Batu Aceh

Batu Aceh

Oleh Sukarna Putra, Khairul Syuhada, dan Mizuar Mahdi

Kami tahu judul di atas akan mengingatkan Pembaca kepada seorang ahli yang telah mempopulerkan istilah “Batu Aceh” lewat karyanya: Batu Aceh: Early Islamic gravestones in Peninsular Malaysia. Prof. Othman Yatim memang salah seorang penulis pelopor dalam lapangan ini. Tapi kami tidak bermaksud menuliskan sesuatu yang seilmiah karya tersebut atau semisalnya. Di sini, kami hanya merekam jejak perasaan, atau katakanlah lintasan pikiran, yang hadir saat  melakukan tugas kami di lapangan.

Suatu hal yang kami percaya, setiap orang yang melakukan tugasnya seperti kami tentu akan merasakan atau berpikiran sama. Bayangkan saja, bagaimana suasana batin Anda saat mendapati kenyataan bahwa hampir di setiap sudut Kota Banda Aceh dan sebagian besar wilayah di Kabupaten Aceh Besar, dijumpai deretan-deretan batu nisan berukir indah, dan terkadang berukuran setinggi badan atau malah lebih. Takjub, dan spontan saja sekian pertanyaan menjelma dalam benak.

Sayang, zaman seperti sedang tidak membuka diri, mengunci jawaban untuk  banyak pertanyaan. Salah satunya, mengapa mereka yang hidup di zaman lampau itu bersikeras untuk menghasil karya seni semacam itu: Batu Aceh? Saya mencoba mereka-reka beberapa jawaban, namun tak pernah berhasil memuaskan diri saya sendiri. Sebuah “dialog” panjang dan lama dengan seluruh tinggalan sejarah itu, saya kira, perlu dilakukan untuk memperoleh jawaban-jawaban yang dicari.

Bagaimanapun, suatu hal yang kami yakin, seluruh batu nisan itu pada hakikatnya sedang meriwayatkan sebuah sejarah yang besar dalam banyak halnya: tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, orisinalitas dalam berkarya dan berkesenian, ketekunan dan kesabaran untuk mencapai tingkat kematangan dan kemapanan, daya imajinasi yang tinggi, kesetiaan dan loyalitas, dan yang paling mutlak adalah keteguhan dalam ketauhidan.

Batu nisan Aceh, dengan demikian, merupakan sebuah produk kebudayaan dan peradaban Islam yang mesti mendapatkan tempatnya tersendiri dalam sejarah kebudayaan Islam. Dan karena ini pulalah, Banda Aceh dan Aceh Besar yang memiliki kekayaan tinggalan sejarah teramat besar jumlahnya ini layak untuk ditabalkan sebagai kota warisan dunia.

Tak sabar rasanya untuk menunjukkan kepada Pembaca apa yang sebenarnya telah kami lihat. Dan sungguh tidak terbayangkan kiranya jika mulut tak berdecak kagum. Sungguh, di luar sangka pula jika hati tidak membaitkan kata-kata melukiskan kebanggaan, sekalipun pada saat yang sama pikiran sedang dikerumuni sekian tanda tanya.

Berikut ini adalah gambar-gambar yang kami hasilkan saat proses digitalisasi yang kami lakukan untuk batu-batu nisan yang terdapat kompleks Tuan di Kandang, Gampong Pandei, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh dan Kompleks Meurah Dua, Gampong Ulee Tuy, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Ada dua alasan, sebenarnya, mengapa kedua kompleks ini menjadi target digitalisasi: pertama, keduanya mengandungi pusara sekian tokoh sejarah, mulai sultan dan raja, kerabat istana sampai dengan ulama. Kedua, kompleks-kompleks ini belum diberikan cungkup yang semestinya. Lambat-laun, batu-batu nisan itu akan mengalami erosi yang dapat memburamkan inskripsi-inskripsi yang ada.

Untuk kompleks makam Tuan di Kandang yang terletak di sebelah barat Krueng Aceh, digitalisasi dilakukan pada Jum’at, 22/11/2013. Ukuran tinggi dan lebar batu nisan di kompleks ini bervariasi, dari ukuran terkecil 21×18 cm hingga paling besar berukuran 1.72×54 cm. Nisan-nisan di sini juga memiliki tiga periodeisasi bentuk batu nisan, yaitu yang bertipologi nisan Samudra Pasai, Plak Pleng (Lamuri), dan nisan Aceh Darussalam. Terakhir memiliki jumlah yang dominan dalam kompleks tersebut. Keseluruhannya berjumlah 69 nisan dengan berbagai kondisi. 18 nisan masih dalam bentuk normal (berpasangan batu kepala dan kaki nisan); 39 tidak in situ, namun masih tergolong utuh; dan 15 nisan sudah dalam kondisi patah.

Untuk kompleks makam Meurah Dua yang berjarak sekitar 7 kilometer arah barat daya Gampong Pande, dilakukan pada hari yang sama dan dilanjutkan keesokan harinya, Sabtu  23/11/2013 . Batu nisan berukuran besar dalam satu deretan, serta jumlah nisan yang banyak menjadi ciri khas kompleks ini. Total keseluruhan mencapai 83 nisan, dan rata-rata berukuran 180×40 cm. Sedangkan kondisi nisan-nisan dalam kompleks tersebut juga beragam, yaitu: nisan yang pada inskripsinya mengalami kerusakan rata-rata 35% berjumlah 24 nisan, jumlah nisan yang patah dan hilang sebanyak 16 nisan, dan 43 lainnya masih dalam kondisi utuh, 67 di antaranya masih berpasangan dan sisanya sudah tidak ditemukan lagi. Nisan-nisan yang berjejer rapat, serta bagian-bagian nisan yang ditutupi lumut dan aus merupakan tantangan yang berarti pada saat pengambilan gambar.

_DSC0601
Komplek Makam Tuan di Kandang
_DSC0717
Komplek Makam Tuan di Kandang
_DSC0742
Komplek Makam Tuan di Kandang
I.A.a1
Komplek Makam Meurah Dua
_DSC0724
Komplek Makam Tuan di Kandang

 

 

_DSC0739
Komplek Makam Tuan di Kandang
_DSC0744
Komplek Makam Tuan di Kandang
_DSC0869
Komplek Makam Meurah Dua
I.A.a2
Komplek Makam Meurah Dua
I.A.c2
Komplek Makam Meurah Dua
I.A.a2
Komplek Makam Meurah Dua
VI.A.c2
Komplek Makam Meurah Dua
Komp.4
Komplek Makam Meurah Dua
_DSC0979
Komplek Makam Meurah Dua
_DSC0919
Komplek Makam Meurah Dua
_DSC0886
Komplek Makam Meurah Dua