Mehmet Ozay: Aceh Harus Menulis Ulang Sejarahnya Sendiri

Mehmet Luncur Buku
Bincang Kebudayaan dalam peluncuran buku sejarah bertema Kesultanan Aceh dan Turki – Antara Fakta dan Legenda’ dan ‘Açe Seyahat Notlari (II)” tulisan Intelektual Muslim dari Istanbul Dr Mehmet Ozay di Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim, Banda Aceh, pada peringatan tsunami Aceh ke 9, 26 Desember 2013. Tampak di foto: penulis Dr Mehmet Ozay (tengah), penerjemah Afdhal Muchtar (kiri), dan Kepala Bidang Sejarah di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Teuku Zulkarnaini (kanan). Foto: Thayeb Loh Angen

ORANG Aceh harus menulis sejarahnya dengan pandangan sendiri. Hanya orang Aceh sendiri yang tahu seluk beluk kebudayaannya, bukan orang Eropa, Australia, Amerika, dan lainnya. Sejarah tentang Aceh yang ditulis oleh orang dunia barat tidak dapat mengungkapkan kenyataan dengan lengkap karena perbedaan budaya antara penulis dan yang ditulis.

Demikian kata intelektual asal Istanbul, Turki, Dr Mehmet Ozay, di Banda Aceh, Sabtu. Lelaki yang mulai mengunjungi ke Aceh beberapa bulan setelah tsunami 2004 ini mencontohkan, sebutan Al Qahhar untuk sultan Aceh berbeda maknanya antara tujuan sebutuan tersebut oleh orang Aceh dengan penilaian orang barat.

“Misalnya, orang Aceh menerjemahkan ‘Al Qahhar’ sebagai perkasa atau gagah berani. Namun orang barat menerjemahkan dengan ‘kasar atau kejam’. Itu merugikan Aceh dalam pandangan pembaca dunia. Maka dari itu, Aceh harus menulis sejarahnya sendiri dengan pandangannya sendiri, dan orang Aceh harus menghargai buku sejarah yang ditulis oleh orang Aceh,” kata lulusan Marmara University tersebut.

Buku sejarah yang ditulisnya, kata Mehmet, memenuhi syarat akademik dengan berbagai referensi yang bahkan orang barat yang pernah menulis sejarah Aceh tidak memilikinya karena tidak paham bahasa.

“Ada beberapa sumber sejarah yang saya ambil dari bahasa Turki, tentu sekalian penulis sejarah tentang Aceh dari barat tidak mengetahui bahasa Turki. Misalnya, pakar sejarah Asia Tenggara Anthony Reid dan lainnya. Aceh harus menulis ulang buku sejarahnya sendiri supaya dapat meluruskan pemahaman yang siapa tahu ada yang salah diterjemahkan,” kata pendiri organisasi kebudayaan antar bangsa, Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT) tersebut.

Buku tersebut, kata Mehmet mengungkapkan sekilas tentang peritiwa Lada Sicupak yang terjadi pada 1560-an. Peristiwa tersebut, kata dia, merupakan buah pikiran dari Sultan Aceh. Selama ini, kata dia, dalam hubungan sejarah antara Aceh dan Turki, orang banyak menyebutkan peran Turki semata.

“Kenyataannya, peran Aceh itu besar. Pengiriman bantuan para ahli dari Istanbul oleh Sultan II Selim karena memenuhi permintaan sultan Aceh dalam masa dua tahun selemunya,” kata lelaki yang pernah menjadi dosen pascasarjana di Universitas Islam Ar-Raniri Banda Aceh dan Universiti Teknologi Johor Bahru, Malaysia.

Mehmet Ozay meluncurkan dua bukunya ‘Kesultanan Aceh dan Turki – Antara Fakta dan Legenda’ dan ‘Açe Seyahat Notlari (II)” di Banda Aceh dalam rangka memperingati tsunami Aceh ke 9, 26 Desember 2013, di ACC Sultan II Selim, Banda Aceh. (tla)