Gampong Lam Ujong, Aceh Besar, Bekas “Bhom” Kuno

Inskripsi pada batu nisan plang-pleing di Gampong Lam Ujong, Aceh Besar. (Foto: Sukarna Putra)
Inskripsi pada batu nisan plang-pleing di Gampong Lam Ujong, Aceh Besar. (Foto: Sukarna Putra)

 

SEKITAR 4 kilometer dari Kajhu, ibukota Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, terdapat sebuah gampong di sebelah selatan Jalan Krueng Raya-Banda Aceh, kilometer 11. Lam Ujong, namanya. Sepintas, gampong ini tampak tidak berbeda dengan umumnya gampong-gampong lain di pesisir laut Aceh Besar. Deretan rumah-rumah bantuan pasca bencana gempa dan tsunami 2004 merupakan pemandangan hunian baru setelah rekonstruksi Aceh.

Misykah.com berkunjung ke Lam Ujong pada Rabu, 26/2/2014. Kunjungan itu berawal dari informasi yang diterima dari Ketua Sejarah Indatu Lamuria Aceh (SILA), Muammar, beberapa hari sebelumnya. Muammar menyebutkan, di Gampong Lam Ujong terdapat batu-batu nisan kuno bertipologi plang-pleing (Lamuri) dan nisan Aceh Darussalam.

“Salah satu kompleks makam kuno di Lam Ujong disebut masyarakat  setempat dengan Jirat Pocut Sitti Lam Bakoi,” kata Muammar.

Batu nisan plang-pleing di kompleks makam Pocut Sitti, Gampong Lam Ujong, Aceh Besar. (Foto: Sukarna Putra)
Batu nisan plang-pleing di kompleks makam Pocut Sitti, Gampong Lam Ujong, Aceh Besar. (Foto: Sukarna Putra)

Dan ternyata benar. Sebelum sampai ke kompleks Jirat Pocut Sitti Lam Bakoi, sudah terlihat gundukan tanah, di atasnya terdapat beberapa batu nisan. Selang 20 meter kemudian, ada lagi dua kompleks makam dengan batu nisan tidak kurang dari 30 buah nisan. Dan sesampai ke lokasi yang dituju terlihat sebuah gundukan tanah di tengah-tengah kebun milik warga. Gundukan tanah seluas kira-kira 30×8 meter itu terkesan diistimewakan. Kelilingnya dipagari struktur berkonstruksi batu setinggi pinggang.

Di dalam kompleks ini terdapat batu nisan dalam jumlah yang banyak sekalipun sebagiannya telah ditutupi semak-semak, dan ada juga yang sudah melesak ke dalam tanah. Hasil hitungan sementara sesuai klasifikasi coraknya: 12 batu nisan plang-pleng, dan 46 batu nisan dari era Aceh Darussalam. Makam seorang yang disebut dengan Pocut Sitti berada di sebelah paling timur. Ciri-ciri nisan makamnya: bagian puncak memiliki mahkota yang sisi kanan-kirinya menyerupai sayap; dan bingkai panel di bagian badan (wajah) berbentuk motif pintu Aceh. Maka secara autentik, nisan makam ini berasal dari era Kerajaan Aceh Darussalam, dan lazim diperuntukkan untuk seorang wanita.

Di samping nisan makam Pocut Sitti tampak pula satu kubur dengan batu nisan berbentuk lingga, atau yang lebih dikenal dengan batu nisan plang-pleing. Nisan kubur ini hanya tinggal satu, sedangkan yang satunya lagi tidak berhasil dijumpai di lokasi kompleks makam. Di antara sejumlah batu nisan plang-pleng dalam kompleks makam, hanya nisan ini yang memiliki inskripsi. Pada satu sisi nisan terdapat inskripsi berbunyi:

1. بسـم الله الرحمن الرحيم

2. هذا القبر سجالك

3. نقل من الدنيا يوم الإ

4. ثنين ثمان وعشرين

5. يوما من شهر صفر سنة تسع

6. وستين وثمانمائة من الهجرة

Terjemahan: 1. Dengan nama Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih; 2. Inilah kubur Sijalak (belum dapat dipastikan pengucapan yang benar bagi nama ini begitu pula maksudnya); 3. Dipindahkan dari dunia pada hari; 4. Senin, dua puluh delapan; 5. hari dari bulan Shafar tahun sembilan; 6. dan enam puluh dan delapan ratus (869) dari Hijrah.

Penanggalan yang terdapat pada batu nisan, jika dikonversikan ke masehi, maka Almarhum meninggal dunia pada 29 Oktober 1464.  Ini berarti pemukiman Islam di Lam Ujong telah tumbuh sezaman dengan pemukiman Islam di Gampong Pandei, Kuta Raja, Banda Aceh.

Syukri, 45, warga Lam Ujong sekaligus pemilik lahan di mana situs kompleks makam berada, mengatakan, banyak sekali batu-batu nisan bersejarah yang tersebar di Gampong Lam Ujong. Bahkan, katanya, dulu, sebelum tsunami, hampir di setiap tanah kebun milik warga ada batu-batu nisan itu. “Tapi sekarang sudah banyak yang hilang akibat stunami dan karena sudah banyak didirikan bangunan baru di tempatnya,” ungkapnya.

Kendati demikian, sekarang, tidak kurang dari sepuluh kompleks makam kuno masih bisa dijumpai di Lam Ujong.

Bahkan, loen yakin gampong nyoe awai na keuh bhom ureung jameun (malah saya percaya, gampong ini dulu, sebenarnya, adalah pemakaman orang-orang dahulu),” ujar Syukri dengan dialek bahasa Aceh Rayek yang khas.

Jika dilihat dari sisi letak geografisnya, pantas saja Gampong Lam Ujong menjadi wilayah yang padat penduduk di masa lalu; posisinya hanya berjarak sekitar 500 meter dari aliran Krueng Angan yang bermuara ke Kuala Gigieng di Lam Bada. Bekas aliran anak sungai pun masih terlihat di beberapa tempat di dalam gampong. Inilah, barangkali, yang membuat Lam Ujong menjadi suatu pemukiman yang strategis karena terbuka akses transportasi yang mudah ke luarnya. (Sukarna Putra)