Lamreh: Memori Kearifan Zaman Silam

LAMREH: MEMORI KEARIFAN ZAMAN SILAM

Oleh Taqiyuddin Muhammad

Batu nisan bersurat yang tergeletak di tepi jurang Buket Ujong Batee Kapai di Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar. Tinggalan sejarah yang merekam jejak kebesaran masa lalu ini masih menunggu perhatian segenap pihak, pemerintah maupun masyarakat, agar dapat lestari sampai ke masa depan. (Foto: CISAH)
Batu nisan bersurat yang tergeletak di tepi jurang Buket Ujong Batee Kapai di Lamreh, Krueng Raya, Aceh Besar. Tinggalan sejarah yang merekam jejak kebesaran masa lalu ini masih menunggu perhatian segenap pihak, pemerintah maupun masyarakat, agar dapat lestari sampai ke masa depan. (Foto: CISAH)

Pemandangan di Lamreh, Aceh Besar, menakjubkan. Laut yang biru, perbukitan dengan padang rumput yang menghijau di musim penghujan, kapal-kapal penangkap ikan yang mengapung di bentangan teluk Krueng Raya, serta nun di sana masih membayang Pulau Weh yang menyelinap di balik kabut laut. Semuanya menjadi daya pikat alami yang mampu menghilangkan kesemerautan pikiran akibat rutinitas kerja. Apalagi di kala matahari hendak pulang ke peraduan.  Matahari yang jatuh ke samudera India itu menyemburkan sinar keemasan yang lembut dan indah.

Lamreh juga terkenal dengan Benteng Inong Bale (janda-janda pejuang). Sebuah benteng  yang diyakini pernah menjadi kubu pertahanan pasukan Inong Bale dipimpin Laksamana Malahayati (penghujung abad ke-16 M). Benteng lainnya di sekitar Lamreh adalah benteng Kuta Leubok yang berada di sebelah timur Lamreh, di kaki perbukitan yang dialiri Krueng Leubok.  Selain itu, di lokasi yang dikenal dengan Ujong Bate Kapai (UBK) di Lamreh terdapat satu pulau kecil, atau tepatnya  karang yang berada tepat di depan UBK. Karang itu sering disebut dengan Pulo Amat Ramanyang. Menurut legenda yang kerap dituturkan masyarakat Aceh, karang yang memang agak mirip bentuk kapal itu adalah kapal Amat Ramanyang yang telah dikutuk jadi batu sebab durhaka kepada ibunya. Karang  yang berkaki dalam kebiruan air laut itu semakin menambah pesona dan keunikan yang jarang dimiliki daerah lain di sepanjang pesisir utara Aceh.

Lamreh memiliki potensi kepariwisataan yang tinggi. Yakin, setiap orang yang ingin menikmati pemandangan pesisir utara Sumatera bagian baratnya, tentu, tidak akan pernah kecewa dengan pesona alam yang disaksikan dari atas perbukitan Lamreh. Di Lamreh, Aceh akan menjadi kenangan indah bagi pengunjung dari luar Aceh, sedangkan bagi orang Aceh sendiri, ia akan benar-benar merasa bahwa cintanya semakin terpatri kuat untuk tanah kelahirannya ini.

Dan ternyata, keletakan Lamreh dan lanskap perbukitannya yang memiliki pemandangan alam yang istimewa itu tidak hanya memikat kita yang hidup di masa sekarang. Enam abad yang silam, Lamreh telah terpilih untuk menjadi sebuah kota maritim dan merupakan kediaman para raja Muslim. Lebih dari separuh pertama abad ke-15 M, para raja Muslim silih berganti memerintah dari kota yang dibangunnya ini. Mereka juga dimakamkan di sana dalam benteng kota yang didirikan sepanjang  tebing perbukitan. Bagaimana keindahan dan keteraturan tata ruang kota ini pada masa tersebut masih belum dapat digambarkan secara lebih akurat. Namun, dari puing-puing tinggalan kota, setiap orang bisa mengamati adanya penyekatan ruang dengan tembok batu yang di sebagian tempat mencapai ketinggian lebih dari dua meter. Badan tembok juga memiliki lebar yang muat untuk dua atau tiga orang berjalan berdampingan. Bahkan tembok yang dikenal dengan benteng Inong Bale, hakikatnya, adalah bekas bagian reruntuhan tembok kota yang sekurang-kurangnya telah ada sejak abad ke-15 M.

Konstruksi bangunan lainnya di atas perbukitan Lamreh selain tembok-tembok penyekat itu adalah sebuah sumber air berlantai bebatuan yang mungkin dulunya tersusun rapi dengan bagian mata air yang dibiarkan terbuka. Luasnya terbilang besar. Sumber air ini sering disebut dengan kulam Putro Ijoe (kolam Putri Hijau) , mengacu kepada Hikayat Putroe Ijoe. Tapi tampaknya, kolam besar yang berada di sisi barat UBK ini merupakan sumber air tawar bagi penghuni kota, dan juga bagi kapal-kapal yang berlabuh di teluk Krueng Raya dikarenakan letaknya yang berada di pinggir tebing teluk sehingga mudah untuk memompakan air ke kapal-kapal.  Lain itu, ditemukan pula sejumlah petakan-petakan dari batu yang berukuran lebih kecil. Boleh jadi, merupakan petakan pemakaman atau lainnya.

Sebuah konstruksi bangunan yang masih terlihat megah sekalipun sebagiannya cuma tinggal puing-puing dan dalam kondisi tidak terawat sama sekali adalah benteng Kuta Leubok. Bagian tembok benteng yang masih terlihat lebih utuh hanya sepanjang puluhan meter saja dengan dua sisa menara penjagaan yang satunya (sebelah selatan) rusak berat.  Bagian ini berada dekat dengan muara sungai Leubok yang dalam peninjauan dua tahun lalu sudah tersumbat pasir. Selebihnya, searah tepi sungai Leubok ke selatan sampai dengan koridor timur perbukitan UBK terlihat hanya tinggal sisa fondasinya saja. Namun dengan sangat jelas, sisa-sisa konstruksi tersebut memperlihatkan adanya sebuah kota maritim kuno di Lamreh dan Kuta Leubok sekarang.

Temuan serta lainnya adalah tembikar, porselin serta koin-koin kuno yang sudah pernah diteliti oleh beberapa pengkaji, antara lain arkeolog independen Dedy Satria yang berdomisili di Banda Aceh. Temuan-temuan tersebut semakin mengukuhkan kawasan Lamreh dan Kuta Leubok itu sebagai sebuah kota maritim kuno yang padat dan dinamis.

Temuan tinggalan sejarah yang paling signifikan ialah batu nisan makam penghuni kota maritim tersebut. Corak batu nisan, ragam hias pada batu nisan, inskripsi dan sebaran batu nisan dalam kawasan tersebut merupakan sumber-sumber data sejarah yang  takkan ternilai harganya. Adalah hal yang sangat patut disyukuri sebab batu-batu nisan tersebut masih ditakdirkan untuk tertinggal sampai dengan hari ini—sekalipun dalam kondisi sangat memprihatinkan—sehingga kita masih dapat mengindentifikasikan siapakah penghuni kota tersebut pada zamannya. Andaikata nisan-nisan itu hilang ditelan masa, maka musnahlah bagian yang paling penting dari sejarah awal bangsa ini, dan kota itu akan menjadi misteri untuk selamanya.

Beberapa peneliti dari dalam dan luar negeri telah pernah menjadikan beberapa tinggalan sejarah di kawasan situs Lamreh dan Kuta Leubok sebagai fokus penelitian mereka antara lain Suweidi Montana, Edward Mckinnon, Suprayitno, Repelita Wahyu Utomo, Dedy Satria serta Claude Guillot dan Ludvik Kalus. Hasil-hasil penelitian mereka telah pula dipublikaskan. Namun masyarakat umum di luar Lamreh hanya mengetahui tentang keberadaan situs Benteng Inong Bale di Lamreh. Awal-awal 2012, Mizuar Mahdi dari LSM Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) menginformasikan bahwa ia menemukan sebuah batu nisan tipe plang-pleing di kebun cabai milik warga Lamreh. Nisan kubur tersebut menarik perhatian karena ternyata adalah milik seorang berjabatan qadhi (hakim). Ia bernama Isma’il dan bergelar Shadrul Islam. Maka, pada pertengahan tahun itu pula, LSM Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) dan MAPESA turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan umum yang pertama kali, disusul beberapa kali peninjauan lanjutan.

Peninjauan CISAH dan MAPESA tersebut menghasilkan data-data historis penting , antara lain, adanya sebaran batu nisan kuno dari paruh pertama abad ke-15 M. Lewat inskripsi pada batu-batu nisan tersebut tersingkap nama-nama tokoh yang telah hidup dan meninggal dunia di Lamreh pada pertengahan pertama abad tersebut. Ternyata, sebagian besar mereka yang tercatat namanya pada batu-batu nisan adalah para raja dan sultan: Malik Syamsuddin (W. 14 Ramadhan 822 H/1419 M), Malik ‘Alawuddin (W. 30 Ramadhan 822 H/1419 M), Sultan Muhammad bin ‘Alawuddin (W. 834 H/1431 M), Al-Malik Nizar bin Zaid (W. 837 H/1434 M), Malik Jawwaduddin (W. 842 H/1439 M), Malik Zaid (W. 844 H/1441 M), Malik Zainal ‘Abidin (W. [84?]5 H/1441 M), Malik Muhammad Syah (W. 848 H/1444 M), dan Sultan Muhammad Syah (W. 908 H/1503 M).

Dari data-data historis itu langsung dapat diambil kesimpulan bahwa kawasan situs Lamreh dan Kuta Leubok merupakan sebuah kota pemerintahan Islam di barat pesisir utara Aceh dalam paruh pertama abad ke-15 M. Bila diamati  beberapa nama tokoh, corak batu nisan serta ragam hiasnya tertangkap kesan adanya pengaruh masyarakat Arab Muslim dari pantai Coromandel (Arab: Ma’bar) baik itu manusia maupun kebudayaannya. Kerajaan ini mempunyai afiliasi dengan Samudra Pasai, dan berelasi langsung dengan kekaisaran Cina. Suatu hal yang lebih jelas, kota kerajaan ini memiliki peran penting dalam dunia perdagangan abad ke-15 M.

Diyakini pula bahwa pembangunan kota kerajaan ini berawal dari suatu pertimbangan strategis baik demi kepentingan perdagangan maupun da’wah kepada Islam. Kerajaan ini tampaknya telah mengawali sejarah kerajaan Islam di bagian barat pesisir utara Aceh.

Lamreh dengan demikian adalah memori kearifan zaman silam yang mesti dipertahankan kelestariannya sehingga dapat terus disaksikan oleh generasi-generasi mendatang sebagai suatu lembaran sejarah bangsa yang istimewa dan tak tergantikan. Lebih dari itu, Lamreh sebagai sebuah kota maritim kuno di jalur sutra bahari antara barat dan timur dunia juga merupakan salah satu warisan umat manusia yang amat bernilai sehingga layak untuk berada dalam naungan organisasi-organisasi dunia yang bertanggung jawab dalam bidang warisan budaya umat manusia.

Saya kira, kita memiliki kewajiban yang mesti kita tunaikan menyangkut hak mereka yang telah hidup di zaman silam itu, yakni dengan merawat apa yang sudah mereka tinggalkan, dan juga hak mereka yang akan hidup di masa depan untuk mengetahui dan mengenal para pembangun negeri dan bangsa mereka serta menyaksikan kebudayaan dan peradaban yang telah mereka wariskan. Semoga kita menjadi pengemban amanah yang bertanggung jawab!