Di manakah Fansur? (4-habis)

 

Salah satu kompleks makam peninggalan sejarah di Rundeng, Kota Subulussalam. yang dijumpai Muhammad Ilyas dalam kunjungannya. (Foto: Misykah.com)
Salah satu kompleks makam peninggalan sejarah di Rundeng, Kota Subulussalam. yang dijumpai Muhammad Ilyas dalam kunjungannya. (Foto: Misykah.com)

Pendapat Sejarawan Aceh tentang Fansur

Tentu oleh karena suatu alasan yang  tidak diketahui, pendapat sejarawan Aceh tentang Fansur tampak tidak pernah didiskusikan oleh para penulis Barat. Wajar, apabila kemudian pendapat yang mengatakan Hamzah Fansuri dilahirkan dan wafat di suatu tempat dalam wilayah Aceh sekarang ini juga tidak mengemuka dalam tulisan-tulisan peneliti Barat, kecuali McKinnon tentunya, dan ini pun dapat dikatakan baru-baru saja, dan lagi-lagi tidak mengutip atau mendiskusikan pendapat sejarawan Aceh. Pendek kata, Fansur menurut kebanyakan peneliti Barat adalah Barus, dan di situlah Hamzah Fansuri dilahirkan atau pernah berada dalam waktu yang lama.

Adalah Mohammad Said yang mengutip keterangan A. Hasjmy bahwa Hamzah Fansuri lahir di kampung Pansur dekat Singkil, bukan di Barus.[43]

Sementara dalam kata pengantar Hajsmy untuk buku Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh suntingan Abdul Hadi W. M. dan L. K. Ara (1984), ia juga mengatakan, Hamzah Fansuri telah meninggal dunia pada akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda Meukuta di wilayah Singkel, dekat kota kecil Rundeng. Ia dimakamkan di Kampung Oboh, Simpang Kiri Rundeng (sekarang: Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh), di hulu sungai Singkel. Saat itu Hasjmy mengaku sudah dua kali ziarah ke makam tersebut, dan ia melihat makam itu sangat dimuliakan.[44]

Konon katanya, sebelum kedatangan Hajsmy ke kompleks pemakaman di Desa Oboh itu pada 1972, masyarakat sekitarnya tidak tahu makam utama dalam kompleks itu adalah makam Hamzah Fansuri. Makam tersebut dikenal oleh masyarakat setempat secara turun-temurun sebagai makam Mbah Oboh. Hasjmy-lah orang pertama yang memberitahukan, makam Mbah Oboh itu adalah makam Hamzah Fansuri.[45]

Beberapa bulan yang lalu, saya berkunjung ke kepustakaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Banda Aceh. Salah satu arsip yang saya jumpai di sana ialah laporan berjudul: Laporan Pendataan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Juli 2004. Saya tertarik dengan laporan ini sebab sudah lama maksud berkunjung ke Singkil untuk meninjau berbagai tinggalan sejarahnya terhalang oleh keterbatasan finansial.

Pada nomor urut 6 (enam) situs-situs tinggalan sejarah yang tercatat dalam laporan itu adalah kompleks makam Hamzah Fansuri. Di situ diterangkan bahwa kompleks makam berlokasi di Desa Oboh, Kecamatan Rundeng, tepatnya di tepi sungai Lae Soraya dengan luas areal: 91 m x 50 m. Di bawah sub judul Data Arkeologi tertulis: “Di dalam cungkup yang telah terbangun secara permanen terdapat 8 buah makam yang berorientasi utara-selatan, yaitu: (pertama,) makam Hamzah Fansuri…”[46]

Dalam laporan itu juga dimuat gambar-gambar dengan keterangan gambar di bawahnya. Di bawah gambar yang diterangkan sebagai Foto 22 tertulis: “Inskripsi pada nisan makam kepala Hamzah Fansuri.” Saya, lantas, mencoba-coba membaca inkripsi yang terpahat melingkar pada bagian puncak nisan. Namun setelah beberapa kali saya membacanya, saya tidak menemukan nama Hamzah Fansuri. Apakah ada nisan lainnya, tapi keterangan gambar dalam laporan itu menyebut Hamzah Fansuri.

Gambar nisan Syaikh 'Abdurrauf bin Imam Syah Mardan dalam Laporan BPCB, Juli 2004.
Gambar nisan Syaikh ‘Abdurrauf bin Imam Syah Mardan dalam Laporan BPCB, Juli 2004.

Nama yang terpahat pada nisan itu sebenarnya nama tokoh lain, bukan Hamzah Fansuri. Berikut bacaannya:

مرشدي شيخ عبد الرؤف بن إمام شاة مردان شيخ فنصوري

Terjemah:  Pembimbingku Syaikh ‘Abdurrauf  bin Imam Syah Mardan, Syaikh Fansuriy.

Tokoh ulama dan mungkin juga seorang pemimpin thariqat sufi ini bernama Abdurrauf putra  Imam Syah Mardan. Nama tokoh ini serupa dengan nama tokoh lainnya yang sudah cukup terkenal asal Fansur, yaitu Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Fansuriy. Melihat dari bentuk nisan dan pola kaligrafi, boleh jadi, keduanya hidup dalam waktu yang sama atau setidaknya dalam masa yang berhampiran. Namun, tokoh yang satu ini dengan terang digelar Syaikh Fansuriy, bukan min balad Fansuriy sebagaimana pada nisan di Barus, dan bukan juga Al-Fansuriy seperti nisbah pada ujung nama ‘Abdurrauf bin ‘Ali.  Syaikh Fansuriy lebih tepat dimaknakan dengan seorang ulama yang dihormati di Fansur.

Kendati tidak ditemukan nama Hamzah Fansuri, namun inskripsi pada nisan tersebut memperjelas bahwa Fansur adalah tempat di mana Syaikh Abdurrauf bin Imam Syah Mardan hidup dan dimakamkan setelah meninggalnya.

Teramati pula, nama Imam Syah Murdan, ayah dari Syaikh ‘Abdurrauf ini, sedikit mirip dengan nama seorang ulama yang disebutkan di nisan Barus, yaitu Asy-Syaikh Imam Mu’adzdzam Syah yang berasal dari Negeri Fansur. Meskipun belum dapat diyakini keduanya adalah orang yang sama, tapi nama—atau mungkin lebih tepatnya gelar—“imam ” pada nama keduanya menunjukkan adanya tradisi penyebutan “imam” kepada para ulama yang dihormati di pantai barat Sumatra.

Adalah suatu kemungkinan yang sangat perlu dipertimbangkan jika kawasan di hulu sungai Simpang Kiri ini merupakan asal mula Kota Fansur. Agaknya, peran serta kemashuran kota ini dalam dunia perdagangan mulai tenggelam sejak penghujung abad ke-15. Seiring melemahnya Samudra Pasai (Sumuthrah) sebagai kekuatan pemersatu di permulaan abad ke-16, dan meningkatnya peran kota-kota pelabuhan yang relatif sudah mandiri sepanjang pantai utara dan barat Sumatra semisal Keluang (Daya/Aceh Jaya) dan Barus, maka Fansur, barangkali, adalah kota yang pertama sekali surut dari panggung sejarah disebabkan keletakannya di pedalaman. Namun demikian, ia masih bertahan sebagai sebuah kota kecil, yang barangkali tidak sedikit putra-putrinya kemudian pindah ke ibukota kesultanan Aceh Darussalam. Di antara mereka muncul putra-putra Fansur terbaik yang berhasil meraih kedudukan tinggi dalam kesultanan dan kemudian mengabadikan nama Fansur sampai dengan hari ini.

Selama ini, selain pendataan tinggalan sejarah yang dilakukan BPCB Banda Aceh pada 2004, tidak pernah terdengar ada kegiatan penelitian arkeologi di Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam dan sekitarnya. Dan baru-baru ini saja, Muhammad Ilyas, karyawan pada sebuah perusahaan riset dan juga anggota Centre for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH), Lhokseumawe, melaporkan bahwa di Rundeng, Kota Subulussalam, ternyata terdapat sejumlah kompleks makam tinggalan sejarah. Beberapa kompleks makam bersejarah sempat dikunjungi Muhammad Ilyas di sela-sela kesibukannya, dan katanya, ada beberapa kompleks makam lain yang belum sempat didatangi.

Kompleks makam peninggalan sejarah di Gampong Binanga Kecamatan Rundeng Kota subulussalam (Foto : Misykah.com)
Kompleks makam peninggalan sejarah di Gampong Binanga Kecamatan Rundeng Kota subulussalam (Foto : Misykah.com)

Laporan Muhammad Ilyas memberikan harapan baru untuk ditemukannya data-data sejarah yang dapat memperjelas keberadaan Kota Fansur. Sekian lama sudah sejarah kota termashur di zaman lampau itu berada di bawah bayang-bayang sejarah negeri lain.

Di akhir, perlu juga dinukilkan harapan Almarhum Mohammad Said yang telah disampaikannya sejak lebih dari tiga dekade yang silam dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad. Almarhum berharap, “Sekurang-kurangnya ada suatu tim ahli pergi ke sana (Rundeng, Subulussalam), untuk lebih mempertegas lagi kebenarannya (kebenaran tempat lahir dan meninggal Hamzah Fansuri).”

Kini, tinggal kemauan Pemerintah Aceh untuk memenuhi harapan yang pada hakikatnya adalah harapan rakyat Aceh pula dengan membentuk dan mendanai tim penelitian yang akan menulusuri kembali sejarah tanah kelahiran dua tokoh besar dalam sejarah Aceh, Syaikh Hamzah Fansuriy dan Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Fansury. Semoga! (Taqiyuddin Muhammad)

Catatan Kaki:

[43] Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Jld. 1, Medan: P. T. Percetakan dan Penerbitan Waspada, 1981, h. 255

[44] Abdul Hadi W. M & L. K. Ara (Ed.), Hamzah Fansuri Penyair Sufi Aceh, Lotkala (1984), h. 11.

[45] M. Burhanuddin, “Jejak Bapak Sastra Melayu di Aceh”, Kompas.com, Senin, 12/9/2012.

[46] Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Banda Aceh, Laporan Pendataan Benda Cagar Budaya di Kabupaten Aceh Singkil Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Juli 2004, h. (?).