Nisan dalam Krueng Pase Milik Puteri Kerajaan

Diskusi
Anggota CISAH sedang mengkaji dua nisan tinggalan sejarah yang tempo hari ditemukan warga dalam aliran Krueng Pase, Samudera. (Foto: CISAH)

BATU nisan yang ditemukan warga Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, dalam aliran Krueng Pase beberapa pekan silam ternyata milik seorang puteri Kerajaan Samudra Pasai. Ini terungkap dalam sebuah diskusi yang diadakan Cisah, Lhokseumawe, pada Jum’at, 8/2/2014.

“Diskusi ini memang disengajakan untuk mengkaji dua benda tinggalan sejarah yang tempo hari ditemukan warga dalam aliran Krueng Pase,” jelas Khairul Syuhada, koordinator bidang ekspedisi, penelitian dan pendataan, kepada misykah.com.

Seperti diberitakan misykah.com pada Rabu, 22/1/2014, Anwar, 48, telah menemukan dua batu nisan tinggalan sejarah zaman Samudra Pasai di aliran Krueng Pase pada Selasa, 21/1/2014. Keesokan harinya, warga setempat secara bersama-sama mengangkat kedua batu nisan terendam aliran sungai itu ke darat demi kelestariannya.

Kepada misykah.com, Khairul membeberkan hasil kajian dalam diskusi tersebut. “Sengaja kita siarkan hasilnya secara lebih lengkap, karena keberadaan Cisah memang untuk menginformasikan segala sesuatu yang diketahui tentang peninggalan sejarah Samudra Pasai. Itu yang pertama. Kemudian, supaya masyarakat Aceh, secara umum, menyadari keberadaan dan nilai warisan budaya yang ditinggalkan para pendahulu, dapat menghargai dan melestarikannya. Dan, kelak, dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai sebuah warisan yang membanggakan,” papar Khairul.

Berikut petikan hasil kajian tersebut:

Kedua batu nisan yang ditemukan itu hampir berukuran sama. Bagian bawah atau pasak salah satu batu nisan saja yang berukuran lebih pendek. Tapi, jika berada pada konteks di atas permukaan tanah, maka ukurannya akan tampak sama. Maka, selain karena keduanya ditemukan dalam jarak berdekatan, ukuran yang hampir sama ini juga dapat menandakan kedua batu nisan ini berasal dari kompleks makam yang sama sebelum lokasinya digerus aliran sungai. Tempat aslinya, untuk sementara, diperkirakan tidak jauh dari lokasi temuan lantaran bobot batu nisan yang berat membuatnya melesak ke dasar sungai sehingga tidak mudah terhanyut arus.

Kendati berukuran hampir sama, kedua batu nisan ini bukan untuk satu makam. Tapi, untuk dua makam. Ini diketahui corak atau model batu nisan, kaligrafi serta penggayaannya yang berbeda. Satunya, yang nanti akan ditandai dengan Batu Nisan 1, lebih bercorak era Aceh Darussalam, atau paling tidak, era transisi dari Samudra Pasai ke Aceh Darussalam. Sedangkan satunya lagi, yang akan ditandai dengan Batu Nisan 2, total, dari era Samudra Pasai periode ketiga (dekade-dekade akhir abad ke-15 dan permulaan abad ke-16). Nisan terakhir serupa nisan-nisan di kompleks pemakaman kesultanan di Meunasah Meucat, Blang Me, dan beberapa kompleks lainnya di Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Karena itu, diyakini, pasangan masing-masing batu nisan masih berada dalam aliran sungai.

Batu nisan 1

Dari sisi bentuk, kaligrafi, ornamen dan penggayaannya, batu nisan ini dapat digolongkan ke dalam batu-batu nisan yang berasal dari zaman Aceh Darussalam. Batu nisan serupa ini dijumpai dalam jumlah besar di wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Sedangkan, di kawasan tinggalan sejarah Samudra Pasai, Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, batu nisan seperti ini berjumlah lebih sedikit; sekitar enam kompleks makam yang tersebar di wilayah-wilayah kecamatan Syamtalira Bayu, Samudera dan Syamtalira Aron, dan sekitar empat kompleks dalam wilayah Kota Lhokseumawe.

Kaligrafi yang ditampilkan pada batu nisan ini merupakan bentuk dan gaya kaligrafi yang berkembang di kawasan utama tinggalan sejarah Aceh Darussalam sekitar paroh kedua abad ke-16 sampai ke-17. Pada sisi muka dan belakang batu nisan berhias mahkota dengan dua tangkai daun di sebelah kanan dan kiri, kemudian di tengah-tengah terdapat medalion, dan bagian bawah, sebuah panel. Semuanya berisi kaligrafi Arab. Kesan megahnya tampak jelas sekali.

Suatu keunikan tersendiri ketika seniman perupa mengimajinasikan batu nisan karyanya ini seolah kertas, di mana relief-relief kaligrafi dan ornamen pada bagian muka akan terlihat terbalik pada bagian belakangnya. Kaligrafi pada bagian belakang batu nisan ini lazim disebut dengan al-khath al-ma’kus atau kaligrafi bergaya cermin.

1.A
Batu Nisan 1.A
1.C
Batu Nisan 1.C

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inskripsi:

A.1
A.1

1. لا إله إلا الله محمد رسول الله

 

 

 

 

 

 

A.2
A.2

2. الله محمد الله محمد – الله محمد الله محمد

 

 

 

 

 

 

A.3
A.3

3. لا إله الا الله محمد رسول الله

لا إله الا الله محمد رسول الله

لا إله الا الله محمد رسول الله

لا إله الا الله محمد رسول الله

 

 

 

A.4
A.4

4. لا إله الا الله محمد رسول الله

Terjemahan A: 1-4. kalimat Tauhid: Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.

 

 

 

 

 

1.B
Batu Nisan 1.B

1. يا من بدنياه شغل (كذا) لقد غره طول الامل

ولم يزل في غفلة حتى دنا منه

2. الأجل الجردابان (كذا) شريه (كذا) فلا يكن في أكل العسل

فاصبر على أهوالها

3. لا موت إلا بالأجل قال النبي صـلى الله عليه وسلم

4. الموت كأس وكل الناس شاربه والقبر باب وكل الناس داخله

(المنقوشات جانبي “ج” و”د” مكررة لما سبقت فلا نذكرها)

 

 

 

Terjemahan B: 1. Wahai orang yang dilalaikan oleh dunia, angan-angan yang tinggi sungguh telah memperdayanya. Dan masih saja ia tak sadar sampai dekat dengannya; 2. Ajal. [Umpama,] orang rakus itu teramat suka makan, maka jangan sampai ia memakan madu. Maka bersabarlah atas cobaan-cobaan dunia; 3. [karena] tak mungkin mati kecuali tiba ajal. Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; 4. Kematian itu ibarat segelas minuman, dan semua orang pasti meminumnya; dan kubur ibarat sebuah pintu, dan semua orang pasti memasukinya.

Sisi C adalah pengulangan dari kalimat-kalimat pada sisi A, sedangankan sisi D pengulangan dari sisi B.

Bunyi inskripsi pada sisi B  dan D ini terdiri dari bait-bait syair dan apa yang diduga sebagai sabda Rasulullah (saw.). Bait pertama merupakan ungkapan yang dianggap berasal dari ‘Ali bin Abi Thalib (r.a.). Dalam Diwan Al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib terdapat dua bait saja:

1. يا من بدنياه اشتغل قد غره طول الأمل

2. الموت يأتي بغتة والقبر صندوق العمل

Bait kedua yang terjemahannya: “kematian datang tiba-tiba, dan kubur adalah peti amal”, ini tidak terdapat pada batu nisan.

Muhammad Amin Al-Kurdiy (wafat 1322 H) juga menyebutkan bait-bait ini dalam Tanwir Al-Qulub, kecuali bait: “orang rakus itu teramat suka makan, maka jangan sampai ia memakan madu”. Bait ini belum diketahui sumbernya. Tampak seperti sebuah peribahasa (matsal), tapi Al-Maidaniy (wafat 518 H) tidak menyebutkannya dalam Majma’ul Amtsal. Ia hanya menyebutkan peribahasa yang berbunyi: La taj’al syimalaka jardabanan (jangan jadikan tangan kirimu seperti orang rakus). Jardaban, kata Al-Maidaniy, orang yang makan sambil menyembunyikan makanan di tangan kirinya karena rakus. Kata Al-Fairuz Abadiy (wafat 817), jardaban: orang yang makan dengan sangat berselera sambil tangan menutup makanan supaya tidak diambil orang lain, diarabkan dari kata dalam bahasa Persia Kardah ban: penjaga roti. Dalam bait ini, angan-angan, barangkali, diumpamakan seperti seorang yang rakus (jardaban), menelan semua yang ada, termasuk umur. Umur adalah sesuatu yang berharga, bernilai seumpama madu. Maka, mungkin, maksud bait ini ialah: jangan sampai angan-angan menghabiskan usia.

Inkripsi pada baris 3-4 sisi B yang menyebutkan  Rasulullah (saw.) bersabda dan seterusnya, belum dijumpai sumber yang menerangkan ini adalah sebuah hadits Nabi (saw.). Kalimat:  kematian itu ibarat segelas minuman, dan semua orang pasti meminumnya; dan kubur ibarat sebuah pintu, dan semua orang pasti memasukinya, tampaknya telah dipetik dari bait syair Umayyah bin Abi Ash-Shalt dan Abu Al-‘Atahiyyah.

Kata Umayyah bin Abi Ash-Shalt (meninggal antara tahun 2 atau 8 Hijriah):

من لم يمت عبطة يمت هرما –  للموت كأس والمرء ذائقها

(Orang yang tidak mati di masa muda, pasti mati di masa tua. Kematian memiliki secangkir minuman dan setiap orang pasti meneguknya)

Dan kata Abu Al-‘Atahiyyah:

الموت باب وكل الناس داخله – فليت شعري بعد الباب ما الدار

الدار جنة خلد ان عملت بما – يرضي الاله وان قصرت فالنار

(Kematian adalah gerbang dan setiap manusia pasti memasukinya. Oh, andai kutahu negeri apa setelah gerbang itu! Negeri itu adalah syurga khuld jika kauperbuat yang diridhai Tuhan, jika kautinggalkan, maka nerakalah)

Kedua bait ini dinukilkan Al-Qurthubiy dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an saat menafsirkan firman Allah dalam surah Al ‘Imran: 185, yang artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

Batu Nisan 2

Batu nisan ini bermodel batu nisan dari periode ketiga zaman Samudra Pasai. Kaligrafi Arab pada batu nisan menunjukkan perkembangan khat Arab yang telah mencapai tingkat puncak kematangan di Samudra Pasai. Kualitasnya benar-benar tinggi. Kaligrafi tersebut juga sekaligus sebagai dekorasi atau zakhrafah pada batu nisan. Semua menunjukkan suatu zaman yang mewah.  

Tiga sisi batu nisan terpahat kalimat Tauhid dan satu sisi lainnya berisi epitaf. Pada sisi yang terpahat kalimat Tauhid, terutama sisi kanan-kiri batu nisan, tidak tersembunyi sama sekali minat penyeni rupa untuk mengungkapkan lewat karyanya ini apa yang dipahami dari firman Allah dalam surah Ibrahim: 24-25.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat Tauhid) seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”

Terlihat pada kaligrafi kalimat Tauhid ini bagaimana batang-batang hurufnya merambah ke atas seraya terjalin satu sama lainnya membentuk hiasan geometris pada setiap tingkatan. Sebuah kegeniusan yang terlahir dari kemantapan keyakinan terhadap Islam.

Inkripsi:

2.A
Batu Nisan 2.A

 

1. لا إله إلا الله محمد رسول الله

2. لا إله إلا الله محمد رسول الله

3. لا إله إلا الله محمد رسول الله

Terjemahan A: 1-3. Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.

 

 

 

 

 

2.B
Batu Nisan 2.B

 

1-3. لا إله إلا…

Terjemahan B: 1-3. Tiada Tuhan selain…

 

 

 

 

 

 

 

2.C
Batu Nisan 2.C

 

1. هذا القبر الشريفة الميمونة المباركة الكاملة يوهن حسنة بنت

2. الملك الافضل المتوفية بتاريخ ليلة الستة (السبت؟) من شهر رمضان

3. سنة ثمان وتسعمائة من الهجرة النبوية المصطفية أفضل الصلوات والتحية

Terjemahan C: 1. Inilah kubur seorang wanita yang mulia lagi dianugerahi, yang diberkati lagi sempurna [budinya], Yuhan Hasanah binti; 2. Al-Malik Al-Afdhal, yang wafat pada tanggal malam enam (Sabtu?) dari bulan Ramadhan; 3. Tahun sembilan ratus delapan (908) dari Hijrah Nabi al-Mustafa [ke atas beliau] seutama-utama shalawat dan salam.

 

 

 

2.D
Batu Nisan 2.D

 د.

1-3. الله محمد رسول الله

Terjemahan D: 1-3.  …Allah, Muhammad utusan Allah.

 

 

 

 

Yuhan pada permulaan nama puteri dari Al-Malik Al-Afdhal ini menunjukkan ia salah seorang dari keturunan Yuhan. Kata yuhan ini sendiri ta’rib (diarabkan) dari kata yuan, yang merupakan nama dinasti didirikan Kublai di Cina pada abad ke-13.

 

Siapakah Al-Malik Al-Afdhal, ayah dari puteri ini?

Di Gampong Teupin Ara, Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, terdapat satu nisan makam yang menurut pengakuan warga setempat, dulunya, juga diangkat dari lokasi yang sama dalam aliran sungai Krueng Pase. Pada nisan tersebut terdapat epitaf:

 

Malik Al-Afdhal
Nisan makam Perdana Menteri Al-Malik Al-Afdhal

1. هذا القبر الوزير الأكبر الحسيب النسيب الأفضل

2. الملقب بدار خانود أول نور الذي مات إلى رحمة الله

3. ليلة الخمس (كذا) السابع والعشرين من شهر ذو (كذا) القعدة سنة ثلث وتسعمائة

Terjemahan:

1. Inilah kubur menteri besar yang berketurunan terhormat lagi terkenal, Al-Afdhal (orang yang terlebih utama); 2. Yang digelar Padar Khanowad Awwal Nur yang berpulang ke rahmatullah; 3. [pada] malam Kamis, dua puluh tujuh (27) dari bulan Dzul Qa’dah tahun sembilan ratus tiga (903).

 

 

 

 

Pemilik nisan ini adalah seorang menteri besar atau perdana menteri. Dari tarikh wafatnya pada Dzulqa’dah 903 atau Juli 1498, dapat diketahui, ia pernah menjabat perdana menteri untuk Sultan ‘Adlullah bin Manshur bin Zainal ‘Abidin (wafat 911 H/1506 M) yang naik tahta menggantikan saudaranya Al-Kamil bin Manshur pada 900 H/1495 M. Al-Afdhal atau Al-Malik Al-Afdhal, yang berarti raja yang terlebih utama, merupakan gelar kerajaan untuk perdana menteri ini.

Tentang gelar Al-Afdhal atau Al-Malik Al-Afdhal, Al-Qalqasyandiy (wafat 821 H) menyebutkan bahwa pada masa Al-Mustanshir, Khalifah dari Dinasti Fathimiyyah di Mesir (427 H/1036 M—487 H/1094 M), untuk pertama sekali wazir atau perdana menteri diberi gelar kerajaan. Badruddin Al-Jamaliy, wazir Al-Mustanshir, menggelar dirinya dengan Amirul Juyusy (panglima bala tentara). Putera Al-Jamaliy yang kemudian juga menjabat sebagai perdana menteri untuk Al-Mustanshir, bergelar Al-Afdhal. Namun dalam sejarah Dinasti Fathimiyyah, gelar Malik (raja) dipakai pertama sekali oleh Ridhwan bin Walakhsyi, wazir Khalifah Al-Hafidz li Dinillah (wafat 544 H), pada tahun 530 Hijriah. Ia disebut dengan As-Sayyid Al-Ajal Al-Malik Al-Afdhal (tuan agung dan raja yang terlebih utama). Mulai waktu itu, gelar Al-Malik digunakan oleh menteri-menteri yang menjabat sesudahnya. Sementara gelar Al-Afdhal memang telah digunakan sebagai gelar para wazir semenjak Al-Afdhal Syahan Syah bin Badruddin Al-Jamaliy pertama sekali menggunakannya.

Tradisi penggelaran wazir atau perdana menteri dengan Al-Malik itu kemudian berlanjut sampai ke masa Shalahuddin Al-Aiyubiy (wafat 589 H), yang bergelar Al-Malik An-Nashir. Setelah menjadi sultan, Shalahuddin masih tetap menggunakan gelar tersebut, dan gelar semisal ini kemudian popular di zaman Dinasti Al-Aiyubiyyah.

Selain digelar dengan Al-Wazir Al-Akbar (menteri besar), dan Al-Afdhal atau Al-Malik Afdhal, pemilik nisan makam di Gampong Teupin Ara, Geudong, juga memiliki sebuah gelar lain. Epitaf menyebutkan ia digelar dengan: Padar Khanowad (Khonowad) Awwal Nur. Gelar ini tampaknya menggunakan kata-kata dalam Bahasa Persia yang maknanya terkait kepala sebuah klan yang disebut dengan Khanowad (klan/keluarga) Awwal Nur (Bapak dari Klan Awwal Nur). Siapa keluarga Awwal Nur ini? Awwal Nur bermakna cahaya pertama. Sangat mungkin, klan atau keluarga yang disebut dengan Awwal Nur ini berkaitan dengan keturunan dari bangsa di Timur Jauh (Cina), di mana cahaya matahari pertama terbit—penggunaan Bahasa Persia untuk gelar sebuah klan turunan bangsa Cina ini, mengingatkan kisah yang dituturkan Ibnu Baththuthah di abad ke-14, tentang seorang putra pangeran dari Cina yang menggandrungi nyanyian Persia, malah bisa menyanyikannya.

Yuhan Hasanah binti Al-Malik Al-Afdhal, yang berasal dalam klan Awwal Nur ini, di samping merupakan puteri dari seorang perdana menteri kerajaan, ia tampaknya juga seorang wanita yang punya kedudukan penting dalam istana Kesultanan Samudra Pasai. Ini terkesan dari batu nisannya yang dibuat sangat indah.

Begitulah, di bawah naungan Islam, persilangan budaya berbagai bangsa dunia berlangsung dengan dahsyat di Samudra Pasai pada zaman sejarahnya. Suatu sisi yang paling berbeda dengan kesan-kesan kelokalan yang ditampilkan berbagai hikayat dan dongeng tentang Samudra Pasai. (Tim misykah.com)

Baca juga
Nisan Makam ditemukan dalam Sungai Masyarakat Heboh