Misteri Lam Raba [1/3]

Bagian 1

Catatan perjalanan menyertai meuseuraya pembersihan makam yang direncanakan oleh Mapesa dan penelitian Taqiyuddin Muhammad dan Deddy Satria, 23 Nopember 2014 di Gampong Lambaro Biluy, dan Lhoknga, Aceh Besar.

2
Anggota gotong royong sedang membersihkan nisan-nisan makam yang berada di komplek makam Teungku Meurah. Lambaro Biluy, Darul Kamal, Aceh Besar. [foto: Khairul. 2014]
Ini musim hujan, akan tetapi pagi itu cerah, tidak seperti kemarin. Ada janji saya kepada Mizuar Mahdi bahwa pagi itu akan kuikuti kafilah MAPESA (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh dalam rangka membersihkan makam-makam bernisan Aceh di gampong Lambaro Biluy, Darul Kamal, Aceh Besar. Acara akan dimulai pukul 09:00 pagi.

Petisi Bangkai Kapal Sophie Rickmers Wreck

Sementara pada pukul 8:00 ada acara penandatanganan petisi menolak pengangkatan kargo di bangkai kapal tentara Jerman yang tentukan tempat di lapangan Blang Padang. Karena saya belum tahu itu kargo dan kapal apa, maka saya membuka internet untuk mencari kabaran tentang kapal Sophie Rickmers yang telah lebih setengah abad berdiam di dasar laut Sabang.

Disebutkan bahwa kapal Sophie Rickmers atau Wreck merupakan kapal bermesin uap buatan Jerman 1920 yang karam di Teluk Proa Loat dekat Teluk Sabang pada Perang Dunia II. Tahun 1940, Sophie ditenggelamkan oleh krunya demi mencegah penyitaan oleh tentara yang menjadi musuhnya kala itu. Kapal sepanjang 134 meter ini pun tenggelam bersama seluruh isi kargonya di kedalaman 55 meter.

Rencananya, di sekitar situs kapal Sophie Rickmers nanti, Pemerintah Kota Sabang akan membangun bunker minyak raksasa untuk melayani kapal-kapal besar yang melintas tak jauh dari perairan itu. Proyek ini dimulai dengan peninjauan dan pengangkatan isi kargo kapal seperti yang tertuang dalam surat yang diajukan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.

Saya tahu acara penanda tanganan petisi itu ketika aktivis senior TAF Haikal mengirimkan pesan (SMS) untuk mengahadiri acara tersebut. Ketika menerimanya tadi malam, saya terkejut karena ketidaktahuan tentang benda dan lingkungan yang ingin diselamatkan, dan meminta seorang kawan untuk membaca SMS itu dengan harapan semoga dia mengerti apa saja tentang kapal yang dimaksud. Ternyata tidak. Dan malam itu saya lupa mencari kabar tentangnya di internet sehingga harus mencarinya pagi itu.

Setelah mengetahui tentang kapal Eropa tersebut, selaku aktivis kebudayaan saya sepakat dengan aktivis lingkungan hidup untuk menyelamatkan -kehidupan dan benda purbakala bawah laut- untuk petisi menolak diangkatnya Sophie Rickmers di kedalaman perairan Sabang.

Saya tertegun seraya merasakan bahwa harus menandatangani petisi tersebut. Saya masih ingat pada tahun 2013 tatkala pegiat kebudayaan meminta dukungan banyak organisasi di Aceh melalui forum LSM Aceh –saat itu Asiah Uzia yang bergerak di depan mengajak semua LSM melalui Forum LSM Aceh- dan lainnya untuk menyelamatkan Situs Lamuri supaya tidak dibuat lapangan golf, puluhan organisasi tersebut mendukung hajat itu. TAF Haikal adalah presidium Forum LSM Aceh. Dan alhamdulillah, Situs Lamuri sekarang mulai diketahui orang penting untuk dirawat dan peneliti dari USM Malaysia, USU Medan, dan Unsyiah telah menelitinya secara gabungan ahli.

Saya pun menuju lapangan Blang Padang dan menandatangani petisi penolakan rencana itu. Dan saya menandatangani itu tadi hanya direkam oleh panitia, artinya saya tidak memiliki foto untuk saya siarkan sendiri tentang keikutsertaan dalam acara penyelamatan lingkungan bawah laut dan benda bersejarah tersebut.

Tatkala saya di sana, baru ditandatangani oleh bebepa orang saja alias spanduknya masih putih. Setelah menunggu beberapa saat terlihat dua orang yang saya kenal melintas dan berlalu. Setelah bertahun-tahun di banda Aceh, itu adalah kali pertama saya melihat kegiatan pagi di Blang Padang, ada tentara yang berlatih parade dengan senjata lengkap, ada orang-orang berlari-lari mengelilingi lapangan, ada yang berjualan, dan ada yang terbingung-bingung seperti saya karena tidak ada kawan. Mizuar Mahdi belum pun terhubung. Rencananya, saya mengajaknya untuk ikut menandatangani petisi ini.

Menuju Gampong Lambaro Biluy Darul Kamal

Maka saya pun pulanglah. Setelah sampai di rumah, Mizuar memanggil melalui telepon genggam. Dia baru saja menjemput Deddy Satria yang tinggal sekitar satu kilo meter dari tempat tinggal saya. Karena salah mengerti alamat tempat berjumpa, saya memutar-mutar sekitar satu dua kilo meter (batu). Namun setelah beberapa kali berbicara melelaui telepeon dengan Mizuar, kami pun bertemu.

Mizuar Mahdi membawa arkeolog Deddy Satria menuju tempat meuseuraya membersihkan makam-makam tua. Kami pun mengendarai sepeda motor menuju makam dimaksud. Melintasi jalan-jalan aspal menusuri perkampungan di sekitar Darul Imarah, Aceh Besar. Tikungan-tikungan kecil di persawahan dan semak belukar pun terlewati.

Setelah beberapa puluh menit, sampailah kami di sebuah pemakaman bernisan Aceh, itulah makam Tgk Meurah. Peneliti kebudayaan Islam Asia Tenggara, Taqiyuddin Muhammad, dan rekan-rekan sudah berada di sana telebih dahulu. Sebagian dari mereka mencoba untuk membenarkan letak nisan supaya tulisan yang ada di sana bisa terlihat dengan jelas.

“Oh, ternyata bukan bebukitan sebagaimana disebutkan,” seru saya di dalam hati seraya meletakkan kendaraan, lalu menuju tempat pemakaman yang berada di dataran setinggi satu setengah meter daripada jalan, akan tetapi itu bukan bukit. Pemakaman itu berada di tengah-tengah pemukiman, dan telah dibersihkan oleh Mapesa seminggu lalu.

Setelah menyalami orang-orang yang telah lebih dahulu hadir, saya memperhatikan satu persatu nisan yang ada di sana.

“Nisan ini berukuran kecil, tidaklah setinggi yang disebutkan bahwa nisan Aceh di sini ada yang setinggi orang dewasa. Mizuar pandai juga merayu orang sehingga mahu ke tempat ini,” seru saya lagi, masih di dalam hati.

Saya pun teringat percakapan dengan Dr Mehmet Ozay beberapa hari lalu saat kami mengunjungi makam-makam di kampong Pande.

“Kata rekan-rekan bahwa nisan di kumpulan makam Tgk Meurah di Lambaro Biluy Darul Imarah ada yang lebih besar dari pada yang ada di sini,” kataku.

“Tidak, saya sudah ke sana beberapa tahun lalu, nisan-nisan yang berada di sini lebih besar,” kata Dr Mehmet Ozay yang merupakan peneliti independen, seorang seosiolog asal Istanbul yang ianya jua pakar bidang Asia Tenggara. Lalu Mehmet Ozay menceritakan banyak tentang Dinasti Mamluk, Seljuk dan Turki Utsmani. Ia menunjukkan beberapa nisan kecil di makam Kampung Pande.

“Itu nisan serupa dengan peninggalan zaman Bani Saljuk Turki, itu di masa sebelum Aceh Darussalam,” Kata Mehmet Ozay. Lamunan saya hari itu seakan masuk ke zaman silam yang disebutkan dan memiliki gambaran tentang ketinggian peradaban manusia kala itu, yang tentu saja dipimpin oleh kebudayaan Islam dan pemerintahannya orang Turki.

Saya pun keluar daripada lamunan dan kembali mendekati –saya tidak dapat bagian untuk menarik nisan itu- handai taulan yang tengah berkerja keras untuk masih mencoba mencabut sebuah nisan yang memiliki berat sekitar seratus kilogram untuk ditanam kembali dengan letak yang benar.

“Beginikah kerja Taqiyuddin Muhammad beserta kawan-kawan selama bertahun-tahun? Benarlah mereka telah menghibahkan hidupnya untuk mencari kebenaran sejarah bangsa ini. Tidak ada dua tiganya,” saya pun termenung, tidak bisa berkata apa-apa. Ini bukan bidang saya yang merupakan aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT).

PuKAT tidak meneliti dengan cara seperti ini, organisasi antarabangsa tersebut biasanya membuat musyawarah tentang kebudayaan dalam bentuk seminar, tidak meneliti ke lapangan secara resmi. Namun kami datang ke setiap tempat bersejarah sebagai perbandingan hasil kebudayaan antarabangsa, serta menyiarkan apapun daripada hasil penelitian handai taulan di banyak organisasi kebudayaan.

“Ini adalah sebuah perkara yang tidak diketahui hujung-akhirnya, dan sejatinya kita dipaksa tunduk menyerah kepada takdir, seandainya bahan penting sejarah hanya ada di nisan-nisan seperti ini dan apabila hancur ianya sebelum dibaca dan disiarkan, niscaya orang zaman ini dan setelahnya akan menyakini hal yang bertentangan dengan kenyataan,” saya masih tertegun, masygul.

…Bersambung ke bagian 2 [Baca; Misteri Lamraba 2/3]

***

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis di Pusat Kebudayaan Aceh – Turki (PuKAT).