Karena Maulid Nabi Sebuah Tradisi

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim

KENDURI maulid adalah sebuah tradisi, bukan bagian dari agama ini, karena memang sejarah membuktikan jika Nabi dan sahabat juga para tabi’in tidak pernah merayakan hari kelahiran Nabi SAW. Pun begitu oleh sebagian orang tradisi ini dianggap bagian dari agama, paling tidak dalam perayaan maulid mereka menemukan nilai-nilai agama ada di sana. Terlepas dari pro dan kontra seputar boleh tidaknya merayakan maulid, dan sekiranya boleh, dan itu sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya, tetapi umat ini–terutama masyarakat Aceh–sampai sekarang masih belum mampu menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Katakan saja praktek silaturahim dan kebersamaan yang terlihat kontras pada setiap perayaan maulid, bagi saya itu kebersamaan yang semu, silaturahim yang dipaksakan. Hari ini, kebersamaan dan silaturahim selalu terajut dengan erat karena faktor duniawi, motifnya materi, karena ada kenduri, ada makan-makannya. Bukan silaturahim sungguhan, yang dilakukan karena adanya keinginan yang tulus “Lillahi Taa’la” untuk menyambung persaudaraan dan mengeratkan keakraban, walaupun tanpa makan enak dan terlepas dari semua kepentingan.

Kita tidak menafikan seratus persen bahwa itu salah, Nabi bahkan pernah menganjurkan, “saling berbagi hadiahlah diantara kalian, maka kalian akan saling mencintai” (HR: Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad), artinya saling memberi makan dan sejenisnya akan melahirkan rasa cinta di antara masyarakat. Tetapi yang menjadi masalah di kita hari ini, kecintaan dan saling peduli itu hanya terjadi pada saat maulid, anak yatim dimuliakan, fakir miskin kekenyangan, giliran bulan maulid berakhir mereka kembali pada kondisi semula, lapar dan terbiarkan. Ketahuilah, sesuatu yang dilakukan bukan karena dorongan hati dan keyakinan kepada Allah ia takkan pernah permanent dan langgeng.

Saya di sini melihat ada sesuatu yang miss dari kesadaran banyak orang. Sekali lagi terlepas dari kontroversinya perayaan maulid itu sendiri. Miss kesadaran ini sesungguhnya bukan hanya terbatas pada perayaan maulid, tapi hampir pada semua aktivitas keagamaan. Barangkali inilah efek buruk dari sebuah tradisi, atau sesuatu yang sudah dipandang sebagai kebiasaan (adat). Orang-orang tidak lagi melihat esensi dari sesuatu, tetapi mereka lebih terpaku pada simbol-simbol dan kulit luarnya. Kita lebih disibukkan dengan membesarkan makanan selama tiga bulan berturut-turut (rabi’ul awwal/moloed awai, rabi’ul akhir/moloed teungoh, dan jumadil awwal/moloed akhe) tanpa memperhatikan tujuan dan substansi dari perayaan maulid itu sendiri. Bahkan sebaliknya membesarkan makanan itulah yang kini dinamakan (idektik) dengan maulid.

Jika seseorang tidak membesarkan makanan otomatis dia tidak dianggap merayakan dan bergembira atas kelahiran Rasulullah SAW, meskipun ia adalah orang yang taat terhadap ajaran Rasulullah SAW, selalu menghidupkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berhubungan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak makhluk Allah.

Jadi di Aceh, jika ada dua orang, yang satu taat menjalankan agama, berusaha mempraktekkan nilai-nilai luhur dari ajaran Rasul setiap harinya, tetapi tidak membesarkan makanan pada bulan maulid, ia dianggap tidak mencintai Nabi SAW, manakala yang satunya lagi dipandang mencintai Nabi SAW meskipun moral agamanya sangat rendah, hanya karena ia membesarkan makanan pada bulan maulid.

Nah kalau dulunya, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi pernah memanfaatkan moment maulid untuk menggerakkan masyarakat berjihad, hal itu akan sangat sulit diwujudkan dalam kehidupan kita pada hari ini, karena image dan bahkan sudah menjadi keyakinan, jika moloed itu “makan-makan”, bukan yang lainnya. Karenannya tidak perlu heran, jika di kebanyakan tempat di mana perayaan maulid dilaksanakan, seperti masjid dan meunasah, setelah acara makan siang–yang merupakan inti dan klimaks dari maulid–saat azan dhuhur dikumandangkan, kita hanya mendapati segelintir dari mereka yang tadinya hadir menyantap kenduri lalu bangkit dan berdiri dalam shaf shalat.

Jadi kalau menggerakkan shalat saja yang hanya lima menit, yang merupakan sebuah kewajiban, tetapi masih begitu berat, lalu bagaimana dengan hal-hal lain yang mengambil waktu lama dan bersifat  sukarela? Saya rasa akan sangat sulit, walaupun tidak mustahil.

Lagi-lagi, sekiranya mereka tergerak, itu bukan karena keinginan untuk melakukan suatu perubahan dan kemajuan demi kebaikan masyarakat dan kemaslahatan bersama, tetapi karena ada kenduri, ada makan enaknya. Lalu sampai kapan kita harus menyuguhkan makan enak untuk memajukan umat ini, sementara pekerjaan tersebut menanti dan menuntut kita untuk terus berbuat dan bekerja tanpa henti.

Lihatlah kondisi umat ini sekarang, bahkan orang-orang pintar di antara mereka, selalu saja beralasan untuk mogok kerja, tidak berbuat apa-apa karena tidak ada anggaran atau belum disahkan anggaran. “Galom dikhok palee” begitu ungkapan popular di kalangan mereka. Tidak tersedianya dana (dana publik) selalu saja menjadi “kambing hitam” untuk tidak melakukan apa-apa, bahkan untuk tidak mau berpikir. Ini karena kita sudah begitu larut dalam buaian materi, segalanya harus bendawi, bahkan sampai memuliakan dan membesarkan hari kelahiran Nabi SAW.

Teringin rasanya mengukur sejauh mana kejujuran kita dalam mencintai Rasulullah SAW, mengagungkan dan memuliakan beliau tanpa perlu kepada seremonial apapun, tidak harus sampai tiga bulan, cukup seminggu saja. Dalam tujuh hari tersebut kita coba konsisten–semampu kita dan sekuat tenaga–dengan semua sunnah dan akhlak Rasulullah SAW, di mana pada dasarnya meneladani Rasulullah SAW bukan hanya tujuh hari, juga bukan tiga bulan, tetapi sepanjang hari dan minggu, sepanjang bulan dan tahun, dan sepanjang hidup kita, dan inilah hakikat dari perayaan maulid. Wallahua’lam.

* Muhammad Syahrial Razali Ibrahim adalah Teungku Balee di Lhokseumawe

Baca Juga :
Perayaan Kelahiran Nabi di Lembah Geureudong Pase