Di manakah Fansur? (2-4)

Situs Kompleks Makam Mahligai di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)
Situs Kompleks Makam Mahligai di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)

 

Penelitian Barus di Penghujung Abad ke-20

Sejak 1995 sampai 2000, sekelompok peneliti gabungan Indonesia-Prancis melakukan penelitian arkeologi di Barus, terutama di situs Lobu Tua. Dari hasil kerja tim peneliti ini, terbit buku Historie de Barus: Le Site de Lobu Tua II pada 2003. Terjemahannya dengan judul Barus Seribu Tahun yang Lalu terbit pada 2008.

Untuk menemukan jawaban secara arkeologis, apakah Barus hari ini—yang terletak di pantai barat bagian utara Sumatera dan masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara—adalah P’o-lu-shih yang disebutkan I-Tsing di abad ke-7, para penulis buku itu mengaku tidak menemukan artefak yang lebih kuno dari pertengahan abad ke-9. Ini, menurut mereka, menimbulkan tanda tanya tentang keberadaan Barus sebelumnya.[14] Tapi nampaknya mereka juga keberatan untuk menerima hipotesis Wolters, meski diakui cerdik, terutama karena prasasti Tamil dari Lobu Tua yang berangka tahun 1088 M menyebut Varuca yang jelas sama dengan Barus.[15]

Sementara untuk pertanyaan apakah Fansur itu sama dengan Barus, tampaknya, ini bukan isu yang memperoleh perhatian penuh dalam tulisan mereka. Mungkin, selain karena tidak ditemukan bukti arkeologis yang dapat menjelaskannya, mereka juga sudah kadung menerima Fansur adalah Barus berdasarkan alasan-alasan yang telah dikemukakan para penulis sebelumnya. Mereka juga menukilkan tradisi tutur setempat yang sifatnya tentu sekunder untuk kemudian sampai pada kesimpulan bahwa tradisi tutur mencatat kota pertama di Barus yang bernama Pansur terletak di Lobu Tua sesudah Aek Busuk Lama.[16]

Selanjutnya, mereka menyinggung tentang catatan dari beberapa sumber asing mengenai nama Barus. Catatan yang lebih meyakinkan, kata mereka, adalah catatan-catatan dari sumber-sumber Cina. Alasannya ialah karena sumber-sumber itu secara terus-menerus menyebut satu nama tempat dalam berbagai transkripsi fonetik yang tampaknya sesuai dengan nama Barus, serta disebut sebagai tempat asal kamper. Nama tempat yang disebutkan: Poluosua, Polu, Polushi dan Polu, dan ini menurut mereka, punya kaitan dengan nama Barus.[17]

Sedangkan tentang penyebutan Fahsur dalam sebuah karya tulis Arab abad ke-13 M berjudul Tazakkur fihi Akhbar min Nawahi Misr wa Aqtha’iha yang dikaitkan kepada Abu Shalih Al-Armaniy (Tarikh Abi Shalih Al-Armaniy), mereka meyakini Fahsur itu adalah Fansur, yang dengan demikian adalah Barus.[18] Tapi Alfred J. Butler belum dapat menganggapnya sebagai Fansur. Dalam catatan Butler untuk naskah yang disunting dan diterjemahkan serta diberi judul baru oleh B. T. A. Evetts dengan The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neigbhoring Coutries, ia hanya dapat berspekulasi bahwa Fahsur ini semacam salah tulis dari Mansur atau Mansurah, sebuah negeri di mulut sungai Indus, barat laut India. Menurut Batler, Mansurah ini dikenal oleh orang-orang Arab sebagai tempat asal kamper.[19]

Evetts memperkirakan informasi tentang gereja dan biara di India, Quilon dan Fahsur, yang dimuat dalam naskah Tazakkur telah diperoleh pengarangnya dari mulut para pelancong Nasrani India. Atau mungkin juga, kata Evetts, dari para pendeta Nasrani yang datang ke Mesir pada abad ke-7 untuk meminta patriakh Koptik mengirimkan uskup ke negeri yang mereka tinggalkan.[20] Namun sebagian penulis malah menyangka Al-Armaniy mengutip informasi ini dari Nazhmul Jauhar yang ditulis Sa’id bin Al-Bathriq (Tarikh Ibn Al-Bathriq),[21] seorang ahli kedokteran dan sejarawan beragama Nasrani kelahiran Fusthath, Mesir, pada 887 M, dan menjadi patriakh Melkit pada 933 M. Saya telah memeriksa Tarikh Ibn Al-Bathriq untuk peristiwa-peristiwa abad ke-7 M yang dicatatnya, dan sama sekali tidak menjumpai apapun keterangan yang mendukung sangkaan sebagian penulis itu baik secara dekat maupun jauh.[22] Seperti kata Evetts, yang berharga dalam Tarikh Ibn Al-Bathriq ialah kronik gerejawi Mesir yang dikandungnya.[23]

Seperti dikutip para penulis Barus Seribu Tahun yang Lalu dari Millies, Van der Tuuk yang merupakan seorang ahli bahasa dan sempat tinggal di Barus selama lima tahun (1852-1857), adalah orang yang pertama sekali mengidentifikasi situs “Loubu Toua” sebagai Fansur, salah satu nama Barus dalam sumber-sumber kuno.[24]

Yang menarik perhatian kemudian adalah satu bagian dari tulisan Ludvik Kalus dalam Bab XIV buku tersebut; “Sumber-sumber Epigrafi Islam di Barus”. Dalam tulisannya itu, Kalus membaca inskripsi salah satu batu nisan di kompleks makam Mahligai yang memberitahukan bahwa Almarhum adalah imam dan khatib Murra, mantan murid seorang sufi bernama Mu’azhzham Syah. Selanjutnya, Kalus menulis:

“Teks (inskripsi tersebut) menggarisbawahi bahwa ia (Mua’azhzham Syah) berasal dari kota Fansur, nama Barus pada Abad Pertengahan. Tetapi anehnya, di sini nama kota dipakai dalam bentuk nisbah, yaitu Fansuri. Hal ini cukup mengherankan, apalagi bentuknya salah (min balad Fansuri; dari negeri Fansuriy), sedangkan makamnya sendiri terletak di Barus.”[25]

Bagaimana seorang yang memang berada di Fansur—sebab Fansur diidentifikasi sebagai nama lain Barus—diterangkan berasal dari tempat lain yang disebut dengan Fansuri (Fansur)? Kekacauan ini mengherankan.

Dalam usaha memulihkan kekacauan ini ada baiknya meninjau kompleks makam Mahligai di Barus, dan membaca kembali inskripsi yang terdapat pada batu nisan dua makam di sana.

Memasuki lokasi kompleks makam Mahligai yang luas di atas punggung sebuah bukit yang menjulur ke arah barat, di sisi kanan tampak aliran sungai Aek Dakka menghujam dari arah utara. Melewati beberapa kelompok nisan yang berada di kanan jalan setapak yang sudah dibeton, terlihat sekelompok makam berada di tepi tebing, berhampiran pagar kompleks. Di situ terdapat satu makam yang batu nisan sebelah utaranya dibuat persegi delapan. Bagian puncak nisan sudah patah dan hilang. Di bagian atas batu nisan pada setiap seginya diisi tulisan. Ludvik Kalus telah membaca tulisan itu sebagaimana dimuat dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu.[26] Saya membacanya kembali sebagai berikut:

Inskripsi pada nisan makam Syaikh Zainul 'Abidin Ilyas, guru Syamsuddin, di Kompleks Makam Mahligai, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)
Inskripsi pada nisan makam Syaikh Zainul ‘Abidin Ilyas, guru Syamsuddin, di Kompleks Makam Mahligai, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)
  1. لا إله إلا
  2. الله محمد
  3. رسول الله
  4. شيخ زين العا
  5. بدين
  6. إلياس
  7. شيخ شمس الدين

Terjemah: 1. Tiada Tuhan melainkan; 2. Allah, Muhammad; 3. Rasulullah; 4. Syaikh Zainul ‘A; 5. bidin; 6. Ilyas; 7. guru Syamsuddin.

Bacaan ini sama sekali tidak berbeda dengan bacaan yang diberikan Kalus, hanya saja dia menyangsikan bacaan pada no. 6 dan mengusulkan dua bacaan: Ilyas atau Annas. Saya memastikan bacaannya adalah Ilyas, nama orang.

Nisan makam Syaikh Zainul 'Abidin Ilyas di Kompleks Makam Mahligai, Barus Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)
Nisan makam Syaikh Zainul ‘Abidin Ilyas di Kompleks Makam Mahligai, Barus Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)

Dalam penjelasannya, Kalus mempertanyakan, apakah orang ini merupakan sufi terkenal, Syamsuddin As-Samatrani, yang wafat pada 1630 dan pengikut faham Hamzah Fansuri? Pertanyaan yang sempat menyelinap dalam kepalanya itu, tampaknya, telah ia tepis sendiri dengan mengatakan, walaupun Syamsuddin mungkin tidak pernah tinggal di Barus, bisa jadi bahwa sekelompok pengikut ajarannya memang tinggal di sana.[27]

Berbeda dengan Kalus, saya meyakini identitas Almarhum yang ditulis setelah kalimat Tauhid itu adalah Syaikh Zainul ‘Abidin Ilyas, guru dari Syamsuddin. Syaikh dan Zainul ‘Abidin (hiasan para ‘abid) sebelum nama adalah gelar untuk Ilyas, sementara kata syaikh yang kedua bukan merupakan gelar untuk nama yang kedua, tapi keterangan bahwa Ilyas adalah guru dari Syamsuddin.

Siapa Syamsuddin ini?

Di tepi paling barat bukit ini atau hampir menuruni lereng sebelah barat, ditemukan lagi satu makam dengan batu nisan yang mirip. Kalus juga telah membaca inskripsi pada nisan ini. Ia membacanya mulai dari bagian bertulis imam khatib (1) sampai akhir Ad-din Rahmah (Aw Rahimah?) (8).[28] Saya membacanya sebagai berikut:

Inskripsi pada nisan makam Syaikh Syamsuddin, murid Syaikh Imam Mu'azhzham Syah dari Fansuri, di Kompleks Makam Mahligai, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)
Inskripsi pada nisan makam Syaikh Syamsuddin, imam dan khatib Murrah, di Kompleks Makam Mahligai, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)
  1. الشيخ شمس
  2. الدين …. علم (؟)
  3. إمام خطيب
  4. مرّه تلميذ
  5. الشيخ إمام
  6. معظم شاه
  7. من بلد فنصو
  8. ري باتباع

Terjemah: 1. Syaikh Syams; 2. Ad-Din… sangat alim (?); 3. imam lagi khatib; 4. Murrah (Mirrah/Merrah), murid; 5. Syaikh Imam Mu’azhzham Syah; 8. dari negeri Fansu; 8. riy secara ikutan.

Bacaan ini juga tidak ada perbedaan prinsipil dengan bacaan Kalus selain pada no. 2. Saya mengusulkan bacaan ‘alim yang berarti sangat alim, sementara Kalus pada bagian ini (Kalus: no. 8) mengusulkan rahmah atau rahimahu (rahmat atau semoga Allah menyayanginya).[29]

Letak perbedaan adalah pada pengurutan bacaan sehingga menghasilkan pengertian yang berbeda. Kalus memulainya dari imam khatib (imam lagi khatib) karena, mungkin, menurut hematnya itu adalah gelar-gelar sebelum nama orang, Murra. Padahal, itu adalah sifat-sifat yang berkaitan dengan kedudukan dan profesi. Maka, saya memaknakannya begini: “Syaikh Syamsuddin, ia adalah… lagi sangat alim, imam lagi khatib Murrah, murid secara ikutan dari Syaikh Imam Mu’azhzham Syah dari negeri Fanshuri.” Bagian yang dititik-titik adalah bagian inskripsi yang sudah lekang dan tidak ada yang dapat dibaca lagi, tapi mungkin sebelum lekang, di situ juga tertulis satu kata sifat lain.

Nisan makam Syaikh Syamsuddin, imam dan  khatib Murrah, di Kompleks Makam Mahligai, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)
Nisan makam Syaikh Syamsuddin, imam dan khatib Murrah, di Kompleks Makam Mahligai, Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Misykah.com)

Jadi, Syaikh Syamsuddin ini merupakan seorang alim, dan merupakan imam dan khatib di Murrah, yaitu nama daerah di mana sekarang terdapat makamnya di tepi timur sungai Aek Dakka. Ia juga seorang murid dari Syaikh Imam Mu’azhzham Syah dari negeri Fansuriy. Kata bi ittiba’ menunjukkan ia tidak belajar langsung dari Syaikh yang berasal dari Fansuriy itu, begitu pun ia tampaknya salah seorang pengikut yang fanatik.

Syaikh Syamsuddin telah mempelajari dan mengambil ajaran Syaikh Imam Mu’azhzham Syah lewat perantaraan gurunya, yang hampir dapat dipastikan adalah Syaikh Zainul ‘Abidin Ilyas. Karena itu, ia menyebut dirinya tilmidz bi ittiba’ mencontoh istilah tabi’in untuk generasi yang berjumpa dan belajar pada para shahabat Rasulullah [saw.]. Jika diurutkan sesuai kronologis, maka Syaikh Imam Mu’azhzham Syah Al-Fansuriy adalah guru Syaikh Zainul ‘Abidin Ilyas, dan yang terakhir ini adalah guru langsung dari Syaikh Syamsuddin, imam dan khatib Murrah, bukan Fansur. Jadi, di manakah Fansur? (Taqiyuddin Muhammad)

 

 

Catatan Kaki:

 [15] Ibid, h. 37.

[16] Ibid, h. 34.

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Abu Salih The Armenian, The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Contries, Ed. & Trans. B. T. A. Evetts, Oxford: Clarendon Press, 1895, h.

[20] Ibid, h. xvii.

[21] Cloude Guillot dkk, h. 34.

[22] Saya telah memeriksa: Eutychii, Eutychii Patriarchiae Alexandrini Annalium, 1658; Eutychii (Sa’id ibn Bathriq), Eutychii Patriarchae Alexandrini Annales (Kitab At-Tarikh Al-Majmu’ ‘ala At-Tahqiq wa At-Tashdiq), Ed. L. Cheikho, Beirut: Mathba’ah Al-Aba’ Al-Yasu’iyyin, III/VII, h. 1-88.

[23] Abu Salih, h. xvi.

[24] Cloude Guillot dkk, h. 278.

[25] Ibid, h. 322.

[26] Ibid, h. 323.

[27] Ibid.

[28] Ibid. H. 322.

[29] Ibid.