Empat Pemukiman Besar Zaman Samudra Pasai di Wilayah Timur Krueng Keureutoe

Lhoksukon - Tim Ekspedisi Meugat Seukandar bersama warga setempat saat pembersihan kompleks makam kuno di Gampong Matang Paya, Baktiya, Aceh Utara
Tim Ekspedisi Meugat Seukandar bersama warga setempat saat pembersihan komplek kubur kuno di Gampong Matang Paya, Baktiya, Aceh Utara
Tim Ekspedisi Meugat Seukandar dari Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH), belum lama ini menemukan sejumlah pemukiman kuno dari zaman Samudra Pasai di wilayah timur sungai Keureutoe sampai sungai Jambo Aye, Aceh Utara. Empat di antaranya dapat dikategorikan sebagai pemukiman besar yang memiliki kedudukan penting di zaman Samudra Pasai (abad ke-13 M sampai abad ke-16 M). Hal ini diketahui dari persebaran makam-makam kuno zaman Samudra Pasai yang padat di empat pemukiman tersebut.

Situs-situs pemukiman itu, satunya berada di Gampong Tanjong Geuleumpang, di tepi kanan Krueng (sungai) Sampoiniet, dekat Kuala Piyadah, dan kedua, di Gampong Matang Paya, di tepi kiri Krueng Sampoiniet. Lainnya berada di kawasan Gampong Geuleumpang Samlako, Aronga Lise dan Alue Ie Tarek, dan satunya lagi berada di Gampong Matang Baroe. Semuanya berada dalam wilayah Kecamatan Baktiya. Dan ini baru pertama sekali terungkap.

Selain pemukiman-pemukiman tersebut juga terdapat banyak pemukiman kuno di sepanjang bekas aliran Krueng Jambo Aye yang melewati beberapa kecamatan di timur Krueng Keureuto. Antara lain, di Gampong Alue Papeun dan Tanjong Ara, Kecamatan Tanah Jambo Aye, di Gampong Meunasah Bujok dan Krueng Lingka Timur, Kecamatan Baktiya, dan di Gampong Blang Pha, Kecamatan Seunuddon.

Di daerah pesisir Senuddon, di Gampong Matang Lada, juga ditemukan beberapa perkuburan kuno, di antaranya komplek kubur yang dikenal masyarakat setempat dengan Jirat Teungku di Bungong. Menurut Muhammad Amin (54), warga Matang Lada, di Jirat itu dulunya, selain batu-batu nisan yang masih tinggal sampai sekarang, banyak lagi batu-batu nisan pahatan, pipih (Aceh: timphiek), dan ada relief-reliefnya, tapi karena sudah terlampau lama maka banyak yang hilang. Di pematang-pematang empang ikan dekat dengan komplek kubur itu ditemukan pula wadah-wadah tembikar dan keramik. Terkesan sekali bahwa lokasi itu dulunya, zaman Samudra Pasai, merupakan lokasi hunian yang padat dan dinamis. Bahkan, sebuah aliran air yang berada di utara Matang Lada tampaknya merupakan terusan (kanal) yang dapat dilintasi kapal-kapal antara muara Telaga Batang di Lhok Pu’uk (barat) dan muara Jambo Aye (timur). Dengan begitu, wajar bila Matang Lada dari barat sampai timurnya merupakan hunian yang ramai.

Beberapa batu nisan kuno yang ditemukan di wilayah timur Krueng Keureuto sampai dengan Krueng Jambo Aye memiliki inskripsi (tulisan timbul yang diukir pada batu) dengan bahasa Arab, antara lain pada beberapa batu nisan di Tanjong Geuleumpang, Matang Paya, Blang Pha dan Buket Batee Badan. Temuan-temuan ini menunjukkan adanya suatu aktifitas budaya dan peradaban yang tinggi di wilayah tersebut, dan semuanya menjadi bukti bagi suatu kehidupan yang dinamis pada zamannya. Tidak tertutup kemungkinan, interaksi dengan dunia luar juga telah berlangsung intens. Hal ini dapat diperkirakan oleh karena ditemukan batu-batu nisan yang diidentifikasikan sebagai batu nisan khas untuk para pedagang atau pelayar.

Semua temuan ini, baik pemukiman, batu nisan, data inskripsi maupun temuan lain sertanya diharapkan dapat memperkaya sumber-sumber primer yang dibutuhkan para sejarawan dalam merekonstruksi sejarah Samudra Pasai, selain juga akan menjadi lokasi-lokasi baru bagi kegiatan penelitian sejarah. Dan yang diharapkan pada akhirnya adalah agar sejarah Samudra Pasai dapat diterungkap dengan baik, serta memberikan makna besar bagi negeri ini untuk melangkah lebih maju ke depan. Ini adalah harapan kita semua.(Tim CISAH).