Mereka yang Memasang “Cuaye” di Pinggang

Aktifitas nelayan pukat darat di pantai Pusong, Kota Lhokseumawe. (Foto: Misykah.com)
Aktifitas nelayan pukat darat di pantai Pusong, Kota Lhokseumawe. (Foto: Misykah.com)

SEUTAS tali tampak menjulur ke laut. Para pria yang rata-rata berkulit legam itu berjalan mundur dengan langkah-langkah teratur sambil tangan menarik tali. Dengan kuda-kuda yang kokoh, terlihat tubuh mereka meliuk membentuk gerakan seolah sedang mempertunjukkan sebuah tarian di atas panggung pasir terbuka. Silih berganti menuju ke depan, mengikat cuaye mereka pada tali, dan kembali bergerak surut. Sebuah tarian kehidupan yang penuh semangat dipentaskan hampir saban hari di pesisir laut Lhokseumawe. Masyarakat setempat mengistilahkannya dengan pukat darat, sebuah seni menangkap ikan dari darat.

Fajar belum menyingsing ketika pawang serta beberapa rakan-nya mulai turun ke laut dengan perahunya. Mereka pergi menandai bidang laut (lapak) di mana pukat akan dilabuhkan. Mereka menyebutnya, dong leun. Hukum adat yang berlaku, siapa lebih dahulu dong leun di sebuah bidang laut, dialah yang berhak melabuhkan pukatnya, tapi monopoli sama sekali tidak dibenarkan. Pawang yang lebih tekun akan mengajak rakan-rakan (anak buahnya) untuk dong leun sejak ngaboe awai, istilah nelayan untuk waktu fajar kazib. Di laut, pada jarak sekitar 300 meter dari bibir pantai, pawang dan rakan-rakannya memperhatikan arus air laut sambil menanti seberkas cahaya menyemburat dari arah timur sebagai pertanda waktu melabuhkan pukat tiba.

Berlalu beberapa jam, pawang sudah dapat menentukan arah labuh pukat baik dari arah timur ke barat maupun sebaliknya sesuai arus air. Senter dinyalakan beberapa kali sebagai aba-aba untuk rakan-rakannya di darat yang sedang menunggu instruksi penentuan posisi mereka berdiri. Barulah kemudian perahu yang rata-rata panjangnya 7 meter itu dikayuh ke tepi untuk mengambil atau memberikan ujung lamat pukat yang akan dipegang rakan-rakan di darat. Lamat ialah satu dari dua sayap pukat yang pertama sekali dilabuh. Perahu lantas meluncur lagi ke arah laut. Kali ini, tangan pawang terlihat cekatan melemparkan pukatnya ke air. Mereka mulai menabur harap di air yang menghijau-biru itu.

Penguasa Pesisir

“Menurut Nek Lapoeh, pukat darat atau pukat pantai berumur lebih tua dari segala jenis pukat,” ujar Teungku Malikussaleh Al-Alubiy (33), seorang pemerhati kebudayaan maritim di Aceh yang berdomisili di Kota Lhokseumawe, kepada Misykah.com, pada Ahad, 24/8/2014. Orang yang disebutnya dengan Nek Lapoeh ini adalah seorang pawang senior yang bermukim di Gampong Ujong Blang, Lhokseumawe. “Nek Lapoeh berdalil dengan sebuah pepatah Aceh: Asai pukat bak urot blang. Asai pawang plandok pance,” tambah Malikussaleh.

Nelayan cilik ini ikut membantu menarik pukat. Sejak dini, ia sudah terlatih untuk memahami lingkungannya dengan baik. (Misykah.com)
Nelayan cilik ini ikut membantu menarik pukat. Sejak dini, ia sudah terlatih untuk memahami lingkungannya dengan baik. (Misykah.com)

Menurut pepatah lama ini, inspirasi merajut pukat pertama sekali muncul dari urot blang, sejenis tumbuhan menjalar di persawahan. Seorang arif di masa lampau, konon ceritanya, pernah mengamati bagaimana pelanduk atau kancil menggunakan urot blang untuk menangkap ikan. Pelanduk, hewan yang menjadi simbol kecerdikan dalam berbagai cerita rakyat, mengilhami kemunculan tokoh pawang. Seorang pawang mesti cerdik. Kecerdikan tidak ditimba dari teori-teori yang tertera pada daun-daun buku. Ia anugerah yang diperoleh lewat ketajaman pikir, kejelian mengamati, terasah dalam berbagai rupa pengalaman, terbiasa bijak dalam menyiasati. Pawang umpama pelanduk yang panjang akal. Ia pencipta teknik-teknik tertentu sesuai tuntutan keadaan.

“Maka menurut Nek Lapoh, pawang pertama dalam sejarah ialah Abu Nawah atau Abu Nawas. Artinya, manusia yang cerdik itu sendiri semenjak awal sejarahnya,” jelas Malikussaleh.

Sebagai pemilik teknik penangkapan ikan yang diyakini paling kuno dalam sejarah manusia, para nelayan pukat darat di pesisir Lhokseumawe memiliki kewenangan atas wilayah pantai sampai dengan 2 mil di laut depan pantai. Hukum adat tidak membolehkan kapal-kapal penangkap ikan di waktu malam beroperasi dalam zona laut ini. Jika itu dilanggar, dan kemudian terjadi sengketa atau kericuhan, nelayan pukat darat mutlak sebagai pemenang kasus. Di bagian laut dekat pantai, mereka adalah para penguasa yang haknya dalam menangkap ikan tidak dapat diganggu-gugat.

Monster Laut

Wujudnya hitam, besar, seperti gunting raksasa. Membuka dan mengatup seolah akan membabat putus apa saja yang melintasinya. Ia tidak sendiri. Di bawah permukaan air, iring-iringan si gunting raksasa menebar horor. Ikan-ikan mengayuh siripnya, mundur perlahan, tidak berani mendekati si gunting raksasa yang menghadangnya dari sisi kanan dan kiri. Si gunting raksasa kian bergerak ke darat, dan suatu ketika kemudian ia semakin merapat dari sisi kanan dan kiri. Merasa dirinya dalam bahaya, ikan-ikan cepat berputar haluan, kabur menuju ke arah tengah laut. Namun, malang mereka malah terkurung dalam kantong pukat.

Si gunting raksasa itu tak lain adalah Pukat Joek (ijuk), salah satu alat penangkapan ikan tradisional yang digunakan oleh para nelayan pukat darat. “Di antara tiga jenis pukat darat: Pukat Lham, Pukat Anggoek, Pukat Joek yang biasa digunakan para nelayan, hanya Pukat Joek yang menghadirkan pemandangan horor seperti tadi. Kita juga bisa merasa ngeri jika melihat bagaimana Pukat Joek ini beraksi di bawah air,” tutur Malikussaleh.

Tidak diketahui persis sejak kapan Pukat Joek mulai digunakan, tapi yang jelas sudah lama sekali. Alat penangkap ikan tradisional ini diyakini merupakan hasil kreasi manusia masa lampau yang cerdik dan amat memahami lingkungan hidupnya. Ia tahu pukat yang disirat dari tali ijuk ini akan memunculkan pemandangan menakutkan bagi ikan-ikan sehingga mudah menghalau ikan-ikan itu menuju kantong pukat yang sudah disiapkan di ujung pukat. Padahal, siratan mata jala pukat ini terkadang sampai 2×2 meter; rongga yang sebenarnya cukup lebar.

Malikussaleh menuturkan, Pukat Joek yang terbuat dari tali ijuk ini dikerjakan secara manual oleh mereka yang berpengalaman, biasanya pawang-pawang atau nelayan-nelayan yang relatif sudah berusia tua. Untuk sekarang, bahan tali ijuk ini biasanya didatangkan dari Sigli dan Keumang Tanjung di Kabupaten Pidie. Ada juga yang dari Lhokseumawe sendiri dan Aceh Utara, seperti yang  dari daerah Blang Mangat dan Kuta Makmur.

Pukat Joek harus dibuat oleh orang yang betul-betul paham. Kalau tidak, langsung harus dibuang,” ujar Din atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pawang Kora, seorang pawang pukat darat di kawasan pantai Gampong Hagu Barat Laut, Lhokseumawe. Pawang Kora tampak masih kuat meski sudah berusia senja. Ia mengaku telah menggeluti pekerjaannya itu sejak masih berumur 20 tahun.

Seperti lazimnya, sebuah pukat darat (pantai) memiliki dua sayap, satunya disebut dengan rundoek (sayap kanan) dan satunya lagi lamat (sayap kiri). Rundoek memiliki ukurang panjang, biasanya, sampai 150 depa (nelayan sering menggunakan depa, ukuran kedua belah tangan didepangkan) atau sama dengan 225 meter. Sementara lamat berukuran lebih pendek, biasanya antara 135-140 depa. Jika reundok dan lamat ini ditegakkan maka ketinggian bagian tengahnya bisa mencapai 33 depa.

Babah (mulut) pukat dan koncong secara berurut berada di bagian depan rundoek dan lamat. Babah pukat sebagai ruang tempat masuk ikan, terbuat dari benang nilon yang dirajut dengan ukuran mata jala berbeda. Di bagian yang langsung bersambung dengan reundok dan lamat (ulaya), mata jala berukuran 3 inc lalu 2 inc, kemudian semakin mengecil menjadi 1,5 inc, menyusul 1 inc dan 3/8 inc sampai koncong. Pada bagian babah pukat juga terdapat apa yang disebut dengan capeing sebagai penyeimbang bukaan pukat. Mata jala di bagian capeng berukuran 2 inc. Di depan babah pukat terdapat kantong pukat yang disebut dengan koncong, tempat ikan-ikan yang tertangkap dikumpulkan. Nelayan di Lhokseumawe menyebutnya dengan koncong, sementara di wilayah Bireuen disebut dengan puncong. Koncong ini terbuat dari benang merlin dan dirajut rapat sekali supaya ikan tidak dapat keluar. Di ujung koncong dipasang lampung berukuran besar yang berfungsi  untuk mengapungkan koncong sekaligus jadi penanda jarak koncong saat pukat ditarik ke darat. Pelampung ini diistilahkan dengan galoeng.

Pada setiap 7 depa Pukat Joek, baik reundok maupun lamat-nya, dipasang lampung yang dibuat dari kayu apung, dan yang paling bagusnya dibuat dari kayu pohon Geureumbang yang sering tumbuh di rawa-rawa. Sedangkan di bagian bawah, setiap 5 depa diberikan pemberat yang dinamai kaja batu supaya pukat dapat mencapai dasar laut. Benda ini merupakan biji batu berukuran lebih besar dari kepalan tangan lelaki dewasa yang diikat dengan rajutan tali menyerupai keranjang.    

Di bagian akhir rundoek dan lamat masing-masing disambungkan dengan tali berukuran besar 20 milimeter yang panjangnya sampai 4 bal (400 meter). Bagian sambungan ini diistilahkan dengan ulee reundok (pangkal sayap kanan) dan ulee lamat (pangkal sayap kiri). Tali tersebut gunanya untuk menarik pukat dari laut. Saat menarik pukat, nelayan memalitkan ujung tali yang diikat di pinggangnya pada tali tersebut baru kemudian berjalan surut menarik pukat. Tali yang diikat di pinggang itu disebut dengan cuaye.

Semua kerja penangkapan ikan dengan pukat darat dipimpin seorang pawang yang beranggotakan 6-15 nelayan yang disebut dengan rakan pukat (Bireuen: ngoen pukat). Pawang pukat darat adalah seorang yang sudah ahli dalam penangkapan ikan dengan cara ini, mengerti berbagai seluk beluk medan kerjanya dan alat penangkapan yang digunakan, dan paham hukum-hukum adat laut yang berlaku.

Dalam teknis penangkapan dengan pukat darat, sayap pukat yang pertama sekali dilabuhkan ke air adalah lamat, seorang rakan pukat memegang ulee lamat di darat sementara pawang dibantu rakan pukat lainnya melabuh lamat ke laut dengan perahu. Setelah koncong dilabuh ke air, pawang memberikan tanda dengan melambai-lambaikan tudung atau lainnya yang bermakna lamat sudah dapat ditarik oleh rakan pukat yang berada di pantai. Perahu kemudian dikayuh ke arah pantai sambil ruendok dilabuhkan. Setelah ruendok tiba di pantai, sebagian rakan pukat menarik ruendok dan sebagian yang lain membantu menarik lamat. Saat tarik pukat berlangsung, siapa saja dibolehkan untuk ikut menariknya, tanpa harus izin kepada pawang. Dan setelah hasil tangkapan sampai di darat, pawang akan membagikannya dengan adil. Orang-orang yang membantu menarik pukat dari selain anggota pawang juga ikut diberikan sebagai tanda terimakasih atas bantuannya. Terkadang, kepada beberapa warga sekitarnya juga dibagikan.

Menurut Malikussaleh, Pukat Joek merupakan pukat tradisional yang sudah minim digunakan dibanding jenis pukat darat lainnya. “Di pesisir Lhokseumawe, paling cuma 1% nelayan yang menggunakan Pukat Joek, padahal pukat ini bobotnya lebih ringan. Nelayan bisa melabuhkan Pukat Joek ini sampai 4 kali dalam sehari. Dibading pukat jenis lain yang hanya bisa dilabuh maksimal 2 kali,” tutur Malikussaleh.

Di antara faktor penyebab minimnya nelayan menggunakan Pukat Joek ini, menurutnya, adalah karena jumlah ikan di perairan dekat pantai yang semakin berkurang akibat pembuatan ietuwah atau tuwasan (rumpon) dan unjam  (semuanya semacam lubuk ikan buatan di laut) di zona yang terbilang dekat dengan pesisir. Dan faktor lainnya adalah karena kurangnya tenaga ahli pembuat Pukat Joek. “Padahal, penangkapan ikan menggunakan pukat ini merupakan bagian warisan budaya intangible yang mesti dilestarikan,” terang pemerhati kemaritiman ini.

Para Penyaing

Pukat Joek yang terbuat dari tali ijuk salah satu pukat tradisional Aceh yang unik. (Foto: Misykah.com)
Pukat Joek yang terbuat dari tali ijuk salah satu pukat tradisional Aceh yang unik. (Foto: Misykah.com)

Kendati rata-rata pendapatan para nelayan “penguasa pesisir” ini hanya lima puluh ribu perhari, namun mereka terpaksa menggantungkan hidupnya di pekerjaan tersebut.

“Lima puluh ribu itu kalau mereka berkerja sehari penuh, dan itu pun tergantung musim. Hanya beberapa kali saja dalam setahun, mereka bisa memperoleh penghasilan sampai tiga ratus ribu,” terang Malikussaleh.

Warga pesisir yang memilih profesi sebagai nelayan pukat darat ini sebagian besarnya berasal dari keluarga kurang mampu. Setiap harinya mereka mesti berjuang untuk menghidupi keluarganya dengan cuaye yang terikat di pinggang. Anak-anak para nelayan ini juga jarang yang berhasil melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Tidak sedikit di antara mereka yang perjalanan pendidikannya kandas setelah menamatkan sekolah menengah pertama (SMP).

Dalam kondisi hidup yang terkadang amat memprihatikan, para nelayan pukat darat juga tidak jarang dicegat rezekinya oleh penyaing yang tidak fair. Selain pembuatan tuasan dan unjam yang relatif dekat dengan pesisir sehingga mempengaruhi hasil penangkapan mereka, menurut Malikussaleh, boat pukat langgar yang beroperasi malam hari juga tidak bertenggang rasa dengan para nelayan pukat darat.

“Acap kali pukat langgar yang beroperasi di waktu malam menangkap ikan di perairan dekat pesisir. Sesuai Peraturan Walikota Lhokseumawe, pukat langgar yang beroperasi di waktu malam dengan menggunakan lampu robot seharusnya menangkap ikan di perairan yang berjarak 2 mil lebih dari pantai. Tapi seringnya, saat mereka sukar mendapatkan ikan dalam jarak itu, mereka malah melabuhkan pukat di dekat pantai, dan ini mengganggu pendapatan kaum pukat darat,” jelas Malikussaleh.

Selain itu, aktifitas nelayan pukat darat juga terganggu tanggul laut yang dibangun pemerintah. Pembuatan tanggul laut yang mengikuti jalur pantai, menurut Malikussaleh, sebenarnya kurang efektif dan tidak memperhatikan efek buruk bagi nelayan pukat darat.

“Saya kira, jumlah nelayan pukat darat sekarang sudah berkurang sampai setengah dari jumlah 276 nelayan yang didata pada tahun 2011. Salah satu penyebabnya adalah pembuatan tanggul laut yang mengurangi ketersediaan ruang bagi nelayan pukat darat. Seharusnya, pemerintah membangun pemecah ombak untuk penangganan abrasi, bukan tanggul laut, sehingga satu kepentingan tidak merusak kepentingan lainnya. Untuk ke depan, diharapkan setiap kebijakan menyangkut kehidupan nelayan dirembukkan dengan para nelayan yang lebih mengetahui persoalan mereka,” pungkas Malikussaleh. (Safar Syuhada, Taqiyuddin Muhammad)

Lihat Foto :
*Klik gambar untuk tampil dengan slide