Masjid dan Makam Teungku Chik Paya Bakoeng

Masjid dan Makam Teungku Chik Paya Bakoeng

Oleh Taqiyuddin Muhammad

Masjid-dan-Makam-Tgk-Chik-Paya-Bakoeng
Kompleks Masjid dan Makam Teungku Chik Paya Bakoeng (foto: Dok. CISAH)

PAYA Bakoeng telah menyumbangkan putera-putera terbaiknya untuk mempertahankan serta membela Agama Allah dan tanah air muslimin dari nafsu penjajahan yang ingin merampas hak kemerdekaan sebuah bangsa.

Tiga tokoh utama dari Paya Bakoeng, yaitu Teungku Paya Bakoeng (Teungku Di Mata Ie), Teungku Chik Paya Bakoeng (Teungku Seupoet Mata) dan Teungku Di Barat merupakan kaum ulama yang memimpin perjuangan di Pasai bersama dengan tokoh-tokoh pahlawan besar lainnya seperti Teuku Chik Di Tunong, Cut Meutia dan Pang Nanggroe.

Dayah Paya Bakoeng di mana mereka mengajarkan ilmu-ilmu keislaman kepada murid-murid mereka dalam masa-masa perang melawan Belanda juga telah dijadikan sebagai salah satu pusat mobilisasi rakyat bagi perjuangan fi sabilillah.

Masjid dan makam Teungku Chik Paya Bakoeng adalah dua tinggalan sejarah yang selalu dapat mengingatkan setiap generasi bangsa tentang peran dan jasa tokoh-tokoh pahlawan dari Paya Bakoeng dalam melawan penjajahan Belanda di awal abad ke-20 silam.

Karena itu, masjid dan makam Teugku Cik Paya Bakoeng yang terletak di lokasi bekas Dayah Paya Bakoeng tersebut perlu senantiasa diperhatikan keutuhan dan kelestariannya agar tetap terus dapat mempertahankan nilai-nilai kesejarahan yang dikandungnya.

Paya Bakoeng

Paya Bakoeng adalah satu kecamatan di bagian selatan (pedalaman) Aceh Utara. Terletak di kawasan tengah antara muara dan hulu daerah aliran sungai (DAS) Keureuto dan berbatasan dengan beberapa kecamatan: Pirak Timu di timur, Matangkuli di utara, Nibong di barat, sedangkan selatannya berbatasan dengan Kabupaten Bener Meriah.

Paya dalam bahasa Aceh berarti rawa-rawa, sementara bakoeng adalah tembakau (tanaman dari genus nicotiana). Namun menurut sebagian warga setempat, bakoeng dengan makna tembakau tidaklah tepat sebab dalam wilayah kecamatan tersebut tidak pernah terdapat tanaman tembakau sehingga tidak mungkin ada nama rawa-rawa dengan nama bakoeng (tembakau).

Menurut mereka, bakoeng tersebut terdiri dari dua kata, yaitu ba dan koeng (ba = bawa/tenteng; koeng = pikul). Alasan mereka, hal ini disebabkan adanya rawa-rawa yang sulit dilewati sehingga setiap orang mesti mengangkat dan memikul benda yang dibawanya dalam perjalanan.

Meski sekarang ini Paya Bakoeng sudah menjadi nama sebuah wilayah kecamatan yang luas, namun lokasi yang khusus disebut dengan Paya Bakoeng ini adalah lokasi Keudee Paya Bakoeng (Aceh, keudee: pasar) dan sekitarnya, yang terletak di tepi kanan Krueng Keureuto. Sebelum pemekarannya menjadi wilayah kecamatan, Paya Bakoeng termasuk dalam wilayah Kecamatan Matang Kuli.

Jauh sebelum itu, yakni dalam masa kesultanan Aceh Darussalam sampai masa perang kolonial Belanda di Aceh, Paya Bakoeng nampaknya hanya sebuah gampong (desa) yang termasuk dalam daerah uleebalang (hulubalang) Seuleumak. Daerah uleebalang ini adalah salah satu daerah Uleebalang Peut (hulubalang empat) yang diperintah oleh Tuha Peut dengan kewenangan yang lebih besar dari uleebalang Cut, dan penguasa daerah ini disebut dengan “Ben”—seperti Ben Seulemak, Ben Pirak dan lain-lain.

Namun, tetap saja daerah Uleebalang Peut ini berada di bawah satu wilayah uleebalang yang diperintah oleh Ampon Chik, yaitu Ampon Chik Keureuto yang berpusat di Jirat Manyang (Ahmad, dkk., 1993)—sekarang, dalam wilayah Kecamatan Tanah Pasir.

Daerah-daerah uleebalang di bagian hulu Keureuto ini secara umum merupakan daerah-daerah yang baru dihuni [pada waktu itu] dengan kebun-kebun lada yang dibuka atas anjuran Ampon Chik serta dukungan keuangannya.

Namun, Paya Bakoeng sendiri sebenarnya merupakan permukiman kuno yang telah pernah dihuni, paling tidak, sejak abad-abad ke-15 dan ke-16. Ini dibuktikan oleh adanya sebaran batu-batu nisan kuno dari abad-abad tersebut mulai dari Tanjoeng Beurunyong sampai dengan Pucoek Alue—dulunya disebut dengan Meuko (pintoe rimba)—hampir di sepanjang tepi kanan dan kiri Krueng Keureuto.

Tidak itu saja, dari Keureuto juga tampak pernah mengalir dua kanal yang disebut dengan Alur Buni dan Alur Nilam, dan di sepanjang kedua kanal yang kembali menjatuhkan airnya ke dalam batang sungai yang sama itu didapati banyak sekali komplek pemakaman kuno dari abad-abad ke-15 dan ke-16, dan mungkin saja ada yang lebih awal dari zaman tersebut (Muhammad, 2012).

Mengenai batu-batu nisan kuno tersebut, umum masyarakat Paya Bakong mengaku bahwa orang-orang tua mereka dahulunya juga tidak mengetahui asal-usul batu nisan tersebut. Setahu mereka, batu-batu nisan itu sudah ada di situ. Hal ini mengindikasikan adanya keterputusan kependudukan di wilayah tersebut. Artinya, daerah yang sudah ditempati di abad-abad ke-15 dan ke-16 M ini pada waktu kemudian telah ditinggalkan oleh penghuninya oleh suatu sebab yang tidak diketahui secara jelas.

Dan mungkin saja, oleh karena permintaan lada dunia yang meningkat hingga sekitar abad ke-19 M, maka daerah itu dihuni kembali oleh pemukim yang baru untuk membuka kebun-kebun lada. Mayoritas pendatang itu tampaknya berasal dari wilayah-wilayah pantai utara Aceh sebelah barat.

Sejarah

Seperti telah disebutkan bahwa Paya Bakoeng dalam masa kesultanan Aceh Darussalam adalah sebuah gampong (desa) yang termasuk dalam daerah pemerintahan Uleebalang Seuleumak yang berkedudukan di tepi kanan bagian tengah DAS Krueng Keureuto—kini, sekitar gampong Geureughek. Uleebalang Seuleumak sendiri berada setingkat di bawah Uleebalang Keureuto. Sebab itulah, kenegerian Keureuto dengan Ampon Chiknya yang berkedudukan di Jirat Manyang lebih terkenal dari yang lain (Ahmad, dkk., 1993).

Kenegerian Keureuto, di mana Seuleumak berada di bawahnya, mengambil tempat yang khusus sebagai salah satu kenegerian ternama di Kesultanan Aceh dan juga memiliki penduduk yang sangat padat sehingga uleebalangnya digelar dengan “kejruen lalat” yakni pemimpin daerah yang rakyatnya sangat banyak tak ubahnya kerumunan lalat (Zentgraaff, 1983). Dalam Kesultanan Aceh, Keureuto juga memiliki peranan penting lantaran uleebalangnya mempunyai hak bersuara dalam dewan permusyawaratan kesultanan (Ahmad, dkk., 1993).

Dalam masa-masa perang Belanda di Aceh (1873-1912), Belanda berusaha memblokade pantai utara Aceh dari Pidie sampai Idi di mana Keureuto adalah salah satu di antaranya. Blang Ni selaku pelabuhan dari daerah ulee balang Simpan Ulim dijaga ketat dari laut sejak tahun 1873. Meskipun uleebalang Simpang Ulim Teuku Muda Nyak Malim menunjukkan sikap penentangannya, Belanda akhirnya juga berhasil menguasai Simpang Ulim dan mendirikan bentengnya.

Teuku Muda Nyak Malim lantas memimpin rakyatnya berjuang di daerah-daerah pedalaman. Setelah menguasai Simpang Ulim, Belanda berusaha untuk menguasai daerah Ulee Balang Keureuto yang bertetangga dengan Simpang Ulim. Akibat tekanan-tekanan dari Belanda, Uleebalang Keureuto Teuku Chik Muling mengakui kekuasaan Belanda atas daerahnya pada 24 April 1874. Adiknya, Teuku Muda Ali kemudian memimpin perjuangan rakyat untuk menentang kekuasaan Belanda (Ahmad, dkk., 1993).

Setelah Uleebalang Teuku Muda Ali meninggal ia digantikan oleh isterinya Cut Nyak Asiah.  Kemakmuran dan kemashuran Keureuto semenjak masa suaminya masih terus dapat dipertahankan. Keharuman nama Cut Nyak Asiah semakin menanjak ketika ia dapat membantu Sultan Muhammad Daud Syah memusatkan pertahanan di daerah Pasai pada 1901. Ia mengumpulkan berbagai perbekalan yang dibutuhkan Muslimin dalam perang sabil. Malah, salah seorang putera angkatnya bernama Teuku Cut Muhammad turut bergerilya bersama dengan pasukan Sultan di Pasai (Ahmad, dkk., 1993).

Sejak daerah-daerah di Aceh Utara banyak yang jatuh ke tangan Belanda, para ulama di setiap daerah uleebalang menyusun perlawanan bersama guna menghadapi Belanda. Teungku-teungku (para ulama) dari Paya Bakoeng merupakan tokoh-tokoh di garis depan dalam gerakan penentangan terhadap kekuasaan Belanda.

Bersama dengan tokoh-tokoh pejuang lainnya semisal Uleebalang Pirak Teuku Ben Daud serta para pengikutnya, dan Teuku Cut Muhammad atau yang dikenal dengan Teuku Chik Di Tunong, mereka bersatu menyusun strategi perlawanan, dan melancarkan manuver-manuver untuk memukul surut Belanda dari seluruh kawasan Pasai.

Ulama Pemimpin Perjuangan

Dari sisi kehidupan spiritual masyarakat Aceh, para ulama atau tokoh yang digelar dengan teungku merupakan pemimpinnya. Mereka merupakan sandaran masyarakat untuk memperoleh tuntunan dan petunjuk Agama dalam berbagai perilaku baik dalam hal-hal bersifat individual maupun kolektif (bermasyarakat) sebab mereka dipercaya sebagai orang-orang yang paling mengerti dan memahami ajaran Agama yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Dalam masa-masa perang Belanda atas Aceh, selain para pemimpin rakyat mulai sultan sampai dengan uleebalang cut, para ulama juga merupakan ‘kiblat’ sikap rakyat. Arahan dan seruan para ulama adalah suatu yang selalu ditunggu-tunggu dan diikuti dengan penuh kesetiaan.

Mengenai sikap para ulama terhadap perang Belanda atas Aceh, para ulama dari Paya Bakoeng yang termasuk dalam daerah uleebalang Sileumak, adalah tokoh-tokoh yang terkenal dengan penentangan mereka terhadap berbagai upaya penjajahan Belanda (kaphe/kafir) terhadap negeri Islam ini. Para ulama Paya Bakoeng bahkan tidak hanya menentang Belanda lewat seruan saja, tapi juga ikut berperang, memimpin perjuangan, serta bergerilya dalam hutan rimba Aceh bertahun-tahun lamanya sampai mereka gugur di jalan Allah sebagaimana garis hidup yang mereka pilih dan cita-citakan. Bagi mereka, kesyahidan fi sabilillah adalah puncak harapan yang mereka dambakan.

Di antara para ulama Paya Bakoeng itu terkenal beberapa tokoh, yaitu Teungku Paya Bakoeng, Teungku Chik Paya Bakoeng dan Teungku Di Barat. Namun, riwayat hidup tokoh-tokoh ulama ini tidak begitu banyak yang diketahui. Sumber-sumber yang menyebutkan perihal mereka, sejauh yang diketahui, hampir semuanya berasal dari tulisan-tulisan Belanda yang sejatinya adalah musuh mereka.[]

* Taqiyuddin Muhammad adalah peneliti sejarah kebudayaan Islam

 

Pernah dimuat di: AtjehPost.com