Menyusuri Krueng Baro Pidie, Mengamati Jejak Waktu

Deru arus air sungai di Keumala, Pidie.
Deru arus air sungai di Keumala, Pidie. (Foto: Kahirul Syuhada)

BENTENG merupakan nama tempat yang kini masuk dalam wilayah Gampong Blang Paseh di Kecamatan Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, berada di bibir laut Selat Malaka. Dewasa ini, nyaris tak ada tinggalan sejarah yang bisa dijumpai di sana. Tapi dari toponim, cerita-cerita, serta letak geografisnya yang strategis di tepi kanan Kuala Sigli, Benteng masih saja menggiring nuansa masa lampaunya ketika ia menjadi saksi utama atas pendudukan kolonial Belanda di awal-awal abad ke-20.

Pagi itu, Ahad, 25/1/2014, seiring berbagai kesibukan mulai menjamah kota, kami berenam meluncur di jalan yang membelah Gampong Benteng. Kuala Sigli yang terlihat dangkal saat pasang surut, sudah kami niatkan untuk menjadi garis start sebuah penjelajahan.

“Cuaca, hari ini, cerah!” ucap seorang teman bersemangat ketika kami berhenti di atas jembatan yang memisahkan Gampong Benteng dengan Gampong Cina.

Jejak yang Raib di Kuala Pidie

Menatap aliran air yang bermuara ke Kuala Sigli, kami jadi ingat penuturan Bang Nazri, Ketua Komunitas Pakaian Adat Aceh, Sigli, sore kemarin.

“Kuala Sigli itu ada setelah pemerintah Hindia-Belanda menggali sebuah terusan baru dari Krueng Baro,” kata laki-laki asal Gampong Pasi Peukan Baro, Sigli, ini saat bincang-bincang di jambo santai sebuah warung (cafe), di tepi laut Sigli.

Muara Krueng Baro yang asli, katanya, berada di sebelah barat Gampong Cina. Namanya, Kuala Pidie. Tapi muara ini sudah sangat dangkal lantaran aliran utama airnya sudah beralih ke cabang sungai yang bermuara ke Kuala Sigli, timur Gampong Cina.

Itulah, barangkali, sebabnya sungai yang berhulu di dataran tinggi Tangse ini disebut dengan Krueng Baro (sungai baru), mengacu kepada aliran baru yang digali pihak Belanda di bagian hilirnya. Orang-orang juga menyebutnya dengan Krueng Garot. Ada juga yang menamakannya dengan Krueng Keumala. Ada pula mitos, aliran sungai ini, dulunya, tidak di tempatnya sekarang, tapi tiba dari suatu tempat lain karena mengikuti seorang aulia. Bagaimanapun, sungai ini tampaknya lebih pantas disebut dengan Krueng Pidie, mulai hulu sampai hilirnya.

Untuk suatu penjelajahan yang menargetkan tapak-tapak sejarah abad-abad sebelum imperialisme Belanda di Aceh, daerah aliran sungai yang bermuara ke Kuala Sigli ini tentu tidak menduduki prioritas utama. Daerah sepanjang aliran air yang bermuara ke Kuala Pidie-lah yang teramat perlu diamati. Sebab, telah ada sebelum Belanda bercokol di wilayah ini.

Lebih-lebih lagi, dikarenakan di kiri aliran ini, dan tidak seberapa jauh dari Kuala Pidie, terdapat sebuah tempat bersejarah: benteng Kuta Asan. Menurut Nazri yang juga salah seorang kader Partai Aceh, di benteng Kuta Asan inilah, dulunya, laskar Muslimin pernah berkubu saat berperang melawan Belanda. Lokasi benteng itu, sekarang, berada dalam kompleks Masjid Gajah Aye, Gampong Pasi Peukan Baro. Namun, sudah tidak ada lagi bekas yang dapat disaksikan. Konon, sebelumnya lagi, Kuta Asan ini juga bekas kota Portugis.

Melintasi jalan-jalan perkampungan di hilir Krueng Baro, atau tepatnya Krueng Pidie, dengan bersepeda motor, mata kami, seperti biasa, tak pernah tetap. Celingak-celinguk kesana-kemari “mengintai” kalau-kalau ada benda-benda mencurigakan. Benda tinggalan sejarah, tentunya. Pandangan kami hampir menyapu apa saja di kanan-kiri jalan; kitaran rumah warga, perdu-perdu bambu, gundukan-gundukan tanah. Seolah tidak perduli saja, jika tingkah kami terkadang mengundang kecurigaan warga.

“Yang penting, tidak ada kambing warga yang hilang!” ujar seorang teman seraya tertawa.

Dipandu sahabat kami, Muhajir, yang akrab dipanggil Ajir, Wakil Ketua Komunitas Pakaian Adat Aceh, Sigli, kami bergerak dari Kuala Pidie memasuki Gampong Pasi Rawa. Dari namanya saja sudah mengindikasikan letaknya yang dekat dengan muara; Pasi Rawa: pantai yang berawa-rawa. Tapi jejak aktivitas masa lampau masih belum terlihat.

Jalan, tanpa terasa, membawa kami jauh dari aliran sungai. Pohon bambu yang menyesaki pinggiran sungai, akhirnya, menuntun kami kembali. Sesaat kemudian kami sampai di Gampong Lampoh Krueng, di pinggiran sungai. Jalan-jalan lorong yang lengang dan sejuk sekilas menampakkan aura zaman silam. Tapi, akhirnya, tetap saja tanpa jejak.

Kawasan Kuala Pidie yang sestrategis ini tak mungkin tanpa sejarah. Kami, bahkan, mulai bertanya-tanya, inikah dermaga Pidie, Pidir, atau malah Poli, pada mulanya, jauh sebelum Pidie menjadi nama  kabupaten—atau zelfbestuur di era kolonial Belanda—yang meliputi Batee sampai Ulim. Hanya saja, jejak-jejak waktu lampau barangkali telah raib bersama pendangkalan aliran air yang menuju ke Kuala Pidie.

Orang-orang Keras dari Juroeng Kleing

Sampai sebuah titian berlantai papan, diikat kawat-kawat besi yang kokoh, menghubungkan dua tepi sungai. Masih di bilangan Gampong Lampoh Krueng. Di seberang, tempat yang dikenal dengan Jurong Kleing—Kleing sebutan lama untuk umum imigran asal India serta keturunan mereka, suatu penyebutan berkaitan dengan Kalinga.

“Orang-orang di Juroeng Kleing ini, dalam sejarah Pidie, adalah orang-orang yang terakhir sekali ditundukkan Belanda,” kata Ajir sesaat sampai di seberang.

Rumah-rumah warga tersusun rapat. Sulit untuk mengamati jejak-jejak materil yang ditinggalkan waktu di bentang lahan gampong ini. Hanya wajah-wajah warga yang berpapasan di jalan, atau yang sedang berada di warung-warung dan pekarangan rumah, yang mungkin diamati. Kami mencari rupa-rupa wajah pewaris orang-orang Juroeng Kleing yang heroik itu.

Sebuah sumber menyebutkan, karakter orang-orang Juroeng Kleing ini terkenal keras sampai dengan hari ini. Tentu, bagian yang diwarisi dari nenek moyang mereka yang pahlawan dan tidak mudah tunduk kepada penjajah.

Kebetulan, seorang warga keluar dari pintu pagar rumahnya. Pria berusia kira-kira 60-an. Kami sapa dengan ucapan salam. Laki-laki tua berhidung mancung, dan memang berperawakan India, membalas dengan suara lembut. Tak ketinggalan, sebuah  senyuman dan ajakan. “Piyoeeh..!,” katanya.

“Keras ternyata bukan kasar,” komentar salah seorang teman tak lama kemudian.

“Ya, keras itu bukan arogansi, tapi keyakinan yang mantap dan teguh di dalam hati,” timpal yang lain.

Zaman Puncak

Meninggalkan Gampong Tanjong di Kota di Sigli, memasuki wilayah Kecamatan Pidie, arah aliran sungai terlihat mulai menuju ke selatan, agak ke barat daya. Sepanjang tepi kanan sungai, daun-daun bambu mengirisik. Angin sepoi berembus lewat celah-celah rumpun bambu. Suasana yang nyaman. Kadang-kadang mata pun ikut lena. Sekitar 15 menit kemudian, Ajir menikung ke sebelah kiri jalan. Kami lalu memasuki bagian belakang sebuah kompleks perumahan.

“Ini bagian barat Gampong Cot Gundeuk,” jelas Ajir sambil menunjukkan batu-batu nisan tinggalan sejarah yang telah tercabut dari tempatnya.

Sepanjang tepi kanan Krueng Baro dari mulai Kuala Pidie, baru di sini ditemukan jejak-jejak materil dari masa-masa sekitar abad ke-16 sampai 18. Cot Gundeuk adalah daratan yang memanjang mulai tepi kanan Krueng Baro di barat sampai sebuah aliran air (lueng) yang melintang di timurnya. Utara dan selatannya adalah areal persawahan. Sejumlah besar kompleks-kompleks kubur kuno yang ditemukan di Cot Geunduk serta gampong-gampong sekitarnya merupakan bukti konkret adanya sebuah pemukiman kuno yang padat. Masa sejarahnya, paling tidak, telah dimulai sejak abad ke-16.

Kembali ke rute perjalanan menyusuri tepi Krueng Baro, kami terus bertolak ke selatan. Tapi selang beberapa menit saja, kami kembali menikung ke kiri. Sekitar 100 meter kemudian, terlihat sebuah bukit, lumayan tinggi, tapi keberadaannya di situ terasa agak janggal. Sebab, sekitarannya merupakan dataran rendah pinggiran sungai dan persawahan. Untuk naik ke atas bukit, tanjakan landai yang tersedia hanya dari sebelah utaranya, arah di mana Cot Gundeuk berada. Selatannya sama sekali terjal. Bukit ini berada dalam wilayah Gampong Tanoh Dayah Klibeut.

Sejajar bukit ini di timur, terlihat satu bukit lagi di tengah-tengah persawahan. Bukit itu termasuk dalam wilayah Gampong Cot Geunduk. Warga Cot Gundeuk menyebutnya dengan Cot Kandang (bukit pemakaman raja). Tapi di sana hanya ada sepasang batu nisan yang sudah rusak dan aus.

Di bagian puncak bukit Klibeut, sebuah kompleks pemakaman sudah dipagari. Ada 4 makam dalam kompleks berukuran 8 x 4 meter itu. Salah satunya makam seorang sultan terkenal, bergelar Sultan Ma’ruf Syah, yang wafat pada 917 H (1512). Di sekitar bukit juga ditemukan beberapa situs pemakaman lainnya. Jika seseorang berminat mengunjungi kompleks makam, ia cukup menanyakan kepada warga setempat, di mana Jirat Poteumeurhom. Setiap warga akan menunjuk ke lokasi ini.

Kompleks-kompleks makam yang terdapat di Cot Geunduk maupun Dayah Tanoh Klibeut, tentu berada dalam satu asosiasi kawasan situs pemukiman kuno dari masa-masa abad ke-16 sampai ke-18. Dari itu, kami lantas mencoba memberi kesimpulan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Pidie (Pedir). Paling tidak, di permulaan abad ke-16, zaman puncak kerajaaan ini. Malah, boleh jadi, kawasan inilah yang disebut dengan Pidie pada masa permulaan periode Islam.

Aroma Rempah-rempah

Dari Dayah Tanoh Klibeut, perjalanan semakin menjauh dari wilayah pesisir Pidie. Jejak waktu yang kami cari mendadak hilang sedari kami meninggalkan Jirat Teungku di Kandang, Klibeut. Seakan ada suatu spasi panjang.

Sampai sebuah peukan (pusat perbelanjaan di wilayah kecamatan) yang sibuk, aroma rempah-rempah seperti mengepul di jalan, segera merambah masuk ke indera penciuman. Detik kemudian, dalam benak muncul tanya: di mana ini? Mengapa aroma rempah-rempah dari masakannya begitu mengundang selera?

“Kita, sekarang, sudah di Garot,” kata Ajir seolah menangkap raut keheranan kami.

Ini, mesti, sebuah tempat yang khusus sekali. Aroma rempah-rempahnya, luar biasa! Perjalanan  dihentikan dulu. Ngopi adalah alasan yang tepat.

Di sebuah warung kopi yang agak sepi, kepada seorang pelanggan tetapnya, kami mencoba mengukur kedalaman waktu di Garot, Kecamatan Indra Jaya.

“Di sini ada batu nisan yang berukir-ukir, Pak?”

Laki-laki paruh baya itu tidak segera menjawab. Dia masih butuh beberapa penjelasan lain. Setelah cukup jelas, sontak ia memberitahu, “O, kalau itu ada. Di meunasah Gampong Meunasah Raya. Di situ banyak sekali batu-batu nisan, besar-besar dan berukir-ukir. Tapi ada juga yang sudah patah.”

Benar, rupanya. Aroma rempah-rempah yang istimewa itu berasal-muasal dari kedalaman waktu yang jauh. Dari hidangan mewah para raja dan kerabat istana zaman yang silam.

Kami bergegas menuju lokasi yang jaraknya dekat saja dari tempat kami ngopi. Di samping bangunan meunasah, satu kompleks makam tinggalan sejarah terlihat dalam kondisi memprihatinkan, seperti pernah diamuk sesuatu yang sedang kalap, dan akhirnya centang perenang. Warga Meunasah Raya mengenalnya dengan Jirat Teungku di Hagu. Pada satu batu nisan yang tersisa, terpahat kalimat Tauhid. Kaligrafinya sangat menawan, antik.

Warga sekitar Meunasah yang berkerumun di situ memberitahukan beberapa lokasi makam yang lain. Berulang kali kami mendengar mereka mengatakan, “Kalau jirat-jirat seperti ini, di sini banyak!”

Dua lokasi pemakaman yang lain sempat kami tinjau. Kondisinya juga tidak jauh berbeda. Satu di antaranya disebut dengan Jirat Manyang. Mendengar nama itu, dalam kepala berkelebat sesuatu. Seperti memang pernah dengar namanya. Apa Jirat Manyang ini yang dimaksud saat terjadi berbagai konflik antar federasi-federasi di Pidie dalam abad ke-19?

Tiga lokasi makam yang kami tinjau itu sudah cukup mewakili. Suatu gambaran umum tentang jejak waktu sudah diperoleh. Garot rupanya memiliki latar belakang sejarah yang dalam. Pantas, jika Sultan Muhammad Dawud Syah, sultan terakhir Aceh, suatu ketika menyusun kekuatannya di Garot untuk melawan Belanda. Teungku Chik di Tiro dan Teuku Umar juga pernah hadir di wilayah gampong ini untuk bermusyawarah dengan Sultan. Bersama aroma rempah-rempah masakannya yang istimewa ternyata Garot semerbak wangi dengan sejarahya.

Melayu, tapi tidak Bersemenanjung       

Beberapa kali kami tanya, mengapa gampong di Kecamatan Indra Jaya, Pidie, ini dinamai dengan Melayu, tidak seorang pun memberi jawaban beralasan. “Tidak tahu juga. Dari dulu, memang, sudah namanya begitu,” kata seorang wanita berusia lanjut di Gampong Melayu Baroh.

Gampong Melayu terletak tidak jauh dari peukan Garot. Di selatannya. Dikitari areal persawahan, Melayu tampak seperti pulau di tengah-tengah hamparan hijau padi yang baru saja ditanami.

Kami kembali melacak perjalan waktu di sini. Harap, menemukan alasan mengapa gampong ini memiliki nama sedemikian menariknya. Lalu kami memperoleh informasi, di Melayu sebelah Tunong (selatan), katanya, terdapat makam-makam tua. Jirat Ujong Balee, sebutan masyarakat di situ. Jalan ke lokasi Jirat Ujong Balee lebih mudah dengan melewati beberapa petak sawah. Sesuai sebutannya, kompleks makam terletak di ujung kampung. Lokasinya sedikit lebih tinggi dari tanah persawahan, dan di situ biasanya warga Gampong Melayu mengadakan tradisi kenduri blang-nya, berharap kepada Yang Maha Kuasa agar usaha mereka membuahkan hasil yang baik.

Seorang warga yang sedang mengurusi sawahnya di dekat lokasi datang menghampiri. Ia menyambut kami ramah. Saat ditanya, siapakah yang telah dimakamkan di sini, ia menjawab, mereka adalah asal keturunan keluarganya. Cerita empunya cerita, di sinilah makam seorang hulubalang Pidie yang bergelar Bintara Po Puteih.

Wilayah Sama Indra—sekarang, sebagian besar Indra Jaya—yang membawahi beberapa mukim, dulu, berada dalam tangan Bintara Po Puteih. Sama Indra (8 mukim) juga disebut-sebut sebagai salah satu wilayah yang tergabung dalam federasi Uleebalang Nam. M. Yunus Djamil dalam Silsilah Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh secara spektakuler mengembalikan masa pendirian Sama Indra ke abad-abad sebelum masehi. Pendirian kerajaan ini dilakukan oleh satu rombongan Mon Khemer diketuai Syahir Pauling, katanya. Khayalan M. Yunus Djamil lalu berlanjut sampai ke tingkat mengatakan Kerajaan Sama Indra bersaing dengan Kerajaan Indra Purba (Lamuri) di sebelah barat, dan Kerajaan Plak-pleing (Panca Warna) di sebelah timur?!

Secara toponimi, Sama Indra, memang mensinyalir adanya pengaruh kebudayaan pra-Islam di wilayah Pidie zaman lampau. Ia memang sebuah wilayah yang memiliki sejarah kuno sekalipun tak semengawang tulisan M. Yunus Djamil.

“Di sinilah pusat Sama Indra, dulu,” kata ahli waris Bintara Po Puteih yang, katanya, memiliki sarakata mengenai asaliah keturunannya.

Menurutnya, Bintara Po Puteih bernama asli Teungku Mahmud Cut Jeumpa. Sebuah tulisan Mr. T. Muhammad Hassan bertajuk, “Perkembangan Swapraja di Aceh sampai Perang Dunia II”, yang dirangkai dalam Bunga Rampai tentang Aceh, suntingan Ismail Sunny, menyinggung perihal Po Puteih, katanya, “Menurut Hikayat Pocut Muhammad sewaktu Pocut Muhammad mengunjungi Pidie guna mencari bantuan melawan Jamaloy ada disebut Bintara Po Puteih dengan negerinya seluas 14 mukim.”

Memperhatikan makam-makam yang memang diperkirakan berasal dari masa-masa penghujung abad ke-17 sampai ke-18, masa Pocut Muhammad, maka dapat saja diterima penunjukan salah satu makam di kompleks pemakaman Ujong Balee sebagai makam Bentara Po Puteih.

“Saya sudah lama mencari makam Bentara Po Puteih,” kata Ajir pula, “Kakek saya yang menyarankan agar saya mengunjungi jirat Bentara Po Puteih ini. Tapi, ya baru kali ini kesampaian.”

Sebab penamaan Gampong Melayu memang belum berhasil diketahui. Namun tidak tertampikkan jika gampong ini sudah dihuni sejak abad ke-17, atau malah sebelumnya. Jirat-jirat kuno masih terlihat di beberapa lokasi lain ketika kami menyusuri jalan meninggalkan Melayu yang tak bersemenanjung ini.

Ziarah ke Tuan Kita Al-Marhum

Arah tujuan berikutnya adalah Kandang Poteumerhom (makam Po-teuh Al-Marhum). Kendati masih di sepanjang tepi kanan Krueng Baro, perjalanan ke Kecamatan Sakti di mana Gampong Kandang terletak, mesti lebih dahulu melewati Ilot, wilayah Kecamatan Mila (singkatan: Meutareum, Ilot, Lala).

Di Ilot kami masih menjumpai jejak waktu, sebuah kompleks makam dari era yang sama seperti di Gampong Melayu. Namun, selang berapa lama sampai menanjaki bukit Gle Gapui, di mana Universitas Jabal Ghafur yang terkenal berada, jejak yang kami cari kembali raib dari pandangan. Entah ada tapi tak nampak, entah memang tidak ada. Untuk sementara, sulit dipastikan. Boleh jadi, rute yang kami pilih di bagian ini keliru.

Menuruni Gle Gapui, jalan yang membelah areal persawahan membawa kami jauh dari tepian sungai. Sangat tidak memuaskan hati, kami segera kembali ke bagian tepian sungai setelah menemukan jalan di pinggir sebuah saluran air yang datang dari arah sungai. Kini, perjalanan sudah di rute yang diinginkan lagi: tepian sungai. Belum beraspal, memang, tapi lebih menyenangkan. Hanya sekitar seperempat jam saja, kami sudah memasuki wilayah Gampong Langga, bagian tepi kanan sungai.

Titian gantung yang menghubung tepi kanan dan kiri sungai di Gampong Langga, kami abaikan saja untuk perjalanan kali ini. Kami tidak menyeberang ke tepi kiri sungai di mana terletak Meunasah Langga—menasah dan lokasi sekitarnya lazim dijadikan sebagai tempat pusat pemerintahan dan pemukiman gampong-gampong di Aceh. Kendati, T. Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah mencatat, dalam masa perang melawan Belanda, Sultan Muhammad Dawud Syah pernah bermukim di Langga untuk beberapa waktu. Dari sini pula, Sultan menyusun strategi untuk menyerang Belanda yang telah menguasai Kota Sigli.

Bergerak kembali setelah beristirahat sejenak di kedai kopi Langga, setang roda dua kami masih mengarah ke selatan. Jarak ke Gampong Kandang kira-kira tiga kilometer lagi. Waktu sudah menjelang Ashar. Lebih separoh hari sudah perjalanan, namun petak-petak sawah yang menghijau, dan di beberapa tempat terlihat bertingkat-tingkat, menyuguhkan pemandangan yang benar-benar menghibur, menyegarkan.

Tanpa terasa, Gampong Barih yang terletak di utara Gampong Kandang sudah di depan mata. Mulanya, kami ingin segera ke Kandang. Tapi tulisan di papan nama jalan [memagnesi] kami untuk belok kanan, ke arah lebih dekat dengan tepian sungai. Pada papan, tertulis “Lorong Kuburan”. Kuburan apa? Mata kami liar memeriksa ke kanan-kiri jalan. Mulanya, cuma semak-semak yang terlihat. Kurang seratus meter, sebuah gundukan tanah tersua di pinggir kanan lorong. Detik-detik kemudian, satu batu nisan tampak menyembul dari semak-semak di bawah bayang-bayang pepohonan. Tak dinyana, di tempat itu telah beristirahat jasad seorang hulubalang di zaman Sultanah Tajul ‘Alam Shafiyatuddin, puteri Sultan Iskandar Muda yang agung, abad ke-17. Ia bergelar Kejrun Kandang. Sebuah jejak waktu yang teramat berarti bagi penulisan sejarah.

Beranjak dari makam Kejrun Kandang—disertai rasa syukur karena telah dipertemukan—kami ke Kandang Poteumeurhom, Tuan kita yang telah berpulang ke rahmatullah. Barisan batu nisan di Kandang membuat kami ingin menembus dinding waktu untuk melihat bagaimana sejatinya suasana di masa itu. Sekeras apa pun usaha, jangkau pandang tetap saja berbatas tirai waktu. Namun di baliknya, bayang kebesaran tak pernah lesap.

Paling timur kompleks makam, dua nisan makam Al-Marhum Sultan Al-A’zham Syah Sultan Muhammad bin Asad Syah masih berdiri tegak. Gelar Al-A’zham Syah, yang artinya, kira-kira, raja teragung, pada epitaf makam menimbulkan sebuah getaran di rongga dada. Ada banyak cerita tentang tanah ini yang belum terungkap. Sultan Asad Syah, ayahanda baginda Sultan, juga seorang tokoh yang belum pernah sekalipun muncul dalam apa pun penulisan sejarah (historiografi), sekalipun dalam Silsilah Raja-Raja Aceh susunan M. Yunus Jamil.

Dalam Deru Arus Keumala

Matahari hendak turun ke kaki langit ketika roda kendaraan kami berguling cepat menuju Keumala, sebuah kecamatan di pedalaman Pidie. Sekitar 20 menit berlalu, tiang-tiang Masjid Keumala yang sedang dalam pembangunan, telah sejajar pandangan kami. Sayup-sayup, terdengar deru. Semakin kami melaju ke arah selatan, semakin terang. Arus air menghantam bebatuan di bidang sungai yang lebar, dan mengeluarkan deru.

Seabad yang lalu, dalam deru arus air itulah, Keumala sempat merekam sebuah epos jihad seorang Sultan Aceh mempertahankan marwah bangsa dan negerinya. Deru arus sungai bak senandung mengusir kesunyian Sultan dan laskar Muslimin yang sedang bergerilya di hutan-hutan wilayah Keumala. Malam-malam Aceh, kala itu, tak saja gelap, tapi juga pahit yang likat. 19 tahun lamanya Sultan bertahan di sana, dan deru itu semakin akrab.

Laju terhenti ketika kami sudah sampai ke muka dinding gunung yang membatasi Keumala dan Keumala Dalam. Peukan Keumala telah berjarak sekitar dua kilometer di belakang. Sebuah lokasi yang mashur dengan sebutan Jirat Sikureung (kubur sembilan) adalah tujuan. Tiada rintangan menuju punggung gunung. Sebuah jalan telah diretas menuju lokasi, malah terlihat bekas pernah diaspal. Di ujung jalan, tampak sebuah cungkup. Di kanan jalan, panorama alam terpampang bagai di dunia khayali. Sungai yang membelah hamparan hijau bumi Pidie sejauh mata memandang.

Memasuki pemakaman Jirat Sikureueng, kami sempat ternganga. Ada pula jejak waktu dari sekitar 500 tahun yang silam di tempat seterpencil ini! Dua batu nisan bertipologi Samudra Pasai. Bagaimana sampai kemari? Kami, akhirnya, harus menyerah. Ini sesuatu yang perlu penyelidikan panjang. Siang tak pernah bersambung siang. Malam pasti menyelang. Kendati banyak tanya belum terjawab, semuanya terpaksa diletakkan di sini sampai saat dapat dilanjutkan kembali. (Tim misykah.com)

Lihat foto-fotonya :

 

 

 

Baca Juga :

Sultan Bertahta di pedalaman Pidie
Tauke Bangkrut gara gara Bisniskan Batu Nisan Bersejarah
Pidie di Bawah Teduh Rumpun Bambu
Giliran Kembang Tanjong Tunjukkan Bukti Sejarah