Bireuen 600 Tahun Silam Bukan Legenda

Teungku Razali Ismail menunjukkan kompleks makam dari zaman Samudra Pasai di Gampong Bireuen Meunasah Capa, Bireuen. (Foto CISAH)
Teungku Razali Ismail menunjukkan kompleks makam dari zaman Samudra Pasai di Gampong Bireuen Meunasah Capa, Bireuen. (Foto CISAH)

BERBAGAI legenda tentang Jeumpa dan Bireuen sering didengar dan dituturkan. Tapi, yang satu ini di luar itu semua. Ia adalah penanda atau jejak sejarah yang membuktikan kelampauan Bireuen sejak 600 tahun silam. Jejak itu kini ditutupi rumput di pinggir jalan Kilometer 1 Bireuen-Takengon, dan indikator keterawatannya nihil.

Siapa nyana kompleks makam kuno di Dusun Kompleks Mesjid (Komes), Gampong Bireuen Meunasah Capa, Bireuen, itu akan memberikan informasi sekuno apa wilayah permukiman yang terletak di tengah-tengah Kota Juang ini. Tidak ada hikayat atau legenda yang menuturkan apapun tentangnya sebab legenda tersiar menunjuk satu lokasi lain sebagai bekas Kerajaan Jeumpa (Gampong Blang Seupeung, Jeumpa). Meskipun negeri Bireuen disebut juga dalam Kronik Pasai (teks Kronik: Biruan), namun informasi kesejarahannya yang lebih sering diketahui umum bermula dari masa yang sesungguhnya belakangan sekali. Yakni, masa setelah Pemerintah Kolonial Belanda menjadikannya sebagai salah satu wilayah kewedanaan dari Afdeeling Noord Kust van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) pada sekitar 1934.

Inskripsi Arab pada salah satu batu nisan di kompleks makam Meunasa Capa, Bireuen. (Foto: CISAH)
Inskripsi Arab pada salah satu batu nisan di kompleks makam Meunasah Capa, Bireuen. (Foto: CISAH)

Sekian lama nisan-nisan di kompleks makam yang tidak berada jauh dari Mesjid Agung Bireuen itu bertahan dan menyaksikan masa-masa yang melewatinya begitu saja. Kini, keberadaannya bersama-sama dengan Mesjid Agung Bireuen dan bekas Dayah Cot Meurak yang terkenal, serta bekas aliran Krueng (sungai) Juli yang lama sudah berubah menjadi saluran irigasi, dapat melengkapi petunjuk-petunjuk bahwa kawasan itu merupakan pusat negeri Bireuen di masa lampau.

“Keberadaan nisan-nisan itu sebenarnya sudah lama juga diketahui dan masih banyak juga yang lain,” ujar Teungku Razali Ismail (42), salah seorang imam Mesjid Agung Bireuen, kepada misykah.com, “karena itu saya mencoba menghubungi CISAH, siapa tahu dapat berguna untuk penambahan data-data sejarah autentik yang diperlukan.”

Razali yang juga pengasuh Dayah Bustanul Mu’minin, Lhok Awe, Bireuen, juga mengaku telah menyampaikan perihal keberadaan situs sejarah penting ini kepada pihak wakil bupati yang menjabat sebelum sekarang. “Waktu itu saya ketahui, akan ada pelebaran jalan dari pihak Pemerintah. Menurut batas pelebaran jalan, saya lihat sebagian kompleks makam akan kena. Ya, kemudian saya bilanglah dengan Pak Busmadar, wakil bupati Bireuen saat itu. Tapi sekarang saya tidak tahu bagaimana rencananya,” tutur Razali.

Amatan CISAH, di kompleks makam tersebut terdapat beberapa nisan untuk sekitar 5 makam. Rata-rata batu nisan itu berukuran besar, dan secara mutlak berasal dari zaman Samudra Pasai. Satu makam di antaranya menduduki posisi paling tinggi dari segi nilai sejarah, karena tidak hanya bentuk nisan yang unik dan mirip dengan yang ditemui di banyak kawasan tinggalan sejarah Samudra Pasai, tapi juga karena kedua nisannya memiliki inskripsi Arab. Kaligrafi dan ragam hias pada kedua nisan makam sangat penting untuk melihat perkembangan kebudayaan Islam di wilayah Bireuen pada saat itu, dan yang lebih penting lagi karena epitaf pada nisan menyebut nama “Yuhan Min” dan penanggalan wafat tokoh tersebut yang tertulis dengan sangat sempurna, yaitu tahun 844 (delapan ratus empat puluh empat) hijriah (1441 M).  Dengan perhitungan hijriah, berarti Bireuen telah ada sejak lebih dari  591 tahun yang lalu dan dengan masehi 572 tahun.

Menurut CISAH, suatu hal yang tak kalah penting lagi adalah karena sang tokoh Yuhan Min telah hidup di masa Sultan Zainal ‘Abidin Ra-Ubabdar (wafat 841 H) dan puteranya Khawwajah Sultan Al-‘Adil Ahmad (wafat 868 H) berkuasa di Samudra Pasai. Kedua sultan ini merupakan sultan-sultan kuat dari zaman Samudra Pasai yang telah membuka kawasan yang luas bagi Islam di Asia Tenggara.

Sekarang, semua terpulang kepada masyarakat Bireuen apakah bukti sejarah yang penting ini akan dipertahankan atau dibiarkan. “Bagi CISAH, kami tidak akan pernah melepaskannya begitu saja!” tegas Abdul Hamid, Ketua CISAH. (Tim misykah.com)