“Boh Kruet” dalam Keseharian Orang Aceh

kruet
“Boh Kruet” [foto: safar syuhada/misykah.com]
Di Aceh, tidak perlu tersinggung, dan cobalah untuk tersenyum, jika ada orang yang mentamsilkan wajah Anda seperti boh kruet; “Pakon meunan muka, ka lage boh kruet?” Sebab itu tandanya ia peduli dengan suasana hati Anda yang sedang gundah gulana.

Boh kruet adalah sebutan orang Aceh untuk jeruk purut (Indonesia) atau limau purut (Malaysia). Orang Inggris menyebutnya dengan kaffir lime atau kadang-kadang dengan makrut lime. Di Thailand dan Kamboja, sebutan untuk buah yang berkulit berkerut ini hampir sama dengan sebutannya di Aceh. Di Thailand, ma kruut, dan di Kamboja, krauch soeuch (krô:ch saë:ch). Bernama ilmiah Citrus hystrix, ia merupakan penduduk asli Indocina dan Semenanjung Melayu.

Di Aceh, sama seperti di banyak daerah lainnya di Asia Tenggara, perasan boh kruet (jeruk purut) digunakan untuk mengurangi aroma amis ikan. Untuk daging ikan hiu, belut, dan lele yang digulai (bukan digoreng) orang Aceh secara khusus menggunakan perasan boh kruet yang rasanya lebih asam dari jenis jeruk lainnya, sebab amis jenis-jenis ikan itu melebihi ikan lain.

bakruet
Bak kruet/pohon jeruk purut yang merupakan tumbuhan perdu, yang kebanyakan ditanam di perkarangan rumah. [foto: safar syuhada/misykah.com]
Selain perasan buahnya, daun boh kruet juga digunakan dalam makanan, baik untuk penyedap cita rasa dan aroma, atau malah dimakan mentah. Biasanya, daun boh kruet terlebih dahulu dicincang halus lalu dicampurkan dalam masakan seperti dalam gulai pliek ue yang khas Aceh dan payeih (ikan pepes), atau dalam lalapan semacam lambai, yang acap dihidangkan sebagai makanan berbuka puasa di bulan Ramadhan. Daun yang utuh juga dimasukkan dalam gulai sayur semisal gulei boh labu (sayur labu), gulei bak leubu (sayur batang keladi), gulei rampoe (sayur campur) untuk memunculkan cita rasa dan aroma yang istimewa.

Boh kruet, terutama perasannya, juga digunakan oleh orang Aceh sebagai campuran pembersih dan pembau harum, dan dalam tradisi Aceh, barangkali, dianggap sebagai pembersih super clean. Sehingga, muncul istilah dan praktik geu peu-‘i boh kruet (dicuci dengan air campuran jeruk purut) untuk seseorang yang diusir atau kehadirannya di tengah-tengah keluarga tidak dimaui lagi, yaitu dengan cara membasuh seluruh jejak dan bekas orang itu dalam rumah.

Air campuran boh kruet lazim dipakai saat mandi dan cuci rambut. Khasiatnya, mungkin, sudah diketahui sejak dulu sebagai penguat rambut dan penghilang ketombe. Manoe peut ploeh peut (mandi pada hari ke-44) bagi wanita selesai bersalin seolah kurang afdal tanpa air yang dicampur dengan boh kruet.

Air campuran boh kruet juga digunakan untuk sesuatu yang tidak persis diketahui maksudnya tapi sudah mentradisi, namun mungkin saja tidak lebih dari maksud agar lebih bersih dan berbau harum, seperti penyiraman air ini pada papan kerenda orang mati. Saking mentradisinya praktik ini, aroma boh kruet jadi sering dikaitkan dengan orang yang telah mati.

Praktik lain, yang juga masih sukar dipahami adalah cuci muka dengan air campuran boh kruet di atas batu nisan makam. Diistilahkan dengan rah muka bak jrat (cuci muka di makam). Praktik ini dianggap sebagai salah satu bentuk kesetian atau kebaktian kepada orang yang telah meninggal dunia. Membersihkan kuburan, doa dan rah muka bak jrat merupakan satu rangkaian [acara] yang dilakukan ketika anak-anak, keluarga atau sahabat dekat almarhum berziarah ke kuburnya.

Tradisi lainnya ialah mencuci ari-ari bayi dengan air campuran boh kruet sebelum ditanam di halaman rumah. Itu, katanya, dikarenakan ari-ari bayi tidak ditanam dengan ukuran yang dalam sekali. Dicuci dengan air boh kruet supaya hilang baunya sehingga tidak mudah diganggu binatang liar.

Selain digunakan dalam makanan dan sebagai campuran pembersih, boh kruet dipakai pula untuk pengobatan tradisional antara lain untuk menurunkan panas pada anak-anak. Kulit boh kruet diiris-iris dan dicampur ke dalam minyeuk simplah (minyak kelapa yang tidak dijemur di panas matahari) kemudian digosok-gosokkan pada kepala anak seperti menggosok minyak rambut.

Dalam satu karya Melayu atau Jawiy berjudul Hukum Jima’ (h. 16) juga tertulis:

“Inilah obat perempuan yang sentiasa berdarah maka ambil limau purut yang tiga setangkai itu dan lada suluh tujuh biji dan lengkuas dan halia padi keling maka minum tiga pagi jangan bersama-sama denga laki tiga malam dan hari, Inya’Allah Ta’ala sembuhlah ia.”

Sebagian penyakit kejiwaan konon bisa disembuhkan dengan mandi air campuran boh kruet. “Orang yang birah manyang (temperamental) biasanya dapat disembuhkan dengan sering mandi ie boh kruet karena aromanya dapat membuat dia merasa rileks,” tutur Hadami M. Daud (48), pedagang rempah dan wewangian tradisional di pasar Lhokseumawe.

Hadami juga menambahkan, di sebagian daerah di Aceh, boh kruet dipakai dalam acara peusijuk (Melayu: tepung tawar). Selain aromanya yang bisa membuat seorang nyaman, boh kruet dianggap memiliki makna simbolis, yaitu harapan agar orang yang dipeusijuk di masa depannya dapat menjaga budaya yang baik yang diwariskan para pendahulunya seperti kegotong-royongan, kesetiaan, suka berderma dan mewaqafkan harta, serta lainnya.

Begitu banyak kegunaan boh kruet dalam keseharian orang Aceh, malah mungkin bisa dikatakan, dalam tradisi orang Aceh, hampir tiada hari tanpa boh kruet atau daunnya. Karena itu, pohonnya banyak dijumpai di halaman rumah orang Aceh, terutama mereka yang tinggal di kampung-kampung. Ini tentu suatu budaya yang patut dilestarikan. (Malikussaleh, Safar Syuhada)