Misteri Masyarakat Kuno Krueng Beureugang Aceh Utara

Salah satu kompleks makam kuno dengan bentuk batu nisan yang unik di tepi Gampong Panton Rayek II,, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara (Foto: CISAH)
Salah satu kompleks makam kuno dengan bentuk batu nisan yang unik di Gampong Panton Rayek II, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara (Foto: CISAH)
Ukiran kaligrafi Arab pada salah satu batu nisan yang telah patah di Gampong Panton Rayek II, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. (Foto: CISAH)
Ukiran kaligrafi Arab pada salah satu batu nisan yang telah patah di Gampong Panton Rayek II, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. (Foto: CISAH)

KRUENG Beureungang yang mengalir di sisi barat wilayah Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, hanya sebuah aliran sungai yang tak begitu lebar. Bagian yang memiliki kedalaman lumayan juga tidak sampai ke hulunya di sebuah kolam air terjun di Gampong Meunasah Kulam dalam wilayah kecamatan yang sama. Tepatnya, di Gampong Saweuk, kedalaman itu berhenti, dan dasar sungai berangsur menjadi dangkal; berbatuan.

Meskipun demikian, pada bagian yang relatif dalam, sungai yang pada akhirnya menjadi pemasok air ke sebuah sungai di rawa-rawa belakang yang selanjutnya bermuara di Kuala Krueng Geukuh ini, tampak sangat mungkin untuk dilayari. Sungai ini terlihat seperti jalur transportasi yang menghubungkan wilayah pesisir laut di barat Kota Lhokseumawe dengan daerah yang agak lebih ke pedalaman di arah selatan.

Dari pesisir laut, seseorang dapat melayari sungai sepanjang kira-kira 17 km, dengan melintasi areal rawa-rawa belakang yang luas, sampai ke kaki bukit di tepi kanan Krueng Beureugang. Dari situ ia dapat menaiki bukit yang kian ke selatan kian tinggi. “Mulai kaki bukit, yang kini merupakan Peukan (pusat pasar-red) Buloh Beureungang,  sampai sejauh  8.20 km ke arah barat daya, sampai memasuki perbatasan Gampong Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, adalah kawasan pemukiman kuno yang padat,” kata Khairul Syuhada, Koordinator Bidang Ekspedisi dan Data pada CISAH, Lhokseumawe, kepada misykah. com, Senin (23/12/2013).

Fakta ini, kata Khairul, sudah diketahui pihaknya selama dalam kegiatan penelitian yang dilakukan secara teratur sejak dua tahun belakangan ini. “Kita sudah melakukan berkali-kali peninjauan lapangan di sepanjang daerah aliran Krueng Beureugang , dan kita menemukan sebaran batu-batu nisan bertipologi Samudra Pasai dalam jumlah yang ditaksir mencapai ribuan.”

Meskipun umum batu nisan yang diketemukan dapat diidentifikasikan berasal dari zaman Samudra Pasai, namun para peneliti dari CISAH meragukan jika masyarakat yang menghuni kawasan itu baru muncul sejak zaman Samudra Pasai, di abad ke-13 M. Menurut mereka, kawasan tepi Krueng Beureugang ini sudah dihuni sejak masa lebih awal dari itu. “Mungkin, lebih dari 1000 tahun yang lalu,” ujar Khairul, “tapi untuk memastikannya tentu perlu penelitian yang lebih mendalam.”

Pendapat tersebut, untuk sementara ini, masih didasari pertimbangan yang memustahilkan terjadinya lonjakan penduduk yang begitu besar akibat migrasi dalam abad-abad Samudra Pasai. Masyarkat kuno Krueng Beureugang, jelas Khairul lagi, tentu telah bermukim di kawasan itu sejak lama, sebelum kedatangan Islam. Setelah Islam bersinar di pesisir utara Sumatera ini, mereka berbondong-bondong beralih kepada Islam, apalagi setelah muncul satu kekuatan politik yang mampu melindungi Islam dan umatnya seperti Daulah Shalihiyyah (Kerajaan Samudra Pasai).

Siapakah mereka yang menghuni kawasan itu, dan bagaimana sejarah mereka sebelum Islam? Ini masih teka-teki besar. “Namun, kita hampir dapat meyakini bahwa mereka adalah masyarakat yang sudah berbudaya dan berperadaban. Ini tampak dari kesenian yang mereka ekspresikan saat mereka sudah menjadi masyarakat Islam dalam arti yang sesungguhnya. Kesenian yang mereka hasilkan menunjukkan adanya pengaruh kebudayaan pra-Islam yang sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam, dan malah justeru memperkaya khazanah kesenian Islam itu sendiri,” ungkap Khairul.

Salah satu bukti yang ditemukan di Gampong Panton Rayek II di tepi Krueng Beureugang adalah batu nisan dengan bentuk dan ukiran-ukiran unik, mencirikan suatu pengaruh kebudayaan lebih lampau dari zaman Samudra Pasai. “Ini dapat menjadi salah satu bukti pendukung asumsi yang kami utarakan bahwa kawasan Krueng Beureugang ini telah dimukimi masyarakat yang sangat kuno di pesisir utara Sumatera. Tapi, penelitian, ya, tetap mesti dilanjutkan untuk mencapai data-data sejarah yang lebih akurat,” kata Khairul. (Tim misykah.com)