Makam Abu Chik Pendiri Kerajaan Aceh Darussalam Terabaikan

Komplek makam Sultan Muhammad Syah di Kuta Leubok, Aceh Besar, tampak berantakan dan tidak terhiraukan. (Foto: CISAH)
Komplek makam Sultan Muhammad Syah di Kuta Leubok, Aceh Besar, tampak berantakan dan tidak terhiraukan. (Foto: CISAH)

TIMBUNAN batu-batu nisan itu tergeletak begitu saja di pinggir jalan setapak yang sering dilalui orang-orang pergi memancing ikan di pantai Kuta Leubok, Krueng Raya, Aceh Besar. Makam-makam yang berada tidak jauh dari rerentuhan benteng kuno Kerajaan Lamuri (abad ke-15 Masehi), terkesan seperti sesuatu yang tidak punya arti.

Tidak ada papan informasi yang menerangkan bahwa itu warisan sejarah Islam dan cagar budaya. Tidak ada pagar yang melindunginya dari kaki-kaki hewan ternak yang menginjak atau malah membuang kotorannya di situ. Tak tampak apapun usaha perawatan agar makam-makam itu dapat terus lestari dan disaksikan oleh generasi-generasi masa depan.

“Semuanya tergadaikan pada waktu. Begitulah kondisi kompleks makam bersejarah itu, sangat jauh dari kepedulian dan perhatian,” ujar Khairul Syuhada, ketua tim pendataan dari Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) menceritakan hasil pantauannya kepada Misykah.com, belum lama ini.

Lokasi makam  berada di tempat sunyi dan terpencil dalam sebidang tanah  dipenuhi pohon kelapa itu semakin mengesankan keterabaian yang menimpa situs bersejarah itu. Padahal, kata Khairul, di antara tokoh yang dimakamkan di tempat tersebut adalah seorang sultan yang merupakan kakek buyut (Aceh: Abuchik) dari pendiri Kerajaan Aceh Darussalam (Dinasti Meukuta Alam), Sultan ‘Ali Mughayat Syah (wafat 936 H/1530 M).

Data sejarah ini diketahui setelah tim CISAH pada 16 November lalu menemukan nisan makam Sultan Munawwar Syah yang merupakan kakek dari ‘Ali Mughayat Syah bin Syamsu Syah bin Munawwar Syah. Pada nisan makam Munawwar Syah disebutkan bahwa ayahnya bernama Sultan Muhammad Syah Lamuri. Hal ini memperjelas bahwa yang dimaksud itu adalah Sultan Muhammad Syah yang wafat pada 908 H/ 1503 M di Lamuri, yakni Lamreh dan Kuta Leubok hari ini.

“Selain makam Sultan ini juga terdapat makam dan nisan makam lainnya yang sudah tidak teratur dan berserakan. Beberapa di antaranya memiliki inskripsi (tulisan pada batu nisan) yang merupakan dokumen penting untuk merekonstruksi sejarah masa silam Aceh,” ujar Khairul.

Seorang warga Lamreh yang tinggal tidak jauh dari lokasi pemakaman itu mengaku pemakaman dan benteng Kuta Leubok sampai sekarang belum memperoleh perhatian yang wajar dari pemerintah. Ia mengatakan dulu dirinya pernah ditawarkan untuk menjadi juru pelihara (jupel). Namun sesudah memenuhi beberapa persyaratan, ia tidak kunjung ditetapkan sebagai jupel.

Pernah suatu kali ia berujar kepada beberapa orang yang dikenalinya sebagai pihak bertanggung jawab dengan maksud menyindir, “Peu hana pakat le, menyoe hana pakat le ku meujak publoe keu ureung Turki (apakah tinggalan sejarah ini tidak mau diperdulikan lagi. Jika tidak, akan saya jual untuk orang Turki).

Warga itu menceritakan bahwa sebelum peristiwa  tsunami, ada orang Turki yang menanyakan kepadanya apakah pemilik kebun lokasi situs benteng dan pemakaman itu bersedia menjual lahan tersebut kepadanya. Namun, kata warga tersebut, lahan itu untuk sementara ini tidak pernah direncanakan untuk dijual.(sy)

 

Baca juga:

Cisah Temukan Nisan Kakek Sultan Ali Mughayat Syah