Menjenguk Sang Raja di Pulo Nasi

Pemandangan Pulo Nasi di Gampong Lamteng, sebuah gampong yang berperan sebagai dermaga ketibaan di Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Pemandangan Pulo Nasi di Gampong Lamteng, sebuah gampong yang berperan sebagai dermaga ketibaan di Pulo Nasi. (Foto: CISAH)

Pulo (pulau) Peunasou atau  yang lebih dikenal dengan nama Pulo Nasi terletak pada koordinat 5°37′0″ LU dan 95°7′0″ BT, barat laut Banda Aceh. Pulau kedua paling besar dalam jejeran pulau-pulau di barat laut Banda Aceh ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan memiliki lima gampong, yaitu Lamteng, Raboe, Alue Reuyeung, Pasi Janeng dan Deudap. Sedangkan pulau-pulau besar lainnya dalam gugusan Pulo Aceh ini adalah Pulo Teunom, Pulo Bunta, dan terakhir Pulo Breuh sebagai ibukota kecamatan.

Pulo Nasi di barat laut Banda Aceh (Ilustrasi: misykah.com)
Pulo Nasi di barat laut Banda Aceh (Ilustrasi: misykah.com)
Pulo Nasi, pulau kedua terbesar dalam gugusan pulau yang kini merupakan Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: CISAH)
Pulo Nasi, pulau kedua terbesar dalam gugusan pulau yang kini merupakan Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: CISAH)

Berawal dari sebuah informasi yang di-posting-kan seorang teman bernama Monasco (23) di jejaring sosial (Facebook) group Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) tentang adanya satu komplek makam kuno di Pulo Nasi, kami jadi tak sabar untuk berkunjung ke tempat tersebut. Apalagi bila melihat gambar-gambar makam yang di-posting-kan, tak pelak lagi, di balik makam-makam megah itu tentu tersembunyi banyak kisah. Monasco yang juga salah seorang pengurus Pemuda Aceh Peduli Sesama (PAPS) dan pernah berkunjung ke pemakaman itu pada saat mengikuti sebuah kegiatan bakti sosial di sana, mengatakan bahwa pemakaman itu berada di samping bangunan SLTP Gampong Alue Reuyeung. “Di papan informasinya tertulis, Makam Raja Kandang,” ujarnya saat dijumpai, Kamis 21/11/2013.

Tepat pukul 14.00 WIB, Kamis itu juga, kami tiba di dermaga Ulee Lheue. Di sana sudah menanti kapal motor (boat) yang siap mengangkut penumpang yang ingin menyeberang ke pulau namanya terdengar lezat itu. Ongkos angkutan yang menempuh jarak sekitar 10 mil itu ternyata juga tidak mahal. Cuma Rp. 15.000 per orang. Setelah menunggang laut selama kurang lebih 45 menit, kami mendarat di dermaga Gampong Lamteng. Jam saat itu hampir pukul 15.00 WIB. Dari sana, langsung menuju Gampong Alue Reuyeung di mana komplek makam Raja Kadang itu berada. Sepanjang perjalanan dan terutama saat melintasi bagian gampong Pasi Janeng, panorama laut dari jalan-jalan di atas perbukitan nampak begitu memikat. Kami sempat larut dalam sajian keindahan itu, dan hampir saja lupa daratan tempat kami berasal di pesisir utara Aceh sana. 20 menit sudah berlalu di atas sepeda motor dan tanpa terasa kami telah memasuki Gampong Alue Reuyeung.

Perjalanan menuju Pulo Nasi (Foto: CISAH)
Perjalanan pulang dari Pulo Nasi (Foto: CISAH)
Dermaga Lamteng di Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Dermaga Pulo Deudap di Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Suasana di dermaga Lamteng, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Suasana di dermaga Lamteng, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)

Raja Kandang

Di sebuah warung di Gampong Alue Reuyeung, kami mencoba mencari tahu bagaimana dapat menjumpai Geuchik Gampong (kepala desa) untuk memberitahukan maksud kedatangan kami. “O, Pak Geuchik jam sekarang belum pulang dari sawah,” jelas pemilik warung. Karena hari sudah menjelang sore, kami pun lantas mohon seorang warga untuk bersedia mengantarkan kami ke komplek makam Raja Kandang.

Komplek makam Raja Kandang di Alue Reuyeung, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Komplek makam Raja Kandang di Alue Reuyeung, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)

Setelah sebentar berjalan kaki dan belum jauh dari warung tadi, tepat di depan mesjid Gampong Alue Reuyeung, tampaklah sebuah komplek makam yang sudah dipagar dan lumayan terawat—cuma saja belum diberi cungkup. Komplek makam itu terlihat persis seperti pada gambar yang ditunjukkan Monasco dua hari lalu di jejaring sosial. Isman (22) yang menemani kami sejak tadi menuturkan bahwa pemugaran komplek makam ini dikerjakan pihak Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. “Itu setahun sesudah Tsunami,” tuturnya.

Amatan kami, di dalam komplek makam yang berukuran 7×7 meter itu cuma ada satu makam saja. Makam itu memiliki badan berukuran 2×0.70 meter, dan tampaknya berasal dari zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Seperdua struktur badan makam sudah terjatuh. Di bagian atas badan makam yang sudah terguling itu masih tampak jelas pahatan kaligrafi Arab (inkripsi). “Bagian badan makam ini terjatuh saat hempasan gelombang tsunami 2004 silam,” ungkap Isman.

Disayangkan, kedua nisan pada makam tua tersebut sudah raib. Jejak yang tersisa dari dua nisan ini hanya dua lubang tempat letaknya yang berdiameter 30 cm, satunya di sisi paling utara badan makam dan satunya lagi di sisi paling selatan.

Makam Raja Kandang di Alue Reuyeung, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Makam Raja Kandang di Alue Reuyeung, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)

Selain makam, di komplek tersebut juga dijumpai sebongkah batu berbentuk kubus berdiameter 70 cm. Informasi yang diberikan Isman, bongkahan batu ini diyakini sebagai batu pijakan raja saat hendak menunggang kuda. Selain dua tinggalan kuno tersebut, tidak ditemukan lainnya.

Karena cahaya matahari, pada waktu itu, masih cukup memadai untuk kami melakukan pemotretan, maka kami mendokumentasikan makam Sang Raja di pulau seberang ini secara lebih detail, baik inskripsi maupun berbagai ragam motif hiasnya.

Nisan Raja Kandang yang telah hilang, dan kini hanya tersisa lubang kosong. (Foto: CISAH)
Nisan Raja Kandang yang telah hilang, dan kini hanya tersisa lubang kosong. (Foto: CISAH)

Satu Malam di Pulau

Tidak lama lagi gelap mulai turun ketika kami bergegas meninggalkan lokasi pemakaman itu menuju rumah Pak Geuchik Gampong Alue Reuyeung. Geuchik Syarbini Haji, namanya. Setibanya kami di rumah kediaman pria berusia 53 tahun ini, ia rupanya baru saja pulang dari sawah. Pak Syarbini menyambut ramah dan mempersilahkan masuk. Membuka bicaranya, Pak Geuchik menanyakan tempat asal dan tujuan kami datang ke gampongnya. Setelah kami memperkenalkan diri seraya menyatakan maksud kedatangan untuk meninjau makam Raja Kandang, Pak Syarbini tidak dapat menyembunyikan rasa takjub dan suka citanya. Ia lantas menawarkan kami untuk makam malam dan menginap di rumahnya. “Di sini tidak ada warung makan ataupun penginapan,” ujarnya meyakinkan kami untuk menerima tawarannya. Ia juga berjanji, nanti malam, akan mempertemukan kami dengan Teungku Syahril Riza Al-Fahmi. “Beliaulah orang yang lebih paham tentang sejarah Pulo Nasi, dan tentang Raja Kandang,” terang Geuchik Syarbini yang membuat kami tanpa ragu lagi menerima tawarannnya.

Areal persawahan di Alue Reuyeung yang menjadi lahan mata pencarian warga. (Foto: CISAH)
Areal persawahan di Alue Reuyeung yang menjadi lahan mata pencarian warga. (Foto: CISAH)

Geuchik Syarbini lalu mengisahkan bahwa dulunya, sebelum tsunami, jumlah penduduk yang paling banyak di Pulo Nasi ini adalah di Gampong Alue Reuyeung. “Tapi karena gampong ini termasuk kawasan paling parah terkena bencana tsunami, banyak warga gampong yang menjadi korban keganasan gelombang tersebut,” tuturnya dengan raut wajah yang masih membayangkan kepiluan. “Dari seluruh gampong di Pulo Nasi,” lanjut Syarbini, “cuma satu gampong yang selamat dari hantaman tsunami, Gampong Raboe. Sebab, letaknya di daerah paling tinggi di pulau ini, dan sekarang menjadi gampong terbanyak jumlah penduduknya di banding gampong-gampong lain di Pulo Nasi.”

Suatu hal yang juga amat menarik di Gampong Alue Reuyeung, selain komplek pemakaman Raja Kandang, adalah areal persawahannya. Jadi, sekalipun Alue Reuyeung berada di pulau yang kelilingnya tentu laut, tapi masyarakat Alue Reuyeung justeru menafkahi hidup mereka dari bertani di sawah. Malah, ini menjadi mata pencarian pokok mereka, dan sawah di situ merupakan warisan turun-temurun sejak dahulunya. Barangkali dikarenakan kemakmuran gampong inilah, maka di sini terdapat kubur seorang raja dan memiliki penduduk yang padat. Jangan-jangan, di sinilah dulunya pusat kedudukan penguasa pulau-pulau di barat laut Aceh ini.

Tengah asiknya kami menyimak penuturan Pak Syarbini mengenai gampongnya, dari arah Mesjid terdengar tilawatul Qur’an. Waktu Maghrib akan tiba beberapa menit lagi. Pak Syarbini mempersilahkan kami untuk bersiap-siap shalat Magrib. “Selesai shalat, kita pergi ke rumah Teungku Syahril,” katanya mengingatkan.

Artefak yang dipercaya sebagai batu pijakan raja untuk menunggang kuda. (Foto: CISAH)
Artefak yang dipercaya sebagai batu pijakan raja untuk menunggang kuda. (Foto: CISAH)

Keterangan Anak Bupati

Leubok adalah salah satu dusun di Gampong Alue Reuyeung. Tidak mudah juga mencapai Dusun Leubok di waktu malam. Selain tidak ada penerang jalan, menuju ke dusun itu juga harus dengan menanjaki bukit, ditambah lagi dengan jalan yang sangat tidak mulus. Meski harus menguras seluruh cadangan energi yang tersimpan, tekad sudah bulat untuk bertemu Teungku Syahril Riza Al-Fahmi yang tinggal di Dusun Leubok. Berbekal gula, kopi, roti dan sebungkus rokok sebagai bawaan lazimnya adat orang Aceh saat ingin bertamu, kami reli juga ke dusun tersebut. Di tengah perjalanan sempat juga berpapasan dengan buldozer dan beberapa pekerja yang sedang memperbaiki jalan menuju Deudap, gampong timur Alue Reuyeung. Sekitar 20 menit dari dusun Raja Kandang, kami sudah tiba di ujung Dusun Leubok, tepat di depan rumah Teungku Syahril.

Pak Syarbini, Geuchik Gampong Alue Reuyeung, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Pak Syarbini, Geuchik Gampong Alue Reuyeung, Pulo Nasi. (Foto: CISAH)

Kedatangan kami segera disadari pemilik rumah lantaran suasana di situ memang sepi. Begitu kami mematikan mesin sepeda motor, pintu rumah langsung dibuka. “Oh, na Pak Geuchik lago, piyoeh! Neu tamong u dalam (O, ternyata Pak Geuchik. Silakan masuk!),” suara ramah istri Teungku Syahril mempersilahkan tamunya.

Pak Geuchik Syarbini kemudian memperkenalkan kami kepada Teungku Syahril sekaligus menjelaskan perihal kedatangan kami yang kami iyakan dengan berkali-kali anggukan.

“Syukur, Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih dipercaya masyarakat sebagai orang yang bisa bercerita tentang peristiwa-peristiwa bersejarah di pulau ini,” ucap Teungku Syahril setelah mendengar penjelasan Pak Geuchik, yang lalu melanjutkan, “saya bukan ahli sejarah, namun saya diberi kesempatan oleh Allah untuk sering ikut berpergian bersama seorang sejarawan dan mantan gubernur Aceh, Prof. Dr. H. Ali Hasjmy.”

“Waktu itu saya sedang beranjak dewasa,” tutur Teungku yang sudah berusia genap 52 tahun ini, “Ali Hasjimy adalah teman dekat ayah tiri saya, Haji Ibnu Sa’dan. Beliau adalah Bupati Aceh Barat pertama, memerintah mulai 20 September1945 sampai dengan 15 Juni 1947. Karena ayah tiri saya lebih tua dari ayahanda, panggilan saya untuk Ali Hasjmy, maka setiap kali ada kajian sejarah Hasjmy sering memberitahukan ayah saya, dan saya hadir bersama mereka. Kemudian, pada tahun 1979, saya pernah diajak Hasymy berkunjung ke beberapa tempat bersejarah, yaitu ke makam Raja Jeumpa, Pasai, Pereulak sampai ke Barus. Termasuk juga kemudian dalam penelusuran hubungan antara Aceh dan Karo yang dikerjakan Hasjmy.”

“Mengenai Raja Kandang,” kata Teungku Syahril beralih ke topik yang ingin dibicarakannya, “Raja Kandang itu tidak diketahui secara pasti nama asli dan dari mana asalnya. Secara turun temurun, masyarakat menyebutnya dengan Raja Kandang. Kalau dilihat dari sisi arti kata, kandang itu berarti tempat pemakaman. Di Aceh, beberapa komplek makam raja disebut dengan kandang. Menurut saya, Raja Kandang itu sendiri, mungkin, berarti: makam raja. Tapi warga setempat percaya jika Raja Kandang ini punya hubungan dengan Kerajaan Deli. Ini kemudian dikuatkan dengan kedatangan orang-orang Deli, Sumatera Utara, kemari sekitar tahun-tahun 60-an. Mereka mengaku sebagai keturunan Raja Kandang. Lantas, mereka melakukan semacam ritual; mereka melepas ayam jantan putih untuk pembuktian. Syaratnya, apabila ayam putih itu naik ke atas makam Raja Kandang dan berkokok, itu tandanya mereka benar-benar keturunan Raja Kandang. Ketika ayam putih itu dilepas, ternyata ayam putih itu memang naik ke atas makam dan berkokok. Setelah itu, ayam tersebut langsung disembelih dan dikendurikan untuk masyarakat. Hal ini bukan sekali terjadinya. Saya sempat menyaksikannya tiga kali.”

 

Teungku Syahril Riza Al-Fahmi, tokoh masyarakat Pulo Nasi dan narasumber sejarah Pulo Nasi. (Foto: CISAH)
Teungku Syahril Riza Al-Fahmi, tokoh masyarakat Pulo Nasi dan narasumber sejarah Pulo Nasi. (Foto: CISAH)

Mengenai adanya kaitan antara Raja Kandang ini dengan orang-orang Deli, Teungku Syahril juga menyebutkan pendapat Dr. Husaini Ibrahim (arkeolog-red) yang mengatakan bahwa kalau ia perhatikan dari sisi ornamen (motif hias) dan corak nisan, maka antara makam Raja Kandang ini dan makam Raja Deli memiliki beberapa persamaan. Namun Teungku Syahril tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai sisi-sisi persamaan tersebut.

Menurut Teungku Syahril, beberapa peneliti pernah datang ke makam Raja Kandang untuk mengkaji inskripsi yang terpahat di badan makam, termasuk H. Ali Hasjmy, namun belum seorang pun yang berhasil membaca tulisan tersebut. “Ada yang mengatakan kalau itu adalah tulisan urdu, Arab dan lainnya. Namun yang jelas, semua sependapat kalau itu merupakan sebuah tulisan. Mungkin karena tulisan itu belum berhasil dibaca, maka sosok Raja Kandang itu belum pernah terungkap.”

Sementara apa saja yang diketahui tentang Kerajaan Raja Kandang itu pun masih bersumber pada tradisi lisan. Konon katanya, pemerintahan Kerajaan Raja Kandang ini berpusat di Dusun Kandang, Alue Reuyeung, sekarang. Wilayah inti Kerajaan Raja Kandang dikelilingi oleh pos-pos penjagaan lengkap dengan benteng-benteng pertahanan yang di sebut dengan tuan. Raja Kandang mempunyai 9 tuan (benteng pertahanan), 7 berada dalam pulau, dan 2 di luar pulau Nasi. 7 benteng/pos penjagaan dalam pulau terbagi 2, yaitu 3 berada dalam kawasan pusat kerajaan , sekarang dikenal dengan Tuan Di Cinue, Tuan Uteun Paya, dan Tuan Lhok Asan. Kemudian, 4 pos penjagaan lainnya tersebar di beberapa tempat dalam pulau tersebut, yaitu Tuan Di Nipah, Tuan Ujong Pei, Tuan Di Buket, dan Tuan Ujong Tungon. Sedang 2 pos penjagaan lainnya di luar pulau utusan Raja Kandang yaitu Tuan Di Kala berada di Pulau Breuh, dan Tuan Di Pulo berada di kawasan Ujong Pancu.

Selain memiliki pos pertahanan dan benteng, Raja Kandang juga memiliki qadhi kerajaan, satu di antaranya berasal dari Kerajaan Pidie, yang dikenal dengan Teungku Di Caleu. Di antara kiprah Teungku Di Caleu yang tersohor ialah saat menggagalkan serangan Portugis di wilayah benteng pertahanan Tuan Di Buket. Saat itu Portugis sudah berhasil menghancurkan beberapa benteng pertahanan Raja Kandang, bahkan mereka berhasil masuk sampai benteng pertahanan terkhir, yaitu Tuan Di Buket, yang berada sekitar 2 kilometer dari pusat kerajaan. Setelah Portugis berhasil mengalahkan pasukan Tuan Di Buket itulah, Teungku Di Caleu bertindak. Dengan karamahnya, beliau berdoa supaya Portugis tidak dapat masuk ke jantung kerajaan, dan seketika itu pula pasukan Portugis diserang kerumunan langong (lalat besar). Akhirnya, pasukan Portugis terpaksa lari meninggalkan tempat tersebut. Buket itu sekarang dikenal dengan nama “Gle Kaphe” (bukit di mana orang-orang kafir kalah dan lari).

Saat ditanyakan mengenai nisan makam Raja Kandang yang sudah hilang, Teungku Syahril menuturkan bahwa di antara cerita-cerita yang pernah didengarnya secara turun temurun: nisan Raja Kandang itu dilapisi emas. Saat Kolonial Belanda melakukan ekspansi ke Pulo Nasi, mereka tidak hanya menjarah hasil pertanian masyarakat, tetapi juga mengambil semua sisa tinggalan sejarah yang berharga, mulai benda-benda keramik yang ditinggalkan kerajaan Raja Kandang sampai dengan menjarah nisan Raja karena terbuat berlapis emas. Cuma saja, mereka tidak berhasil membawanya jauh. Masih di dekat pantai Pulo Nasi, kapal mereka karam bersama seluruh benda jarahan.

Cerita ini nampaknya masuk akal, lanjut Teungku Syahril, sebab setelah tsunami masyarakat Gampong Deudap dikejutkan dengan temuan tembikar dalam jumlah yang menonjol dan variatif. “Sebelum tsunami benda-benda semacam itu tidak pernah dijumpai di sana,” ungkapnya lagi, “Saya kira, keramik-keramik itu tentulah berasal dari muatan kapal Belanda yang tenggelam dulu, dan ketika tsunami menghantam Pulo Nasi, benda-benda itu pun kembali mendarat di pulau.”

Selain tembikar dan aneka keramik, Teungku Syahril pun pernah mendengar masyarakat di situ menemukan jangkar kapal tua seukuran betis manusia. “Jangkar itu ditemukan karena nyangkut di jala ikan milik nelayan,” jelasnya.

Seingat Teungku Syahril, sebelum tsunami 2004, komplek makam dengan batu-batu nisan berukir itu masih banyak yang terlihat. Batu-batu nisan itu jika dijumlahkan, mungkin, akan mencapai ratusan. Paling banyaknya di komplek makam Raja Kandang, tapi sekarang hanya beberapa nisan saja yang tersisa. Selain di komplek makam Raja Kandang, ada lagi komplek makam Tuan Di Cinue di Gampong Alue Reuyeung juga; ada 4 batu nisan di situ. Kemudian, masih di gampong yang sama ada juga komplek makam Tgk Di Bayu; di situ 3 nisan. Lalu di Gampong Raboe ada beberapa komplek makam antara lain makam Ja Raboe (4 batu nisan), dan makam Tuan Di Buket (1 nisan). Kabarnya, komplek makam Tuan Di Buket ini pernah digali secara liar karena dikira menyimpan emas.

Dalam Bingkai Harapan

Malam sudah larut ketika cerita tentang Sang Raja sudah cukup memuaskan kami sampai ke tahap ini. Saat itu kami yakin, sudah banyak kisah yang dapat kami angkut ke daratan pulau yang lebih besar bersama kami esok hari. Namun, malam tidak dapat menidurkan harapan Teungku Syahril yang amat mencintai pulaunya itu. “Saya punya satu ambisi besar untuk dapat menuliskan profil dan sejarah Pulo Nasi secara lengkap,” katanya dengan nada suara menyemburkan tekad yang kuat, “Selama ini, tidak banyak yang diketahui umum tentang pulau ini. Sekian cerita masih tersimpan dalam memori masyarakat, belum pernah ditulis atau dibuatkan suatu kajian.”

“Berharap pada Pemerintah, maka akan sangat lambat,” tandasnya lagi, “kalau bukan kita sendiri yang mengerjakannya, siapa lagi?!”

Semangat kami seolah dipecut. Ucapan laki-laki yang sudah berusia lebih separoh abad ini begitu menggetarkan. “Waktu” tampak seolah tak mampu menundukkan semangatnya.

Salah satu motif hias pada badan makam Raja Kadang. (Foto: CISAH)
Salah satu motif hias pada badan makam Raja Kadang. (Foto: CISAH)

Ia juga tampak sangat apresiatif terhadap berbagai kegiatan positif yang dilakukan kaum muda. Kepada kami, ia memberitahukan bahwa dalam Januari tahun depan, sekitar 40 mahasiswa perwakilan dari organisasi-organisasi mahasiswa pecinta alam seluruh Indonesia akan datang ke Pulo Nasi. Mereka akan melakukan serangkaian kegiatan, termasuk di antaranya kegiatan gotong royong di komplek makam Raja Kandang. Rencananya, badan makam Raja Kandang yang telah jatuh karena tsunami juga akan diangkat dan diletakkan kembali ke posisinya semula. “Kalian juga turut kami undang,” ujar Teungku Syahril kemudian, “sebab sebagian agenda kegiatannya berkenaan dengan peninggalan sejarah.”

Belum sempat menjawab, Teungku yang bijak itu sudah seperti dapat membaca apa yang berjuntai-juntai dalam benak kami. “Dan nanti juga akan ada kesempatan untuk kita mengunjungi beberapa situs sejarah yang belum sempat dikunjungi,” tutupnya yang kami timpali dengan berkali kata-kata ya, InsyaAllah, sembari menganggukkan.

Setelah pamitan, ternyata hanya tubuh kami yang beranjak dari tempat itu, sementara pikiran masih saja enggan meninggalkan semua keterangan Teungku Syahril tentang Pulo Nasi dan peninggalan sejarahnya. Sampai keesokan hari pun, mulai pagi-pagi sekali saat kami mohon izin dari Pak Geuchik Syarbini dan mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya atas bantuan yang diberikan, dan sepanjang jalan sampai dengan kami meluncur di atas boat dari Gampong Deudap menuju Ulee Lheue, pikiran masih saja belum bisa berhenti bertanya, pendaman sejarah apalagi sebenarnya yang dimiliki Pulo Nasi? (Laporan: Sukarna Putra dan Khairul Syuhada)