Penasaran dengan Izhharul Haq, CISAH ke Peunaron

Bincang-bincang dengan para tokoh masyarakat Peunaron, Aceh Timur, menyangkut naskah Izhharul Haq. (Foto: CISAH)
Bincang-bincang dengan para tokoh masyarakat Peunaron, Aceh Timur, menyangkut naskah Izhharul Haq. (Foto: CISAH)

Naskah Izhharul Haq

Peunaron, satu nama tempat yang terdengar akrab bagi mereka yang meminati kajian-kajian sejarah  permulaan kedatangan Islam ke pesisir utara Sumatera (Aceh). Pasalnya, sebuah naskah kitab yang konon katanya memuat silsilah raja-raja Peurlak berasal dari seorang bernama Akub Peunaron-Gayo. Naskah itu, menurut catatan M. Yunus Jamil yang tertanggal pada 12 Maret 1953, berjudul Izhharul Haq; Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai, karangan Abu Ishaq Al-Makaraniy. Catatan itu ditulis Jamil dengan bahasa Jawiy  di atas lembaran manuskrip yang disebutnya sebagai “halaman lepas dari Kitab Izhharul Haq..”.  Sementara manuskrip Izhharul Haq versi lengkapnya, sampai kini belum pernah dijumpai atau dipublikasikan, dan masih semacam misteri.

Gambar lembaran naskah yang disebut dengan Izhharul Haq yang dimuat dalam buku Kebudayaan Aceh dalam Sejarah. (Repro: CISAH)
Gambar lembaran naskah yang disebut dengan Izhharul Haq yang dimuat dalam buku Kebudayaan Aceh dalam Sejarah. (Repro: CISAH)

Begitupun, oleh para sejarawan Aceh, antara lain A. Hasjmy dan H. M. Zainuddin, lembaran berasal dari Akub Peunaron itu telah dijadikan salah satu dokumen penting mendasari klaim mereka bahwa seawal abad ke-3 H/ke-9 M, telah muncul sebuah kerajaan Islam di Asia Tenggara, yakni Kerajaan Peurlak dengan penguasa pertamanya Sayyid ‘Abdul ‘Aziz Syah. Keberasalan lembaran naskah tersebut dari Akub di Peunaron-Gayo, pedalaman Peurlak, semakin memperteguh klaim tersebut. Lembaran itu kemudian dipublikasi Hasjmiy dalam salah satu karya setebal 478 halaman berjudul Kebudayaan Aceh dalam Sejarah, yang terbit pada 1983.

Terdorong rasa penasaran untuk melacak asal-usul lembaran tersebut, kami rihlah ke Peunaron, yang baru lima tahun lalu berubah status menjadi kecamatan, pemekaran dari Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur. Tujuannya ialah untuk mencari dan menjumpai keluarga Akub Peunaron, sekaligus menggali berbagai keterangan tentang Akub Penaron yang barangkali masih hidup sampai permulaan paroh kedua abad ke-20 silam, begitu pula mengenai kronologi kepemilikannya atas lembaran naskah tersebut.

Lembah Peunaron yang subur dan permai. (Foto: CISAH)
Lembah Peunaron yang subur dan permai. (Foto: CISAH)

Ke Peunaron

Sabtu pagi (23/11/2013) sekitar pukul 08.15 WIB, kami tiba di Keude (pusat perbelanjaan) Gampong Beusa Seberang, Peurlak Barat. Dari gampong yang berada di barat Krueng (sungai) Peurlak, kami bersepeda-motor ke arah selatan melalui jalan beraspal yang kondisinya lumayan baik. Perjalanan silih berganti antara menaiki bukit dan melewati areal sawah yang luas. Selama perjalanan, seperti setiap kali berpergian ke berbagai pelosok Aceh, selalu muncul kesan bahwa lahan layak huni di provinsi yang dulunya merupakan wilayah kesultanan Aceh ini masih sangat luas terbentang, dan  perlu dimakmurkan. “Masih luas sekali tanah Aceh ini!” ucap salah seorang dari kami seperti berbicara dengan dirinya.

Setelah hampir satu setengah jam, dan setelah menuruni sebuah gunung paling tinggi sejak dari awal perjalanan, lalu menyeberangi sebatang sungai jernih dan tidak lama setelah jalan mendaki kembali, tampaklah lembah Peunaron yang permai seperti tersingkap dari balik tirai alam yang menutupinya.

Jalan memasuki Gampong Arul Pinang ibukota Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur. (Foto: CISAH)
Jalan memasuki Gampong Serah Pineung ibukota Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur. (Foto: CISAH)

Kami terus melaju mencari ibukota kecamatan. Jalan masih terlihat lengang. Rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan juga tampak sepi. Tiba di perbatasan memasuki Gampong Arul Pinang yang berbatu kilometer 42 dari Peurlak, keramaian mulai tampak. Rumah-rumah penduduk semakin padat dari sebelumnya. Di kiri-kanan jalan, terlihat biji-biji cokelat (Theobroma cacao) yang sedang dijemur warga, dan menebarkan aromanya yang khas. Suasana yang secara langsung mengabarkan tentang kemakmuran wilayah pedalaman itu.

Arul Pinang merupakan ibukota Kecamatan Peunaron. Fadil Rahmi, Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah yang berdomisili di Banda Aceh dan beristrikan Ainiyyah, wanita asal Peunaron, yang kami hubungi untuk informasi awal mengenai Peunaron ternyata telah memberitahukan Camat Peunaron dan mertuanya perihal kedatangan kami. Tak lama menunggu sambil menikmati kopi di warung milik seorang pemuda asal Pidie, Pak Camat pun datang. Ia menyambut kami dengan sangat ramah. “Saya asal dari Panton Labu, Aceh Utara, tapi sudah sejak tahun 1980 berdomisili di Peunaron. Setamat SPG (Sekolah Pendidikan Guru-red), saya ditugaskan untuk mengajar di sini,” beber Camat Jaman (baca: Yaman) setelah mengetahui kami datang dari Lhokseumawe.

Siapa Akub Peunaron?

Kepada Pak Camat, kami utarakan perihal kedatangan kami untuk mencari keluarga Akub Peunaron yang disebutkan oleh M. Yunus Jamil pada lembaran naskah manuskrip yang menurutnya adalah Izhharul Haq. Sejenak Pak Camat memperhatikan fotocopy lembaran naskah yang kami tunjukkan. “Tapi setahu saya, dan yang sering saya dengar-dengar, itu adalah nama Pang Akob. Beliau, menurut satu cerita, adalah seorang pejuang zaman dulu. Asalnya dari Simpang Jernih, dan kuburnya itu di Samarkilang, bukan di Peunaron,” terang pria kelahiran 2 Mei 1961 ini. “Kalau Akub yang dimaksud ini (terkait lembaran naskah Izhharul Haq-red), saya belum pernah dengar,” tambahnya lagi.

Perbincangan terhenti sejenak. Bapak Haji Bindinsyah (59 tahun), salah seorang tokoh sesepuh masyarakat Peunaron dan anggota Tuha Pheut (dewan konsultan gampong) Arul Pinang, yang juga mertua Fadhil Rahmi, datang menyambut kami dengan hangat. Sebentar kemudian kami sudah kembali lagi dalam topik awal: siapa Akub Peunaron ini?

Dari kedua tokoh masyarakat itu diketahui, Peunaron hari ini jauh berbeda dengan Peunaron dulu, apalagi dekade 50-an abad yang lalu. Arul Pinang, ibukota kecamatannya hari ini, begitu juga gampong-gampong di sekitarnya, itu baru dibuka sejak tahun 1980, setelah adanya program transmigrasi. Sebelumnya daerah itu hanya hutan belantara dan rawa-rawa. “Dulunya, yang disebut dengan Peunaron itu adalah kampung kecil di seberang sungai di belakang itu,” tutur Pak Bidinsyah sambil menunjuk ke arah batang sungai yang kami lintasi sebelumnya. “Saya saja berasal dari Lokop, dan pindah kemari sejak 80-an, dan waktu itu masih sedikit sekali orang yang tinggal di sini,” ujarnya lagi.

Ketika ditanyakan lagi, apakah keduanya pernah mendengar tentang Akub Penaron atau M. Yunus Jamil, atau siapa saja yang pernah menyimpan kitab-kitab Arab bertulis tangan (manuskrip), atau apa saja yang punya kaitannya dengan hal-hal seperti itu, keduanya menggeleng. “Selama ini, kami belum pernah mendengarnya, tapi coba kita tanyakan dulu kepada Geuchik Peunaron Lama. Dia itu orang yang paling tahu tentang bagaimana Peunaron sejak dulu. Dia keturunan asli di sini,” ucap Pak Camat sambil menekan beberapa tombol nomor di handphonenya.

Dari mikrofon handphone yang volumenya sengaja dibesarkan terdengar suara, “Di sini ada yang namanya Akub, sudah meninggal, dia seorang ustadz, tapi isteri mudanya masih hidup.” Mulanya kami sedikit merasa senang mendengar informasi tersebut. Seperti memperoleh secercah sinar untuk jawaban yang kami cari. Tapi kemudian jadi ragu juga jika itu memang benar-benar orang yang kami cari. Begitupun, kami menerima saran Pak Camat untuk menemui Geuchik Peunaron Lama agar dapat memperoleh keterangan lebih lanjut tentang Akub yang dimaksudnya.

Krueng Peunaron di perbatasan Peunaron Lama dan Peunaron Baru. (Foto: CISAH)
Krueng Peunaron di perbatasan Peunaron Lama dan Peunaron Baru. (Foto: CISAH)

Peunaron Lama

Peunaron Lama adalah sebuah gampong kecil di lereng gunung yang lazim disebut warga setempat dengan gunung besar. Di kaki gunung itu, mengalir Krueng Peunaron yang kemudian bersama-sama dengan Krueng Buni dari arah lain, menuangkan airnya ke Krueng Tuan. Lalu di bagian hilirnya, Krueng Tuan ini membelah wilayah Peurlak menjadi dua bagian yang hari ini disebut dengan Kecamatan Peurlak Timur dan Peurlak Barat.

Menurut Camat Jaman, asal muasal tempat ini dinamakan dengan Peunaron lantaran dari dulu sampai sekarang, terkenal dengan kesuburannya. Berbagai hasil alam diperoleh di sini. Sebab itulah, orang-orang yang datang kemari, dulunya, mengambil semua hasil alam yang mungkin mereka peroleh lalu mereka ikat ke punggung mereka. “Itulah sebabnya tempat ini disebut dengan pu-na-run, artinya hasil alam apa saja yang diperoleh diikatkan ke punggung untuk dibawa pulang,” tutur laki-laki yang telah mengabdikan sebagian besar umurnya di wilayah terpencil ini.

Usai bincang-bincang seputar keadaan masyarakat di Peunaron yang umumnya adalah petani berasal keturunan dari berbagai daerah lain seperti Jawa, Gayo, pesisir Aceh dan lainnya, dan hidup dalam kemajemukan yang rukun dan harmonis, kami mohon pamit untuk dapat meneruskan penyelidikan tentang Akub Peunaron yang disebut M. Yunus Jamil di lembaran manuskrip.

Bincang-bincang dengan Bang Kasah, Geuchik Peunaron Lama. (Foto: CISAH)
Bincang-bincang dengan Bang Kasah, Geuchik Peunaron Lama. (Foto: CISAH)

Kami kembali ke bagian tepi Krueng Peunaron mencari rumah Ucak. Ucak yang berarti laki-laki pendek, adalah panggilan akrab orang-orang tua di Peunaron untuk laki-laki bertubuh tegap yang kini mempersilahkan kami ke dalam rumahnya. Rumah panggung bercat hijau muda merupakan penanda kediaman Ucak yang sekarang menjabat sebagai Geuchik Peunaron Lama. Pria kelahiran 1961 ini bernama asli Kasah. Sangat ramah, dan berbicara dengan bahasa Aceh yang fasih. “Orang tua ibu saya berasal dari Alue Ie Puteih (Aceh Utara-red), namanya M. Yusuf,” ungkap Bang Kasah, “sedangkan kakek saya dari pihak ayah seorang Gayo asal Lokop.”

Kepada Bang Kasah, kami kembali mengutarakan maksud kedatangan kami mencari keluarga keturunan dari Akub Peunaron yang dicatat M. Yunus Jamil pada tahun 1953, sambil menunjukkan fotokopi naskah itu kepadanya. “Itulah,” kataBang Kasah memulai keterangannya, “yang ada di sini seorang tua yang namanya Akub. Dia meninggal sekitar lima tahun yang lalu. Keluarganya tinggal tidak jauh dari sini. Dan di sini, ia dipanggil Ustadz.”

Saat ditanyakan, pernah dengar tentang Akub yang mungkin sudah berusia tua dalam tahun-tahun 50-an, ia menjawab, “O, kalau itu, saya tidak pernah dengar.” Merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan, kami kembali menanyakan, atau adakah orang ataupun sebuah keluarga yang diketahui menyimpan atau setidaknya pernah menyimpan kitab-kitab bertulis tangan (manuskrip) atau semacamnya di sini? Bang Kasah pun kembali menggelengkan kepala. “Tidak ada,” tegasnya lagi.

Menurut Bang Kasah, di Peunaron ini dulunya cuma ada beberapa rumah saja. Tidak seramai sekarang, dan jalan ke sini dari Peurlak pun baru ada jalan setapak. “Kami, kalau pergi atau pulang dari Peurlak harus menginap semalam di jalan,” terangnya lagi. Begitu terpencilnya Peunaron pada masa dulunya sehingga hal-hal yang seperti kami tanyakan kepadanya tampak sebagai sesuatu yang agak sulit dibayangkan. “Kalau hal-hal semacam itu, mungkin, akan lebih mudah ditemukan di gampong sebelum Peunaron dari arah Peurlak. Gampong Leubok Bayah, namanya. Di situ ada Nek Lambak. Mungkin, ia lebih tahu hal-hal begitu,” urai Bang Kasah menutup keterangannya.

Hari sudah lewat Zhuhur saat kami mohon izin kepada Bang Kasah, dan beranjak meninggalkan perkampungan berhawa sejuk itu. Aliran sungai Peunaron yang membelah rimba nan hijau masih melekat di pelupuk mata. Meskipun yang dicari belum kunjung ditemui, namun kepada Bang Kasah kami katakan akan singgah lagi kapan saja kami melintasi wilayah kekuasannya ini (Peunaron Lama). Ia menimpali dengan senyum lebar sambil berucap, “Ya, baik.” (Laporan: Abdul Hamid, Munawir, Herman, Taqiyuddin)

 

Baca juga:

Nab bahany as tidak ada kitab izhharul haq