Kompleks Makam Kuno di Pedalaman Nisam Antara

nisam 1
Kompleks makam Teungku Misyki di Darussalam, Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara (Foto: CISAH)

TIDAK kurang dari 20 kilo meter arah selatan Kota Lhokseumawe, tepatnya di Gampong Darussalam Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara, sebuah kompleks makam kuno tampak tak terhiraukan. Daun-daun kering yang berjatuhan hampir menutup seluruh permukaan tanah.

Meskipun terletak di tengah pemukiman warga, kompleks makam itu terlihat  jarang dikunjungi, apalagi dibersihkan. Namun warga setempat memberinya satu nama. “Jirat Teungku Misyki,” kata Muhammad Ilyas, anggota Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) yang memperoleh informasi tersebut dari Lukman (45), warga sekitar.

Di kompleks makam tersebut terlihat nisan-nisan yang letaknya sudah kurang teratur. “Jumlah nisan-nisan itu sepertinya tidak kurang dari 50 batu nisan,” sebut Muhammad Ilyas kepada misykah.com, Jumat (29/11/2013).

Mengenai penamaan makam ini, Lukman menuturkan, “Sekitar tahun 90-an, seorang teungku dari Krueng Mane, yaitu Teungku Ulee Madon, datang berziarah ke makam. Pada salah satu batu nisan, beliau membaca nama Misyki. Sejak itulah warga disini menyebutnya dengan Jirat Teungku Misyki.”

Selain nisan-nisan makam, Muhammad Ilyas juga melihat sebongkah batu hampir empat persegi di kompleks makam tersebut dengan ketebalan sekitar dua jengkal. Permukaan batu tampak licin seperti pernah digunakan untuk menghaluskan bumbu atau ramuan lainnya.

Temuan yang dilaporkan Muhammad Ilyas kepada Koordinator Ekspedisi dan Pendataan CISAH, Khairul Syuhada, telah dicatatkan dalam agenda penelitian CISAH. “Tipologi batu-batu nisan di kompleks pemakaman ini menunjukkan dua masa sejarah yang beriringan, masa Samudra Pasai yang diikuti oleh masa Aceh Darussalam. Namun mengenai bongkah batu lainnya, sejauhnya ini kita belum dapat memastikan apakah ini benda bernilai arkhaek ataupun tidak,” terang Khairul kepada misykah.com.

Menurut Khairul, beberapa nisan di antaranya memiliki inskripsi. Hasil pengamatan awal Bidang Pendataan CISAH, kata dia, inskripsi tersebut adalah kalimat Tauhid. “Suatu hal yang juga amat menarik, sebenarnya, adalah keberadaan pemakaman nisan ini di pedalaman Aceh Utara. Itu menandakan perkembangan demografi  yang menonjol pada masa Samudra Pasai. Mereka telah mencapai pelosok-pelosok yang jauh dari pesisir,” tutur Khairul.(Herman Zakaria)