Ketika Sang Raksasa Juga Melintas di Sawang Aceh Utara

Struktur kolom basalt yang terdapat Krueng Jireungeh, Kecamatan Sawan, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2013)
Struktur kolom basalt yang terdapat Krueng Jireungeh, Kecamatan Sawan, Aceh Utara. (Foto: CISAH, 2013)

PERMULAAN tahun silam (2013), masyarakat Aceh Utara dihebohkan oleh penemuan struktur aneh di pedalaman Sawang, sebuah kecamatan di bagian barat daya kabupaten Aceh Utara, ± 40 km dari Lhokseumawe. Tidak sedikit warga masyarakat dan kelompok-kelompok mahasiswa yang tertarik untuk pergi melihat struktur ajaib yang berjarak ± 8 km dari Dusun Cot Calang, permukiman terujung dari Gampong Riseh Tunong, dengan menembusi rimba, naik-turun perbukitan yang terkadang terjal. Gambar-gambar struktur langka itu pun kerap tampil di media sosial dan menimbulkan tanda tanya, struktur apakah itu sesungguhnya?

Junaidi, seorang tokoh muda di Riseh Tunong, pada Senin, 18/02/2013, memberitahukan informasi temuan tersebut kepada Husaini Usman yang kemudian diteruskan ke Center of Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) di Lhokseumawe. Selasa, 19/02/2013, sekitar pukul 14.00 wib, CISAH yang terdiri dari Husaini Usman, Mawardi Ismail, Sukarna Putra, Munawir dan saya sampai di Gampong Riseh Tunong guna mendengar langsung kronologis penemuan dan deskripsi struktur batu yang ditemukan. Junaidi menyambut gembira kedatangan CISAH, lantas dengan beberapa warga dan Geuchik Riseh Tunong, kami duduk di panteu jaga (pos jaga).

Adalah Zarkasyi, warga Riseh Tunong, dan teman-temannya yang pertama sekali melihat struktur batu dalam bentuk dan susunan seakan-akan mesti ada pembuatnya. Struktur tersebut memanjang di bantaran sebelah kanan hulu sungai Krueng Jeuringeh. Mereka mengaku pernah melintasi lokasi sebelumnya tapi tidak pernah memberi perhatian akan adanya balok-balok batu berukuran besar yang seperti telah tersusun sejak lama. Malam itu, Rabu 13/02/2013, sekitar pukul 20.00 wib, saat mereka sedang asik menjala ikan, mereka tersadarkan oleh keberadaan struktur yang ganjil itu. Keesokan harinya mereka kembali ke gampong dan memberitahukan penemuan struktur aneh itu kepada warga lainnya. Beberapa warga kemudian sepakat untuk kembali ke lokasi guna mencari tahu struktur apa itu sesungguhnya. Pukul 09.00 wib, Ahad, 17/02/2013, sekelompok warga Riseh Tunong berangkat menuju lokasi, mereka berusaha untuk menyelidiki struktur tersebut. Penyelidikan hari itu berakhir hampir jelang petang, dan sejauh itu belum didapat suatu jawaban yang pasti.

Keunikan alam yang menakjubkan menjadi aset parawisata yang prospektif untuk Aceh. (Foto: CISAH, 2013)
Keunikan alam yang menakjubkan menjadi aset parawisata yang prospektif untuk Aceh. (Foto: CISAH, 2013)

CISAH bersama tokoh-tokoh masyarakat Riseh Tunong, terutama Geuchik Riseh Tunong dan Kepala Dusun Cot Calang, sepakat untuk melakukan peninjauan ke lokasi. Dalam pada itu CISAH menyarankan agar temuan unik tersebut tidak dipublikasikan secara meluas sebelum mendapatkan penyelidikan yang lebih saksama dari para ahli berikut mekanisme perlindungannya. Pertimbangan ini diberikan untuk menghindari kerusakan yang dapat saja diakibatkan oleh para pengunjung baik disengaja maupun tidak. Kerusakan struktur unik tersebut akan berdampak negatif pada pengambilan data yang akan dilakukan oleh para ahli. Selain itu, faktor keamanan pengunjung adalah suatu hal yang juga sangat perlu diperhatikan.

Beberapa usaha untuk mengkoordinasikan kerja penelitian dan penyelamatan struktur unik ini pernah dilakukan, namun berlalu setahun setengah, perhatian untuk hal tersebut telah dikalahkan oleh berbagai kondisi sulit yang tidak dapat dielak.

Dalam peninjauan CISAH pada Februari 2013, teramati struktur batu tersebut merupakan sekumpulan kolom basalt yang mirip dengan Giant’s Causeway di County Antrim, Irlandia Utara, yang sudah sangat terkenal dan berada di bawah perlindungan lembaga PBB, UNESCO, sebagai situs warisan dunia sejak 1986.

Batu-batu berbentuk heksagonal, pentagonal dan tetragonal yang merupakan batuan vulkanik. (CISAH, 2013)
Batu-batu berbentuk heksagonal, pentagonal dan tetragonal yang merupakan batuan vulkanik. (CISAH, 2013)

Batu-batu yang umumnya berbentuk heksagonal di sepanjang tepi kanan aliran Krueng Jeuringeh ini tampak seperti talud penyangga tebing bukit. Jejeran kolom basalt yang ditemukan pada waktu itu sepanjang ± 403 meter dengan ketinggian berkisar antara 8-10 meter. Merujuk kepada pendapat ahli geologi mengenai Giant’s Causeway, struktur semisal ini terbentuk akibat sebuah letusan gunung berapi di zaman purba. Giant’s Causeway yang berarti penyebrangan atau lintasan raksasa merupakan nama yang diambil dari legenda Irlandia kuno tentang raksasa yang bernama Finn McCumhail.

Temuan struktur kolom basalts yang unik di pedalaman Sawang menambah satu keajaiban alam yang baru bagi dunia. Penelitian yang lebih mendalam tentang struktur alami yang unik ini sudah semestinya dilakukan, apalagi kemungkinan adanya tinggalan sejarah hasil kebudayaan manusia di lokasi tersebut juga masih terbuka lebar. Dan yang tak kalah pentingnya untuk dipertimbangkan adalah prospek parawisata dari panorama situs cagar alam yang menakjubkan ini! (Khairul Syuhada, Taqiyuddin Muhammad)