Masjid dan Makam Raja Negeri Peureulak Aceh Timur

Masjid Baiturrahim di Gampong Tualang, Peureulak Timur, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)
Masjid Baiturrahim di Gampong Tualang, Peureulak Kota, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)

LAMBANG bulan sabit dan bintang menjulang di atas kubah persegi delapan sebuah masjid yang dominan warna biru. Kendati bangunan masjid sudah direnovasi dan sedikit banyak disesuaikan dengan cita rasa arsitektural masa kini, namun kesan masa lampaunya tetap saja hadir. Masjid Baiturrahim yang terletak di Gampong Tualang, Kecamatan Peureulak Kota, Aceh Timur, itu hakikatnya telah berumur lebih dari seabad. Konon, malah, telah didirikan sejak 1164 H/1751 M atas prakarsa Datok Po Kalam yang katanya berasal dari Aceh Besar.

“Masjid ini dibangun oleh Ulee Balang Peureulak,” kata Sofyan Ali (49), salah seorang pengurus Masjid Baiturrahim, kepada Misykah.com dalam kunjungan pada Senin, 3/8/2014 lalu. Tengku Yan, begitu kami menyapanya, juga menyodorkan beberapa lembar kertas berisi informasi latar belakang dan struktur kepanitiaan kegiatan renovasi masjid, serta silsilah keturunan dari Teungku Chik Muhammad Ali, yang ditulis pada 15 Juni 1994. Namun Sofyan mengaku tidak banyak mengetahui tentang sejarah Masjid Baiturrahim begitu pula tentang pembangunnya. Ia bahkan berharap andai kata ada peneliti yang sudah mengkajinya, mohon hasil penelitian diberitahukan supaya dapat disampaikan kepada setiap pengunjung yang datang ke masjid bersajarah ini.

Ukiran teks bertulis Arab-Jawi di atas pintu masuk Masjid Baiturrahim, Gampong Tualang, Peureulak. (Foto: Misykah.com)
Ukiran teks bertulis Arab-Jawi di atas pintu masuk Masjid Baiturrahim, Gampong Tualang, Peureulak Kota. (Foto: Misykah.com)

Satu-satunya informasi yang terkesan sudah agak lama ditulis ialah teks yang diukir di atas pintu masuk masjid. Teks tersebut ditulis dengan bahasa Arab-Jawi yang berbunyi:

Hijrah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sanah 1303 pada (16) bulan Dzulhijjah

milik masjid Seri Paduka Teungku Chik Peurlak almarhum Teungku Chik Muhammad ‘Ali

maka barangsiapa ada hamba Allah faqir dan miskin mau duduk atau singgah

maka Insya’a-Llah Ta’ala nafaqahnya diyatas kita punya tanggungan adanya.

Teks ini mungkin saja berasal dari tahun yang tertera di dalamnya yaitu 1303 H (1886 M), tetapi agak sukar untuk menyakini ukiran teksnya secara fisik berasal dari tahun yang sama, sebab dijumpai beberapa kekeliruan dalam penulisan yang tampaknya tidak mungkin dilakukan atau disetujui oleh orang-orang yang memiliki keahlian bahasa Arab pada waktu itu. Misalnya, penulisan almarhum yang seyogyanya ditulis المرحوم  malah ditulis dengan المرهم.

Interior masjid yang ditengahi sebuah mimbar antik. (Foto: Misykah.com)
Interior masjid yang ditengahi sebuah mimbar antik. (Foto: Misykah.com)

Terlepas dari ukiran teks secara fisik, isi teks sendiri menghadirkan suasana zaman silam di mana penguasa negeri adalah seorang tokoh yang dermawan. Ia membangun masjid, karena siapa yang membangun rumah Allah di muka bumi, niscaya Allah akan membangun untuknya rumah di dalam syurga, sebagaimana hadits Rasulullah. Ia juga menjadikan rumah Allah sebagai tempat bernaung orang-orang fakir dan miskin: “nafaqahnya diyatas kita punya tanggungan adanya.”

Di dalam masjid juga terlihat sebuah mimbar antik. Pada kedua sisi mimbar terdapat ukiran tulisan mengenai rukun-rukun khutbah Jum’at dan rukun-rukun Islam. Meski bentuknya unik, namun tidak ditemukan tanda-tanda mimbar ini telah dibuat semenjak pertama sekali masjid dibangun. Pembuatannya barangkali sezaman dengan pembuatan ukiran teks yang terdapat di atas pintu masuk masjid.

Mimbar antik yang keduanya sisinya terdapat ukiran bertulis Arab-Jawi tentang rukun-rukun khutbah dan rukun-rukun Islam. (Foto: Misykah.com)
Mimbar antik yang keduanya sisinya terdapat ukiran bertulis Arab-Jawi tentang rukun-rukun khutbah dan rukun-rukun Islam. (Foto: Misykah.com)

Setelah puas mereguk kesahduan dalam rumah Allah yang didirikan lebih dari seabad yang lalu itu, kami minta izin kepada Teungku Sofyan untuk berziarah ke kompleks makam yang berada dalam pekarangan masjid. Sofyan menyambut permintaan dengan senang hati.

“Ya, banyak juga pengunjung yang berziarah ke pemakaman ini, tapi sayangnya, saya sendiri tidak tahu siapa-siapa saja yang telah dimakam di sini,” ungkap Sofyan seperti menangkap rasa ingin tahu kami tentang Teungku Chik Peurlak yang dermawan itu.

Dalam pekarangan masjid yang luas dan terlihat bersih terdapat satu kompleks makam berpagar beton, di sisi selatan masjid. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Jirat Manyang (makam tinggi) lantaran dahulunya tanah pemakaman ini merupakan gundukan tanah.

Setelah mengucap salam kepada ahli kubur, kami mulai mengamati satu persatu nisan-nisan dalam pemakaman tersebut. Beberapa nisan makam tampak terbuat dari batuan alami yang telah dipahat dalam bentuk berundak-undak dan memuat catatan bertulis Arab-Jawi tentang orang yang dimakamkan.

Kompleks makam para tokoh Negeri Peurlak pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di lokasi Masjid Baitturahim, Gampong Tualang, Peureulak Timur, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)
Kompleks makam para tokoh Negeri Peurlak pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di lokasi Masjid Baitturahim, Gampong Tualang, Peureulak Kota, Aceh Timur. (Foto: Misykah.com)

Dari catatan pada batu-batu nisan berhasil diketahui beberapa tokoh yang telah dimakamkan, antara lain, Teungku Muda Husain yang bergelar Panglima Prang Tuwah.

Pada batu nisan makamnya terdapat catatan:

Nisan makam Panglima Prang Tuah. (Foto: Misykah.com)
Nisan makam Panglima Prang Tuah. (Foto: Misykah.com)

 

1. هذا ضريح تنكو مودا حسين

2. فغليما فرغ تواة تله وفت فد 20

3. جماد الأخير جمعة مالم جم

4. فوكل تيكا ستغة هجرة النبي

5. 1328

 

1. Hazha dharih (inilah makam) Teungku Muda Husain; 2. Panglima prang Tuwah telah wafat pada 20; 3. Jumadal Akhir Jum’at malam jam; 4. Pukul tiga setengah hijrah Nabi; 5. 1328 (2 Juni 1910 M).

Pada nisan sebelah selatan (kaki) makam ini tertulis:

Nisan sebelah selatan (kaki) makam Panglima Prang Tuwah. (Foto: Misykah.com)
Nisan sebelah selatan (kaki) makam Panglima Prang Tuwah. (Foto: Misykah.com)

 

دمقامكم جمعة سيغ

(Dimakamkan Jum’at siang)

Pada nisan makam yang lain tersebut nama tokoh Muhammad Thahir bin Teungku Chik Muda Peusangan:

Nisan makam Muhammad Thahir bin Teungku Chik Muda Peusangan. (Foto: Misykah.com)
Nisan makam Muhammad Thahir bin Teungku Chik Muda Peusangan. (Foto: Misykah.com)

1. محمد طاهير (كذا)

2. بن تغكو جهيق

3. مودا بساغن

4. فد ذو الحجة

5. سنة 1318

1. Muhammad Thahir; 2. bin Teungku Chik; 3. Muda Peusangan; 4. pada Dzulhijjah; 5. sanah (tahun) 1318 (dalam Maret 1901).

Peusangan adalah sebuah kenegerian yang berada di kawasan hilir Krueng Peusangan, Kabupaten Bireuen, hari ini.

Makam Raja Negeri Peureulah, Teungku Chik Muhammad 'Ali. (Foto: Misykah.com)
Makam Raja Negeri Peureulah, Teungku Chik Muhammad ‘Ali. (Foto: Misykah.com)

Satu makam lainnya tampak sangat diistimewakan. Keliling makam sudah diberi beton pembatas sekira dua atau tiga jengkal dari tanah dan dilapisi keramik warna oranye. Pada nisan kuburnya bertulis:

Pahatan tulisan Arab-Jawi pada nisan Raja Negeri Peureulak, Teungku Chik Muhammad 'Ali. (Foto: Misykah.com)
Pahatan tulisan Arab-Jawi pada nisan Raja Negeri Peureulak, Teungku Chik Muhammad ‘Ali. (Foto: Misykah.com)

1. هجرت نبي 1300

2. كفدا 20 جماد الـ

3. اخير تغكو جهيق

4. محمد علي

5. راجا نكري

6. فرلق كمبالي

7. كرحمة الله

1. Hijrah Nabi 1300; 2. kepada 20 Jumadal; 3. Akhir Teungku Chik; 4. Muhammad ‘Ali; 5. Raja Negeri; 6. Peurlak kembali; 7. Ke rahmatullah.

Inilah rupanya kubur Raja Negeri Peureulak yang dermawan, Teungku Chik Muhammad ‘Ali, dan ia telah kembali ke rahmatullah pada 20 Jumadal Akhir 1300 H (28 April 1883). Dialah tokoh yang telah membangun masjid, serta menetapkan agar nafkah setiap fakir dan miskin yang singgah dan duduk dalam mesjid dalam tanggungannya.

Gampong Tualang yang berjarak ± 3 km dari Kota Peureulak sekarang, dengan demikian, merupakan pusat pemerintahan Negeri Peureulak di masa lalu. Jalur air Krueng Peureulak juga menembus bekas ibukota kenegerian ini dan hanya berjarak beberapa puluh meter dari lokasi masjid.

Di antara tokoh-tokoh Negeri Peureulak yang dimakamkan di lokasi masjid itu termasuk dua orang wanita. Pada nisan makam mereka bertulis:

Nisan makam Cut Po binti Teungku Panglima di Peureulak. (Foto: Misykah.com)
Nisan makam Cut Po binti Teungku Panglima di Peureulak. (Foto: Misykah.com)

1. هو الخلاق الباقي

2. تله كمبالي كرحمة

3. الله جوة فو بنت

4. تغكو فغليما دي

5. فرلق كفد 7

6. ذو الحجة

7. 1318

1. Huwal Khallaqul Baqi (Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Kekal); 2. Telah kembali ke rahmat; 3. Allah Cut Po binti; 4. Teungku Panglima di; Peurlak kepada 7; 6. Dzul Hijjah; 7. 1318 (Maret 1901).

Cut Po binti Teungku Panglima di Peureulak, dengan demikian, telah meninggal dalam bulan dan tahun yang sama dengan meninggalnya Muhammad Thahir bin Teungku Chik Muda Peusangan.

Nisan makam Khatijah binti Haji Umar. (Foto: Misykah.com)
Nisan makam Khatijah binti Haji Umar. (Foto: Misykah.com)

1. هو الخلاق الباقي

2. تله كمبالي

3. ختجة بنت الحاج

4. عمر كفدا 13

5. صفر 1320

1. Huwal Khallaqul Baqi (Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Kekal); 2. Telah kembali; 3. Khatijah (Arab: Khadijah) binti Al-Haj; 4. ‘Umar kepada 13; 5. Shafar 1320 (Mei 1902).

Beberapa tokoh lainnya yang dimakamkan di lokasi masjid bertarikh wafat lebih kemudian, di antaranya, Teungku Cut Muhammad, Uleebalang Peureulak yang meninggal dalam bulan Ramadhan 1363 H (24 Agustus 1944) dan Haji Teuku Muhammad Nuruddin bin Teuku Chik Abu Bakar Muda Peusangan yang meninggal di tahun 1415 H.

Peran tokoh-tokoh dari keluarga kerajaan Negeri Peureulak dalam membangun negeri mereka layak untuk ditelusuri, dikaji serta disiarkan supaya dapat menjadi teladan bagi generasi Peureulak di masa mendatang. Tugas ini, alangkah baiknya lagi, bila dikerjakan oleh putra-putra daerah yang ingin merawat sejarahnya.

(Muhammad Ilyas, Khairul Syuhada, Malikussaleh Al-Alubiy, Munawir)