Dipanggil dengan Baba lebih karena ia berdarah keturunan Turki.

Tambahan bagi Kesusastraan Jawiy

Sebagaimana terlihat, dan sudah lumrah pada naskah-naskah Arab-Jawiy, terutama pada bagian khuthbah (pembuka) dan akhir (kolofon) sebuah karangan, pengarang menulisnya dengan bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jawiy.

Hal yang menarik pada pada teks yang sedang dibicarakan ini, kata “tarjamah” (teks Arab/bahasa sumber) pada baris 1  diterjemahkan dengan kata “dijawikan” (teks Jawiy/bahasa sasaran) pada baris 5. Tentu saja, padanan yang dipilih sangat sesuai dengan makna yang dimaksud dan lebih singkat. Ini suatu hal yang dapat menandakan kelihaian pengarang dalam alih bahasa teks-teks Arab ke dalam Jawiy.

Pada baris ke 9, terlihat ada bagian terjemah yang tidak terdapat dalam teks Arab (sumber), yaitu kalimat: …dan dalam akhirat, dan perkenankan olehmu hai Tuhanku. Bagian ini, mungkin saja, penyempurnaan dari yang tertinggal dalam teks Arab secara tidak sengaja. Kalimat yang seharusnya dalam teks Arab ialah:

نفعنا بعلومه في الدنيا وفي الآخرة آمين

Pada baris 15, kata khilaf adalah tambahan dalam terjemah (sasaran) yang juga tidak terdapat pada teks Arab (sumber). Namun, penambahan ini jelas dimaksudkan untuk lebih memperjelas makna yang diinginkan dalam teks Arab. Teks Arabnya berbunyi:

ويزيد ……. وبعض روايته في القراءة

Yakni, berbagai qira’at selain qira’at mutawatir yang diriwayatkan oleh gurunya, Syaikh ‘Abdurra’uf As-Sinkiliy. 

Dalam kapasitasnya sebagai penerjamah teks-teks Arab ke Jawiy secara jelas Baba Dawud menunjukkan kepiawaiannya dalam bahasa sumber dan sasaran. Ia tidak hanya menguasai bahasa Arab dengan baik tapi juga mapan dalam bahasa Jawiy. Bahkan, dengan tugas yang dipercayakan oleh gurunya Syaikh ‘Abdurra’uf As-Sinkiliy untuk menambahkan kisah-kisah dalam Turjumanul Mustafid, ia menjadi salah satu sumber bagi khazanah kesusastraan Jawiy. (Taqiyuddin Muhammad) 

Catatan Kaki:



[1] Haji Khalifah (Musthafa bin ‘Abdullah), Kasyf Adz-Dzunun ‘an Asami Al-Kutub wa Al-Funun,  Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabiy, 1941, j. 1, h. 187.

[2] Ibid, h. 188.

[3] Ibid.

[4] Muhammad Husain Adz-Dzahabiy, At-Tafsir wa Al-Mufassirun, Kairo: Maktabah Wahbah, 2000, j. 1, h. 215.

[5] Muhammad Al-Fadhil bin ‘Asyur, At-Tafsir wa Rijaluhu, Kairo: Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah, 1970, h. 99-100.

[6] Muhammad Husain Adz-Dzahabiy, j. 1, h. 213.

[7] Lihat, Muhammad Husain Adz-Dzahabiy, j. 1, h. 222-223.

[8] Mushthafa Barakat, Al-Alqab wa Al-Wadha’if Al-‘Utsmaniyyah, Kairo: Dar Al-Gharib, 2000, h. 173.

[9] Muhammad Nuruddin ‘Abdul Mun’im, “Laqab Baba wa Asyharu man Luqqibu bihi min Al-Mutshawwifah wa Asy-Syu’ara’ wa Al-Iraniyyin”, www.digital.ahram.org.eg .

[10] ‘Abdur Rahman ‘Abdul Khaliq, Al-Fikr Ash-Shufiy fi Dhau’i Al-Kitab wa As-Sunnah, Kuwait: Maktabah Ibn Taimiyyah, 1984, h. 415.  

[11] Lihat, ‘Ala’ Musa Khazhim Nawras, “Mada Mas’uliyati Al-Inkisyariyyah fi Tadahwur Ad-Daulah ‘Utsmaniyyah”, dalam Majallah Kulliyat Al-Adab Al-‘Iraqiyyah, Edisi 30, 1981.