Malikussaleh yang Dijatuhkan Martabatnya

Malikussaleh yang Dijatuhkan Martabatnya

Oleh Taqiyuddin Muhammad

Sisi nisan Sultan Al-Malik Ash-Shalih yang terukir bait-bait syair "“Hanya sanya dunia ini fana, tiada bagi dunia suatu ketetapan. Hanya sanya dunia ini ibarat sarang yang dirajut laba-laba. Dan sungguh cukuplah bagimu dari dunia, wahai orang yang mencarinya, apa yang dapat mengenyangkan saja. Betapa umur itu singkat dan semuanya akan mati.”, di Gampong Beuringen, Samudera, Aceh Utara. (Foto: CISAH)
Sisi nisan Sultan Al-Malik Ash-Shalih yang terukir bait-bait syair ““Hanya sanya dunia ini fana, tiada bagi dunia suatu ketetapan. Hanya sanya dunia ini ibarat sarang yang dirajut laba-laba. Dan sungguh cukuplah bagimu dari dunia, wahai orang yang mencarinya, apa yang dapat mengenyangkan saja. Betapa umur itu singkat dan semuanya akan mati.”, di Gampong Beuringen, Samudera, Aceh Utara. (Foto: CISAH)

Hikayat Raja-raja Pasai atau Kronika Pasai menceritakan:

Malikussaleh adalah Meurah Silu. Ayahnya adalah anak angkat Raja Ahmad, penguasa negeri di balik rimba, sehari perjalanan dari Samarlanga (?). Raja Ahmad menemukan putera angkatnya itu diasuh dan hidup dalam kawanan gajah sehingga diberi nama dengan Meurah Gajah. Ibunya adalah anak angkat Raja Muhammad, penguasa Samarlanga (?). Puteri berparas cantik itu ditemukan oleh Raja Muhammad dari dalam semak-semak rumpun bambu, sehingga dinamakan dengan Puteri Betung.

Setelah ayah-ibu serta kakek-kakeknya dari kedua belah pihak tewas dalam suatu tragedi berdarah, Meurah Silu dan saudaranya, Meurah Hasum, pindah ke negeri Biruan. Masa muda Meurah Silu dihabiskan untuk menjinakkan kerbau liar dan menyambung ayam. Ia juga pernah mau makan cacing karena dalam bubunya hanya masuk cacing-cacing. Setelah dimasak cacing-cacing itu ternyata berubah menjadi emas dan buihnya menjadi perak!

Jagoan sambung ayam yang kononnya dermawan itu kemudian diangkat menjadi raja. Ia memerangi dan terus membuntuti Meugat Nazar karena tidak setuju merajakannya. Setelah Meugat Nazar dikalahkan, Meurah Silu membuka sebuah negeri yang diberinama dengan Samudera, artinya semut besar, sebab ketika itu ia melihat seekor semut sebesar kuncing lalu ditangkap dan dimakannya!

Suatu ketika, setelah ia menjadi raja berkuasa di Samudera, seorang dari Makkah bernama Syaikh Ismail datang ke Samudera hendak mengislamkan penguasa negeri bawah angin dan rakyatnya. Tapi Syaikh ini menemukan Meurah Silu sudah dapat melafalkan syahadat dan membaca Al-Qur’an lantaran sebelumnya ia sudah bermimpi Nabi [saw.] meludahi ke dalam mulutnya, rasanya lemak manis! Dan kemudian ia bergelar atau berganti nama menjadi Malikussaleh.

Atas petunjuk ahli nujum, Malikussaleh memilih Puteri Ganggang Sari, puteri Raja Peurlak dari gundiknya, untuk menjadi permaisuri. Dari perkawinan itu, ia diberkahi seorang putera yang diberi nama Malikul-Zahir. Kepada puteranya ini, Malikussaleh menyerahkan negeri Pasai yang baru saja dibukanya. Yakni sebuah negeri yang dibuka karena di tempat tinggi itu anjingnya yang bernama Pasai berpeluk-pelukan dengan seekor pelanduk berani. Dan lantaran si Pasai kesayangannya mati di tempat itu, ia pun menamakan negeri tersebut dengan Pasai!  

Setelah Malikussaleh meninggal dunia, cucu-cucu keturunannya dilanda berbagai tragedi disebabkan nafsu angkara murka sampai dengan nata Majapahit menguasai Pasai, dan pemerintah terakhir Pasai, Raja Ahmad, lari ke negeri Menduga (?).

Cerita yang mengagumkan bukan?!

Itulah Malikussaleh yang namanya hari ini banyak diabadikan untuk nama-nama lembaga pendidikan atau lainnya. Itulah riwayat Malikussaleh yang dituturkan kepada masyarakat Aceh dan luar Aceh selama lebih setengah abad yang lalu dalam bentuk hikayat atau legenda. Demikian lamanya sudah dituturkan sehingga banyak orang meyakini hikayat itu sebagai sejarah Malikussaleh dan Samudra Pasai-nya, dan itu seolah tidak bisa diganggu gugat lagi! Malah, ada sebagian guru yang mendampingi murid-murid mereka berkunjung ke situs-situs sejarah di Samudra Pasai meminta “tukang cerita” supaya tidak mengubah “sejarah” Samudra Pasai ke versi lain. Guru-guru itu mungkin ingin menumbuhkembangkan daya imajinasi murid-murid supaya kelak dapat menyutradai sinetron-sinetron konyol atau merancang iklan-iklan yang sama konyolnya, atau menjadi peserta Indonesian Idol, KDI atau lainnya, seperti yang banyak dipertontonkan di layar televisi sekarang! Itu tentu lebih baik daripada jadi pedagang ganja atau sabu-sabu yang juga sedang ngetrend. Begitulah, mungkin, pikir mereka!

Padahal, siapa pun dapat menambah, mengurang, berinovasi atas nama hikayat atau legenda ini. Sebab, Hikayat Raja-raja Pasai atau Kronika Pasai yang ringkasan isinya seperti tadi tidak jelas siapa penulisnya, masa penulisan, bukti-bukti kebenaran isinya. Tidak ada. Yang ada hanya kata empunya cerita. Siapa empunya cerita?! Tidak ada yang tahu.

Satu-satunya penanggalan yang terdapat dalam manuskrip Hikayat adalah tarikh penyalinan naskah yang konon ditemukan T. S. Raffles di Demak, daerah Bogor, milik Bupati Sepuh, Kiai Suradimenggala. Manuskrip tersebut hanya satu-satunya yang ada di dunia ini, dan tersimpan di Royal Asiatic Society, London, sejak 1839.

Bukannya Hikayat ini tidak menyimpan kebenaran sama sekali tapi hal itu sangat perlu untuk diuji, disaring dengan saringan yang halus. Bahan-bahan ilmiah lain yang lebih akurat dan autentik dibutuhkan sebagai bandingan untuk menemukan kebenaran.

Secara umum, bagi seorang yang telah pernah mendalami sejarah kebudayaan Islam serta mengenal karateristik yang membedakannya dengan berbagai sejarah lain, dapat langsung mengetahui bahwa hikayat Raja-raja Pasai bukanlah sejarah Islam dalam arti sesungguhnya. Malah bisa dikatakan, telah ditulis oleh tangan yang sebenarnya tidak begitu memahami Islam. Misal saja, hadits palsu (maudhu’) yang dicantumkan dalam pembukaan bab II Hikayat: kata Nabi, “Bahwa ada sepeninggalku itu ada sebuah negeri di bawah angin Samudera namanya. “Apabila ada didengar kabar negeri itu maka kami suruh kamu sebuah kapal membawa perkakas dan kamu bawa ia orang dalam negeri masuk dalam agama Islam serta mengucapkan dua kalimat syahadat…”

Bagi kaum imperialisme Barat, beredar dan populernya cerita-cerita (pseudo-sejarah) semacam ini di kalangan masyarakat Islam suatu hal yang sebenarnya sangat menguntungkan mereka. Cerita-cerita itu tidak akan pernah mengilhami masyarakat Islam untuk melawan penjajahan. Wajar bila suatu ketika di masa hidupnya, Almarhum Professor A. Hasjmy berang. “Sejarah yang disusun penjajah racun bagi kita!” tukasnya dalam sebuah tulisan.

Tidak tanggung-tanggung, Hasjmy mengklaim bahwa isi hikayat seperti di atas, yang kemudian dinamakan dengan sejarah Islam, itu telah ditulis oleh kaki tangan kaum penjajah dengan maksud menjatuhkan martabat Malikussaleh di mata pemuda-pemudi bangsa. “Padahal beliau,” terangnya lagi, “adalah mujahid dan pahlawan yang terbesar pada zamannya.”

Kini, generasi baru yang berhadapan dengan tantangan-tantangan baru dunia, memerlukan sejarah yang lebih inspiratif untuk bertahan dalam badai globalisasi yang memusnahkan jati diri yang sebenarnya lebih luhur dan manusiawi. Sudah waktunya, dengan demikian, untuk menggali kembali keaslian sejarah yang terkubur dalam lapisan zaman agar tidak terputus dengan akar di masa lalu dan tahu dari mana harus menyambung peran.