Menemukan Antropologi Islam (Ke Arah Rekonstruksi Islami)

Menemukan Antropologi Islam
(Ke Arah Rekonstruksi Islami)

Oleh: Abdul Hayyie al Kattani, MA

Mahasiswa Program Doktor pada Cairo University Faculty of Dar Al Uloom, Mesir

Masyarakat Singkil Lama di Kabupaten Singkil, Aceh. (Foto: CISAH)
Masyarakat Singkil Lama di Kabupaten Singkil, Aceh. (Ilustrasi: misykah.com)

“Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al Israa’: 70)

Muqaddimah:

Secara etimologis, Antropologi tersusun dari terma Latin anthropos yang artinya manusia, dan terma Yunani logos yang berarti “kata” atau “berbicara”. Antropologi berarti: “berbicara tentang manusia”. Seperti Sosiologi yang terusun dari terma Latin socius yang berarti “kawan” dan terma Yunani logos, sosiologi berarti “berbicara tentang masyarakat”(1). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, antropologi diartikan sebagai: Ilmu tentang manusia khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau (2).

Antropologi, terutama antropologi sosial, agak sulit untuk dibedakan dengan sosiologi, sehingga pada beberapa perguruan tinggi dan lembaga-lembaga ilmiah, antropologi dan sosiologi merupakan dua spesialisasi yang seringkali digabungkan dalam satu bagian. Dalam buku Pengantar Antropologi, dikatakan bahwa antropologi mempunyai lima lapangan penyelidikan, yaitu:

  • Masalah sejarah terjadinya dan perkembangan manusia sebagai makhluk biologis.
  • Masalah sejarah terjadinya aneka-warna bahasa-bahasa yang diucapkan oleh manusia di seluruh dunia.
  • Masalah persebaran dan terjadinya aneka warna bahasa-bahasa yang diucapkan oleh manusia di seluruh dunia.
  • Masalah perkembangan, persebaran dan terjadinya aneka-warna dari kebudayaan manusia di seluruh dunia.
  • Masalah mengenai dasar-dasar kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakat-masyarakat dari suku-suku bangsa yang tersebar di seluruh muka bumi, zaman sekarang ini (3).

Jika diperhatikan lapangan penyelidikan point d dan e, kita akan sulit sekali untuk mengadakan pembatasan yang tegas antara antropologi dengan sosiologi (4). Sisi ini merupakan satu dari sekian masalah yang menjadi problema antropologi modern.

Saat ini, antropologi modern yang berkembang di dunia Barat sedang berada dalam krisis yang cukup akut, meskipun tidak runtuh sama sekali. Beberapa aliran antropologi sedang berusaha keras untuk menyelamatkan ilmu ini; seperti antropologi aliran Inggris, Amerika, Jerman dan Perancis. Krisis tersebut terjadi karena para pakar antropologi menyadari bahwa, antropologi —seperti yang dikenal saat ini— timbul dan berkembang di dunia Barat untuk memenuhi beberapa tujuan yang amat jauh dari misi ilmu pengetahuan. Ilmu ini, terutama ditujukan untuk mempelajari kelompok manusia diluar dunia Barat sebagai objek jajahan. Di sini, kajian yang dilakukan oleh pakar- pakar antropologi Barat terhadap tradisi dan perilaku manusia di luar dunia Barat ditujukan untuk memberikan entry point bagi pemerintahan jajahan dalam menyikapi perilaku warga negara jajahan mereka, sehingga mereka dapat menguasai secara lebih utuh atas negara jajahan tersebut dan memberikan terapi yang tepat untuk mengatasi gejolak yang terjadi di tengah mereka.

Tujuan lain yang mendorong ilmuan antropologi Barat untuk mengkaji dan meneliti bangsa-bangsa primitif; seperti tentang tradisi mereka, kerangka tubuh, bentuk tempurung kepala dan hal-hal lain yang berkaitan dengan bangsa-bangsa primitif, adalah untuk mencari missing link (mata rantai yang hilang) serta “bukti ilmiah” yang lebih valid untuk mendukung teori evolusi Darwin (5). Ketika negara-negara jajahan satu-persatu merebut kemerdekaan mereka, dan malah darinya kemudian timbul pakar-pakar antropologi domestik yang lebih handal untuk membaca kondisi bangsa mereka sendiri, dan mampu mengkritik dengan akurat atas kajian antropologis pakar Barat, maka antropologi-pun kehilangan objek kajiannya.

Tentu saja yang terjadi kemudian adalah semacam kegoncangan. Para pakar antropologi Perancis dengan jelas mengajak untuk menyusun ulang ilmu ini (6). Dalam Encyclopedia of Britannica, ketika berbicara tentang ethnologi, saudara sepupu antropologi, mengatakan bahwa ilmu ini sedang berada dalam krisis total. Krisis ini bisa dilihat pula pada judul artikel yang ditulis tentang kondisi antropologi saat ini; J. Banaji menulis Crisis of British Anthropology (7), dan R. Needham menulis The Future of Social Anthropology: Disintegration or Metamorphosis? (8). Fenomena lain dari krisis ilmu ini adalah sifat instabilitasnya; dalam kurun waktu seperempat abad, atau 30 tahun saja ilmu ini telah berubah menjadi bentuk yang amat lain. Demikian seterusnya. Saat ini, antropologi telah terpecah menjadi beberapa cabang ilmu, antara lain: Physical Anthropology, Prehistoric Anthropology, Primitive Technology, Ethnology, Ethnography, dan Social Anthropology (9). Dan masing-masing ilmu inipun masih menemukan kesulitan untuk memetakan secara tepat objek spesifik kajian masing-masing.

Dalam kalangan pakar antropologi sendiri, masing-masing pakar mempunyai pemahaman yang berbeda terhadap substansi kajian antropologi. Sebagian antropolog hanya memberikan perhatian pada kajian tentang fosil manusia purba dan ukuran tengkorak mereka. Kecenderungan kedua memberikan perhatian pada kajian tentang manusia pra-sejarah dan peninggalan mereka. Sedangkan kecenderungan ketiga memberikan perhatian pokok pada perilaku aneh dalam tradisi bangsa-bangsa, terutama dalam perilaku seksual (10). Pada sisi lain, antropologi Barat digodok dan matang dalam masa-masa pasca pertarungan antara kalangan gereja vis a vis kalangan ilmuan. Proses tarik-menarik antara kedua pihak tersebut, tentu saja menularkan biasnya atas ilmu yang tersusun di tangan kalangan ilmuan ini. Kegetiran yang dirasakan oleh kalangan ilmuan pada era hegemoni gereja yang demikan kuat atas kehidupan mereka, yang secara arbitrer memberangus semua pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gerejani, tidak saja menanamkan api permusuhan dalam dada kalangan ilmuan, namun lebih dari itu, sebagai reaksi dari tekanan dan kepedihan yang mereka rasakan, kalangan ilmuan kemudian melakukan penolakan secara total terhadap semua ajaran yang dibawa oleh gereja. Kekuasaan gereja mereka ganti dengan sistem sekuler. Dan, lebih jauh lagi, mereka menawarkan ilmu pengetahuan sebagai ganti keimanan terhadap agama dan Tuhan. Antropologi yang terlahir pada era tersebut, tentu saja mempunyai ciri-ciri yang khas ini; sekuler dan bebas nilai (11).

Pada sisi lain, manusia yang menjadi objek ilmu inipun mengalami degradasi nilai. Dengan kaca mata materialisme, manusia terlihat tak lebih dari binatang yang mempunyai kelebihan akal pikiran.

Saat ini, ketika ilmu pengetahuan telah gagal untuk memecahkan begitu banyak problema manusia modern, para pakar kembali memeras segenap kemampuan untuk mencari alternatif metode ilmu pengetahuan yang baru yang mampu memberikan solusi bagi problema umat manusia pada era pasca modern ini. Ilmu-ilmu sosial, termasuk di dalamnya antropologi, juga mengalami hal yang sama. Seorang intelektual Indonesia, misalnya, pernah menulis sebuah buku berjudul: Krisis Ilmu-Ilmu Sosial, untuk menjelaskan betapa, saat ini, ilmu-ilmu sosial sedang berada dalam masa kritisnya. Dari point-point di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, antropologi modern tidak saja “bermasalah” dalam dataran epistemologis, namun juga dalam dataran ontologis dan aksiologis. Oleh karena itu, perlu dirumuskan teori ilmu-ilmu sosial (dan selanjutnya teori ilmu pengetahuan) yang Islami, sebagai alternatif dari ilmu-ilmu sosial yang sedang berada dalam masa krisisnya tersebut.

Hal itu bisa dimulai dengan menggali konsep-konsep dari al Qur’an dan al Hadist sebagai landasan epistemologis, ontologis dan aksiologis ilmu pengetahuan Islami. Karena, seperti dipahami oleh Thomas Kuhn bahwa pada dasarnya realitas sosial itu dikonstruksi oleh mode of thought atau mode of inquiry tertentu, yang pada gilirannya akan menghasilkan mode of knowing tertentu pula. Immanuel Kant, misalnya menganggap “cara mengetahui” itu sebagai apa yang disebut skema konseptual; Marx menamakannya sebagai ideologi; dan Wittgenstein melihatnya sebagai cagar budaya (12). Inilah yang ingin dicapai oleh artikel ini.

Antropolgi Modern di Dunia Barat

Tulisan-tulisan para missionaris dan para petualang pada abad ke-18 dan 19, telah menjadi sumber tertulis yang amat penting tentang Afrika, Amerika Utara, daerah lautan tenang dan daerah-daerah lain di seluruh pelosok dunia. Materi-materi tertulis tersebut kemudian menjadi bahan dasar bagi karya-karya tulis pertama dalam ilmu antropologi di Barat pada paruh terakhir abad ke-19.

Sebelumnya, kajian tentang sistem hidup manusia dan sumber-sumber pembentukan sistem tersebut telah dilakukan oleh ilmuan Barat, namun hal itu lebih banya didasari oleh hipotesa-hidpotesa. Demikian juga halnya pada paruh pertama abad ke-18, ketika Hume, Adam Smith, Ferguson, Montesquieu, Condarcet dan ilmuan lain menulis tentang kelompok manusia primitif. Meskipun tulisan mereka cukup bagus, namun ia tidak dihasilkan dari exprimen dengan variabel-variabel yang dapat diukur, malah lebih banyak dipengaruhi oleh pilsafat yang mereka anut.

Pada penghujung abad ke-19 materi informasi yang besar tentang berbagai jenis manusia di seluruh dunia telah dapat dikumpulkan. Koleksi Sir James Frazer adalah yang paling terkenal dari sekian koleksi. Koleksinya tentang kepercayaan-kepercayaan dan ritus-ritus agama kemudian diterbitkan dalam beberapa seri dengan judul The Golden Bough (13). Materi-materi tersebut kemudian diperkaya oleh kajian-kajian yang terus dilakukan baik oleh missionaris maupun pegawai administrasi di negara-negara jajahan.

Pada permulaan abad ke-20, ilmuan antropologi lebih banyak mencurahkan perhatian untuk melakukan field research secara langsung tentang kelompok-kelompok manusia. Kecenderungana ini menguat setelah A.C. Haddon melakukan penelitian di Melanesia, Radcliffe Brown melakukan kajian atas masyarakat andaman serta Malinowski mengkaji masyarakat kepulauan Torobrind.

Setidaknya ada dua aliran dalam antropologi yang kemudian banyak mempengaruhi antropologi modern. Aliran pertama adalah aliran Inggris. Dengan memberi perhatin pada kajian tentang hakikat-hakikat, eksprimen, serta deskripsi yang amat teliti tentang objek kajian. Aliran ini dianut oleh banyak ilmuan Jerman dan Amerika. Dan aliran kedua adalah aliran Perancis, yang menggunakan metode holistic analytic intellectualism (14). Namun demikian, menurut Akbar S. Ahmad, pakar-pakar antropologi sosial tetap saja hanya mencurahkan perhatian mereka pada sisi sosial kehidupan manusia. Atau hubungan antara sesama manusia dalam sebuah lingkungan masyarakat tempat mereka hidup. Sementara dimensi-dimensi lain yang demikian banyak tentang kehidupan sosial dan peradaban, mereka tinggalkan (15).

Seperti disinggung sebelumnya, timbulnya antropologi modern tidak terlepas dari kepentingan kolonialisme. Ketika Napoleon menjajah Mesir, ia membawa serta sebanyak 150 ahli ilmu pengetahuan, sebagian dari mereka adalah ahli sosiologi dan antropologi. Dari tangan mereka kemudian diawali kajian-kajian antropologis terhadap negara-negara jajahan di Asia, Afrika dan negara-negara sekitar lautan teduh. Bukanlah sebuah kebetulan jika pakar-pakar antropologi Inggris yang paling terkemuka pasca perang dunia I dan II adalah mantan pegawai di negara-negara jajahan Inggris. Seperti Evan Pritchard, Leach dan Nadel. Bahkan yang terakhir, menggunakan kekuasaannya sebagai pejabat administrasi kolonial dalam penelitian antropologisnya dengan memerintahkan polisi kolonial untuk mengumpulkan penduduk sebagai objek questioner yang ia buat.

Pengaruh pemikiran orientalis terhadap kajian antropologi dalam menatap dunia Timur juga cukup besar. Sehingga tak jarang tatapan yang dihasilkan oleh suatu kajian terhadap masyarakat Timur tampak buram. Dalam buku Orientalism, W.E. Said berkata tentang masyarakat Timur : bangsa Timur adalah bangsa yang tidak logis, mereka terbelakang serta kekanak-kanakan, dan mereka berbeda dengan kita. Sementara bangsa Eropa adalah bangsa yang stabil, bermoral tinggi, matang, dan tidak mempunyai kekurangan (16). Banyak orientalis, dalam melihat Islam, lebih senang menyebutnya sebagai kaum Muhammedanisme. Hal itu tampak pada judul buku H.A.R.Gibb Muhammedanism (17), dan Gustave E. von Grunebaum Muhammadan Festival (18). Dan Oxford Dictionary tetap menggunakan terma ini meskipun telah ditentang oleh umat Islam. Hingga saat ini, pengaruh orientalis terhadap antropologi tak kunjung menurun. Malah orientalis seperti A. J. Arbery, H.A.R. Gibb, Lewis, von Grunebaum dan M. Watt telah turut menyusun konsep-konsep metodologis bagi banyak kajian antropologi (19). Pengaruh ini tampak jelas pada banyak antropolog. M. E. Meeker, misalnya, dalam bukunya Literature and Violence in North Arabia (20) menulis tentang bangsa Arab (Islam): Peradaban Baduwi di bagian Utara Jazirah Arabiyyah mempunyai pemikiran bahwa kekerasan adalah pokok kehidupan politik. Dan dalam melihat keluarga, barang dan hubungan sosial, mereka cenderung melihatnya dalam kerangka yang dibatasi oleh kekerasan. Sikap seperti itu tidak aneh, karena Meeker banyak mengambil materi kajiannya dari Doughty yang amat membenci Islam.Demikian pula P. Jeffrey, ketika mengadakan kajian tentang wanita muslimah di Delhi, memberikan judul buku hasil kajiannya itu Frogs in a Well—kodok-kodok di dalam sumur (21). Pertanyaan yang timbul kemudian adalah: Apakah Islam tidak mempunyai konsep antropologi, sehingga bisa menjadi alternatif antropologi Barat itu? Kalaupun ada, apakah hal itu pernah diwujudkan dalam sebuah konsep keilmuan yang utuh?

Menemukan Antropologi Islam

Jika antropologi modern lahir di tangan ilmuan Barat, terutama kalangan missionaris dan pegawai administrasi kolonial, itu tidak berarti bahwa antropologi adalah karya mutlak ilmuan Barat. Sejarah ilmu pengetahuan justru mengukir dengan tinta emas bahwa ilmuan Islamlah yang telah membangun dan menyusun konstruksi ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tercatat nama-nama Ibn Khaldun, al Biruni, Ibn Bathuthah, al Mas’udi, al Idrisi, Ibnu Zubair serta Raghib al Ashfahani yang menulis kitab Tafshil ‘n Nasyatain wa Tahshil ‘s Sa’adatain. Pada era modern ini, terdapat beberapa ilmuan Islam yang telah melakukan kajian antropologis, seperti Dr. Bintu Syathi, ‘Abbas Mahmud al ‘Aqqad, Dr. Aminah Nushair, Abdul Mun’im Allam, Muhammad Khadar, Dr. Zaki Isma’il, Dr. Akbar S. Ahmad, Kurshid Ahmad, Muhammad Iqbal, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Abul Wafa at-taftazani, Al ‘Ajami dan ilmuan lainnya (22).

Karya Ibn Khaldun, dengan teori-teori dan materi ilmiahnya, telah mendahului dan mengungguli karya-karya ilmuan Barat seperti Karl Mark, Max Weber, Vilfredo Pareto, Ernest Gellner dan ilmuan Barat lainnya.Teori pendulum swing Gellner, tipologi kepemimpinan (typologi of leadership) yang ditulis Weber, serta teori Pareto tentang sirkulasi kepemimpinan (circulation of elites) dalam masyarakat Islam, semua itu tak lebih dari modifikasi atas teori-teori dan pemikiran yang telah digagas oleh Ibn Khaldun. Meskipun amat disayangkan, usaha Ibn Khaldun tersebut tidak dilanjutkan oleh ilmuan pasca Ibn Khaldun.

Menurut Akbar S. Ahmad, dari sekian ilmuan Islam yang telah mencurahkan pemikiran mereka dalam bidang antropologi tersebut, al Biruni berhak menyandang gelar Bapak antropologi. Tentang alasan pemilihan al Biruni sebagai Bapak antropologi dijelaskan dengan terperinci oleh Akbar S. Ahmad dalam tulisannya: Al-Biruni: The First Anthropologist (23). Al Biruni, menurut Akbar lagi, adalah ilmuan antropologi sejati dengan ukuran karakteristik yang paling tinggi sekalipun. Dan buku yang ditulis al Biruni tentang India yang berjudul Kitab Al Hind, terus menjadi salah satu referensi yang paling penting tentang Asia Selatan. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya, adalah ilmu-ilmu yang lahir di tangan ilmuan muslim sekitar seribu tahun sebelum ilmuan Barat mempelajari ilmu-ilmu itu. Maka ketika umat Islam kembali mempelajari ilmu-ilmu tersebut, yang dilakukannya adalah semacam “menemukan kembali” apa yang sebelumnya dimiliki .

Rekonstruksi Antropologi Islam

Usaha terberat ilmuan muslim untuk membangun antropologi Islam adalah bagaimana mengelaborasi warisan antropologis yang telah ditinggalkan oleh ilmuan muslim terdahulu, kemudian merekonstruksi warisan keilmuan itu dalam format keilmuan modern. Oleh karena itu, seperti disarankan oleh Akbar S. Ahmad, kita memang tidak harus membuang seluruh kajian ilmuan Barat. Setidaknya, kreatifitas yang telah mereka hasilkan bisa dijadikan bahan komparatif untuk langkah-langkah yang akan dilakukan oleh antropologi Islam. Yang dapat dilakukan kemudian adalah melakukan —meminjam gagasan Al Faruqi—Islamisasi ilmu pengetahuan. Dengan tujuan-tujuan, seperti didefinisikan oleh Al Faruqi: a. Penguasaan disiplin ilmu modern, b. Penguasaan warisan Islam, c. Penentuan relevensi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern, d. Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan dan pengetahuan modern, e. Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiah dari Allah (24).

Oleh Al Faruqi, konsep tersebut dijabarkan dalam 12 langkah sistematis untuk mengislamisasikan ilmu pengetahuan. Kedua belas langkah tersebut yaitu:

  • Penguasaan didiplin ilmu modern. Pada fase ini, disiplin ilmu modern harus dibagi menjadi kategori, prinsip, metodologi, masalah dan tema.
  • Survei displin ilmu. Setelah kategori-kategori dari disiplin-disiplin itu dibagi-bagi, suatu survei pengetahuan harus ditulis mengenai masing-masing disiplin itu.
  • Penguasaan warisan Islam. Warisan Islam harus dikuasai dengan cara yang sama. Tetapi di sini yang diperlukan adalah bunga rampai mengenai warisan Muslim yang menyinggung masing-masing disiplin tersebut.
  • Penguasaan warisan Islam. Setelah bunga rampai selesai dipersiapkan, warisan Islam harus dianalisis dari perspektif masalah-masalah masa kini.
  • Penentuan relevansi khusus antara Islam dengan disiplin-disiplin itu.
  • Penilaian kritis terhadap disiplin modern. Begitu relevansi Islam dengan masing-masing disiplin ditentukan, dia harus dinilai dan dianalisis dari sudut pandang Islam.
  • Penilaian kritis terhdap warisan Islam. Begitu juga, sumbangan warisan Islam dalam setiap bidang aktivitas manusia harus dianalisis dan relevansi masa kininya harus ditemukan.
  • Survei terhadap masalah-masalah utama yang dihadapi ummah. Suatu kajian sistematis tentang masalah-masalah politik, sosial, ekonomi, intelektual, budaya, moral dan spiritual dari rakyat Muslim.
  • Survei masalah-masalah kemanusiaan. Suatu kajian yang serupa, tetapi lebih terpusat pada seluruh umat manusia, juga harus dibuat.
  • Analisis dan sintesis kreatif. Pada tahap ini, pada sarjana Muslim sudah harus siap untuk memadukan warisan Islam dengan disiplin-disiplin ilmu modern dan mendobrak kemandegan pembangunan selama berabad-abad.
  • Menyusun kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam. Begitu keseimbangan antara warisan antara warisan Islam dan disiplin ilmu modern berhasil dicapai, buku daras Universitas harus ditulis untuk menyusun disiplin-disiplin ilmu modern dalam cetakan Islam.
  • Menyebarkan pengetahuan Islam. Karya intelektual yang dihasilkan dari langkah-langkah sebelumnya harus digunakan untuk membangunkan, menerangi dan memperkaya umat manusia (25).

Meskipun gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan seperti yang ditawarkan al Faruqi tersebut dikritik oleh beberapa orang ilmuan muslim sendiri (26), namun gaung gagasannya tersebut telah menggema ke seluruh dunia Islam. Di Malaysia telah didirikan ISTAC, di Indonesia didirikan ISTECS, dan untuk skala internasional telah berdiri International Institute of Islamic Thought (IIIT), atau di dunia Arab dikenal dengan Ma’had ‘Alami lil Fikri aI islami untuk mengembangkan lebih lanjut gagasan Al Faruqi untuk mengislamkan ilmu pengetahuan tersebut. Alternatif lainnya adalah merekonstruksi antropologi Islam dengan secara kreatif menciptakan teori, metodologi dan teknis sendiri. Tanpa menafikan secara total pencapaian ilmu pengetahuan Barat. Untuk mewujudkan hal itu, kita dapat menggunakan tiga ciri pembeda pengetahuan, yakni tentang: apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut diketahui, disusun dan dimanfaatkan (27).

Usaha yang lebih meluas adalah membentuk sebuah konsep keilmuan Islam, yang mencakup tidak saja antropologi namun juga ilmu-ilmu sosial lainnya. Jamaluddin ‘Athiyyah menawarkan apa yang ia namakan dengan ‘ilmu umm—mother knowledge, yang darinya pilsafat ilmu Islam digagas (28). Ilmu ini terdiri dari tauhid sebagai pokok dari sekalian ilmu. Darinya akan berkembang ilmu-ilmu lain sebagai margin-margin yang menyerap cahaya ‘ilmu umm tersebut.

Secara cerdas, dengan substanssi yang sama, Ziauddin Sardar menawarkan untuk membentuk world View/weltanschauung Islam. Dalam konsep ini, epistemologi Islam disusun dari sintesa aqidah, syari’ah dan akhlak. Epistemologi ini akan menjadi aksis —meminjam istilah S.H.Nasr— bagi sistem pandangan dunia Islam. Mencakup Sains dan tekhnologi, struktur politik dan sosial, usaha ekonomi, serta teori lingkungan (29).

Kemudian, setelah sistem pandangan dunia Islam tersebut dapat dirumuskan, langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengembalikan wahyu sebagai sumber antropologi. Dari al Qur’an dan Hadist ditelusuri konsep-konsep maupun petunjuk tentang antropologi Islam. Nash-nash tersebut, sebagian memberikan kata putus pada beberapa masalah antropologis, dan sebagian lain hanya memberikan tuntunan dalam kajian antropologi. Di sini, dibutuhkan suatu usaha untuk mengklasifikasikan sumber-sumber tersebut dan kemudian menyimpulkan inti sari dari petunjuk- petunjuk tersebut, sehingga dihasilkan petunjuk konsep antropologis Islami yang utuh.
  • Menjadikan tauhid sebagai dasar teoritis-metodologis dalam melakukan riset-riset ilmiah. Dalam langkah ini, konsep-konsep antropologi Barat yang materialis dibersihkan dari unsur-unsur materialisme dan atheisme, kemudian ditiupkan didalamnya konsep tauhid sebAgai ganti dari kecenderungan materialis dan atheis tersebut.
  • Membebaskan anggitan keilmuan antropologi dari metodologi empiris yang terbatas. Sebaliknya, dalam anggitan antropologi Islam yang kita gagas menggunakan multi metodologi; induksi, deduksi, exprimental, historis, palsafi, dan tekstual.
  • Menciptakan kedisiplinan ilmiah dan membebaskan riset ilmiah dari pengaruh ideologis. Konsep antropologi Barat yang amat dipengaruhi oleh paktor ideologis, pada gilirannya menghasilkan kajian antropologis yang terbias oleh faktor ideologis yang dianut oleh periset. Sehingga M. Grauvitz dalam bukunya Methodes de Sciences Sociales mengatakan: Objektifitas secara utuh dalam antropologi mustahil diwujudkan, dan usaha untuk menciptakan suatu kesimpulan bersama terhadap suatu fenonema adalah suatu usaha yang sia-sia. Maka, dalam anggitan antropologi Islam harus dibedakan secara tegas antara faktor ideologis diri periset dan kejujuran ilmiah terhadap riset yang ia jalankan.
  • Mengembalikan unsur moral/akhlak dalam riset ilmiah. Dalam konsep-konsep antropologi Barat, manusia “ditelanjangi” dari nilai-nilai yang ia pegang serta kecenderungannya, maka dalam konsep antropologi Islam unsur akhlak ini dimasukan sebagai bagian dari konsep tersebut.
  • Membedakan antara yang sakral yang profan dalam kajian antropologis. Dalam konsep antropologi Barat kenisbian nilai telah menjadi taken for granted, dan tanpa membedakan antara yang sakral dengan yang profan. Sedangkan dalam konsep antropologi Islam unsur ini amat diperhatikan. Karena Islam mengatur kehidupan manusia dari semua segi; materi, ruhani, intelektualitas dan akhlak yang berpedoman pada ajaran-ajaran yang konstan (tsabit), sehingga bentuk perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam tatanan masyarakat yang telah menyimpang dari nilai-nilai yang konstan ini tidak akan diterima sebagai suatu kondisi final suatu masyarakat (30).

Setelah langkah-langkah di atas dilaksanakan, maka kita sudah mendapatkan sebuah konsep antropologi Islam yang utuh. Namun dengan terciptanya sebuah konsep tidak serta merta menghasilkan apa yang diinginkan jika tidak dilakukan langkah aplikatif yang real. Oleh karena itu, untuk mewujudkan secara real konsep-konsep antropologi Islam, Akbar S. Ahmad menyarankan untuk melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Menulis sejarah sosial yang ringkas tentang sirah Rasulullah Saw. yang bisa dipahami oleh embaca Muslim maupun non-muslim. Sehingga dari sejarah masyarakat Islam ideal —meminjam istilah Akbar S. Ahmad — tersebut dapat ditarik suatu konsep tentang masyarakat Islam yang dicita-citakan.
  • Menulis buku-buku antropologi percontohan berkualitas tinggi, kemudian buku- buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa besar umat Islam. Sehingga buku-buku tersebut bisa menjadi acuan kajian lanjutan di semua wilayah masyarakat Islam.
  • Menulis buku-buku kajian antropologis tentang setiap wilayah Islam, kemudian buku itu disebarkan ke seluruh dunia Islam.
  • Menseponsori pakar-pakar antropologi Islam untuk mengadakan penelitian atas seluruh wilayahh negara Islam.
  • Mengadakan kajian komparatif antara setiap wilayah-wilayah masyarakat Islam, sehingga kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih untuk tentang masing-masing wilayah tersebut.
  • Menguasai secara utuh prinsip-prinsip teknis kajian sosial, terutama yang berkaitan dengan pembangunan, sehingga bisa dirancang sebuah agenda pembangunan dunia Islam bersama yang lebih baik pada abad dua puluh satu nanti.
  • Menelaah secara intens karya-karya ilmuan Islam yang berkaitan dengan sosiologi dan antroppologi, kemudian hasil telaah tersebut diterbitkan dalam jurnal-jurnal ilmiah atau buku khusus (31).

Objek Kajian Antropologi Islam

Pertanyaan yang mungkin timbul kemudian adalah, topik apa saja yang akan menjad objek kajian antropologi Islam. Jamaluddin ‘Athiyyah, dalam artikelnya di jurnal The Contemporery Muslim menawarklan bahwa antropologi Islam yang kita gagas nantinya akan memberikan objek kajiannya pada topik-topik berikut ini:

  • Penciptaan manusia. Dalam point ini, akan dikaji tentang awal penciptaan manusia dan bagaimana manusia kemudian berkembang. Tentu saja teori evolusi Darwin akan menjadi bagian kajian point ini. Juga pertanyaan tentang apakah sebelum Adam AS. ada Adam-Adam lain. Seperti kecenderungan Iqbal, misalnya, yang mengatakan dalam bukunya The Reconstraction of Religious Thought in Islam, bahwa Adam yang disebut dalam al Qur’an lebih banyak bersifat konsep tinimbang historis (32).
  • Susunan manusia. Akan dikaji tentang susunan yang membentuk manusia; tubuh, jiwa, ruh, akal, hati, mata hati dan nurani. Sehingga dapat didapatkan konsep manusia yang utuh sesuai dengan konsep Islam. Sehingga dengannya manusia akan berbeda dengan malaikat, jinn, hewan, tumbuhan dan benda mati. Sambil menjelaskan perbedaan manusia dengan makhluk-makhluk tersebut.
  • Macam-macam manusia. Meneliti tentang perbedaan manusia antara lelaki dan perempuan, suku-suku, bangsa-bangsa, perbedaan bahasa, dan hikmah dibalik perbedaan ini.
  • Tujuan diciptakannya manusia. Mengkaji tujuan diciptakan manusia dan apa misi yang dibawanya di atas bumi. Sambil menjelaskan tentang pengertian ibadah, khilafah, pembumi dayaan dunia dan sebagainya.
  • Hubungan manusia dengan semesta. Pada point ini akan diteliti tentang konsep taskhir alam semesta bagi manusia. Apakah dengan konsep tersebut manusia adalah pusat semesta ini? Serta tentang equilibrium antara manusia dengan semesta dengan segala isinya. Hal ini akan berkaitan dengan ilmu lingkunngan hidup.
  • Hubungan manusia dengan Tuhan-nya. Akan dikaji apakah beragama adalah fithrah dalam diri manusia? Juga tentang peran nabi-nabi, kitab-kitab suci dan ibadah dalam hubungan ini.
  • Manusia masa depan. Di sini akan dikaji tentang rekayasa manusia masa depan. Antara lain tentang pembibitan buatan, bioteknologi, manusia robot dan hal-hal lainnya.
  • Manusia setelah mati. Pada point ini akan dikaji tentang bagaiman manusia setelaha mati, serta apa yang harus ia persiapkan di dunia ini bagi kehidupannya di akherat nanti (33).

Khatimah:

Setelah permasalahan, teori, konsep dan langkah-langkah di atas telah diuraikan, kini yang menanti selanjutnya adalah bagaimana menyatukan antara kata dan realita, rencana dengan kerja, das sollen dengan das sain. Dan, Itu semua tentunya adalah tanggung jawab cendekiawan muslim untuk mengejawantahkannya. Wallahu a’lam.
Hawamisy:

(1) Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta, Rajawali Press, cet.X, 1987, hal.3.

(2) Lihat: Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. ll, cet. l, Jakarta, Balai Pustaka, 1991, hal. 50.

(3) Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, cet. II, penerbit: Universitas Indonesia, Jakarta 1965, hal. 18.

(4) Scn.1, hal. 13.

(5) Lihat: Dr. Jamaludin ‘Athiyyah, Nahwa Manzhur Islami li ‘Ilmi ‘l Insan, The Contemporary Muslim, Vol. XVI, no. 64, 1992, hal. 5.

(6) Dr.Jamaluddin ‘Athiyyah, Nahwa ‘Ilmi Insan Islami, kertas kerja pada seminar International Institute of Islamic Thought (IIIT), Ma’had ‘Alami lil Fikri ‘l Islami, Cairo, 1992, hal. 1.

(7) Artikel ini diterbitkan dalam New Left Review, 1970, no. 64:71-85

(8) Dipublikasikan dalam Anniversary Contributions to Anthropology: Twelve Essays, Leiden, 1970.

(9) Scn. 6, hal. 2.

(10) Akbar S. Ahmad, Toward Islamic Anthropolgy, edisi bahasa Arab, IIIT, 1989, hal, 30.

(11) Lihat: Muhammad Amziyan, Naqdu Manahij ‘l Ulum ‘l Insaniyyah min Manzhur Islami wa Khutwatu Shiaghati Manahij Islamiyyah lil ‘Ulum ‘l Insaniyyah, IIIT, tt.

(12) Lihat: Kuntowijoyo, Paradigma Islam, Interpretasi Untuk Aksi, Bandung, 1991, hal. 327

(13) Scn.10, hal. 19 dan seterusnya.

(14) Sca. hal. 25.

(15) Sca. Hal. 26.

(16) Edward Said, Orientalism, London, Routledge and Kegan Paul, 1978, pp.40.

(17) H.A.R. Gibb, Muhammedanism, Oxford University Press, 1980.

(18) Gustave E. von Grunebaum, Muhammadan Festivals, New York: genry Schuman, Inc.

(20) Scn.10, hal. 103.

(21) Buku ini diterbitkan oleh Cambridge University Press, New York.

(22) Buku ini diterbitkan di London, Zed Press, 1980.

(23) Scan.10, hal. 113, dan scn. 6, hal. 2-3.

(24) Akbar S. Ahmad, Al-Biruni: The First Anthropologist, Spring, London, Royal Anthropology Institute News.

(24) Isma’il R. al-Faruqi, Islamisation of Knowledge: General Principles and Workplan, IIIT, Washington, 1982.

(25) Dengan cukup panjang lebar, gagasan ini dikaji oleh Ziauddin Sardar, dalam bukunya Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come, 1985, Mansell Publishing Limited, London, New York.

(26) Seperti yang dilakukan oleh Ziauddin Sardar, dan Kuntowijoyo.

(27) Jujun S. Suriasumantri, Mencari Alternatif Pengetahuan Baru, dalam Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi, A.M. Saefuddin et al.Bandung, 1990, hal. 14-15.

(28) Scn.5, hal.6.

(29) Ziauddin Sardar, scn.24, hal. 71-72.

(30) Scn.11, hal. 27 dan seterusnya.

(31) Scn.10, hal.137 dan seterusnya.

(32) Lihat: Allamah Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, 2nd.ed, Lahore, 1989, p.66

(33) Scn. 5, hal.7-8.