Hawa Islam dalam Dada Abdullah

Abdulllah, muslim asal Myanmar, saat berbicara kepada Misykah.com di Lhokseumawe. (Foto: Misykah.com)
Abdulllah, muslim asal Myanmar, saat berbicara kepada Misykah.com di Lhokseumawe. (Foto: Misykah.com)

MENGARUNGI samudera kehidupan, seseorang tidak selalu dapat mencapai tepian yang diimpikan. Seperti arus laut, kehidupan terkadang menghanyutkannya jauh ke tepian yang lain.

Begitulah, barangkali, yang terjadi dengan Abdullah alias Summing Oo yang meninggalkan Yangon (Rangoon), bekas ibukota Birma (Myanmar), pada April 2013 silam, menuju ke Thailand. Abdullah tergoda kabar burung tentang penghasilan kerja yang melimpah di tanah kebebasan (thai berarti kebebasan dalam bahasa Thai) yang merupakan jiran negaranya itu. Namun malang, kebebasannya justru terunggut. Ia tertangkap aparat keamanan Thailand. Dan sejak itu, angin tidak lagi bertiup ke arah yang dimauinya. Kepada Misykah.com yang mengunjunginya di rumah tahanan imigrasi Lokseumawe, Sabtu, 24/8/2014, ia mengaku dirinya telah dijual kepada tekong kapal trawl (pukat harimau) di Thailand.

Selama menjadi anak buah kapal penangkap ikan milik warga Thailand itu, berbagai kepahitan telah dirasakan dan disaksikannya. Dengan bahasa Melayu yang sepotong-potong, disisip yes, no dan satu-dua kata dalam bahasa Inggris, serta dibantu sepenuhnya oleh isyarat tangan dan mimik, Abdullah menceritakan beberapa pengalamannya.

“Myanmar sakit.. dikasih obat, no (tidak—red) sembuh, dibuang ke laut,” tutur Abdullah menceritakan perlakuan tekong kapal terhadap anak buahnya.

Ia juga menceritakan, suatu kali saat berada di Thailand, ia pernah dihadapkan kepada pilihan hidup atau mati, dan ia terpaksa mengaku dirinya sebagai non-muslim sementara batinnya tetap memegang teguh aqidahnya.

Sampai pada dini hari Kamis, 10 April 2014, silam, seperti diberitakan VIVANews (10/4/2014), TNI Angkatan Laut Lhokseumawe berhasil menangkap lima kapal trawl asal Thailand. Kelima kapal itu melanggar wilayah territorial Indonesia, dan telah melakukan aktifitas penangkapan ikan secara ilegal di laut pesisir timur Aceh, 11 mil dari pantai Idi Rayeuk, Aceh Timur.

45 warga Myanmar dan 11 warga Thailand yang melakukan aktifitas ilegal di perairan Aceh itu kemudian ditahan. Abdullah salah satu di antaranya.

Hawa Islam

Dari 56 tahanan yang ditangkap TNI Angkatan Laut Lhokseumawe pada 10 April 2014, hanya Abdullah yang beragama Islam, selebihnya adalah penganut Budha—belakangan, seorang di antara mereka yang beragama Budha memeluk Islam di rumah tahanan imigrasi Lhokseumawe. Berlalu empat bulan lebih berada di rumah tahanan, Abdullah, kini, bersyukur dirinya ditangkap oleh TNI Angkatan Laut Lhokseumawe.

“Abdullah Myanmar go Thailand.. Thailand saudagar thangkap Abdullah.. Abdullah money sikit-sikit. Thailand go Aceh water.. Aceh army thangkap Abdullah. Abdullah no tau army Indonesia thangkap Abdullah, Abdullah happy very happy karena Aceh semua muslim,” tutur Abdullah.

Husaini Usman (46), salah seorang petugas di rumah tahanan yang selama ini sudah terbiasa berkomunikasi dengan para tahanan, membantu menjelaskan, “Kata Abdullah: dia dari Myanmar datang ke Thailand. Di sana, seorang pengusaha Thailand menangkap Abdullah. Ia tidak punya banyak uang untuk menebus dirinya. Lantas, orang Thailand bawa dia ke perairan Aceh. Marinir Aceh kemudian menangkapnya, tapi pada awalnya ia tidak tahu yang menangkapnya itu marinir Indonesia. Abdullah sangat senang berada di Aceh, karena di Aceh semuanya muslim.”

Sebagai seorang pemuda yang terlahir dan dibesarkan di Mingala Taungyunt, sebuah distrik di selatan Yangon, Abdullah mengaku, tidak banyak tahu tentang Aceh. Ia hanya tahu, “Di Aceh, muslim banyak, di Myanmar sikit-sikit (sedikit—red). Budis banyak.” Kalimat itu sempat beberapa kali diulangnya.

Kendati dia tidak mengerti tentang Aceh baik kultur maupun bahasanya, tapi ia mengerti azan yang dikumandangkan dari masjid-masjid di setiap waktu shalat. Ia juga mengenal dengan baik lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan. Semuanya merupakan azan dan ayat-ayat suci yang sama dengan yang pernah dipelajari di kampung halamannya, Yangon.

“Tapi di Yangon, azan tidak dizinkan memakai pengeras suara,” ungkapnya.

Karena merasa berada di tengah-tengah saudaranya yang muslim, status Abdullah sebagai tahanan tidak membuat ia sedih. Ia malah tampak bahagia sekali bisa berada di bumi Islam, Aceh Darussalam.

Abdullah ditemani Husaini Usman, petugas rumah tahanan imigrasi Lhokseumawe, saat wawancara Misykah.com dengannya. (Foto: Misykah.com)
Abdullah ditemani Husaini Usman, petugas rumah tahanan imigrasi Lhokseumawe, saat wawancara Misykah.com dengannya. (Foto: Misykah.com)

“Pada bulan Ramadhan yang lalu, Abdullah puasa sebulan penuh dan tidak pernah tinggal shalat tarawih, bahkan melakukan i’tikaf di bagian sepuluh akhir Ramadhan. Ia juga rajin membaca Al-Qur’an, dan bacaanya fasih. Saat hari raya Idul Fitri, Abdullah juga kelihatan gembira meskipun jauh dari keluarganya. Ia telpon ibunya waktu itu dan bilang ia baik-baik di Aceh,” tutur Husaini Usman, petugas rumah tahanan imigrasi yang berpengalaman dan dikenal baik dalam memperlakukan setiap para tahanan imigrasi.

Ramadhan di Aceh merupakan sebuah pengalaman baru bagi Abdullah. Suasana bulan puasa yang  jauh berbeda dengan di Yangon membuat rongga dadanya serasa dipenuhi hawa Islam. Berulang kali ia ungkapkan rasa gembira dan syukurnya ditangkap marinir Indonesia.

Di Yangon, pemuda kelahiran 29 tahun silam ini mengaku tidak sepenuhnya mendapatkan kebebasannya sebagai muslim. Ia bahkan tidak bisa leluasa memakai peci putih seperti sekarang ini. Orang-orang muslim di Myanmar dituntut untuk berbaur di kalangan masyarakat mayoritas yang menganut Budha.

Meskipun muslim merupakan masyarakat minoritas di Myanmar, berbagai kegiatan pendidikan Islam tetap dilakukan. Abdullah mengatakan, di Yangon ada beberapa madrasah yang mengajarkan Islam. Ia menyebut tiga di antaranya: Madrasah Asy-Syarafiah di Mingala Taungyunt, Madrasah Ash-Shodqiah dan Madrasah An-Nu’maniyyah. Para pengajar Islam di madrasah-madrasah itu dipanggil dengan Hafiz Moloewiy (Maulawiy: Maulana). Abdullah menyebutkan nama seorang Hafiz Moloewy terkenal di Yangon yaitu Hafiz Muhammad Maulawiy Mufti Wahid. Ia adalah pemimpin Madrasah Ash-Shodqiyah.

Sebagaimana muslim lainnya di Yangon, Abdullah yang bernama lengkap Abdullah bin Usman bin Humaira bin Zaintun bin Yasin bin Abdullah ini, mendapatkan pengajaran Islam dan baca Al-Qur’an dari salah satu madrasah di sana. Pengajaran Islam biasanya disampaikan dengan dua bahasa, Myanmar dan Urdu. Dan karenanya, Abdullah juga menguasai bahasa Urdu. Anak-anak di sana, kata Abdullah, juga banyak yang hafal Al-Qur’an. Tapi ia mengaku bukan alim, dia seorang awan (orang biasa; awam). “Moloewiy alim, Abdullah awan,” ujarnya sambil senyum.

Ingat Ibu

Satu hal yang kini dalam pikiran Abdullah adalah ibunya yang sudah berusia lanjut di Yangon.

Ia punya keinginan untuk mendapatkan kerja sehingga pada 2017 nanti ia bisa pulang ke Yangon dan dapat membantu keluarganya dengan penghasilan yang diperoleh. Namun untuk sampai kepada keinginan itu, Abdullah harus bersabar.

Satu-satunya hal yang menentramkan batinnya sekaligus membantunya untuk bersabar sekarang ini ialah keberadaannya di tengah-tengah saudaranya yang muslim. Di sini, ia tidak perlu merasa kuatir dengan aqidahnya. Bukankah ia sedang berada di “Serambi Makkah”. (Safar Syuhada, Taqiyuddin Muhammad)