Keterangan Ulama di Majelis Adduraathul Fakhiirah Lhokseumawe

misykah
Para ulama Aceh membahas berbagai persoalan yang kerap menimbulkan perbedaan pendapat dan kesalahpahaman di tengah-tengah masyarakat pada acara Mubahatsah yang diadakan Majelis Tadzkirah Lhokseumawe, Rabu malam, 26/2/2014. (Foto: Safar Syuhada)

RATUSAN orang mengisi tempat yang telah disediakan panitia di Gampong Pusong Lama, Kota Lhokseumawe, pada Rabu malam, 26/2/2014. Malam itu, Majelis Tadzkirah Adduraathul Fakhiirah Lhokseumawe pimpinan Abi Ghazali mengadakan acara Mubahatsah (kajian) menyangkut persoalan-persoalan dan pemahaman-pemahaman yang berkembang dalam masyarakat.

“Untuk acara Mubahatsah ini, kita sudah mempersiapkannya sejak kemarin,” kata Muzakkir, ketua panitia acara Mubahatsah kepada misykah.com.

Muzakkir yang juga menjabat sebagai Geuchik Gampong Pusong Baro berharap, dengan mendengar langsung fatwa dari ulama-ulama yang hadir di acara ini, masyarakat bisa benar-benar mengerti tentang persoalan-persoalan agama, sehingga tidak ada lagi penyimpangan-penyimpangan yang selama ini terus diperdebatkan di kalangan masyarakat.

Acara tersebut menghadirkan ulama-ulama terkenal dan kharismatik di Aceh sebagai nara sumber. Mereka adalah Teungku Haji Mustafa Ahmad (Abu Paloh Gadeng), Teungku Haji Nuruzzahri (Waled Nu), Teungku Haji Jafar (Abi Lung Angen, Lhok Nibong), dan Teungku Haji Mohd. Nuruddin (Abati Buloh Blang Ara). Dan dihadiri pula oleh puluhan alim ulama dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara.

Dalam kata-kata sambutannya, Abi Ghazali menyampaikan keharuan dan penghormatannya yang mendalam atas kesediaan para ulama yang dikagumi masyarakat Aceh itu untuk hadir ke acara Mubahatsah yang diadakan pihaknya, kendati dimaklumi sebagian mereka dalam kondisi yang kurang sehat.

Mubahatsah yang dimulai sekitar pukul 20.30 wib ini dipandu Teungku Haji Abdul Manan (Abi Manan Blang Jruen), yang juga seorang ulama terkenal. Satu persatu pertanyaan yang telah disiapkan pihak Majelis Tadzkirah dikemukakan oleh Abi Manan. Antara lain, mengenai pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah, pemahaman hubungan Allah dan makhluk dalam thariqat, Maulid Nabi, nikah via telepon dan lainnya. Lalu, secara bergilir para ulama menjawab setiap persoalan yang diajukan.

Pengupasan persoalan satu demi satu dan secara panjang lebar itu berlangsung selama lebih dari tiga jam. Para hadirin terlihat menyimak dengan tekun dan penuh perhatian kepada setiap keterangan yang disampaikan para ulama.

Berikut adalah rangkuman hasil Mubahatsah yang diperoleh misykah.com dari pihak Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Aceh Utara.

 

HASIL MUBAHASAH  TENTANG TAUHID DAN FIQH

PUSONG, LHOKSEUMAWE

RABU, 27 Rabi’ul Akhir 1435/26 FEBRUARI 2014

1. Umat Islam di seluruh penjuru dunia meyakini bahwa aqidah yang benar dalam Islam adalah aqidah ahlu sunnah wal jamaah. Pada kenyataannya banyak umat Islam tidak mengerti apa makna dari istilah ahlu sunnah wal jamaah tersebut. Adapun yang menjadi pertanyaan kami adalah:

  • Apa pengertian dari aqidah ahlu sunnah wal jamaah secara lughawiyah (bahasa) dan secara istilahiyah (istilah)?

Jawab:

Pengertian secara bahasa. Ahli: Kaum/Kelompok. Sunnah: Sesuatu yang disampaikan Rasulullah SAW. Jama’ah: Sesuatu yang disampaikan oleh Sahabat Khulafaur Rasyidin.

Pengertian secara istilah: Ahlussunnah wal jamaah merupakan  orang-orang yang berpegang teguh terhadap sesuatu yang disampaikan Rasulullah yang diteruskan kepada sahabat  Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib). Secara tauhid tidak terlepas dari mazhab tauhid Asy’ariyah yang dipelopori oleh Abu Hasan Asy’ary. Secara Fiqh tidak terlepas dari mazhab fiqh yang empat (4) yaitu: Maliki, Hanafi, Asy-Syafi’i, dan Hanbali. Secara tasawuf tidak terlepas dari pemahaman tasawuf  Abu Junaid Al-Baghdady.

  • Kenapa pemahaman ahlu sunnah wal jamaah harus dimunculkan dalam pembelajaran dan pembahasan tentang aqidah Islam?

Jawab:

Karena hal tersebut merupakan perintah dari Rasulullah SAW untuk diteruskan apa yang telah beliau sampaikan dan diteruskan penjabarannya oleh sahabat (khulafaur rasyidin) yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist.

  • Siapa yang pertama sekali merangkum konsep aqidah yang ada dalam al-Qur’an dan Sunnah lalu dinamakan dengan aqidah ahlu sunnah wal jamaah?

Jawab:

Abu Hasan Asy’ary dan Abu Mansur al-Maturidy

2. Di kalangan orang-orang yang menjalankan thariqat, dalam menyatakan hubungan Allah dengan makhluk, ada yang menyebutkan suatu kaidah :

  • Dalam syari’at         : Ana abdun Allah khaliqun
  • Dalam thariqat        : Ana jasadun Allah Ruuhun
  • Dalam hakikat         : Ana Allah ; Allah Ana

Jawab:

Sebaik-baik kedudukan seorang mukmin berada pada kedudukan Ana ‘Abdun Allah Khaliqun. Sedangkan orang yang mengatakan Ana jasadun Allah Ruuhun dengan maksud “ruh hakikat dan Allah hakikat” maka dihukumkan kafir. Bila maksudnya bukan “ruh hakikat dan Allah hakikat” maka pernyataan tersebut bid’ah dan syubhat yang menyebabkan kesesatan orang awam. Karena pernyataan tersebut juga dapat hulul dan ittihad (menyatu Allah dengan Hamba).

3. Dalam shahih Muslim, hadits ke 294  disebutkan :

عن أنس , أن رجلا قال : يا رسول الله أين أبى؟ قال : فى النار. فلما قفى دعاه فقال : إن أبى واباك فى النار

Artinya : “Dari Anas, bahwa seorang laki-laki bertanya: ya Rasulullah dimanakah tempat ayahku? Rasulullah menjawab: di dalam neraka. Di saat orang tersebut hendak pergi beliau bersabda: sesungguhnya bapakku dan bapakmu tempatnya di neraka.”

Yang menjadi pertanyaannya adalah:

  • Benarkah pengertian hadits tersebut bahwa orang tua Rasulullah di hari akhirat akan berada di neraka?
  • Bila benar, maka bagaimana nasib keluarga Rasulullah yang wafat sebelum Rasulullah menerima wahyu?

Jawab:    

Tidak benar. Dengan dua (2) alasan:

  • Kata “أبىdalam hadist  tersebut yang ditafsirkan oleh Imam An-Nawawi bukan bermakna Ayah Kandung seperti Ayah Rasulullah SAW (Abdullah) yang sudah wafat sebelum beliau menjadi Rasul. Tetapi  kata “أبىini digunakan untuk menyatakan Paman.
  • Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadist bahwa Rasul telah dititipkan dari sulbi dan rahim yang suci. Jadi, mustahil, pemilik sulbi dan rahim tersebut kelak menjadi ahli neraka.

4. Bagaimana status pernikahan seseorang, bila pasangannya keluar dari Islam (murtad)?

Jawab:

Bila salah satu dari pasangan suami-istri telah murtad, maka terputus  hubungan pernikahan.  Bila ia murtad setelah bercampur (watha’) maka berlaku iddah. Apabila  ia kembali Islam dalam masa iddah maka boleh ruju’. Apabila ia kembali  Islam setelah habis masa iddah maka tidak boleh ruju’. Selanjutnya, apabila ia murtad sebelum watha’ maka tidak ada iddah, sehingga tidak bisa ruju’.

5. Dalam uraian fiqh munakahat disebutkan bahwa orang yang telah talak tiga tidak boleh lagi ruju’. Namun pada kenyataannya bila kasus talak tiga sekaligus  dinaikkan ke Mahkamah Syar’iyah (Pengadilan Agama), maka mahkamah syar’iyah tidak mengakuinya dan menganggapnya sebagai talak satu dan boleh ruju’. Pertanyaan :

  • Bagaimana status talak tiga sekaligus, apakah jatuh satu atau jatuh tiga?
  • Bagaimana kita menyikapi terhadap praktek yang dilakukan oleh mahkamah syar’iyah tersebut?

Jawab:

  • sepakat ulama fiqh mazhab empat mengatakan bahwa talak tiga jatuh tiga.
  • Kita tetap berpegang teguh terhadap pendapat Fuqaha yang telah sepakat talak tiga jatuh tiga, sesuai dengan keyakinan ahlussunnah wal jamaah, tanpa terpengaruh dengan pendapat yang menyatakan thalaq tiga jatuh satu.

6. Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati oleh umat Islam diseluruh penjuru dunia. Namun di sela-sela pelaksanaan peringatan Maulid tersebut terdapat permasalahan-permasalahan yang membutuhkan penjelasan. Di antara permasalahan tersebut:

  • Apakah perbuatan memperingati maulid Nabi tergolong dalam perbuatan ulang tahun setelah kematian dan hukumnya bid’ah?

Jawab:

Tidak tergolong dalam ulang tahun. Tetapi memperingatinya adalah bid’ah hasanah atau bid’ah yang baik dan tidak tercela selama cara memperingati maulid nabi dengan cara salah satu dari 4 hal, yaitu:

–       Membaca ayat-ayat Allah
–       Membaca shalawat kepada Nabi
–       Menyebut sifat-sifat nabi dan sejarah Nabi
–       Berbuat baik kepada manusia dengan bersedekah atau lainnya.

Peringatan kelahiran Nabi bukan suatu kewajiban bagi ummat Islam. Namun hanya sebagai rasa syukur atas nikmat karena kelahiran beliau. Dan memperingatinya tidak ada larangan.

  • Apakah benar memperingati maulid Nabi hanya boleh dilaksanakan pada bulan tertentu saja?

Jawab:                                                   

Tidak benar. Karena memperingati maulid Nabi boleh dilaksanakan kapan saja. Tetapi yang lebih baik dilaksanakan bertepatan dengan hari kelahiran Nabi SAW.

  • Apakah benar shalawat nariyah adalah shalawat bid’ah yang di dalamnya memuat makna yang membawa manusia kepada kemusyrikan?

Jawab:

Shalawat tersebut tidak dilarang bahkan itu sangat baik.

7. Dalam sebuah hadits yang sudah sangat terkenal disebutkan bahwa “ bila seorang anak adam meninggal maka terputuslah seluruh amalnya kecuali 3 perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan orang tuanya”. Berkenaan dengan hadits tersebut, muncul pertanyaan :

  • Apakah doa, tahlilan dan bacaan al-quran yang ditujukan dan dihadiahkan pahalanya untuk si mayat tidak akan sampai?

Jawab:

–       Bacaan bukan di samping kubur dan tidak ada doa hadiah pahala setelah itu maka tidak sampai pahala kepada mayit.
–       Bacaan bukan di samping kubur dan ada doa hadiah pahala setelah itu maka sampailah pahala kepada mayit.
–       Bacaan di atas kubur akan sampai kepada mayit meskipun tidak ada doa setelahnya.

Imam syafi’ie berkata : ”aku membenci al-mat’am, yaitu berkumpul-kumpul (di rumah keluarga mayit) meskipun di situ tiada tangisan karena hal itu dapat membangkitkan kembali kesedihan dan memberatkan beban tanggungan (ahli mayit) serta bertentangan dengan atsar yang telah lalu (dialog jabir dengan umar tentang meratapi)”.

  • Pertanyaannya apakah kegiatan ta’ziyah dan shamadiyah yang sering kita laksanakan tergolong ke dalam hal ini? Mohon penjelasan!

Jawaban:

Kegiatan ta’ziyah dan samadiyah yang dilaksanakan selama ini tidak bertentangan dengan pendapat Imam Syafi’i di atas. Karena berkumpul dengan tujuan berdoa kepada mayit, bukan membicarakan perihal mayit yang menyebabkan kesedihan bagi keluarga mayit.

8. Muncul pemahaman di tengah masyarakat bahwa  belum sah nikah kalau yang menjadi wali bukan Allah SWT. Pemahaman ini  berdasarkan surat Al-Ahzab ayat 37 yang artinya:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni’mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni’mat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Pertanyaan:

  • Bagaimanakah Penafsiran ayat tersebut yang sebenarnya ?
  • Apakah pemahaman tersebut benar dan dapat diamalkan?

Jawab:

Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa sesuatu yang berlaku pada Rasul tidak berlaku pada ummat. Hukum ini merupakan khusus bagi Rasul, yakni dalam perkawinannya dengan Zainab yang menjadi wali nikahnya adalah Allah. Dalam ayat ini juga disinggung bahwa mantan istri anak angkat boleh dinikahi, sebagaimana Rasulullah menikahi Zainab mantan istri anak angkatnya Zaid.

9. Bagaimana hukum memberikan wakilah dan melakukan akad nikah melalui telepon/handphone?

Jawaban:

– Memberikan wakilah nikah melalui  telepon/Handphone perlu kajian lebih lanjut.
– Melakukan akad nikah melalui telepon/Handphone hukumnya tidak sah.
10.  Bagaimana hukum menggunakan harta yang dihasilkan dari usaha jual-beli barang yang haram?

Jawaban:

Hukumnya haram

11. Bagaimana hukum membangun fasilitas keagamaan dengan harta yang dihasilkan dari usaha jual-beli barang yang haram?

Jawaban:

Hukum menggunakannya adalah makruh jika tidak diyakini itu dari yang haram. Dan hukumnya haram jika itu diyakini dari yang haram.

[Safar Syuhada]