Jejak Kebudayaan Persia di Samudra Pasai

Komplek makam Nur Khatun Umar, Khawwajah Muhammad, dan Khawwajah Tajuddin (abad ke-15) di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. (Foto: CISAH)
Kompleks makam Nur Khatun Umar, Khawwajah Muhammad, dan Khawwajah Tajuddin (abad ke-15) di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. (Foto: CISAH)
Nisan makam Khawwajah Tajuddin bin Ibrahim yang wafat pada 857 H/1453 M di Gampong Kuta Krueng, Aceh Utara. (Foto: CISAH)
Nisan makam Khawwajah Tajuddin bin Ibrahim yang wafat pada 857 H/1453 M di Gampong Kuta Krueng, Aceh Utara. (Foto: CISAH)

Oleh Taqiyuddin Muhammad

Dinasti Islam Pertama di Sumatera

Samudra Pasai adalah sebutan untuk satu wilayah di pesisir utara Aceh (Sumatera) di mana antara abad ke-7 H/ke-13 M—ke-10 H/ ke-16 M telah berdiri sebuah dinasti Islam—saya memilih untuk menyebutnya dengan Dinasti Ash-Shaliyyah, mengacu kepada gelar sultan pendiri dinasti ini: Al-Malik Ash-Shalih.  Dalam beberapa dokumen berasal dari abad ke-14 M dan ke-16 M, wilayah ini disebut dengan Sumuthrah, Syummathrah dan Syummuthrah,[1] dan telah menjadi kota pemerintahan Dinasti Ash-Shalihiyyah dalam masa dua abad lebih.[2] Sedangkan Pasai diyakini merupakan nama sebuah daerah atau boleh jadi kerajaan lokal pra-Islam yang berada di daerah aliran sungai Pasai (Aceh: Krueng Pase’). Ini dibuktikan dengan ditemukan penyebutan Pasai dan Jambur Ayir pada inskripsi sebuah nisan makam berasal dari abad ke-15 M yang berada di Gampong Maddi, Nibong, Aceh Utara; tepi kanan sungai Pasai.

Periode pemerintahan Dinasti Ash-Shalihiyyah di Sumatera ini kemudian lazim disebut dengan masa Kerajaan atau Kesultanan Samudra Pasai yang muncul pada abad ke-13 M. Tinggalan sejarah yang dapat membuktikan bahwa sebuah pemerintahan Islam di pesisir utara Sumatera telah terbentuk dalam abad tersebut adalah catatan tarikh wafat pada beberapa batu nisan makam yang berasal dari abad ke-7 H/ ke-13 M. Pertama, batu nisan makam yang diperikan sebagai “as-sa’id asy-syahid mahbub qulub al-khala’iq” (yang berbahagia lagi syahid, seorang yang dicintai hati banyak orang) dan bertarikh wafat pada tahun 622 H/ 1226 M; berada di Gampong Leubok Tuwe, Meurah Mulia, Aceh Utara (pedalaman). Kedua, batu nisan makam yang diperikan dengan sifat yang sama dan disebutkan bernama Ibnu Mahmud, bertarikh wafat pada tahun yang sama dengan makam pertama dan berada di lokasi yang tidak jauh dari lokasi makam pertama. Ketiga, batu nisan makam yang juga diperikan dengan sifat yang sama, “as-sa’id asy-syahid mahbub qulub al-khala’iq”, dan disebutkan bernama Ibnu Khaddajih, bertarikh wafat pada 681 H/1283 M, berada di Gampong Matang Ulim, Samudera, Aceh Utara (pesisir). Dan keempat, batu nisan makam pendiri Dinasti Ash-Shalihiyyah di Sumatera, Sultan Al-Malik Ash-Shalih, yang menyebut tarikh wafatnya pada 696 H/1297 M.

Kota Syummuthrah[3] yang mungkin sudah muncul sebelum pemerintahan Dinasti Ash-Shalihiyyah ini sebenarnya berada dalam kawasan yang sering disebut oleh para ahli geografi Muslim Arab-Persia dengan Jawah atau Jabah (Javah).[4]  Ibnu Baththuthah ketika akan sampai ke kota yang disebutnya dengan Sumuthrah mengatakan bahwa ia telah dapat melihat “Pulau Jawah” (Jaziratul Jawah) dari jarak setengah hari perjalanan dan pulau itu terlihat hijau segar.[5] Sekalipun ahli-ahli georgrafi Arab-Persia sebelum Ibnu Baththuthah tidak pernah menyebutkan Sumuthrah, dan hanya menyebutkan Jawah, tapi nama ini tampaknya sudah tidak popular lagi pada masa-masa setelah zaman Samudra Pasai.[6] Hal ini kemudian memburamkan keberasalan bahasa Jawiy, bahkan kebudayaan Jawiy,[7] yang berkembang dan mencapai titik kematangannya pertama sekali di kota pemerintahan dinasti Ash-Shalihiyyah atau kerajaan Samudra Pasai, yang dibuktikan dengan terdapatnya inskripsi penanggalan dengan bahasa Jawiy beraksara Arab pada beberapa batu nisan makam tinggalan sejarah Samudra Pasai abad ke-9 H/ke-15 M.[8]

 

Sisi-sisi lain dari Persia

Kota pemerintahan dinasti Ash-Shalihiyyah, atau yang disebut dengan kerajaan Samudra Pasai ini, mengalami kemunduran pada dekade kedua abad ke-10 H/ke-16 M, dan setelah sultan yang terakhir, Zainal ‘Abidin bin Mahmud, wafat pada 923 H/1518 M, kota ini jatuh dalam kekuasaan pemerintahan Islam yang berada di pesisir barat laut pulau Sumatera; Aceh, yang kala itu diperintah oleh Sultan ‘Ali Mughayat Syah.

Peristiwa-peristiwa sejarah pada permulaan abad ke-16 M itu seperti menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mengantarkan Samudra Pasai pada keruntuhannya adalah efek dari kehadiran kekuatan imperialisme Barat dari semenanjung Iberia di Asia Tenggara, namun di sisi yang lain, masa keruntuhan Samudra Pasai yang berhampiran dengan naiknya Dinasti Shafawiyyah yang bermazhab Syi’ah ke puncak kekuasaan di Persia (Faris; Iran) juga masalah yang hakikatnya mengundang perhatian. Apakah kesultanan Aceh memiliki suatu kerterkaitan dengan perubahan perkembangan politik yang berlangsung di Persia? Apakah dengan berkuasanya Dinasti Shafawiyyah di Persia itu menjadi semacam dukungan baru bagi kelompok Syi’ah yang hidup dalam wilayah kesultanan Aceh untuk meluaskan pengaruhnya dalam perpolitikan di Aceh?

Tapi, saya tidak bermaksud membahas masalah tersebut di sini. Pertanyaan-pertanyaan tadi pada hakikatnya saya tujukan untuk menyekat persoalan hanya pada hubungan Samudra Pasai dan Persia sebelum Dinasti Shafawiyyah memerintah di Persia (Iran), artinya pengaruh Syi’ah tidak menjangkau Samudra Pasai walaupun ada legenda-legenda yang dituturkan masyarakat sekarang seperti mengisyaratkan adanya konflik di Samudra Pasai akibat kehadiran kelompok Syi’ah Isma’iliyyah yang berusaha mencapai kedudukan berpengaruh dalam kesultanan Samudra Pasai. Meski demikian, Samudra Pasai pada akhirnya tetap berhasil mempertahankan identitas ideologinya sebagai kerajaan yang menganut paham sunniy dan bermazhab Syafi’iy.

Sesuatu yang ingin ditegaskan kemudian ialah bahwasanya hubungan dengan Persia merupakan hubungan kebudayaan dalam arti yang luas, dan bukan hanya pada masalah terpengaruh atau tidaknya sebuah negeri dengan ajaran Syi’ah. Banyak sisi lain di mana kebudayaan Islam Persia dapat didudukkan pada tingkat paling berpengaruh setelah Arab di dunia Islam apakah itu dari sisi kebahasaan dan kesusastraan, ilmu kepemerintahan dan lainnya, filsafat, tasauf maupun lainnnya.[9]

 

Modalitas Kebudayaan Persia ke Sumatera

Apa yang dimiliki Persia sehingga kebudayaannya dapat menyebar sampai ke Samudra Pasai di Sumatera? Intinya, barangkali, ialah karena Persia memiliki tiga wilayah geografis dengan muatan kultural yang amat penting:

Pertama, kawasan kuno Persia (Faris) yang namanya kemudian diangkat untuk meliputi seluruh dataran tinggi Iran. Demikian yang dipahami dari penggunaan kata Faris (Persia) pada masa-masa awal Islam sebagaimana hadits yang dinukil Yaqut Al-Himawiyd dalam Buldan-nya: “Faris (Persia) dan Rum (Romawi) adalah Quraisy-nya bangsa ‘ajam (selain Arab).” Dalam hadits lain: “Orang-orang yang paling jauh dari Islam adalah Rum (orang-orang yang menghuni Romawi), dan andaikan Islam ini tersangkut di bintang soraya, sungguh akan dapat dicapai oleh Faris (orang-orang yang menghuni Persia).[10]

Kawasan kuno ini adalah tempat lahirnya dinasti-dinasti yang memerintah Persia seperti Achamenia dan Sassania. Persia dalam masa pemerintahan dinasti-dinasti tersebut telah mewarisi khazanah kebudayaan dan peradaban yang bernilai, yang kemudian memberi pengaruh besar bagi kebudayaan Arab/Islam.

Kedua, Syiraz, kota terbesar di kawasan Persia. Al-Ishtakhriy menyebutkan, “Syiraz adalah kota Islam. Bukan kota lama, dan baru dibangun pada masa Islam. Dibangun oleh Muhammad bin Al-Qasim bin Abi ‘Aqil, keponakan Al-Hajjaj bin Yusuf. Dinamai dengan Syiraz karena diibaratkan seperti rongga singa. Itu dikarenakan sebagian besar hasil bumi dari wilayah-wilayah sekitarnya dibawa ke Syiraz, dan tidak lagi dibawa ke luarnya. Kota ini juga merupakan kamp tentara Islam sewaktu penaklukan Ishthakhar. Setelah pembebasan Ishthakhar, tentara Islam itu kembali ke tempat itu dan mendirikan barak tentara Faris (Persia) dan membangunnya menjadi sebuah kota. Luasnya sekitar satu mil, tidak berbenteng, bangunannya rapat dan banyak penduduk. Di situ selalu terdapat markas komando tentara Persia, di situ pula terdapat diwan-diwan Persia berikut para penguasa wilayah serta panglima-panglimanya.”[11]

Syiraz yang merupakan ibukota kawasan Persia adalah salah satu pusat kebudayaan Islam terkenal pada masa pemerintahan dinasti Buwaih di samping Baghdad dan Ray. Namun demikian, suatu hal yang berbeda dari lainnya ialah karena Syiraz sebagai pusat kegiatan budaya di kawasan Persia masih menyimpan warisan kebudayaan Sassania yang kuno. Meski bahasa Arab telah menjadi bahasa agama, pemerintahan dan pengetahuan, tapi ia tidak dapat menggantikan secara sempurna bahasa Pahlevi (Persia Pertengahan), dan selain itu, bahasa Persia modern adalah bahasa percakapan yang digunakan oleh penduduk Persia secara umum. [12]

Namun demikian, kawasan Persia yang berpangkalan di Syiraz sebagai pusat utama penjaga warisan Sassania tidak memperlihatkan kecenderungannya dalam membangkitkan kebudayaan kuno Persia tersebut sebagaimana halnya Khurasan dan Dinasti Samaniyyah yang memerintahnya. Ini dikarenakan setelah Persia berada di bawah kekuasaan Arab dan tunduk di bawah pengaruh peradaban Arab-Islam, kaum agamaawan Zaratustra lebih memilih untuk hidup berdampingan, berdamai dengan Islam dan gerak pembebasan yang dilakukan oleh orang-orang Arab. Sebaliknya, di kawasan selatan Laut Kaspia dan Khurasan menyaksikan rangkaian gerakan nasional dan keagamaan yang terkadang menunjukkan sikap permusuhan terhadap Arab dan Islam.[13] Semua ini menyebabkan kebudayaan Islam yang datang dari Persia, Syiraz, secara khusus lebih dapat diterima di dunia Islam yang memberi penghormatan yang mendalam kepada bangsa Arab dan khalifah.

Ketiga, Teluk Persia. Sejak sejarah awalnya, Persia menduduki posisi perdagangan yang penting lantaran pelabuhan-pelabuhannya yang berada di Teluk Persia, sebuah teluk laut di Samudera India yang mengambil nama Persia karena merupakan kerajaan terpanjang dan tertua yang berada di teluk.

Di sepanjang pesisir Teluk Persia sebelah timur terdapat kota-kota antara lain Bushehr dan Siraf dan juga pulau-pulau seperti Khark dan Kish. Kawasan ini beriklim sangat panas dan sukar dilalui di musim gugur. Satu-satunya penyangga kehidupannya adalah perdagangan yang sudah mulai pesat semenjak Dinasti Sassania berhasil menarik jalur perdagangan yang menuju Constantinopel ke Teluk Persia.[14]

Teluk Persia begitu penting bagi Dinasti Sassania. Sewaktu Ardasyir I telah berhasil menguasai Mesene dan Charasene, ia memperluas dermaga-dermaga lama dan membangun yang baru. Reno mengatakan: “Orang-orang Persia bahu-membahu dengan orang Arab dan secara bersama membentuk suatu pemerintahan, dan dengan sangat pintar membangun armada laut yang seiring perjalanan waktu menjadi pantas untuk dikagumi. Kapal-kapal Persia meluncur di atas gelombang laut-laut di timur dunia, dan pada awalnya mulai menyaingi armada laut Romawi dan Etiopia sampai kemudian menjadi kekuatan laut teratas. Kehebatan yang dicapai orang-orang Persia merupakan faktor utama penyebab kemerosotan dan kemudian keruntuhan total bagi reputasi Romawi di laut-laut Timur.”[15]

Di Persia, Siraf merupakan pelabuhan utama dan terbesar. Di kota pesisir ini juga ditemukan situs-situs tinggalan sejarah dari zaman Sassania.[16] Pada abad-abad awal hijriah (7-9 masehi), Siraf mengambil peran utama dalam perdagangan. Para pedagang Arab dari Bashrah singgah di Siraf kemudian berlayar menuju Oman lalu melanjutkan pelayarannya ke India. Dari penuturan Al-Balkhiy dapat diketahui kepentingan Siraf dari sudut perekonomian: “Pada waktu yang telah lalu, Siraf adalah kota besar yang padat dengan pusat-pusat perniagaan. Mereka meniagakan berbagai jenis kayu, wewangian, kamper dan sutera. Namun kemudian, peran perdagangannya memudar setelah jatuh dalam kendali penghuni Pulau Kish. Kalau ada orang-orang yang menuju Siraf sekarang ini itu cuma dengan tujuan untuk menggunakan dermaganya saja, atau mungkin untuk memperbaiki kapal.”[17]

Siraf juga dipuja-puja keindahannya oleh Al-Maqdisi. Ia menyebutkan bahwa bangunan-bangunan di Siraf didirikan dengan menggunakan kayu jati, batu bata dan kayu lainnya yang didatangkan dari pesisir Afrika Timur, dan ditumpuk bertingkat-tingkat di pantai. Kapal-kapal Cina datang ke pelabuhan Siraf dengan mengangkut barang perniagaan yang akan ditukar dengan dagangan Arab, atau mereka menjual perniagaan mereka lalu membeli barang-barang atau perbekalan yang mereka maui sebagai gantinya. Dari Siraf, barang-barang perniagaan Cina itu dikirim ke kota-kota di pedalaman Iran seperti Syiraz dan lainnya.[18]

Penduduk Siraf meminati sekali kerja mereka di laut sampai ke tingkat sebagaimana dituturkan Al-Ishtakhriy bahwa terkadang ada di antara laki-laki Siraf itu yang menghabiskan sebagian besar umurnya di laut, tidak pernah keluar dari kapal kecuali jika ada keperluan mendesak saja. “Banyak kisah yang diceritakan kepada kami tentang itu, misalnya ada salah satu di antara mereka yang tinggal dalam kapalnya selama 40 tahun meskipun ia memiliki kekayaan melimpah. Salah seorang pemilik kapal terkenal dari penduduk Siraf pada waktu itu ialah Muhammad bin Syazan. Ia seorang ahli pembuatan kapal yang ternama sampai dengan seorang raja di India menyuruh membuatkan lukisan wajah Muhammad bin Syazan lantaran sudah menjadi tradisi raja-raja India untuk mengoleksi lukisan wajah setiap orang yang punya keahlian tertentu,” tulis Al-Isthakhriy dalam karyanya, Al-Masalik wa Al-Mamalik.[19]

Sedemikian besar dan pentingnya kegiatan orang-orang Persia di perairan Teluk sehingga bahasa Persia menjadi bahasa lingua-franca di jalur perdagangan antara kota-kota di Teluk Persia dan Timur Jauh. Orang Arab menggunakan bahasa Persia untuk berkomunikasi dengan para pedagang dari berbagai kawasan di India, Cina dan kepulauan Asia Tenggara. Jahizh juga menyebutkan bahwa sebagian besar penduduk Irak dapat berbicara dalam bahasa Persia meski mereka orang Arab. Hal ini, menurut Asy-Syamiy, adalah dikarenakan sebagian besar mereka memilih terjun dalam dunia perdagangan yang dengan demikian memaksa mereka untuk menjalin hubungan dan melakukan berbagai kontrak dagang dengan para pedagang yang berasal dari Persia, India dan Cina di kota-kota pantai Teluk. Komunikasi yang mereka lakukan untuk menghasilkan kesepakatan dengan para pedagang tersebut adalah mesti dengan bahasa Persia.[20]

Dari semua ini dapat dipahami bahwa keberadaan orang-orang Persia di jalur perdagangan bahari antara Teluk Persia dan Cina sangat besar dan penting. Banyak istilah kelautan yang kemudian popular di berbagai negeri-negeri dalam jalur perdagangan tersebut berasal dari bahasa Persia semisal bandar (dermaga), nakhudza (nakhoda), daftar (petunjuk pelayaran).[21]

Uraian ini mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa modalitas kebudayaan Persia untuk sampai ke Samudra Pasai atau ke Sumatera adalah karena pertama mereka memiliki warisan kebudayaan dan peradaban yang besar, dan telah memberikan pengaruh, tidak hanya kepada kebudayaan Arab, tapi juga kepada kebudayaan bangsa-bangsa yang menganut Islam. Kedua, keberadaan Syiraz sebagai sebuah kota Islam utama di kawasan Persia yang berada berdekatan dengan pusat pemerintahan Islam di Baghdad telah menjadikannya sebagai salah satu negeri yang mampu menerbitkan para ilmuwan dan budayawan ke seluruh pelosok dunia Islam, dan juga dapat menerima para penuntut ilmu dari berbagai kawasan Islam. Selain itu, Syiraz sebelum Dinasti Shafawiyyah memerintah mulai abad ke-16 M, juga merupakan negeri yang selalu berada dalam garis loyal kepada khalifah di Baghdad, dan tidak memendam unsur-unsur kebencian kepada Arab. Wajah kehidupan social-budaya di Syiraz inilah yang tampil di wilayah-wilayah yang secara langsung pernah terjalin kontak dengannya, antara lain, menurut kami adalah pesisir utara Sumatera dengan Kerajaan Samudra Pasainya. Dan ketiga, Persia memiliki potensi manusia, jalur serta kemampuan moril dan materil untuk menembus dan sampai ke wilayah-wilayah di seberang lautan, yang di antaranya juga adalah Samudra Pasai.

 

Berlayar ke Jazairul Hind (pulau-pulau India) 

Sekalipun pelaut-pelaut Persia telah melayari Samudera India sejak abad-abad awal masehi dengan mempergunakan angin monsoon yang menyampaikan mereka ke India dan Ceylon (Srilanka), tapi—sepengetahuan saya—belum diketahui secara persis sejak kapan mereka mulai mengenal atau singgah di pulau-pulau di India Belakang (Jazai’rul Hind).

Berita atau catatan paling awal mengenai pulau-pulau India ditemukan dalam laporan Sulaiman As-Sirafiy (At-Tajir) dari abad ke-9 M. Dalam laporan yang ditulis pada 851 M, Sulaiman mencatat berita-berita perjalanannya ke India dan Cina. Manuskrip laporan tersebut diberi tajuk “Hawadits Tarikhiyyah Mutatabi’ah” (rentetan peristiwa-peristiwa sejarah). Laporan ini kemudian disalin kembali oleh ahli geografi sedaerahnya, Abu Zaid As-Sirafiy (abad ke-4 H) dengan menambahkan berbagai informasi yang berhasil dikumpulnya dari berita-berita para pedagang dan penjelajah yang mengunjungi Cina.[22]

Setelah Sulaiman As-Sirafiy, berita tentang pulau-pulau India ditemukan dalam tulisan-tulisan ahli geografi Arab dan Persia semisal Ibnu Khurdazhbeih (wafat sekitar tahun antara 280 H/892 M dan 300 H/913 M), Al-Ya’qubi (wafat 292 H/905 M), Ibnu Rustah (wafat ± 300 H/912 M), Burzuk Syahrayar Ar-Ramhurmuziy (wafat 340 H/950 M), Al-Mas’udiy (wafat 346 H/958 M) dan lainnya sampai dengan Ad-Dimasyqiy (wafat 727 H/1327 M), yakni sebelum kedatangan Ibnu Baththuthah ke Sumatera.

Selain mencatat nama-nama tempat yang disinggahi para pedagang dalam pelayaran mereka menuju Cina, sebagian ahli geografi juga mencatat adanya koloni-koloni dari Siraf dan Oman di beberapa tempat di pulau-pulau India. Ar-Ramhurmudziy dalam ‘Ajaib Al-Hind menyebutkan tentang keberadaan orang-orang Muslim di Zabaj (Sriwijaya). Ia menuliskan kisah Raja Zabaj yang telah memberlakukan peraturan wajib duduk bersila di depannya, dengan seorang pelaut tua asal Oman bernama Juhud Kutah, yang kemudian berakhir pada pencabutan peraturan tersebut untuk orang-orang Muslim.[23]

Dari sini didapati petunjuk bahwa orang-orang Muslim yang berasal dari kawasan Teluk Persia, terutama Siraf dan Oman, telah mengenal dengan baik pulau-pulau India bahkan mulai mendiami beberapa tempat di Sumatera. Meskipun demikian, saya masih mengusulkan agar jejak-jejak koloni Muslim sebelum abad ke-7 H/ke-13 M di pulau-pulau India dapat diteliti lebih lanjut dengan menggunakan pendekatan arkheologi.

Memasuki abad ke-7 H/ke-13 M diyakini telah berdiri sebuah pemerintahan Islam di pantai utara Sumatera. Hal ini dibuktikan dengan ditemukan nisan-nisan bersurat dari permulaan abad tersebut di wilayah yang hari ini disebut dengan Aceh Utara. Epitaf pada nisan-nisan tersebut menyebutkan nama-nama tokoh yang dipastikan bukan dari kalangan masyarakat biasa tetapi dari golongan bangsawan (as-sa’id) dan meninggal dunia karena berjuang di jalan Allah (asy-syahid).

Sekalipun, menurut saya, kehadiran pemerintahan Islam di pesisir utara Sumatera ini, pada awalnya, merupakan bagian gerakan perluasan wilayah politik Islam yang datang dari arah India atau tepatnya Delhi, sehingga kebudayaan Islam yang ikut terbawa bersama gerakan tersebut lebih bercorak kebudayaan Islam Persia yang telah memadukan beberapa unsur India ke dalamnya, sekalipun demikian itu sama sekali tidak berarti arus kebudayaan Islam yang datang dari Teluk Persia telah berhenti baik yang berasal dari kawasan Arab (Baghdad) maupun Persia (Ray dan Syiraz).[24]

Bagaimanapun, kedua arus kebudayaan Islam Persia, baik yang datang dari kawasan India maupun Persia, tampaknya telah bergabung kembali di Sumatera atau Samudra Pasai. Kedua-dua arus itu telah menumpahkan muatannya di Samudra Pasai sehingga berkat kebaikan-kebaikan yang dibawa keduanya, dalam tempo relatif singkat, Samudra Pasai telah berhasil membangun suatu corak kebudayaan Islam yang istimewa pada abad ke-15 M. Kebudayaan Islam yang menyerap berbagai unsur-unsur Arab, Persia, India dan lokal pada akhirnya pantas untuk disebut dengan kebudayaan Islam Jawiy (Jawah; pesisir utara Sumatera). Meskipun menyerap berbagai unsur, namun tetap saja ia telah dilahirkan dalam pangkuan kebudayaan Islam Arab-Persia. Pada masa-masa kemudian sekali, kebudayaan ini popular dengan sebutan kebudayaan Islam Melayu. Tidak ada masalah dengan penyebutan ini, namun setidaknya perlu dimaklumi bahwa kebudayaan Islam Melayu telah berasal dari kebudayaan Islam Jawiy yang tempat kelahiran aslinya adalah pesisir utara Sumatera atau kerajaan Islam Samudra Pasai dibawah pemerintahan Dinasti Ash-Shalihiyyah (abad ke-13 M—ke-16 M).

Tokoh-tokoh Asal Persia

Sebagai langkah awal, dan saya kira paling sederhana, dalam rangka memperhatikan jejak-jejak kebudayaan Persia di kawasan tinggalan sejarah Samudra Pasai, saya memilih untuk melihat tokoh-tokoh yang mengisi ruang dan waktu Samudra Pasai, yang dari sisi bagaimanapun memiliki hubungan dengan Persia atau Iran secara umum.

Tokoh-tokoh itu antara lain adalah:

  1. Ibnu Khaddajih. Tokoh ini adalah salah satu dari tiga pemilik makam yang kita temukan pada catatan batu nisannya bertarikh wafat sebelum Sultan Al-Malik Ash-Shalih wafat pada 696 H/1297 M. Makam Ibnu Khaddajih berada di Gampong Matang Ulim, Samudera, Aceh Utara. Dari penghitungan jumlah nilai huruf sebaris kalimat sanjungan yang terdapat pada batu nisannya, kami menemukan angka 681, yang kami yakini sebagai tahun wafatnya. Ibnu Khaddajih kami yakini berasal usul dari Persia karena “Khaddajih” dalam penelusuran singkat yang sempat kami lakukan adalah kata-kata dalam bahasa Persia berarti syaikh (orang tua/guru).
  2. Ibnu Baththuthah dalam laporan kunjungannya ke Sumuthrah (Samudra Pasai) pada pertengahan abad ke-14 M, menyebutkan dua tokoh utama di Samudra Pasai yang tidak disangsikan lagi berasal dari Persia, yaitu Al-Qadhi Asy-Syarif Amir Sayyid Asy-Syiraziy (Syiraz) dan Tajuddin Al-Ashbahaniy (Isfahan). Keduanya juga adalah di antara ahli fiqh di Samudra Pasai. Selain itu, Ibnu Baththuthah juga menyebutkan nama Amir Daulasah. Menurut kami pengucapan yang tepat adalah Daulat atau Daulah Syah. Ini juga menyuratkan pengaruh Persia di Samudra Pasai. Nama lain lagi, Bahruz. Nama ini juga memiliki cita rasa Persia. Selain nama-nama tokoh, Ibnu Baththuthah juga menyebutkan nama-nama bangunan atau tempat yang menguatkan keterpengaruhan Samudra Pasai dengan kebudayaan Persia.[25]
  3. Nur Khatun ‘Umar yang wafat pada 805 H/1403 M. Makam wanita ini berada di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara. Wanita ini diyakini berasal usul Persia karena “khatun” pada namanya adalah kata-kata Persia berarti puan atau nyonya.[26]
  4. Na’ina Husamuddin bin Na’ina Amin yang wafat pada 823 H/1420 M. Makamnya terbuat dari marmer dan berada di Gampong Pie, Samudera, Aceh Utara. Gelar “na’ina” pada namanya mungkin berasal dari Persia. Namun hal yang menguatkan ia merupakan salah seorang tokoh berasal usul Persia adalah karena ditemukan bait-bait syair dalam bahasa Persia pada batu nisan makamnya sebelah kaki (selatan). Para ahli mengungkapkan bahwa bait-bait syair tersebut adalah milik Sa’diy Syiraziy, penyair sufistik terkenal di Persia.
  5. Ash-Shadrul Ajal Khawwajah Muhammad bin Sulaiman yang wafat pada 845 H/1442 M. Makamnya berada di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara, di dekat makam Nur Khatun ‘Umar. Gelar “ash-shadrul Ajal” mengesankan suatu keterpengaruhan dengan Persia. Selain itu, gelar “khawwajah” berasal dari bahasa Persia yang berarti syaikh/guru.[27] Dalam thariqat An-Naqsyabandiyyah, gelar ini sering digunakan untuk makna demikian.
  6. Khawwajah Tajuddin bin Ibrahim yang wafat pada 857 H/1453 M. Makamnya berada di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara, satu lokasi dengan makam Khawwajah Muhammad.
  7. Mir Hasan yang wafat pada 910 H/1505 M. Makamnya berada di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara. Gelar Mir pada namanya berasal dari bahasa Persia yang berarti pangeran (amir).[28]

Keberadaan tokoh-tokoh semisal yang telah disebutkan di atas merupakan bukti bahwa kebudayaan Islam Persia telah menduduki posisi penting dalam sejarah Samudra Pasai. Wallahu A’lam

Catatan Kaki:


[1] Taqiyuddin Muhammad, Daulah Shalihiyyah di Sumatera; Ke Arah Penyusunan Kerangka Baru Historiografi Samudra Pasai, h. 41-44 (dalam proses penerbitan).

[2] Sebutan Sumatera untuk pulau besar di bagian paling barat Indonesia ini tampaknya memang berawal dari kemashuran kota pemerintahan Dinasti Ash-Shalihiyyah di pesisir utaranya.

[3] Mirip dengan penyebutan Suquthrah (Soqotra), pulau di depan Yaman.

[4] Lihat, misalnya, Ibnu Khurdadzbeih, Al-Masalik wa Al-Mamalik, h. 63-67.

[5] Ibnu Baththuthah, Tuhfatun Nazhzhar fi Ghara’ibil Amshar wa ‘Aja’ibil Asfar, Kairo: Mathba’ah Al-Khairiyyah, 1322 H.

[6] Meski nama Jawah sudah tidak popular lagi, namun satu tempat di pedalaman Aceh Utara, yang sekarang termasuk dalam wilayah Kecamatan Geuredong Pase, masih menyimpan nama kuno ini dan disebut dengan Rayek Jawa di mana di sisi utaranya mengalir sebatang sungai yang menumpahkan airnya ke aliran sungai Pasai disebut dengan Krueng Jawa. Survey awal yang kami lakukan pada 2009 mengantarkan kami pada kesimpulan bahwa daerah di sekitar aliran sungai ini merupakan suatu permukiman kuno yang paling tidak telah ada sejak zaman Samudra Pasai. Hal ini dibuktikan oleh adanya lokasi-lokasi situs perkuburan kuno dari zaman Samudra Pasai di sekitar aliran sungai itu, dan di beberapa lokasi situs juga ditemukan fragmen-fragmen tembikar dan keramik yang menandakan adanya aktifitas kehidupan pada zaman tersebut.

[7] Kebudayaan ini pada masa kemudian sekali telah popular dengan sebutan kebudayaan Melayu. Menurut kami, ini terjadi pada saat setelah kesultanan Melaka berpindah ke Batu Sawar, Johor, pasca penyerangan dan pendudukan Portugis di Melaka.

[8] Dalam penulisan Arab-Jawiy (Aceh: Arab-Jawo), Samudra Pasai telah mengadopsi cara-cara Persia dalam penulisan bahasa Persia (Farisiy), antara lain dengan penambahan titik pada huruf-huruf hija’iyyah yang formal untuk menghasilkan bunyi yang baru dan juga penghapusan alif-lam al-ma’rifah pada awal kata seperti Al-Malik Azh-Zhahir menjadi Malikuzh-Zhahir, atau semisal Asy-Syafi’iy menjadi Syafi’iy saja.

[9] Lihat, Ahmad Amin, Dhuha Al-Islam, Kairo: Al-Hai’ah Al-Ammah lil Kitab, 2002, h. 180-210.

[10] Hasan Maimanah, Tarikh A-Daulah Al-Buwaihiyyah, Beirut: Ad-Dar Al-Jami’iyyah, 1987, h. 18.

[11] Al-Ishtahkhriy, Al-Masalik wa Al-Mamalik, Kairo: Al-Hai’ah Al-‘Ammah li Qushur Ats-Tsaqafah, 2004, h. 76-77

[12] Hasan Maimanah, h. 314.

[13] Ibid, h. 332.

[14] Ibid, h. 102

[15] Artur Chistensen, Iran fi ‘Ahdi As-Sasaniyyin (L’Iran Sous Les Sassanides), edisi Arab: Yahya Al-Khasysyab, Beirut: Dar An-Nahdhah Al-‘Arabiyyah, t.t., h. 116.

[16] David Whitehouse and Andrew Williamson, “Sassanian Maritime Trade”, dalam Journal of Persian Studies, Vol. 11 (1973), h.30.

[17] Ahmad Asy-Syamiy, “Al-‘Alaqat At-Tijariyyah baina Duwal Al-Khalij wa Buldan Asy-Syarq Al-Aqsha wa Atsaru zalika fi Ba’dhil Jawanib Al-Hadhariyyah fi Al-‘Ushur Al-Wustha, dalam Majallah Al-Mu’arrikh Al-‘Arabiy, edisi 12, 1980, h. 91.

[18] Ibid.

[19] Al-Ishtakhriy, h. 138 dst.

[20] Asy-Syamiy, h. 116.

[21] Anwar ‘Abdul ‘Alim, Al-Mallahah wa ‘Ulumul Bihar ‘indal ‘Arab, Kuwait: ‘Alam Al-Ma’rifah, 1979, h. 28.

[22] ‘Abdul ‘Aziz Thuraih Syaraf, Al-Mujaz fi Tarikh Al-Kasyf Al-Jughrafiy, Alexandria: Mu’assasah Ats-Tsaqafah Al-Jami’iyyah, 1993, h. 67-68.

[23] Burzuk Syahrayar Ar-Ramhurmudziy, ‘Ajaib Al-Hind Barruhu wa Bahruhu wa Jaza’iruhu, Leide.-E.J. Brill, 1883-1886.

[24] Taqiyuddin Muhammad, h. 97-102.

[25] Ibnu Baththuthah, h. 185-6

[26] Faris Afandi Al-Khuriy, Kanz Lughat Qamus Tukiy wa Farisiy wa Tarjamtuhu ‘Arabiy, Beirut: Al-Khuriy, 1876, h. 141.

[27] Ibid, h. 145.

[28] Ibid, h. 331.