Misteri Lam Raba [2/3]

Bagian 2

3
Komplek Makam Teungku Meurah setelah gotong royong tahap pertama. Gampong Lambaro Biluy, Darul Kamal, Aceh Besar. [foto, Iqbal. 2014]
“Kita tidak ada artinya, amat sangat kecil dibandingkan dengan alam semesta yang berjuta-juta ratus ribu benda dan tahun waktu, apalagi dengan Tuhan pencipta semesta alam. Kita akan mati dan tidak akan diketahui bahwa pernah ada di bumi ini. Hanya beberapa orang yang diingat setelah matinya sepanjang zaman, karena ada pengaruh bagi orang-orang di masanya dan setelahnya”.

Kulihat peneliti Taqiyuddin Muhammad menilik sebuah nisan yang telah terbenam di akar kayu yang besar sehingga hanya setelah dipotong itu akar dan perdu -walaupun nantinya akar pohon itu dipotong sebagian niscaya pohon itu akan tetap kukuh berdiri karena banyak akar besarnya di sekeliling- barulah nisan bisa diangkat untuk dibaca.

Itu tidak bisa dilakukan hari ini karena hanya alat pembersih seperti parang, cangkul, dan pacul yang dibawa. Saya menuju rekan-rekan yang tengah mengangkat nisan dengan bersusah-susah. Beberapa saat setelahnya, saya melihat Taqiyuddin dan Deddy Satria menuju bagian lain kebun itu, sekira seratus meter ke barat.

Saya sudah melihat apa yang dilakukan oleh suka relawan yang membantu penilitian di bidang kerja berlumuran tanah dan lumpur disertai gatalnya semak belukar, kini giliran saya melihat apa yang dilakukan oleh ahlinya. Saya menyeberang jalan menuju tempat yang dikunjungi Taqiyuddin, Deddy Satria, dan Mawardi. Akan tetapi sesaat setelahnya mereka telah pergi dari sana, setelah kulihat, ternyata tidak ada satupun nisan di semak belukar itu. Kemudian kuikuti mereka ke seberang pagar. Di sana ada beberapa nisan yang dibuat di masa silam.

Deddy Satria mereka-reka gambar kaligrafi dan bunga-bunga di nisan kecil itu untuk kemudian dipelajari di rumah. Seorang penduduk Malaysia, Pimpinan Rumah Anak Yatim Malaka Tsunami Aceh, Haji Harun Saleh, berbicara banyak dengan dialek yang sudah kejakartaan karena meniru-niru gaya bicara orang Indonesia. Mungkin dia berpikir begitulah cara berbicara orang-orang di sini.

Sementara Deddy Satria mempelajari tulisan di nisan, Taqiyuddin Muhammad, Mawardi Usman, dan saya mengikuti petunjuk dari seorang tuha yang mengatakan ada banyak nisan berukir yang lebih besar di beberapa bagian lain di gampong itu. Kami melintasi semak belukar, melangkahi pagar-pagar kebun penduduk di sana hanya untuk menemukan makam yang disebutkan.

Kami terkejut melihat yang terjadi, kumpulan banyak nisan sebagaimana dengan yang berada di kumpulan makam Tgk Meurah, Lam Raba, ternyata ada di beberapa tempat lain di gampong itu.

“Mari kita pulang,” Taqiyuddin Muhammad bercanda. Maksud yang sebenarnya, bahwa amat sangat banyak nisan-nisan yang tersebar, ia tidak akan cukup umur untuk menelitinya secara ramai-ramai dan membacanya sendirian. Saya menangkap perasaan masygul itu. Sesunggunya pujian-pujian dan pengakuan yang diberikan orang -walaupun sedikit menghibur dan menambah keyakinan diri- tidaklah ada artinya tatkala menghadapi kenyataan yang ada. Nisan-nisan itu belum dibaca dan didata apalagi dilestarikan sebagai cagar budaya.

Dan syukur, masyarakat Aceh di sekitar itu merawatnya dengan baik oleh karena dalam falsafah hidup orang Aceh, kita tidak boleh mengganggu makam-makan dan nisannya, apabila bertani di sekitar atau di atas pemakaman, maka nisan-nisan tidak boleh diganggu. Begitulah yang dilakukan orang-orang walau kadang-kadang pucuk nisan menjadi batu asah karena ketidaktahuannya.

Di sana pula saya ta’jub pada pemandangan Gampong Biluy. Persawahan yang berbentang jauh dan berakhir di tebing bukit tinggi yang hijau gelap membiru. Indahnya, saya merasa berada di Paloh Dayah, saya akan sanggup tinggal di sana. Itu akan membangkitkan kenangan masa kecilku yang bebas merdeka dan sehat di sebuah kampung yang alamnya masih asli dan permai. Kedamaian perkampungan yang memiliki bebukitan dan persawahan tidak bisa digantikan oleh taman-taman penuh warna dan hutan-hutan di kota.

Setelah berjalan sekitar beberapa ratus meter dan melihat beberapa kumpulan makam, kami bertemu dengan seorang tuha. Ia berbicara seraya menunjuk ke arah sawah dan semak belukar berkebun kelapa yang berada di timur kami.

Dia pun menceritakan dengan penuh semangat, bahwa jalan tempat kami berdiri saat itu dahulunya adalah sebuah sungai luas. Di semak belukar berkebun kelapa di seberang sawah ada sebuah sumur yang disebut mon kapai. Kabarnya di sanalah dahulunya ditambatkan sebuah kapal. Di sana masih ada karat-karatan besi yang bertumpuk. Seingatnya, sekitar tahun 1960-an tempat yang kini dijadikan sawah dan sebagiannya telah dibangun rumah penduduk adalalah rawa-rawa berlumpur.

Pernyataannya ini mendukung cerita bahwa di jauh masa ke belakang itu dahulunya adalah baghaian dari pada sungai (krueng) Raba karena dekat dengan makam Lam Raba yang berada di kumpulan nisan yang pertama kali kulihat tadi di awal datang ke gampong ini.

Kami pun terus berjalan, satu dua tumpukan makam bernisan Aceh terlihat. Di hadapan sebuah rumah penduduk, kami berjumpa dengan tokoh masyarakat gampong itu, dan cerita tentang masa silam pun kami dengar. Di dekat Lambaro Biluy ada sebuah gampong tuha yang bernama Empe Trieng. Empe adalah tempat yang lebih tua dalam budaya orang Aceh di sekitar Aceh Besar dan Banda Aceh.

Dan sampailah kami ke makam Tgk Meurah kembali. Ternyata kami telah mengelilingi gampong Lambaro Biluy dengan berjalan kaki. Orang-orang di makam yang merupakan anggota pembersih makam pun memanggil kami untuk meminum air dan kue-kue yang sudah didatangkan. Setelah belasan menit di sana, turunlah hujan, dan kami terpaksa melarikan diri ke tempat yang bisa bernaung. Ada dua kedai di sana, salah satunya adalah yang berada di dekat Dedy Satria sibuk memeriksa nisan tadi.

Taqiyuddin Muhammad memilih kedai yang terdekat yang lebih kecil dan hanya ada tiga orang di sana. Lalu singgahlah kami di kedai kecil yang dijaga oleh orang tuha ini. Setelah duduk sejenak, Deddy Satria dan beberapa orang lagi muncul bergabung karena sebagai ketua kafilahnya, Taqiyuddin Muhammad, memilih kedai ini. Tadi mereka di kedai satu lagi yang lebih besar dan lebih banyak orang serta ada jambo jaga di hadapannya.

Orang tuha yang daripada Malaysia tadi pun muncul lagi. Ia bercerita banyak dengan penuh semangatnya. Ternyata dia adalah perwakilan DMDI (Dunia Melayu Dunia Islam) untuk Aceh yang mengurusi sebuah yayasan Yatim milik Malaysia di sekitar tempat itu, dan muridnya yang merupakan abang dari pada Masykur –seorang remaja pengumpul manuskrip zaman- ikut  di dalam meuseuraya (gotong royong) makam-makam hari ini.

Dia pun mengatakan bahwa dirinya adalah ahli membaca kitab Jawi. Lalu kami menceritakan banyak tentang Hamzah Fansuri dan beberapa tokoh penting dunia Islam di Asia Tenggara, semuanya berasal dari pada Aceh. Ia pun mengatakan bahwa secara terus menerus melakukan meusale (bersalai diri ala Aceh – memanaskan badan di atas perapian yang diyakininya jauh lebih baik daripada mandi sauna dan laser).

Saya perhatikan, karena semangatnya bercerita, niscaya gaya bicaranya yang tadi di awal perjumpaan sudah agak kejakartaan, telah pun berubah menjadi dialek khas Melayu Semenanjung kembali, saya mulai senang. Dia telah lupa pada gaya bicara palsunya, atau mungkin rasa percaya dirinya memakai dialek semenanjung pun menjelma karena kami semua memakai dialek Pasai, pusat bahasa Melayu di Asia Tenggara.

Orang Malaysia ini pun mengatakan, “Aceh adalah pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Semua berasal daripada sini, dan di sinilah itu harus bangkit lagi”.

… Bersambung ke bagian 3 [Baca; Misteri lamraba 3/3]

***

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT).