Dua Dato’ Malaysia Mencari Kebesaran Islam di Samudra Pasai

mantan police
Dua pensiunan Polis Diraja Malaysia bersama beberapa awak CISAH sedang menonton Film Dokumenter Teluk Samawi, “Berlian di Jalur Sutera Bahari” di Markas CISAH (Foto: CISAH)

EMPAT laki-laki turun dari mobil Kijang Kapsul yang menepi di jalan depan markas Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) di Uteun Bayi, Lhokseumawe, Selasa malam (3/12/2013). Dua di antaranya, Usman dan Husaini, warga Gampong Uteun Bayi. Dua lainnya tamu dari Malaysia, Dato’ Ahmad Bin Hasyim dan Dato’ Zakaria Bin Abdullah yang baru tiba di Lhokseumawe beberapa jam lalu.

Dato’ Ahmad (72 tahun), dan Dato’ Zakaria (63 tahun),  merupakan pensiunan polisi yang kini aktif sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi di Malaysia.

Malam itu sangat dingin lantaran hujan terus mengguyur, namun silaturrahmi Dato’ Ahmad dan Dato’ Zakaria dengan awak CISAH berlangsung hangat ditemani kopi dan roti bakar. “Di sini hujan terus ya, saya disambut dengan hujan rahmat,” ujar Dato’ Zakaria.

Dato’ Zakaria memiliki selera humor yang tinggi dan lihai berjenaka. Ia sering menyelipkan pernyataan sarat canda untuk menggairahkan perbincangan. “Sekarang di Malaysia tiga negeri sudah banjir. Malaysia ‘hobi’ banjir, kalau tak banjir bukan Malaysia,” tuturnya.

Menurut Dato’ Zakaria, pihaknya  “melarikan diri” sejenak dari kesibukan dan  kebisingan kota di negeri jiran dan memilih Aceh Utara sebagai tujuan kunjungannya. “Saya sudah lama buka lembaran sejarah Pasai lewat internet,” kata laki-laki yang parasnya mirip Mahatir Muhammad, namun ia mengaku tidak memiliki hubungan keluarga dengan mantan Perdana Menteri Malaysia itu.

“Memanglah banyak teori tentang kedatangan Islam di Pasai. Pihak Malaysia menceritakan satu alkisah, pihak Aceh satu alkisah, pihak Jawa juga menceritakan satu alkisah. Jadi mana satu yang bisa kita nak pegang. Cakap bukti masing-masing punya bukti,” ujar Dato’ Zakaria lagi.

Dato’ Zakaria kemudian mengungkapkan, kedatangan pihaknya ke Aceh Utara merupakan kelanjutan dari lawatan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Nusantara hingga Asia Tenggara. Sebelumnya ia pernah mengunjungi Demak pada awal tahun 1980-an. “Tetapi kami bukan untuk mengkaji dan mendalami sejarah, semata-mata ziarah untuk kepuasan batin,” katanya.

Dato’ Ahmad menambahkan, pihaknya ingin mencari kebesaran Islam dengan berziarah ke makam-makam pewaris Rasulullah yang telah menyebarkan dan melestarikan Islam. Itulah sebabnya, mereka memilih berziarah ke makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih, pendiri Dinasti Islam Samudra Pasai yang merupakan Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.

“Ini kunjungan pertama kami ke kawasan Samudra Pasai, kami ingin mencari kebesaran Islam dan keberkatan di bawah naungan orang-orang tersebut,” ujar Dato’ Ahmad yang dipanggil “Tuan Guru” oleh Dato’ Zakaria.

Dalam lawatannya ke kawasan tinggalan Samudra Pasai, Dato’ Zakaria juga ingin mengetahui dimana kuburan Malik Ibrahim. Sebab informasi yang ia peroleh, Malik Ibrahim memiliki seorang adik, yakni Maulana Ishak yang mengembangkan Islam di kawasan Samudra Pasai selepas periode pemerintahan Al-Malik Ash-Shalih.

“Maulana Ishak, bapak Sunan Giri, menantu Sunan Kalijaga. Kalau benar Maulana Ishak di sini, kemungkinan Malik Ibrahim kemari menemui adiknya. Malik Ibrahim pernah ke Kampar, menikah disana. Adiknya di sini, bapaknya di Demak. Malik Ibrahim bukan pemerintah, dia lebih kepada sosial, mengobati orang sakit atau semacam tabib,” tutur Dato’ Zakaria.

Peneliti sejarah kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad mengatakan sejauh ini tim CISAH belum menjumpai makam orang yang bernama Maulana Ishak. “Kita juga belum meneliti tokoh-tokoh Islam di Jawa, karena masih meneliti dalam kawasan bekas Kerajaan Samudra Pasai,” ujarnya.

***

Dalam bincang-bincang dengan awak CISAH, Dato’ Zakaria mengaku pertama sekali mengunjungi Aceh pada hari ketiga atau keempat pascatsunami tahun 2004 silam. Saat menjelajah Banda Aceh sampai Aceh Barat, ia melihat kemusnahan yang luar biasa. Kedatangannya untuk membuat assessment yang kemudian menjadi masukan bagi Pemerintah Malaysia untuk membantu Aceh.

“Yang membuat saya kagum, ada satu rumah dinas tidak rusak, rumah-rumah di sekitarnya habis total. Saya bilang inilah orang yang tidak pernah mengambil duit rakyat,” kata Dato’ Zakaria.

Dato’ Zakaria semakin kagum tatkala menemukan sebuah surau (meunasah) yang luput dari terjangan tsunami. “Surau berpapan itu tak rusak, bangunan lain habis semua,” ujarnya.

Tanpa terasa perbincangan dua Dato’ dari Malaysia itu dengan awak CISAH telah melangkahi pergantian hari. “Nanti Insha Allah kita yang di Malaysia akan ikut membantu perjuangan kalian, kerana kalian memang pantas dibantu”, ujar Dato’ Zakaria seraya mengajak Dato’ Ahmad dan kemudian pamit untuk beristirahat.(tim)