Nab Bahany As: Tidak Ada Kitab Izhharul Haq

Makam yang disebut sebagai Sultan Makhdum 'Ala'iddin Malik 'Abdullah Syah bin Sultan Mahmud Syah, di Paya Meuligo, Peurlak. Disebutkan pula, 'Abdullah ini adalah ayah dari Ratu Nurul A'la. Nisan makamnya tidak bersurat, dan semisalnya lazim dijumpai di kawasan tinggalan sejarah Samudra Pasai. (Foto: CISAH)
Makam yang disebut sebagai Sultan Makhdum ‘Ala’iddin Malik ‘Abdullah Syah bin Sultan Mahmud Syah, di Paya Meuligo, Peurlak. Disebutkan pula, ‘Abdullah ini adalah ayah dari Ratu Nurul A’la. Nisan makamnya tidak bersurat, dan semisalnya lazim dijumpai di kawasan tinggalan sejarah Samudra Pasai. (Foto: CISAH)

LHOKSEUMAWE – Peneliti sejarah dan kebudayaan, Drs. Nab Bahany As, menyatakan hasil penelusuran pihaknya tidak ditemukan kitab kuno berjudul Izhharul Haq yang konon kabarnya memuat Silsilah Raja-Raja Perlak dan Pasai.

Dihubungi Misykah.com melalui telpon seluler, Kamis sore (28/11/2013), Nab Bahany As menyebutkan, dua tahun lalu pihaknya pernah melacak keberadaan kitab Izhharul Haq untuk mencari kebenaran soal kesimpulan seminar tentang Sejarah Masuknya Islam di Nusantara.

Seminar yang digelar di Kuala Simpang, Aceh Tamiang pada tahun 1980, kata Nab Bahany As, menyimpulkan bahwa Kerajaan Islam Pertama di Nusantara dan bahkan di Asia Tenggara adalah Kerajaan Islam Perlak. Hal itu didasarkan pada kitab Izhharul Haq.

“Jadi, karena bertolak dari situ bahwa Perlak sebagai Kerajaan Islam Pertama, maka kami telusuri. Namun setelah kami telusuri dari berbagai dimensi, termasuk kajian Arkeologi, tidak ditemukan datanya,” ujar Nab Bahany As.

Menurut Nab Bahany, pada tahun 1990-an pihaknya pernah menjumpai seseorang di Gayo yang biasa dipanggil Kek Adu. Saat itu, kata dia, Kek Adu mengaku sedang men-translate sebuah kitab dari bahasa Jawiy ke huruf latin, di rumahnya di Desa Suka Jadi, Bener Meriah sekarang.

“Saya tanya kitab apa itu, beliau mengatakan kitab Izhharul Haq. Saya minta fotocopy, beliau nggak berkenan.  Kata beliau, saya translate dulu, nanti saya beri satu copyan,” ujar Nab Bahany.

Beberapa tahun kemudian, Nab Bahany melanjutkan, pihaknya meneliti makam Sayyid Abdul Aziz Syah, di Bandar Khalifah, Peureulak, Aceh Timur, yang diyakini sebagai Sultan Pertama Kerajaan Islam Perlak. Setelah diteliti, kata dia, tidak terbukti sama sekali.

“Lalu saya teringat kembali dengan kitab Izhharul Haq sebagai sumber baru untuk meyakinkan informasi tersebut. Saat kami lacak lagi, ternyata kakek itu (Kek Adu) sudah meninggal dunia,” kata Nab Bahany.

Menurut keterangan cucu dari almarhum kakek itu, kata Nab Bahany, semua dokumen milik Kek Adu termasuk kitab kuno itu sudah dibawa ke kawasan Isak di pedalaman Aceh Tengah atau di lokasi bekas Kerajaan Linge.

Nab Bahany memberi waktu seminggu kepada cucu dari almarhum kakek itu untuk mengecek ke Isak. Dua minggu kemudian cucu dari almarhum menyatakan tidak ada kitab itu.

“Saya berkesimpulan kitab tersebut tidak ada, hanya sebuah rekayasa untuk meyakinkan bahwa Islam pertama masuk ke Nusantara melalui Perlak,” ujar Nab Bahany.

Nab Bahany menyebutkan, “Saya lebih condong melihat bahwa Perlak itu sebuah komunitas Islam tertua, tapi hasil kajian tidak ada kerajaan di situ. Kita tidak menemukan situs-situs yang meyakinkan. Beberapa arkeolog juga sudah membuka kotak uji (penggalian), tidak menemukan bukti ada kerajaan di situ”.

Ia akhirnya menyimpulkan bahwa Samudra Pasai adalah Kerajaan Islam Pertama di Nusantara dan Asia Tenggara. “Saya kecendrungan ke situ, di samping kita temukan secara fisik, juga banyak sumber primer yang meyakinan kita. Hasil kajian-kajian arkeolog juga berkesimpulan bahwa Kerajaan Islam Samudra Pasai adalah Kerajaan Islam Pertama di Nusantara,” ujarnya. (man)

 

Baca juga:

penasaran dengan izhharul haq cisah ke peunaron