MAPESA: Penyelamatan Lamuri Perlu Keseriusan Semua Pihak

Tim MAPESA menemani rombongan Imam Masjid Raya Baiturrahman banda Aceh di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar. (Foto: Mapesa)
Tim MAPESA menemani rombongan Imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh di Gampong Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar. (Foto: Mapesa)

DALAM rangka sosialisasi keberadaan situs sejarah Kerajaan Islam Lamuri di Buket Lamreh, lembaga peneliti CISAH (Center for Information of Samudra Pasai Heritage) dan MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) membagikan 1000 lembar brosur, Jum’at (31/1/14).

Koordinator kegiatan, Zulfakri, mengatakan brosur sejarah Lamuri ini dicetak dari hasil sumbangan masyarakat Aceh baik dari dalam maupun luar negeri, terbanyak via internet, karena ini kita beritahukan kepada pengguna jejaring sosial facebook, ada juga yang menyalurkannya langsung kepada tim CISAH di Lhokseumawe dan MAPESA di Banda Aceh.

Adapun kegiatan tersebut dilakukan sebagai sosialisasi kawasan situs sejarah Islam Lamuri kepada masyarakat di kawasan Krueng Raya khususnya masyarakat Gampong Lamreh. “Semoga ini bisa menambah pengetahuan masyarakat tentang sejarah awal Lamuri yang merupakan cikal bakal Kerajaan Aceh Darussalam”, ujarnya Zulfakri.

Disamping itu, ia menambahkan, pembagian brosur ini juga dilakukan karena mengingat lambannya kinerja Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh. Apalagi di area situs Lamreh terdapat beberapa makam tokoh penting, diantaranya; Qadhi Maulana Shadarul Islam Ismail, Malik Syamsuddin, Malik ‘Alawaddin, Sultan Muhammad Syah (Ayahanda Sultan Munawwar Syah) dan kakek Sultan Aceh, Sultan Ali Mughayat Syah. Ini diketahui dari hasil bacaan ahli epigrafi Taqiyuddin Muhammad, peneliti dari lembaga CISAH.

Ketua MAPESA, Muhajir, kepada misykah.com mengatakan bahwa kawasan sejarah Lamuri saat ini memerlukan perhatian semua kalangan. “Tindakan nyata untuk menyelamatkan bukti sejarah sangat diperlukan, dan yang harus bertanggungjawab soal ini adalah pihak BPCB Aceh.

Senada dengan itu, Abdul Hamid, Ketua CISAH juga mempersoalkan keseriusan pihak Pemerintah Aceh. “Bagaimana mau membuat penelitian secara berkelanjutan, jika bukti sejarah yang ada di buket lamreh satu persatu hilang karena kurangnya perawatan”.

Abdul Hamid juga berharap segera bisa dilakukan pemetaan zonasi kawasan, ini penting guna mengetahui secara tepat seluas mana kawasan sejarah Lamuri yang harus dilindungi dan dilestarikan, karena CISAH sudah berkomitmen untuk melakukan penelitian secara bertahap di kawasan tersebut. Selain itu dengan adanya pemetaan zonasi kawasan juga menghilangkan kekhawatiran masyarakat Lamreh dalam memanfaatkan tanah baik untuk bercocok tanam ataupun dijual.

Pada kegiatan yang sama, warga Lamreh menemani rombongan Tgk Zamhuri Ramli, Imam Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh untuk berziarah ke makam Laksamana Keumalahayati, tidak jauh dari makam Maulana Qadhi Shadrul Islam Ismail, seorang ulama besar dan mufti Kerajaan Islam Lamuri di bukit Lamreh.

Muhajir, kepada misykah.com juga menyebutkan bahwa antusias sebagian besar warga Lamreh terlihat ketika mereka menerima brosur sejarah yang dibagikan pihak MAPESA, bahkan katanya dalam kegiatan tersebut Pj.Geuchik Lamreh juga ikut menemani tim sepanjang hari. “Sebelumnya, kemarin, beliau juga menyempatkan diri menziarahi komplek-komplek makam di buket Lamreh bersama tim kita”, ujarnya. (Mawardi Ismail)