Mengangkat Sejarah Islam dari Puing-puing Samudra Pasai

Mengangkat Sejarah Islam dari Puing-puing Samudra Pasai

Oleh Taqiyuddin Muhammad

Struktur dan bentuk batu bata tinggalan sejarah yang ditemukan warga di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara. (Fot:o: CISAH)
Struktur dan bentuk batu bata tinggalan sejarah yang ditemukan warga di Kuta Krueng, Samudera, Aceh Utara. (Fot:o: CISAH)

 

Penjelajah muslim terkenal asal Maghribi, Ibn Bathûthah (wafat 779 H/1378 M), terang menyebutkan dalam Tuhfah An-Nazhzhâr (laporan perjalanannya) bahwa kota Sumatra adalah kota indah, besar, dipagari dinding terbuat dari kayu dengan menara-menaranya yang juga terbuat dari kayu (Madînah Sumuthrah madînah hasanah kabîrah ‘alaihâ sûr khasyab wa abrâj khasyab).

Tidak diragukan, kota Sumatra yang dimaksud Ibn Bathûthah adalah kota Samudra Pasai, dan sebagaimana diketahui, kota kuno ini sekarang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Aceh Utara.

Sekalipun demikian masyhur, kota megah yang dilaporkan oleh Ibn Bathûthah sejak enam setengah abad yang silam ini belum banyak disingkap hal ihwalnya sampai dengan waktu sekarang; tata ruang kota, ragam bangunan serta arsitekturnya.

Usaha untuk mengenali kota Samudra Pasai sementara ini dianggap tidak perlu dan dikira akan percuma lantaran asumsi yang sudah populer: Samudra Pasai hanyalah sebuah kota maritim, dan karenanya tidak akan banyak ditemukan peninggalan-peninggalan budaya (lihat, Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk Kelas XI SMA, hal. 98). Bangunan-bangunan dalam kota Samudra Pasai yang diduga terbuat dari kayu, sebagaimana lazimnya tradisi arsitektur dari zaman pra-Islam, tentu sudah lenyap dalam rongga tanah. Tak ada yang tersisa. Kota Samudra Pasai akhirnya hanya sebuah nama dengan aneka mitos. Begitu asumsi yang berkembang, dan disokong oleh banyak sejarawan.

Asumsi ini semakin diperkokoh sekaligus juga mengokohkan pendapat yang menyatakan bahwa dalam berbagai hal menyangkut seni—termasuk seni arsitektur dan tata kota yang tengah dibicarakan, tentunya—Indonesia tidak dapat dianggap sebagai subkultur dari warisan yang telah memantapkan diri di berbagai kawasan lain di dunia Islam. Indonesia, paling tidak, memiliki dua warisan pokok tersendiri: satunya, berasal dari akar paganisme kuno, dan lainnya, berasal dari pengaruh Hinduisme-Budhisme. Sementara Islam hanya melakukan perbaikan dan penyempurnaan ringan di sana sini. Untuk menguatkan pandangannya, pendapat ini memberi contoh: bangunan masjid yang beratap tinggi dan bertingkat-tingkat menyerupai candi (lihat, C. A. O. Van Nieuwenhuijze dalam The Legacy of Islam, Ed. J. Schacht, Terj. Arab: Turats Al-Islam, 1998, hal. 204).

Dalam kerangka asumsi ini maka kota Samudra Pasai tidak berbeda dengan kota-kota masa pra-Islam, kecuali pada segi-segi tertentu saja, sehingga bekas kota itu juga mengalami hal yang sama dialami oleh kota-kota pra-Islam; tidak menyisakan bekas atau reruntuhan puing-puingnya. Bangunan yang mungkin relatif bertahan dan tertinggal cuma tempat-tempat peribadatan karena kontruksinya yang lebih spesial, sementara lainnya musnah.

Akibat asumsi dan pendapat demikian maka sejauh ini belum ada peneliti atau sejarahwan yang benar-benar tertarik untuk melakukan penyelidikan tentang tata rancang dan bangun kota Samudra Pasai sebagai sebuah kota Islam sebagaimana Basrah, Kufah, Fusthath, Kairuwan, Wasith, Baghdad, Qahirah dan lainnya. Dan ini perlu disadari sebagai suatu kerugian besar bagi para pewaris negeri yang berperan amat besar dalam mendesign wajah Asia Tenggara selama tidak kurang dari tiga ratus tahun, dan masih menyimpan pengaruhnya di kawasan sampai dengan hari ini.

Ini sangat perlu dicatat dan digarisbawahi!

Menyelam ke Batin Imperialisme        

Asumsi dan pendapat seperti dipaparkan tadi tentu berada pada ujung garis sejajar dari klaim lain menyangkut sejarah awal perkembangan Islam di utara Sumatera. Yakni klaim bahwa Islam telah menyebar lewat perdagangan—terlepas dari perselisihan mengenai kawasan asal para pedagang sebab selisih pandang tersebut, menurut saya, tidak lebih dari maksud menutupi pokok persoalan yang sebenarnya. Tidak dipungkiri bahwa hal tersebut dalam batas-batas tertentu memang benar. Namun lazimnya, perdagangan menjadi faktor pendukung bukan faktor utama dalam proses Islamisasi. Contoh dekat adalah sebagaimana yang terjadi di Bengal. Keberadaan kaum pedagang muslim di satu wilayah politik non-Islam diakui telah ikut mempermudah kekuatan politik Islam dalam gerak perluasan wilayah Islam (fath/pembebasan).

Janggalnya, mengapa dalam penyejarahan proses Islamisasi nusantara, khususnya di bagian utara Sumatera, faktor perdagangan lebih ditonjolkan dari faktor lain yang sebenarnya lebih menentukan, yakni faktor pembebasan (fath)?!

Ini mengundang tanda tanya lantaran kedua faktor ini memiliki motivasi, cara, alat, dan tujuan masing-masing yang karenanya juga menimbulkan efek atau pengaruh sangat berbeda satu sama lainnya, terutama yang tampak dari skala waktu. Dengan faktor perdagangan, proses Islamisasi akan mengambil laju seperti tetesan minyak yang mengembang sedikit demi sedikit, sementara pembebasan (fath) ialah ibarat air deras yang dapat membalikkan segala keadaan.

Ruang ini tidak memadai untuk menyebutkan semua perbedaan antara kedua faktor tersebut. Kita ambil saja satu contoh perbedaan: motivasi. Motivasi perdagangan adalah keuntungan, yang dengan demikian ia akan menyediakan medan tak berbatas untuk sikap kompromi. Sementara motivasi pembebasan (fath) adalah pahala yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang berjihad di jalan-Nya demi meninggikan agama-Nya. Medan kompromi tentu lebih sempit di sini; setelah sebuah negeri dibebaskan maka setiap pemeluk agama lain akan diberi hak untuk memilih antara memeluk Islam atau membayar jizyah. Sebelum kata paling akhir ini merangsang Pembaca untuk memperluas persoalan kepada hal-hal yang tidak akan dibicarakan di sini, mungkin segera perlu diingatkan kembali bahwa prinsip “tidak ada paksaan dalam agama” merupakan salah satu prinsip pokok dalam Islam. Pembebasan, pada kenyataannya, adalah syiar Islam dengan kekuatan yang mampu menjamin kebebasan memilih sekaligus memberi naungan kepada setiap pihak atas pilihannya, baik mereka yang memilih Islam maupun tidak.

Dari sisi motivasinya, kedua faktor ini tentu tidak melahirkan atau mendorong laju proses Islamisasi yang sebanding. Sebagian sejarawan yang meyakini bahwa Islam sampai di utara Sumatera sejak kurun pertama hijriah (abad VII masehi), dan keyakinan itu sangat beralasan dan berdasar, juga dapat melihat bahwa ledakan perkembangan Islam yang amat hebat dan fenomenal itu baru terjadi sejak awal abad VII H (XIII M) atau penghujung abad sebelumnya sampai dengan abad X H (XV M).

Selama kurang lebih enam abad dari kedatangan Islam pertama sekali di abad pertama hijriyah, tebaran koloni-koloni muslim di kepulauan paling timur Asia Tenggara (gugus pulau Laut Sulu) sampai dengan kepulauan India masih terbilang sangat terbatas, begitu pula gerak dan kiprah para saudagar dalam penyebaran Islam pun tidak begitu punya pengaruh luas. Namun diakui, para saudagar muslim telah berjasa besar dalam memperkenalkan Islam kepada penduduk pribumi di mana mereka melakukan kegiatan-kegiatan perniagaan. Begitu pula hubungan-hubungan dengan penguasa setempat telah terintis dan dijalin dalam batas-batas tertentu sebagaimana dilaporkan sebagian musafir muslim Arab-Persia seperti Buzurk ibn Syahriyâr Ar-Râmhurmuzi (wafat setelah 340 H/950 M) dalam ‘Ajâ’ib al-Hind; Barruhu wa Bahruhu wa Jazâ’iruhu.

Lain halnya dengan apa yang terjadi selama lebih kurang tiga abad, antara abad VII sampai X hijriah (XIII-XVI masehi). Dalam waktu relatif cepat, Islam mencuat tidak hanya sebagaimana agama yang diyakini, tapi juga merupakan kekuatan politik dan militer terbesar di Asia Tenggara seiring merosotnya pengaruh dan kekuasaan berbagai kekuatan politik non-Islam. Ini tentu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor pembebasan dari faktor perdagangan.

Kembali pada pertanyaan, mengapa faktor perdagangan lebih ditonjolkan dalam proses Islamisasi nusantara, bahkan terkadang tanpa memperhitungkan sama sekali faktor pembebasan (fath)?

Ini merupakan suatu tanda tanya yang perlu diselidiki jawabannya lebih lanjut mengingat pendapat ini, sejauh saya ketahui, mula sekali berkembang luas dalam masa imperialisme Belanda di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20. Salah satu tokoh penting yang mengembangkan pendapat ini adalah C. Snouck Hurgronje, seorang pengkaji Islamologi yang bekerja untuk imperialisme Belanda.

Kita tidak dapat mengenyampingkan berbagai kondisi politik, lokal maupun dunia, pada waktu pendapat ini dikembangkan dan diterima oleh banyak orang. Sayang, maksud tulisan ini hanya ingin menyentil, bukan untuk membahasnya panjang lebar. Tapi yang penting diketahui bahwa para pengembang asumsi: Islam menyebar lewat perdagangan; seni Islam di nusantara tidak merupakan subkultur dari seni-seni di kawasan Islam yang lain dan hanya terpengaruh oleh seni-seni pra-Islam dari paganisme sampai Hinduisme-Budhisme, mereka menghendaki sesuatu yang lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.

Pendapat atau asumsi tersebut tentu berakhir pada kesimpulan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi menyangkut proses Islamisasi nusantara pada hakikatnya adalah persoalan yang tidak lepas dari perniagaan pada tingkat pertamanya.

Dari kesimpulan ini, maka Islam yang datang ke Indonesia bersama perdagangan dan berkembang dalam rangkulannya tidak berbeda dengan dua gelombang budaya yang telah sampai ke Indonesia pada era-era sebelumnya (Hindu dan Budha). Itu tafsiran pertama terhadap keberhasilan Islam di Indonesia, menurut pendapat ini. Namun perdagangan juga bukan segalanya, menurut pendapat ini lagi. Ada hal lain yang menjadi tafsiran kedua terhadap keberhasilan Islam dalam penyebarannya di Indonesia: persaingan politik dan perdagangan di antara kekuatan-kekuatan imperialisme Barat juga telah menyebabkan pesatnya penyebaran Islam (lihat, C. A. O. Van Nieuwenhuijze, hal. 196)! Anda tentu mudah saja melihat kebusukan yang berselimut di bawah lapik analisis ilmiah ini!

Nyata sekali, pendapat dan asumsi ini pada hakikatnya telah melecehkan dan menghantam telak Islam dan sejarahnya—saya tidak bermaksud memprovokasi, silahkan saja Anda mencerna dengan cara Anda sendiri. Satu bagian penting dan sangat utama dalam Islam, bahkan merupakan faktor paling menentukan dalam gerak penyebaran Islam, telah sengaja diabaikan begitu saja, yaitu jihad fi sabilillah.

Penyebaran Islam di nusantara dianggap suatu proses yang tidak benar-benar dimaksudkan karena perdagangan merupakan target utama kedatangan kaum muslimin dari berbagai kawasan di Selatan dan Barat Asia. Dengan demikian, tujuan utamanya adalah nilai-nilai materialis. Dan itu tentu tidak akan membedakan pedagang muslim dan imperialisme Barat. Persepsi inilah yang diinginkan oleh imperialisme Barat berkembang di kalangan pribumi untuk mempermudah geraknya dalam menguasai negeri-negeri muslimin dan melumpuhkan setiap perlawanan dengan satu pukulan di ubun-ubun.

Sama sekali tidak sukar dipahami apabila imperialisme memang benar-benar bermaksud menyingkirkan jihad fi sabilillah dari pandangan hidup muslim. Dan itu tidak semata-mata ditempuh dengan membakar Hikayat Prang Sabil karya Tengku Chik Pante Kulu, sebagaimana diketahui, misalnya, tapi juga dengan menjauhkan berbagai hal yang menyadarkan muslim untuk berjihad.

Kasus dalam makna serupa juga dilakukan dalam kajian epigrafi Samudra Pasai. Dari keterangan almarhum T. Ibrahim Alfian diketahui bahwa J.P. Moquette (1913) dengan bantuan Dr. Van Ronkel telah melakukan pembacaan terhadap inskripsi syair yang terdapat pada nisan Al-Malik Ash-Shalih di Beuringen Samudera Aceh Utara. Sekalipun Alfian tidak mengungkapkan secara jelas apakah J.P. Moquette dan rekannya juga melakukan pembacaan terhadap inskripsi pada kedua batu nisan makam Al-Malik Azh-Zhahir yang berdampingan dengan makam Al-Malik Ash-Shalih, tapi saya memperkirakan hal itu telah dilakukan oleh keduanya. Alfian menyalin inskripsi yang terdapat pada nisan kaki makam Al-Malik Azh-Zhahir dalam bukunya Kronika Pasai; Sebuah Tinjauan Sejarah (hal. 23)—Alfian menyebutnya di nisan kepala, dan ini kesilapan yang dapat dimaklumi.

Anehnya dalam hal ini, tak seorang pun mengungkapkan tentang ayat Al-Qur’an yang terpahat pada batu nisan kepala makam Al-Malik Azh-Zhahir, yang juga terpahat pada banyak nisan di makam-makam lainnya. Padahal kaligrafi yang digunakan sama dengan kaligrafi inskripsi pada nisan kaki makam tersebut, di mana terdapat catatan nama dan tarikh wafat Al-Malik Azh-Zhahir, yaitu khath nasakh, malah inskripsi ayat itu terlihat lebih jelas, dan lebih mudah dibaca daripada inskripsi syair pada nisan makam Al-Malik Ash-Shalih.

Ayat itu adalah ayat 21 surah At-Taubah atau Bara’ah yang menerangkan tentang pahala dan balasan-balasan Allah bagi mereka yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan-Nya dengan jiwa dan harta sebagaimana yang terdapat pada ayat sebelumnya, ayat 20 surat tersebut.

Hemat saya, keberadaan ayat ini pada nisan makam tersebut telah sengaja ditutupi dan tidak diungkapkan dalam berbagai kajian tentang epigrafi Samudra Pasai. Tak pelak lagi, ini tentunya dalam rangka menghindari segala hal yang berkaitan dengan jihad, dari satu sisi, dan agar tidak merusak asumsi atau pendapat yang dikembangkan oleh imperialisme menyangkut proses Islamisasi nusantara, dari sisi yang lain. Maka, sungguh menggelikan ketika ada sebagian anak negeri Islam hari ini yang tidak henti-hentinya berdecak kagum terhadap mitos objektivitas yang diusung metodologi Barat!

Imperialisme berhasil menanamkan suatu kesadaran lain dalam batin pribumi yang mayoritas muslim. Dan itu sangat halus. Reaksinya berjalan lamban tapi pasti, slow but sure—satu di antara sekian strategi imperialisme Barat yang diakui sangat mujarab.

Pertengahan abad XX berbagai usaha imperialisme akhirnya dimahkotai dengan lenyapnya kawasan-kawasan politik Islam di Asia Tenggara. Pelbagai usaha ke arah pengembalian kehidupan politik serta kenegaraan ke dalam ranah Islam, sebagaimana masa lalu, berakhir gagal di tengah gelombang besar pemikiran nasionalisme yang berkembang di negeri-negeri Islam bekas jajahan Barat.

Fakta kegagalan imperialisme-kolonialisme Barat dalam targetnya untuk menguasai negeri-negeri Islam di nusantara pada abad XX secara geo-politis, tidak dapat dipersepsikan bahwa mereka telah gagal mutlak. Imperialisme Barat berhasil relatif maksimal dan tepat waktu dalam menggulingkan peran Islam sebagai pranata kehidupan masyarakat muslim serta memantapkan sebagai gantinya pranata model Barat dalam berbagai aspek kehidupan; politik, hukum dan perundang-undangan, pendidikan maupun lainnya. Model itu berdiri tegak penuh bangga di atas puing-puing peradaban Islam yang menurutnya telah dikalahkan.

Mencari Negeri yang Hilang

Kota Islam Samudra Pasai pun lenyap dalam perut zaman, mencapai titik kulminasi kepunahannya secara maknawi selama lebih seratus tahun terakhir. Karakteristik sejarahnya berhasil dicopot dan digantikan dengan berbagai mitos pada tempatnya. Ia lantas cuma dikenang dalam bagian kecilnya, tidak dalam bobot seutuhnya. Imperialisme boleh tertawa atas kemenangannya itu dalam kubur-kubur mereka, dan Barat boleh berbangga atas apa yang telah dipersembahkan oleh para leluhur mereka! Namun itu tentu tidak untuk selamanya.

Benar, para pendahulu tanah ini menderita kekalahan dalam konfrontasi fisik dan budaya dengan kaum Kristiani Barat pada putaran terakhir. Tapi suatu hal yang tidak disangka-sangka, dan di luar jangkau pikir imperialisme, para pendahulu ternyata telah berjaga-jaga. Mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk hari kekalahan tersebut. Mereka seperti menghendaki agar di putaran-putaran lain di masa depan, kemenangan berpihak pada generasi yang mereka tinggalkan.

Adalah kecemerlangan amat mengagumkan ketika mereka meninggalkan jejak yang amat jelas sejelas bekas tapak-tapak kaki yang tercetak di tanah liat sehabis hujan. Itu agar generasi berikut mereka dan hari ini menemukan mereka. Malah barangkali sebaliknya, merekalah sesungguhnya yang datang dari masa lampau untuk menemui kita, namun lama sudah kita tidak mengacuhkan mereka!

Epigrafi pada nisan-nisan yang bertebaran di bekas kawasan kota Samudra Pasai, yang dilaporkan oleh Ibnu Bathuthah sebagai kota yang indah dan besar, memberikan petunjuk-petunjuk amat kuat bagaimana peristiwa penyebaran Islam sebenarnya terjadi; bagaimana sesungguhnya sebuah kesatuan politik dalam bentuk kerajaan Islam, di utara Sumatera terbentuk.

Epigrafi pada beberapa nisan menunjukkan secara jelas dari mana pembangun Samudra Pasai berikut keturunannya berasal. Bersama mereka warisan budaya Islam dari kawasan Islam lain pun datang untuk memancang tiang peradaban yang pada gilirannya kelak berhasil mengangkat budaya bangsa-bangsa setempat yang masih terbelakang ke dalam suatu perpaduan budaya yang lebih maju dan cemerlang. Untuk sekadar membuktikan hal ini, sebuah misal akan diajukan. Selama ini, bahkan jauh sebelum ini, Anda dan saya belum pernah menjumpai nama Rajakhan tersebut dalam apapun literatur historiografi Samudra Pasai—pengambilan misal ini lantaran “nama dan penamaan” juga merupakan salah satu fenomena budaya paling menonjol.

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar nama seperti itu—makam salah seorang pemilik nama tersebut terdapat di Kuta Karang, Samudera, Aceh Utara; pada nisannya tertulis Rajakhan Al-Ma’ruf (terkenal), wafat pada 834 H/1431 M.

Dengan berbagai hikayat dan mitos yang menceritakan tentang Samudra Pasai, saya, dan mungkin siapa pun, tidak akan pernah membayangkan nama semacam ini bisa muncul di bekas kerajaan yang konon menurut ahli sejarah, tidak pernah terdengar perkembangan seni budaya dari masyarakatnya (lihat, Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk Kelas XI SMA, hal. 98)

Bukankah dari nama itu kita dapat melihat suatu kombinasi geneologis, politis dan budaya antara kawasan di selatan anak benua India serta kepulauan dan semenanjung Melayu: raja, dengan kawasan di utara India dan Asia Tengah: khan.

Epigrafi Samudra Pasai menunjukkan bahwa banyak teori dalam penyejarahan Samudra Pasai yang mesti dirombak, jika bukan dibuang sama sekali. Begitu pula dengan watak perkotaan Samudra Pasai.

Jelas, warisan budaya Islam yang telah mapan di utara India dan Asia Tengah telah mengambil tempatnya di utara Sumatera pada masa-masa awal perkembangan Islam di nusantara sebelum kemudian melahirkan satu watak budaya Islam yang khusus dan unik.

Apabila epigrafi Samudra Pasai telah memunculkan kenyataan tersebut dengan sangat terang, tiba waktunya untuk menemukan kenyataan-kenyataan lain yang selaras dengan kenyataan tersebut.

Puing-puing dalam berbagai ragam bentuk yang ditemukan di kawasan kota kuno Samudra Pasai relatif memberikan dukungan terhadap kenyataan epigrafis. Namun penemuan yang dianggap sangat berarti terjadi pada Oktober 2008, saat dalam satu penggalian ditemukan bekas fondasi sebuah bangunan yang terbenam lebih satu meter dari permukaan tanah. Penemuan tersebut kemudian disusul dengan penemuan serupa pada Februari tahun ini. Temuan kali ini berupa bangunan yang telah ambruk, menyisakan puing-puing setinggi dua meter lebih; sekitar 1,2 meter sisa bangunan menyuruk ke dalam tanah, dan sekitar 1 meter lebih berada di atas tanah membentuk gundukan tanah tinggi seluas 32X30 m2.

Letak puing bangunan yang terbuat dari batu bata merah tersusun sedemikian rupa dan diperkirakan menghadap ke arah barat, ini juga dapat memberikan beberapa informasi penting tentang tata ruang kota Samudra Pasai yang indah sebagaimana ditulis Ibnu Bathuthah dalam laporan lawatannya ke Samudra Pasai pada 747 H/1347 M.

Secara umum, dari dua temuan bekas bangunan ini dapat disimpulkan bahwa Samudra Pasai telah menerima pengaruh budaya Islam dari kawasan di utara India seperti kota Delhi, atau Asia Tengah, seperti kota Bukhara, kala itu. Ini terlihat dari keseragaman seni arsitektur yang berkembang di dua kota tersebut dengan seni arsitektur yang berkembang di Samudra Pasai.

Usaha untuk menemukan kembali kota kuno Samudra Pasai lewat penyelidikan dan ekskavasi perlu dilanjutkan sebab akan memberikan kontribusi ilmu pengetahuan yang lebih luas tentang corak dan watak kerajaan Islam di Asia Tenggara. Dan diharapkan, suatu hari, sejarah Samudra Pasai dapat lepas dari kungkungan berbagai mitos yang telah menciptakan persepsi keliru tentang watak perkembangan Islam di nusantara.

Ledak-Letup Kegundahan

Entah karena memang benar banyak nilai-nilai yang telah bergeser dalam masyarakat Aceh. Entah benar anggapan bahwa orang Aceh, dalam berbagai lapisan dan strata kehidupannya, cuma mementingkan apa saja yang membawa keuntungan materil, tidak peduli nilai-nilai yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Jangankan kaum awam, kalangan yang mengaku sebagai pribadi-pribadi pemelihara nilai-nilai luhur ternyata juga bekerja untuk kepentingan pribadi.

Entah benar keikhlasan dan ketulusan adalah suatu hal yang sulit sekali dipercaya, tidak masuk akal, sekalipun nama Tuhan sudah dibawa-bawa. Kepercayaan menjadi barang amat mahal dalam masyarakat, yang mengaku diri mereka mu’min. Sebuah potret masyarakat dengan warna yang amat kusam.

Entahlah jika itu memang suatu realita yang sukar dipungkiri. Jelasnya persepsi semacam itu sering terdengar, dan malah diyakini memang demikian. “Pokoknya tidak ada orang yang berbuat untuk kepentingan orang lain. Semuanya berbuat untuk kepentingan pribadinya. Titik!”

Entahlah, cuma yang jelas tak ada yang bisa mengelak dari hantaman persepsi ini, termasuk gerak penelitian untuk menemukan dan mengangkat sejarah Islam dari puing-puing Samudra Pasai. Terjangan kecurigaan, terkadang, mendepak k.o. gerak penelitian, terpental dari ring dan pertandingan sering harus dihentikan untuk sejenak. Ketika itulah ketulusan diperlakukan seperti layaknya sebuah ketololan. “Di zaman ini, cuma orang-orang bodoh, dungu, yang berbuat ikhlas. Lain itu, nonsense!”

Siapa yang rugi? Tidak lain adalah masa depan bangsa ini. Sebab, untuk waktu sekarang, mengharapkan peran dan partisipasi pihak-pihak berwenang dan bertanggung jawab dalam masalah-masalah menyangkut kebudayaan sebagaimana peran para khalifah dan sultan zaman dahulu dalam menggalakkan ilmu pengetahuan dan budaya, adalah suatu yang teramat sulit—barangkali kata mustahil lebih tepat!

Mungkin, karena bagi “sultan-sultan” beserta perangkatnya hari ini, kebudayaan tidak begitu penting. Kebudayaan terkadang hanya diperlukan untuk menjadi kulit luar misi-misi politis, dan panggung hiburan (peasan). Hiburan tentu banyak didukung dan diminati oleh orang-orang yang suka mengendurkan urat-urat sarafnya, dan gemar mengeritik kemajuan yang dicapai oleh orang lain sambil bawa-bawa endatu geutanyoe (leluhur kita)—di mana endatu, di mana kita?!

Untuk hal memproduksi, menambah serta menyebarkan wawasan kebangsaan-keagamaan, pemahaman dan ilmu pengetahuan dianggap tidak begitu urgen dalam dunia di mana berbagai bangsa sudah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai national security-nya! Lebih baik selalu menjadi pengekor asal bisa bersenang-senang hari ini! Tidak perlu ambil pusing dengan generasi mendatang yang mungkin akan kehilangan negeri, bangsa dan boleh jadi juga agama mereka—para priyayi dan uleebalang yang hidup di bawah ketiak penjajah juga melakukan hal yang sama dahulunya!

Ketidakpedulian ini tanpa disadari seperti menimbun gunung di atas puing-puing Samudra Pasai sehingga semakin tak terlihat dalam semayamnya di kesenyapan zaman. Maka, tidak perlu menyalahkan generasi mendatang apabila mereka tidak menghargai kita! Mereka belum pernah diperkenalkan dengan identitas dirinya sementara kita asyik mengeruk keuntungan dari tanah yang kita katakan mencintainya!

Itu satu hal. Lainnya, iklim materialisme yang sudah tidak kepalang tanggung menyebabkan runtuhnya rasa saling percaya di antara sesama, sehingga gerak penelitian itu juga tidak jarang dihadang tuduhan-tuduhan dan ragam hasutan dari sebagian masyarakat yang belum punya kesadaran budaya yang tinggi serta minim pendidikan yang berbasis pembentukan pola pikir beradab dan berbudaya.

Ini semua menjadi rintangan di jalan penelitian. Dan apa pun kenyataannya, pihak-pihak resmi pemerintah yang berwenang dalam hal ini mesti punya rasa tertuntut—apabila masih punya perasaan—untuk menambah vitalitasnya; beugarang, beuseu’u, dendang Rafly. Kelesuan dan stagnasi tidak pernah relevan dengan ajaran Islam, begitu pula dengan zaman di mana kita berhadapan dengan berbagai tantangan globalisasi.

Inilah ledak-letup kegundahan. Saya kira kita tidak miskin kewarasan dan kedewasaan untuk mencoba mendiskusikannya, dan kita tentu telah lama meninggalkan pola respon sentimentil seperti layaknya perawan yang tersinggung digoda seorang jejaka! Penulis baris-baris ini pun tidak jarang ditunjuk-tunjuk ke matanya, dituduh antek-antek dari etnis yang diumpat dengan laknatillah sesaat melakukan penelitian. Tapi jelas kita tidak perlu cengeng, mengusap mata sambil mengancam: ingat, kuadukan kepada orangtuaku!

Lebih dari itu, bukankah kita percaya bahwa air mengalir lebih baik dari air yang tergenang?!

Penulis adalah Peneliti Sejarah Kebudayaan Islam