Perayaan Maulid Nabi di Lembah Geureudong Pase

MASYARAKAT Desa Dayah Seupeng dan Peudari, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara, menggelar perayaan maulid, Senin, 13/1/2014. Mereka larut dalam suasana yang khidmat bersama lantunan “dike moloed”.

Berikut laporan wartawan misykah.com yang meliput perayaan Hari Lahirnya Nabi Besar Muhammad saw., di dua desa pedalaman tersebut. Pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB, kami berangkat dari kota Lhokseumawe melintasi Kecamatan Blang Mangat hingga memasuki Kecamatan Geureudong Pase.

Setelah menempuh jarak lebih kurang 20 kilometer, kami menemukan suasana bising berganti hening. Sepanjang jalan berbukit, kami ditemani rindangnya pepohonan dan melewati likukan Krueng (Sungai) Pasai di sebelah kiri jalan. Sesekali terdengar kicauan burung mengusir sunyi senyap. Tiga puluh menit berlalu, akhirnya kami tiba di Keude Mbang, Ibukota Kecamatan Geureudong Pase.

Tak lama kemudian, kami langsung merapat ke rumah Muhammad Rizal (25), anggota CISAH, di Desa Dayah Seupeng. Denyut kisibukan mulai tampak disana. Sebagian wanita berkumpul di dapur membungkus nasi menggunakan daun pisang muda yang telah dilayukan dengan api. Nasi bungkus yang bentuknya mirip piramid tersebut dinamakan “bu kulah”. Sebagian perempuan lainnya membungkus ketan, pengananan itu dinamakan “pulot”.

Pulot tersebut lantas dihidangkan untuk kami cicipi sebagai makanan pembuka pagi itu. Begitulah tuan rumah menghormati tamunya. Saat hampir bersamaan, kaum laki-laki dewasa mulai menuju ke meunasah. Suasana semakin meriah karena anak-anak ikut berkumpul untuk mengikuti acara maulid

Dari kejauhan terdengar deru mesin mobil beriringan yang kemudian menepi di pekarangan meunasah. Ada tiga mobil bak terbuka ditumpangi anak-anak muda berpeci dan berbaju serba putih. Ternyata para santri dayah berjumlah sekitar 200 orang. Mereka rombongan “dike moloed” yang diundang oleh pihak Desa Dayah Seupeng untuk memeriahkan maulid.

Dike moloed adalah sebuah bentuk seremonial Islam di Aceh pada perayaan maulid. Lantunan yang dibawakan antara lain zikir, istighfar serta cerita kelahiran nabi dengan menggunakan irama-irama berbeda.  Dike dipimpin seorang radat atau syekh pada tiap kelompoknya.

Di Dayah Seupeng, hari itu, dihadiri empat group dike. Mereka berasal dari dayah di Desa Kitoe dan Desa Rantoe, Kecamatan Samudera, dan Dayah Nurul Islam Desa Uram Jalan, Kecamatan Geureudong Pase. Tibanya rombongan dike tersebut pertanda perayaan maulid segera dimulai.

Para santri anggota group dike bergegas menempati tikar yang telah disediakan panitia acara maulid. Mereka duduk saling berhadapan membentuk dua barisan yang rapi. Syekh membuka dike dengan “saleum” dan diikuti seluruh santri, dilanjutkan “istighfar”, lalu “shalawat” kepada nabi.

Bersamaan dengan itu, semua masyarakat yang hadir di meunasah diminta berdiri dan ikut bershalawat bersama untuk mengenang kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Selesai itu mereka duduk kembali, lantunan dike dilanjutkan tentang riwayat perjuangan nabi saat menegakkan agama Allah, sehingga peringatan maulid larut dalam suasana khidmat.

Dike yang diiringi lingiek serentak seluruh santri terus berlanjut. Mereka membawakan syair “Balaghal Ula, Ashbuhu Bada, 12 Hari Rabiul Awal, Hadits Nabi, dan Kisah Aneuk Glueh” secara berurutan. Terakhir ditutup dengan do’a bersama.

Kemeriahan dike juga berlangsung di Desa Peudari. Masyarakat disana memeriahkan maulid dengan dike yang dibawakan group dike dari Dayah Nudi Paya Kambuek dan Dayah Darussalam.

Adapun susunan dala’e (dalail) dalam dike (zikir) adalah:

Saleum

Istighfar

Shalawat

Balaghal Ula

Riwayat nabi

Ashbuhu Bada

Kelahiran Nabi

12 hari Rabiul awal

Hadits Nabi

Kisah Aneuk Glueh

Do’a

“Durasi lantunan setiap setiap judul 15-20 menit dengan irama berbeda-beda,” ujar Teungku Husaini didampingi Teungku M. Kasim dari Dayah Nurul Islam.

Selesai dike, mereka menikmati kenduri maulid yang dihidangkan masyarakat Desa Dayah Seupeng dan Desa Peudari. (Safar Syuhada & Putra)

Lihat foto-fotonya

Baca Juga :

Menjenguk Sang Raja di Pulo Nasi

Krueng Keureuto, Riwayatmu Dulu

Peudada dan Sejarahnya yang tak Terduga