CISAH Tinjau Situs Jeulikat

tinjau jeulikat
Tim CISAH membersihkan sisi nisan di Gampong Jeulikat, 12/11/2013 foto: Putra/CISAH

LHOKSEUMAWE – Tim Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) kembali meninjau sejumlah situs tinggalan sejarah di kawasan Gampong  Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Selasa sore (12/11/2013).

“Kegiatan ini direncanakan berlanjut selama beberapa hari ke depan untuk mengetahui kondisi beberapa situs yang pernah diteliti, didata dan didokumentasikan dua tahun lalu, serta mencari beberapa informasi penting lainnya,” ujar Hardani, ketua tim ekspedisi tersebut kepada Misykah.com

Sebelumnya tim CISAH bersama Taqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah kebudayaan Islam, sudah melakukan penelitian secara itensif pada akhir tahun 2011 di Gampong Jeulikat. Hasil penelitian ditemukan sedikitnya 15 kompleks pemakaman kuno yang diyakini sebagai Pemukiman Pelaut (Navigator) masa Kesultanan Samudra Pasai.

“Sekitar 100 batu nisan telah diidentifikasi, di antaranya memiliki motif ornament dan simbol ukiran yang berbeda pada tiap-tiap nisan tersebut. Motif dan simbol-simbol itu merupakan ‘penunjuk tertentu’ yang digunakan para pelaut zaman Samudra Pasai,” kata Hardani.

Lokasi situs yang dikunjungi pada hari pertama kali ini adalah beberapa kompleks makam kuno di areal perkebunan masyarakat yang berada di atas bentangan bukit, luasnya mencapai 1,5 hektar. Kondisi situs makam tersebut, kata Hardani, kini tidak seperti saat kunjungan dua tahun lalu.

Ketika itu, Hardani menyebutkan, hampir sepanjang bentangan perbukitan masih mudah untuk menemukan serta melakukan pendataan pada sebaran batu nisan yang membentuk pola tertentu pada tiap-tiap kompleksnya.

“Sekarang kondisinya sudah menjadi semak belukar serta ditumbuhi ilalang yang sangat lebat, sehingga tim sangat sulit untuk menemukan kembali nisan-nisan tersebut, hanya beberapa nisan yang dijumpai di sana, itupun setelah tim bersusah payah mencarinya,” ujar dia.

Di antara empat kompleks makam kuno, kata Hardani, hanya satu kompleks makam yang letaknya paling ujung, yaitu arah timur dari keseluruhan kompleks yang kondisinya terlihat agak terawat. Masyarakat setempat menamakan kompleks itu dengan Jirat Teungku Cot Geulumpang.

“Tapi hanya sembilan batu nisan yang kondisinya masih utuh, satu di antaranya adalah sepasang batu nisan bersurat. Sedangkan beberapa nisan lainnya yang berada di kompleks tersebut kondisinya sudah tertimbun tanah, tercabut dan ditutupi ilalang,” ujar Hardani.

Hasil bacaan Epigraf Taqiyuddin Muhammad saat penelitian dua tahun lalu, inskripsi pada batu nisan bersurat tersebut bertuliskan ayat Al-Kursiy serta syair dalam bahasa Arab.(SP)