Pencarian Artefak Terbenam di Gampong Pie, Aceh Utara

Keadaan lokasi situs sejarah di Gampong Pie, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, sebelum dibersihkan. (Foto: Khairul Syuhada)
Keadaan lokasi situs sejarah di Gampong Pie, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, sebelum dibersihkan. (Foto: Adi Alam)

TERIK matahari tidak menyurutkan semangat mereka yang bergotong-royong membersihkan sebuah lokasi situs sejarah Samudra Pasai di Gampong Pie (Ulee Blang), Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Mereka yang bergotong-royong sejak pagi pada Ahad, 2/3/2014, terdiri dari seluruh anggota Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH), serta sejumlah warga masyarakat setempat.

“Sebagaimana terlihat, lokasi situs berada di salah satu petak sawah di Gampong Pie,” kata Abdul Hamid, Ketua CISAH, kepada misykah.com, “informasi yang berhasil kita jaring dari warga Gampong Pie, di lokasi ini terdapat sebuah kompleks kuburan dari masa Samudra Pasai yang ditandai dengan adanya batu-batu nisannya yang khas. Di antaranya, nisan yang disebut warga dengan batee puteih (batu nisan putih—red), mungkin marmer. Tapi batu nisan itu, dan begitu juga lainnya, tidak diketahui keberadaannya lagi. Hanya beberapa batu nisan saja yang terlihat bergelimpang di atas permukaan tanah. Satu di antaranya adalah batu nisan bersurat.”

Sebelumnya, seperti diberitakan misykah.com, Rabu, 27/2/2014, Zainal Abidin, yang mengerjakan tanah sawah di mana lokasi situs berada, telah menemukan sebuah kompleks makam yang terbenam dalam tanah. Antara kedua lokasi kompleks makam hanya berjarak beberapa meter saja, dan masih dalam petak sawah yang sama.

“Sebelum dibuat menjadi lahan sawah, lokasi ini dulunya ditutupi semak-semak,” tutur Zainal Abidin yang juga mantan Geuchik (kepala desa) Gampong Pie, “Dulunya, Ada rumpun bambu besar di sini, dan juga belukar. Tanah ini, kemudian, oleh pemiliknya diwaqafkan untuk gampong. Jadi, semak belukar itu dibersihkan dengan dozer supaya dapat dijadikan lahan sawah. Saat sedang didozer, mata dozer mengenai beberapa batu nisan, maka langsung saja kami hentikan supaya tidak merusak cagar budaya. Hanya saja, sampah semak-semak yang didozer itu terlanjur ditumpuk di atas lokasi. Dan ini jadi masalah.”

Masalah sampah semak-semak yang menumpuk di atas lokasi langsung ditanggapi CISAH dengan berinisiatif melakukan gotong-royong untuk membersihkan tumpukan sampah dari lokasi. “Kita yang juga dibantu sejumlah warga membersihkannya secara manual saja. Pangkal-pangkal perdu bambu yang besar dan beberapa batang kelapa terpaksa dibuntungi memakai gergaji mesin dan alat lainnya lalu diangkat ke tempat lain dan dibakar,” kata Abdul Hamid.

Bagian lokasi yang sudah bersih lantas dideteksi dengan menyucukkan besi runcing yang sudah dipersiapkan ke dalam tanah untuk mengetahui apakah ada batu nisan-batu nisan yang terbenam. Lima batu nisan yang sudah melesak ke tanah pada kedalaman berkisar antara 20-40 cm berhasil dideteksi. Dua kotak persegi empat berukuran sekitar 40×40 cm (A, B), dan satu kotak persegi panjang berukuran sekitar 120×50 cm (C) dibuka secara hati-hati untuk mengetahui bagaimana latar belakang artefak-artefak tersebut terdeposit di dalam tanah.

Abdul Hamid menjelaskan, batu-batu nisan yang diketemukan di dalam tanah itu secara umum dalam posisi yang condong ke timur, atau ke kiri makam. Kemiringan yang menonjol, bahkan hampir rebah, terlihat pada dua batu nisan yang ditemukan masih utuh, sementara batu-batu nisan yang patah, derajat kemiringan kurang dari itu. Dari kondisi tersebut, dapat diperkirakan bahwa batu-batu nisan di lokasi ini pernah mendapatkan hantaman benda yang rubuh, mungkin pohon besar, dari arah barat laut kompleks.

Sebagaimana diketahui, setiap makam Muslim memiliki dua nisan, nisan sebelah kepala jenazah dan sebelah kakinya. Tiga nisan di dalam kotak persegi panjang (C) diketahui merupakan nisan-nisan sebelah kaki yang pasangannya (nisan-nisan sebelah kepala) telah ditemukan di atas permukaan tanah. Salah satu nisan yang di dalam tanah adalah pasangan nisan bersurat yang ditemukan di atas permukaan tanah. Tapi sayang, nisan itu telah patah, dan bagian patahan tidak berhasil ditemukan kendati diyakini inskripsi pada nisan patah itu menyebutkan data tentang almarhum yang dimakamkan.

Nisan-nisan yang ditemukan di atas permukaan tanah, tampaknya, telah terbongkar dan terpelanting ke atas ketika pohon rubuh. Sementara nisan-nisan yang melesak ke dalam tanah akibat tekanan batang pohon, lambat laun tertimbun lumpur banjir yang dibawa sungai Krueng Pase—bekas aliran Krueng Pase hanya berjarak sekitar 500 meter dari lokasi.

“Dalam kotak-kotak galian yang berukuran dalam sekitar 40 cm ini tidak ditemukan benda-benda lain-lain beserta nisan. Lapisan tanah berwarna abu-abu gelap yang menutupi nisan-nisan itu merupakan lapisan yang terjadi akibat aktifitas sungai, sekitar 100 tahun terakhir,” jelas Abdul Hamid.

Lokasi yang juga disebut masyarakat Gampong Pie dengan Kuta Sagoe (kota bagian pinggir) ini berada tidak jauh dari kompleks makam Na’ina Husamuddin bin Na’ina Amin, dari abad ke-15. Naina Amin ialah seorang tokoh penting di Samudra Pasai. Kedua nisan makamnya terbuat dari marmer, dan pada nisan sebelah kaki terpahat dengan indah bait-bait syair punjangga Persia terkenal, Sa’diy Asy-Syiraziy. Dari jarak kurang dari 1 km juga terlihat kompleks pemakaman Kesultanan Samudra Pasai periode awal (makam Al-Malik Ash-Shalih dan puteranya, Muhammad) di Gampong Beuringen.

Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa kompleks makam lain yang menandakan Kuta Sagoe dalam masa sejarah Samudra Pasai merupakan sebuah pemukiman yang padat.

“Gotong-royong yang kita lakukan dengan dukungan dan swadaya teman-teman baik dari CISAH maupun simpatisannya, serta warga Gampong Pie, ini baru merupakan langkah awal untuk menyelamatkan lokasi situs sejarah yang telah terbengkalai dalam masa yang sudah lama sekali ini. Mudah-mudahan, ke depan, instansi pemerintah yang bertanggunjawab dalam persoalan cagar budaya dapat menangani kelanjutannya. Dan kepada teman-teman yang telah berpartisipasi, kita ucapkan terimakasih,” kata Abdul Hamid mengakhiri keterangannya kepada misykah.com. [Mawardi Ismail]

 

Lihat foto-foto lainnya: