Bupati Aceh Utara: Mata Saya Baru Terbuka Melihat Kebesaran Samudra Pasai

Seminar
Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib (dua dari kiri) tampil sebagai pembicara seminar kebudayaan di gedung ACC Unimal, Cunda, Lhokseumawe. Foto: Adi Alam/CISAH

SEMINAR Kebudayaan diselenggarakan BEM Unimal di Gedung ACC Unimal Cunda, Kota Lhokseumawe, Rabu (18/12/2013), telah memberi pencerahan untuk Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib terkait kebesaran sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai.

“Mata saya baru terbuka, hari ini saya telah melihat makam-makam para pembesar, semua isi kandungan sejarah Samudra Pasai sungguh besar,” kata Bupati  Muhammad Thaib akrab disapa Cek Mad.

Pernyataan tersebut adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Bupati Cek Mad dalam Forum Silaturrahmi Aneuk Universitas Malikussaleh (SALEUM) tersebut. Meski hadir dalam kapasitas sebagai narasumber sebagaimana undangan panitia seminar, namun ia menolak disebut pemateri.

“Hari ini saya bukan sebagai pemateri, karena saya bukan pengkaji dan penulis sejarah, saya datang kesini untuk mendapatkan input (masukan) dari semua pihak agar pada tahun 2014  bisa memprioritaskan bidang cagar budaya sebagai tujuan utama pembangunan kita untuk Aceh Utara,” ujar Cek Mad disambut tepuk tangan peserta seminar.

Cek Mad mengajak semua kalangan di Aceh supaya ke depan meninggalkan paradigma masa lalu tentang konflik dan bencana beralih menjadi paradigma baru yaitu kebudayaan. “Saya punya slogan untuk  paradigma tersebut: “Jak ta seutot nyang ka gadoh, jak ta peugot nyang ka reuloh” (mari kita mencari yang telah hilang, mari kita memperbaiki yang sudah rusak),” kata bupati berlatar belakang mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu.

Sebelumnya pemateri pertama, Taqiyuddin Muhammad memaparkan sejarah mengenai Keturunan Khalifah ‘Abbasiah di Samudra Pasai. Ia mengungkapkan sejumlah fakta ilmiah hasil bacaan epigrafi di beberapa nisan tinggalan Samudra Pasai yang menunjukkan keakraban Samudra Pasai dengan kekhalifahan ‘Abbasiyah di Baghdad pada masa silam.

“Di antaranya yang paling tersohor adalah ‘Abdullah bin Muhammad Al-‘Abbasiy, yang diangkat menjadi Shadrul Akabir (Pemuka Para Pembesar atau Perdana Menteri) di Samudra Pasai saat Sultan Zainal ‘Abidin bin Ahmad memerintah pada awal abad ke 15 masehi,” ungkap peneliti dari CISAH ini sembari memperlihatkan bukti sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Seminar dengan tema “Budaya, Pelajaran Masa Lalu, Kekuatan Masa Kini, dan Harapan Masa Depan”, juga menghadirkan Prof. A. Hadi Arifin (penulis buku “Malikussaleh, Mutiara dari Pasai”) sebagai pemateri kedua. Kegiatan tersebut diikuti sekira 300 peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat Lhokseumawe dan Aceh Utara. (Sukarna Putra)