Muallim Pasrah saat Digusur

 

Batu nisan bertulis nama Muallim 'Abdul Jalil di Cot Hasan, Gampong Jileukat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, saat diteliti Tim CISAH pada 2010 silam (Foto: CISAH)
Batu nisan bertulis nama Muallim ‘Abdul Jalil di Cot Asan, Gampong Jileukat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, saat diteliti Tim CISAH pada 2010 silam (Foto: CISAH)

MEREKA tidak bisa membela diri lagi. Zaman mereka sudah usai. Mereka, memang, sudah bersusah payah memahat batu-batu untuk jadi sebuah kenangan akan kehadiran mereka, sekaligus bukti kebesaran negeri mereka. Tapi sia-sia, generasi hari ini mengacuhkannya saja. Tidak begitu penting, menurut generasi penganut “mazhab” pragmatisme ini, dan buang-buang waktu saja. Namun, di saat integritas mereka sebagai pemilik negeri ini dilecehkan, mereka bawa-bawa leluhur dan sebut-sebut kehebatan para pendahulu yang sudah tak berkutik dalam kubur-kubur mereka.

Begitulah kira-kira yang dirasakan saat acara peletakan batu pertama kompleks perumahan KORPRI di bilangan Gampong Jileukat, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, sedang berlangsung pada Sabtu, 28/12/2013.

Acara yang diadakan di lokasi pembangunan kompleks perumahan tersebut, yang juga merupakan kawasan situs sejarah Samudra Pasai itu, dihadiri Walikota Lhokseumawe, Suwaidi Yahya; anggota DPD RI, Ir. Mursyid; serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Dalam berbagai pidato sambutan yang disampaikan para tokoh papan atas itu, hanya Mahlil, pengembang proyek pembangunan tersebut, yang terdengar menyinggung soal keberadaan satu kompleks pemakaman bersejarah di areal proyeknya.

Kebijakan yang diambil pihak pengembang untuk melestarikan kompleks pemakaman itu patut dihormati. Namun, diam seribu basa para petinggi soal kawasan bersejarah itu kurang dapat dimaklumi. “Seyogyanya, merekalah yang bertangung jawab dan jadi panutan dalam upaya menyingkap serta melestarikan tinggalan sejarah sesuai Undang-undang nomor 11, 2010, tentang cagar budaya. Apalagi ini warisan sejarah milik kita sendiri dan yang selalu kita banggakan,” kataTaqiyuddin Muhammad, peneliti sejarah.

Soal keberadaan situs sejarah di Gampong Jileukat tidak diragukan lagi. Kompleks-kompleks pemakaman dan bekas hunian masyarakat zaman Samudra Pasai memang telah ditemukan, di antaranya kompleks Jirat Teungku Bate Meutarah, Teungku di Cot Keutapang, Teungku di Cot Bugak, Teungku di Cot Rheu, dan Teungku di Cot Hasan.

Kompleks jirat Teungku di Cot Asan rata dihabisi mata tajam Buldoser, kendati di situ pernah ditemukan nisan yang bertulis nama seorang pelayar atau navigator, Muallim ‘Abdul Jalil. Sang muallim dan keluarganya yang dikuburkan di situ tentu pasrah saja. “Ya, kan, di situ tidak ada acara “Melawan Lupa” (program tayangan Metro TV—red) untuk mengenang kehadirannya di tempat itu pada masa lampau. Jadi, apa boleh buat, ya pasrah sajalah,” ujar Taqiyuddin.

Meskipun alasan pemerintah memilih lokasi tersebut belum diketahui persis, apalagi di sepanjang Jalan Elak terlihat masih banyak lahan kosong, namun persoalan, kini, jadi dilematis. Para tokoh masyarakat setempat berharap proyek pembangunan itu dapat terus dilanjutkan. Menurut mereka, pembangunan kompleks perumahan tersebut adalah satu-satunya kesempatan untuk memajukan gampong mereka yang tertinggal meski berada tidak jauh dari pusat Kota Lhokseumawe. Pemerintah diperkirakan tidak akan tertarik untuk membangun kawasan itu sebagai salah satu kawasan cagar budaya yang akan menjadi ikon pariwisata Islami dan edukatif. Maka, hanya dengan proyek itu diharapkan gampong tertinggal itu bisa bangkit.

Di pihak lain, CISAH-Lhokseumawe, tetap menghimbau pentingnya kawasan tersebut dari sisi sejarah. “Banyak kisah masa lalu yang mungkin diungkap, apalagi kawasan ini telah kita identifikasi sebagai kawasan pemukiman pelaut Samudra Pasai. Kerajaan Samudra Pasai punya peran besar di masa lampau, abad ke-13 sampai abad ke-16, dalam mengembangkan Islam ke berbagai pelosok Asia Tenggara. Dan itu tidak mungkin tanpa didukung kehandalan para navigator dan pelautnya. Para pelaut dan navigator itulah yang tinggal di kawasan ini,” papar Sukarna Putra, Sekretaris CISAH.

Sukarna Putra juga menegaskan, “Pada prinsipnya, kita tidak menolak apapun upaya pembangunan yang manfaatnya kembali kepada masyarakat, hanya saja perlu diperhatikan tentang harmonisasi masa lalu dan masa sekarang. Kan tidak susah, membiarkan masa lalu tetap hidup berdampingan dan dekat dengan kita. Bahkan, ini akan sangat berguna bagi pembangunan fisik dan spiritual kita. Negara-negara maju di dunia juga mementingkan hal ini. Maka, mari kita jadikan ini sebagai pelajaran dalam kita melangkah ke masa depan.” (Tim misykah.com)