Nisan Mahkota Negeri Ditemukan

Khairul Amri dan Mulkiari saat dilokasi penemuan Nisan makam bersejarah di Gampong Pante Tanah Luas Aceh Utara. [CISAH]
Sepasang batu nisan bersurat kembali menambah isi pembendaharaan tinggalan sejarah Kesultanan Sumatra. Pada hari jumat, 7 Desember 2018, bertempat di Gampong Pante, Kemukiman Beureughang, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara. Sebuah komplek pemakaman kuno, yang diperkirakan berasal dari abad ke-15 Masehi kembali ditemukan CISAH dengan mengandalkan informasi dari dua anak berusia 10 tahun, yang bernama Khairul Amri dan Mulkiari. Keduanya bertempat tinggal di dekat komplek makam tersebut.

Ba’da Shalat Jum’at tim CISAH kembali menyisir kawasan tersebut, dan menemukan komplek nisan berbeda yang terdapat belasan pasang nisan kuno. Namun di komplek yang kedua tidak dijumpai nisan yang memuat tulisan (inskripsi). Lalu tim kembali ke komplek makam yang pertama. Dengan beberapa peralatan tim berhasil mengangkat sepasang nisan bertulis yang telah terbenam dan terjepit diantara akar pohon besar. Mukiari dan Khairul beserta seorang penduduk setempat ikut juga membantu dalam proses eskavasi nisan tersebut. Setelah terangkat nisan-nisan dibersihkan dan di dokumentasi kan seluruh bagiannya. Lalu tim kembali menata nisan ditempat yang semula.

Sewaktu proses penggalian, antara nisan bagian kepala (utara) dan bagian kakinya (selatan) hanya berjarak 120 cm. Jika nisan-nisan ini dahulunya tidak pernah bergeser dari tempatnya, maka diperkirakan pemilik kubur ini normalnya adalah seorang anak yang berumur 7 sampai dengan 10 tahun. Walaupun demikian kita belum dapat memastikan siapa pemilik kubur tersebut. Namun dengan melihat nisan yang memesona ini, pemilik kubur semasa hidupnya bukan dari kalangan masyarakat biasa.

Nisan seorang wanita bangsawan, anak dari Raja Kayan, ditemukan CISAH beberapa waktu laludi Gampong Teungoh. Tanah Luas. [CISAH]
Ukuran sepasang nisan ini terbilang sedang, juga tidak terlalu kecil. Pada bagian kepala dipahat tembus di empat sisinya. Di puncak nisan-nisannya terdapat mahkota bertingkat yang menyerupai mahkota bunga ber susun. Sejauh ini nisan kepala yang diukir tembus serupa ini baru dijumpai 3 (tiga) pasang dan ketiganya berada di komplek makam yang berbeda namun jarak antara masing-masing komplek berdekatan, dan masih dalam wilayah Kemukiman Beureughang. Satu diantaranya adalah seorang wanita bangsawan putri dari Raja kayan (Suku Kayan di Borneo), yang wafat paruh awal abad ke-15 Masehi. Pada epitafnya juga disebutkan bahwa beliau berasal dari Sungai Batang Ayi, yang dahulunya masuk dalam wilayah Kesultanan Brunei Darussalam. Dan wilayah Batang Ayi sekarang masuk dalam kawasan Taman Nasional, Negara Malaysia.

Menariknya sepasang nisan yang baru dijumpai ini baik bentuk, dan mahkota kepalanya sangat mirip dengan sepasang nisan yang lainnya, satu diantara yang telah kami sebut di atas. Yang berarti dari tiga pasang nisan yang dipahat tembus bagian kepalanya, dua diantaranya memiliki kemiripan yang kuat. Baik ditilik dari kemiripan bentuk nisan, maupun lokasinya yang berdekatan, tidak menutup kemungkinan ketiga pemilik kubur memiliki keterkaitan yang kuat. Wilayah Kemukiman Beureughang sendiri bentang alamnya tepat berada diantara Sungai Pasai dan Sungai Keureuto, kurang lebih 12 kilometer dari pesisir pantai. Yang juga kita ketahui bersama bahwa lembah-lembah diantara dua sungai ini, telah banyak ditemukan warisan pusaka serupa.

Dari apa yang tertinggal dalam bumi di wilayah Kemukiman Beureghang ini, kita diyakinkan oleh kenyataan bahwa wilayah ini dahulunya adalah salah satu pekuminan kuno yang besar dan padat. Banyaknya tokoh yang tertulis dalam inskripsi-inskripsi nisan di Kemukiman Beureughang yang sebelumnya pernah ditemukan, baik dari golongan ulama maupun bangsawan, tidak dapat kita pungkiri bahwa wilayah ini adalah salah satu Kenegerian penting dari Kesultanan Sumatra yang agung itu. (Arya Purbaya)

 

Khairul Amri dan Mulkiari berfoto bersama Tim CISAH di Lokasi penemuan nisan bersejarah di Gampong Pante Tanah Luas, Aceh Utara. [CISAH]