Giliran Kembang Tanjong Tunjukkan Bukti Sejarah

Nisan-nisan tinggalan sejarah di kompleks makam Teungku Meurah, Gampong Babah Juroeng, Kembang Tanjong, Pidie. (Foto: T. Syahrizal)
Nisan-nisan tinggalan sejarah di kompleks makam Teungku Meurah, Gampong Babah Juroeng, Kembang Tanjong, Pidie. (Foto: T. Syahrizal)

ACEH adalah lahan penelitian sejarah yang paling subur seperti dikatakan Daniel Perret dalam “Aceh as a Field for Ancient History Studies”, 2007.  Artefak dan bukti-bukti sejarah di Aceh masih banyak yang belum terkuak. Penelitian dan pengkajian terhadapnya pun masih sangat terbatas. Para pengambil kebijakan dan kaum sarjana di Aceh masih sedikit sekali yang rela memberikan perhatian terhadap sumber-sumber primer sejarah ini. Padahal, peneliti ketimuran semisal Claude Guillot dan Ludvik Kalus juga mengakui, epigrafi Islam sebelum abad ke-17 merupakan sekumpulan data asli yang amat berharga yang sebagian besarnya belum tersentuh (Guillot & Kalus, 2008: 7).

Sulit untuk dimengerti secara terang sebab ketidakpedulian ini, tapi lemahnya tingkat kesadaran pengambil kebijakan akan pentingnya sejarah serta warisannya adalah faktor yang dominan. Kaum sarjana di Aceh juga tidak jauh berbeda halnya, malah tingkat keilmuan dan ketekunan mereka sama sekali tidak menjanjikan harapan baik. Dalam kerumunan berbagai faktor penyebab ketidakpedulian tersebut, warisan sejarah yang teramat penting dan selalu jadi objek “incaran” peneliti dari luar negeri ini, terancam musnah satu persatu, dan pudarlah bersamanya kesejatian sebuah riwayat bangsa yang panjang.

Pada gilirannya kemudian, hanyalah dongeng-dongeng atau legenda-legenda tidak bermutu yang tersimpan dalam memori kolektif anak bangsa. Alih-alih menjadi pemicu kesadaran untuk bangkit dan bersejajar bahu dengan masyarakat-masyarakat maju di dunia, dongeng-dongeng itu malah menyesatkan generasi bangsa dalam memahami sejarahnya. Lebih ganjil lagi, hal itu seolah direstui saja oleh banyak kalangan yang hakikatnya makan upah negara untuk tugas mencerdaskan kehidupan bangsa!

Senin, 19/1/2014, sampai ke meja redaksi misykah.com sebuah laporan dari Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie. Laporan tersebut berasal dari M. Zamzami (26), warga asli Kembang Tanjong yang kini bermukim di Matang Kuli, Aceh Utara, dan T. Syahrizal (29), warga asal Matang Kuli. Keduanya mengirimkan beberapa buah gambar yang mereka kodak (foto) di kompleks makam Teungku Meurah, Gampong Babah Juroeng, Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie, saat mereka berkunjung ke sana pada Ahad pekan silam, 12/1/2014.

Kunjungan ke situs pemakaman yang berada di sebidang tanah milik Gampong itu memang sudah direncanakan M. Zamzami sebelumnya. “Teringat saya, di tanah belakang pekarangan rumah saya, ada jirat-jirat berbatu nisan pipih dan betulis-tulis Arab,” kata Zamzami kepada salah seorang wartawan misykah.com sebelum keberangkatannya ke kampung halaman, “nantilah, waktu saya pulang kampung, saya periksa kembali, dan hasilnya akan saya beritahukan.”

Inskripsi pada salah satu batu nisan di Gampong Babah Juroeng, Kembang Tanjong, Pidie. (Foto: T. Syahrizal)
Inskripsi pada salah satu batu nisan di Gampong Babah Juroeng, Kembang Tanjong, Pidie. (Foto: T. Syahrizal)

“Kondisi nisan-nisan di kompleks makam Teungku Meurah itu sudah banyak yang melesak ke tanah, dan posisinya sudah miring-miring. Jadi, agak susah juga memotret ke seluruhan badan nisan,” tutur T. Syahrizal yang dibenarkan M. Zamzami, sekembali mereka dari Kembang Tanjong. T. Syahrizal menyertai M. Zamzami dalam kunjungan ke sana lantaran sangat berantusias untuk menyaksikan warisan sejarah tersebut.

Sejauh yang diketahui, nisan-nisan yang direkam camera digital T. Syahrizal belum pernah dipublikasikan selama ini. Salah satu batu nisan bertipologi nisan zaman Samudra Pasai terlihat memiliki inskripsi Arab, dan menginformasikan penanggalan: hijrah Nabi shallahu ‘alaihi wa Sallam 879 hari Jum’at, 4 hari lewat dari bulan Ramadhan. Dikonversikan ke masehi, jatuh tanggal 29 Juni 1492. Artinya, nisan ini sudah berumur 5 (lima) abad lebih.

Ini satu bukti konkret akan kebudayaan Islam yang berkembang dalam masyarakat wilayah Keumang Tanjong sejak lebih dari lima abad yang silam. Ajaran dan nilai-nilai Islam telah pula meresap kuat dalam kehidupan masyarakatnya baik spirituil maupun materil. Terutama di antaranya, mereka telah mengenal dan mempraktikkan cara penulisan sejarah (historiografi) dengan baik, sesuai dengan petunjuk Islam. Penggunaan tarikh hijriah, bahasa dan khath Arab, keyakinan yang mantap terhadap hari Akhirat, sebagaimana teramati pada nisan makam di Keumang Tanjong ini, semuanya mengindikasikan mereka adalah masyarakat Islam yang maju.

Bukti-bukti sejarah semisal ini tersebar hampir di rata daerah Provinsi Aceh. Tinggal saja, dengan sebuah kesadaran akan pentingnya arti dan nilai bukti-bukti sejarah tersebut, yang diterjemahkan pula lewat prilaku-prilaku bersifat melestarikan serta memperhitungkan keberadaannya, maka siapa pun baik generasi hari ini maupun masa depan, baik kita sendiri maupun orang luar, akan dapat menyaksikan sejarah negeri ini terpampang di mana-mana. Warisan sejarah adalah satu di antara penghubung dan pemandu kita ke masa lalu. (Herman)

Baca Juga :

Sultan Bertahta di pedalaman Pidie
Tauke Bangkrut gara gara Bisniskan Batu Nisan Bersejarah
Pidie di Bawah Teduh Rumpun Bambu