Gelar Syiah Kuala pada Makam dan Manuskrip

Kompleks makam Syiah Kuala di Gampong Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. (Foto: Misykah.com)
Kompleks makam Syiah Kuala di Gampong Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. (Foto: Misykah.com)

SYIAH KUALA atau Teungku di Kuala adalah sebutan popular untuk seorang ulama besar Aceh abad ke-17 M yang sangat dihormati di Nusantara sampai dengan hari ini. Namanya Abdur Rauf bin ‘Ali, dan sering ditambahkan Singkel atau As-Sinkiliy. Menurut sejarawan, ia dilahirkan di Fansur Singkel pada 1024 H/1615 M, dan meninggal dunia pada hari Jum’at tahun 1105 H/1693 M. Makamnya berada di Gampong Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Herwandi dalam karya ilmiah yang diajukannya untuk meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia dalam bidang Ilmu Pengetahuan Budaya program studi Arkeologi, pada tahun 2002 (yakni sebelum bencana gempa dan tsunami Aceh 2004), menyebutkan bahwa pada sebuah makam yang memiliki jirat berukuran 283x24x26 dan sepasang nisan berbentuk bulat gada di kompleks makam Syiah Kuala terdapat tulisan-tulisan yang antara lain adalah nama tokoh yang dikuburkan: Al-Waliy al-Mulkiy al-Haj Syeh ‘Abdurrauf as-Sinqiliy bin ‘Ali. Dalam karya ilmiah bertajuk Kaligrafi Islam pada Makam-makam di Aceh Darussalam Telaah Sejarah dan Seni (Abad XVI M-XVIII M) itu, Herwandi juga menyatakan, “Kalimat ini merupakan sebuah temuan baru yang menjelaskan lokasi kubur dan silsilah Abdurrauf.”

Hanya saja, kalimat, yang menurut Herwandi, bertulis dengan khath tsuluts pada makam tersebut, disalinnya dengan huruf latin. Apabila ditulis Arab maka sebagai berikut:

الولي الملكي الحاج شيخ عبد الرؤف السنقيلي بن علي

Selain Herwandi, penulis karya ilmiah lainnya yang membahas tentang inskripsi pada makam Syiah Kuala adalah Dahlia. Dalam artikel berjudul “Ulama-ulama Penyiar Islam Awal di Aceh (Abad ke-16-17 M)” yang dimuat Arabesk Nomor 2 Edisi XI, Juli-Desember 2011, Dahlia membaca kalimat tersebut: Al-Waly al-Mulky al-Haj Syech Abdul Rauf bin Aly. Ia juga menyalin bunyi inskripsi tersebut dengan huruf latin, yang apabila ditulis Arab, akan sama dengan tulisan untuk bacaan Herwandi di atas kecuali kata “as-sinqiliy” yang tidak didapati dalam bacaan Dahlia.

Temuan kedua orang ahli ini merupakan temuan yang sangat penting karena secara konkret membuktikan makam tersebut adalah makam ulama besar Syaikh Abdur Rauf bin ‘Ali, pengarang Mir’ah At-Thullab. Namun, dengan tidak mengurangi penghormatan dan penghargaan atas kerja rintisan yang telah diberikan keduanya, perlu juga diluruskan beberapa kekeliruan dalam pembacaan inskripsi yang sudah dilakukan.

Bacaan iskripsi dari Herwandi menghasilkan jumlah huruf Arab sebanyak 40 huruf :

ا ، ل ، و ، ل ، ي ، ا ، ل ، م ، ل ، ك ، ي ، ا ، ل ، ح ، ا ، ج ، ش ، ي ، خ ، ع ، ب ، د ، ا ، ل ، ر ، ؤ ، ف ، ا ، ل ، س ، ن ، ق ، ي ، ل ، ي ، ب ، ن ، ع ، ل ، ي

Bacaan Herwandi memiliki jumlah huruf yang lebih banyak daripada yang terdapat pada inskripsi. Huruf-huruf pembentuk kata “as-sinqiliy” sama sekali tidak ditemukan.

Sementara bacaan Dahlia menghasilkan jumlah huruf sebanyak 32 huruf:

ا ، ل ، و ، ل ، ي ، ا ، ل ، م ، ل ، ك ، ي ، ا ، ل ، ح ، ا ، ج ، ش ، ي ، خ ، ع ، ب ، د ، ا ، ل ، ر ، ؤ ، ف ، ب ، ن ، ع ، ل ، ي

Jumlah ini hampir tepat, hanya saja Dahlia, begitu pula Herwandi, terkelabui oleh bentukan beberapa huruf kaligrafi sehingga menghasilkan bacaan yang kurang akurat.

Jumlah huruf yang tepat adalah 33 huruf:

ا ، ل ، و ، ا ، ث ، ق ، ب ، ا ، ل ، م ، ل ، ك ، ا ، ل ، ج ، ل ، ي ، ش ، ي ، خ ، ع ، ب ، د ، ا ، ل ، ر ، ؤ ، ف ، ب ، ن ، ع ، ل ، ي

Repro foto inskripsi oleh Dahlia (Sumber: Arabesk Nomor 2 Edisi XI, Juli-Desember 2011)
Repro dari foto inskripsi yang dilakukan oleh Dahlia (Sumber: Arabesk Nomor 2 Edisi XI, Juli-Desember 2011)

Dan membentuk kalimat:

Inskripsi berbunyi "Al-Watsiq bil-Malik Al-Jaliy" pada makam Syiah Kuala. (Repro foto Dahlia)
Inskripsi berbunyi “Al-Watsiq bil-Malik Al-Jaliy” pada makam Syiah Kuala. (Repro foto Dahlia)

 

1. الواثق بالملك الجلي

Inskripsi berbunyi "Syaikh 'Abdurrauf bin 'Ali" pada makam Syiah Kuala. (Repro foto Dahlia)
Inskripsi berbunyi “Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali” pada makam Syiah Kuala. (Repro foto Dahlia)

2. شيخ عبد الرؤف بن علي

Kalimat Al-Watsiq bil-Malik Al-Jaliy ini juga ditemukan pada naskah fotokopi manuskrip Mir’ah Ath-Thullab yang terdapat pada Museum Ali Hajsmy di Banda Aceh. Pada naskah tersebut terdapat kalimat:

Naskah fotokopi manuskrip "Mir'ah Ath-Thullab" koleksi Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh. (Foto: Misykah.com)
Naskah fotokopi manuskrip “Mir’ah Ath-Thullab” koleksi Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh. (Foto: Misykah.com)

كتاب مرآة الطلاب

في تسهيل معرفة أحكام (كذا) الشرعية للملك الوهاب وهو تصنيف

الفقير الحقير الوَاثق بالملك الجلي الشيخ عبد الرؤف بن علي

Kalimat ini lantas diterjemahkan dalam Bahasa Melayu. Transkripsinya: “Ini kitab yang dinamai Mir’ah Ath-Thullab pada memudahkan mengetahui segala hukum syar’iyyah bagi Tuhan Yang Memerintahkan semua hamba-Nya dengan menyuruh dan menegah yaitu karangan faqir yang hina yang percaya kepada Tuhan Yang Memerintah lagi Yang Nyata (x) Syaikh ‘Abdurrauf anak ‘Ali.”

Al-Watsiq bil-Malik Al-Jaliy (yang percaya kepada Tuhan Yang Memerintah lagi Yang Nyata) yang tersebut pada makam dan manuskrip Mir’ah Ath-Thullab, dengan demikian, merupakan salah satu gelar yang disandang Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali atau Syiah Kuala—semoga Allah merahmatinya.

Tokoh lain di Kompleks Makam Syiah Kuala

Pada satu makam lain di sisi timur makam Syiah Kuala juga ditemukan inskripsi yang menyebutkan nama dan tarikh wafat tokoh yang dimakamkan. Inskripsi tersebut berbunyi:

Inskripsi 1 (Foto: Misykah.com)
Inskripsi 1 (Foto: Misykah.com)

1. هذا القبر الذي

مهرج (بنوسي؟)

الشهير بأورغكاي سرّ مهراج ليل

Inskripsi 2. (Foto: Misykah.com)
Inskripsi 2. (Foto: Misykah.com)

2. وكان موته ليلة

الجمعة الثاني من

شهر شعبان سنة أربع

عشر ومائة

بعد الألف  

Terjemah: (1) Inilah kubur yang maharaja (Banusi/di Nusi?) yang terkenal dengan [sebutan] Orang Kaya Sri Maharaja Lila; (2) Dan adalah meninggalnya pada malam Jum’at, hari kedua dari bulan Sya’ban pada tahun seribu seratus empat belas (1114) [hijriah].

Pertanggalan ini jika dikonversikan ke masehi menghasilkan pertanggalan hari Jum’at 22 Desember 1702 M.

(Taqiyuddin Muhammad)