Peudada dan Sejarahnya yang tak Terduga

Pemandangan di sekitar daerah aliran Krueng Peudada diambil dari lokasi situs Jirat Meurhom Chik (Jirat Manyang), Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh. (Foto: CISAH)
Pemandangan di sekitar daerah aliran Krueng Peudada diambil dari lokasi situs Jirat Meurhom Chik (Jirat Manyang), Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh. (Foto: CISAH)
Kompleks makam Sultan Muhammad bin Sultan Mahmud Syah, wafat 912 H (Jirat Meurhom Muda) di Dusun Meurhom, Gampong Garot, Peudada, Bireuen. (Foto: CISAH)
Kompleks makam Sultan Muhammad bin Sultan Mahmud Syah, wafat 912 H (Jirat Meurhom Muda) di Dusun Meurhom, Gampong Garot, Peudada, Bireuen. (Foto: CISAH)

 

PELINTAS di jalan Sumatera, baik dari arah Banda Aceh menuju Medan maupun sebaliknya, dapat memastikan dirinya sedang berada di Peudada apabila telah tiba di sebuah jembatan panjang di atas batang air yang muaranya terlihat menganga ke laut Selat Melaka. Sungai yang di bagian hilirnya ini tampak selalu dipadati kapal-kapal penangkap ikan bercat warna-warni dijuluk dengan Krueng Peudada, dan merupakan sungai kedua terbesar dan terpanjang di Kabupaten Bireuen, Aceh, setelah Krueng Peusangan. Tak heran, jika sungai ini menjadi salah satu penanda geografis bagi wilayah kecamatan yang berada di bagian barat Kabupaten Bireuen.

Dalam pekan ketiga bulan ini (15/12/2013), tim peneliti dari CISAH, Lhokseumawe, kembali berkunjung ke Peudada. Sejak kunjungan pertama mereka di tahun 2008 silam, ada banyak tanda tanya yang belum terpecahkan menyangkut sejarah wilayah ini. Semua itu berpunca pada saat ditemukan sebuah kompleks makam kuno yang sebelumnya tidak pernah diduga akan dijumpai di tepi Krueng Peudada.

“Awalnya itu, kalau tidak salah ingat, penghujung 2008. Waktu itu, kami sedang melakukan peninjauan singkat ke beberapa wilayah barat pesisir utara Aceh untuk melacak hubungan wilayah-wilayah itu dengan Samudra Pasai,” tutur Taqiyuddin Muhammad, anggota tim penelitian, “Saat melintas di Peudada, terlihat ada pohon besar di sebuah bukit, dekat tikungan jalan yang sering disebut Simpang Maot, Gampong Garot. Di atas bukit seperti itu, biasanya, sering ditemukan makam-makam kuno. “Sekujur” pohon besar itu bergantungan kelelawar. Banyak sekali jumlahnya. Karena penasaran, kami akhirnya naik ke puncak bukit yang berdinding curam juga. Dan sesampai di atas, kami akhirnya menemukan apa yang sebenarnya memang sedang dicari.”

Sejauh ini, terang Taqiyuddin, keberadaan kompleks makam kuno yang dikenal warga setempat dengan Jirat Meurhom Muda itu tidak pernah disebutkan dalam tulisan-tulisan para pengkaji sejarah Aceh. “Sebelum penemuan kompleks makam ini, kami juga tidak pernah menyadari bahwa Krueng Peudada punya arti penting dari sisi sejarah.”

Berbeda dengan tetangganya, Kecamatan Jeumpa, yang memiliki legenda tentang Kerajaan Jeumpa, Peudada justru nyaris tak dengar riwayat masa lalunya. Wilayah yang sekarang terkenal sebagai penghasil kacang kuning (kedele) ini hanya disebut-sebut pernah menjadi pangkalan militer kolonial Belanda sekitar tahun 1900. Sebuah informasi berasal dari awal abad ke-20 juga menyebutkan tentang Kareung Broek (karang busuk) di tepi Krueng Peudada, suatu tempat berkumpul musafir yang hendak menuju ke Laut Tawar. Di Kareung Broek yang berlaku sebagai pintu rimba ini, orang-orang Gayo membayar pajak gading. Hanya itu saja. Informasi lain, apalagi tentang masa yang lebih kuno, tidak pernah tersiar.

Temuan kompleks makam kuno di Gampong Garot, Peudada, ini berhasil membalikkan keadaan. Dari sisi sejarahnya, Peudada, ternyata, tak seperti diduga. Sebuah lokasi di Dusun Meurhom, pada kelokan sungai yang tidak seberapa jauh dari muara, terbukti sebagai lokasi yang pernah didiami seorang sultan. Skop kekuasaan sultan dalam sejarah politik Islam adalah kawasan (regional), dan membawahi raja-raja. “Ini maknanya, Peudada pernah menjadi sebuah pusat pemerintahan Islam yang besar. Mungkin, masanya saja yang tidak begitu lama,” kata Taqiyuddin.

Peneliti yang berdomisili di Lhokseumawe ini juga menerangkan, di kompleks makam tersebut dijumpai makam-makam dengan batu nisan bertipologi Samudra Pasai. Dua makam di antaranya ditandai dengan batu-batu nisan bersurat. Dari inskripsi pada nisan-nisan tersebut diketahui, salah seorangnya adalah Sultan Muhammad bin Sultan Mahmud Syah. Ia meninggal dunia pada hari Senin, 22 Dzulqa’dah 912 hijriah (1507 masehi), dan sepekan kemudian pada Senin, 28 Dzulqa’dah, telah dimakamkan pula seorang bernama Sultan Muhammad Syah di Kompleks makam kesultanan Samudra Pasai periode III, di Meunasah Meucat, Blang Me, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. “Mengenai kesamaan nama dua sultan ini, kemudian kedekatan waktu meninggal keduanya, ini masih memerlukan pengkajian lebih lanjut, apakah keduanya orang yang sama atau bukan?”

Selain Sultan, di kompleks ini juga dimakamkan seorang ulama. Tarikh wafatnya malah lebih awal dari Sultan, pada 906 hijriah (1501 masehi). Pada batu nisannya disebutkan, “Inilah kubur seorang yang bijak lagi cerdas serta mulia, Tun (Tuan) Ahmad Al-Makkiy. Wafat pada Selasa, 23 bulan Muharram tahun 906 sejak hijrah Nabi yang terpilih.”

Data-data sejarah yang berhasil ditarik dari kedua makam ini, paling tidak, telah menunjukkan suatu sisi dari sejarah Peudada pada awal-awal abad ke-16. “Keberadaan sultan dan seorang ulama sudah cukup menjadi bukti kawasan itu penting, dan sudah tentu muara Krueng Peudada pernah menjadi dermaga yang penting pula,” tegas Taqiyuddin.

Bukit di mana kompleks Jirat Meurhom Muda ini berada merupakan permulaan deretan perbukitan yang menjurus ke selatan, sepenjulat tepi kiri Krueng Peudada. Di bentang perbukitan itu, menurut pengakuan seorang warga, juga pernah ditemukan beberapa kompleks makam lainnya. Salah satunya, kompleks makam yang disebut masyarakat setempat dengan Jirat Meurhom Chik atau Jirat Manyang. “Bagaimanapun, wilayah di sepanjang Krueng Peudada ini perlu diteliti dengan lebih saksama lagi sehingga kita dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat tentang masa lalunya,” ujar Taqiyuddin. (Tim misykah.com)