Ketika Profesor Tidur di Makam Sultan Pasai

Kisah Profesor Dato’ DR. Othman Yatim Menelusuri Batu Nisan Aceh

“Kita tak boleh terlalu banyak memberikan pembangunan fisik saja. Kita harus membangun juga spiritual kita, karena itu adalah tamadun kita. Kalau semua warisan ini hilang, mana ada bukti. Kita selalu mendakwakan kita mempunyai tamadun yang panjang, tapi mana buktinya.”Othman Yatim.

Othman yatim
Prof. Dato’ Othman Yatim didampingi Mizuar Mahdi dari misykah.com di Banda Aceh. (Foto: CISAH)

Guru besar pada University of Malaya ini tidak bisa jauh dari Aceh. Ia mengakrabi Aceh seolah tanah air kedua setelah negara asalnya, Malaysia. Terlahir di Kampung Teluk, Lumut, Perak, pada 1949, ia bernama lengkap Othman bin Mohd Yatim. Setelah memperoleh predikat Bacholor (BA) dari Unversity of Malaya dalam spesialisasi Sejarah Hubungan Internasional, pada 1974 ia bergabung dengan Museum Negara Malaysia. Pada 1977 dan 1982, ia dipilih Pemerintah Malaysia untuk dikirim ke Unversity of Durham di Inggris guna menyelesaikan program Magister dan Ph.D (Doctor of Philosophy) dalam bidangnya.

Di Malaysia, selain menjadi pensyarah pada University of Malaya, ia juga salah seorang pendiri Asosiasi Permuseuman Malaysia dan Asosiasi Arkheolog Malaysia. Sejumlah karya penting telah dihasilkannya baik berupa artikel maupun buku dalam bidang sejarah, terutama yang berkaitan dengan alam Melayu. Salah satu karya terkenalnya ialah “Batu Aceh: Early Islamic Gravestones in Peninsular Malaysia” yang tebit pada 1988.

Dalam kunjungannya ke Banda Aceh pada September silam, secara tak disangka-sangka kami berkesempatan untuk bertemu dan berbincang dengan Dato’ yang kepakarannya soal Batu Nisan Aceh sudah tak disangsikan lagi. Suatu hal yang pertama sekali memancing rasa simpatik yang mendalam adalah sikap rendah hatinya. Kelembutan tutur kata serta kedalaman ilmu dan keluasan pengalamannya menjadikan kami seolah sedang berada di hadapan seorang guru dan orang tua yang bijak. Ia benar-benar “payung” bagi orang-orang muda seperti dikatakannya.

Malam itu, Rabu, 25/9/2013, sekitar pukul 08.00 PM, di sebuah café Lampineung, Banda Aceh, Dato’ berkenan memaparkan kisah perjalanannya menelusuri Batu Nisan Aceh. Berikut rekaman kami.

Mencari Kepastian  

Masa di lapangan, saya temui dan definisikan Batu Nisan Aceh. Kenapa disebut Nisan Aceh? Itu yang mendorong saya membuat kajian. Saya ingin membuat kepastian, betulkah batu nisan ini berasal dari Aceh?

Tahun 1982 saya pergi ke Inggris, belajar disana setahun. Setelah itu saya datang lagi tahun 1983 (ke Aceh), dan saya melakukan fieldwork (kerja lapangan) di Banda Aceh. Semasa itu Pusat Dokumentasi Aceh masih ada, waktu itu Ibu Dinarmar masih gadis, belum kawin.

Jadi saya habiskan masa di situ, mengkaji budaya Aceh, prasasti Aceh, seni dan budayanya. Selepas itu saya pergi ke Samudra Pasai. Itulah ke Geudong, dan berkunjung ke semua tempat. Apa yang saya bukukan itu adalah hasil kajian saya yang mulanya merupakan karya ilmiah untuk meraih Ph.D.

Saya mendapat gelar Ph.D pada tahun 1985 dari Universitas Durham, Inggris, dan buku itu diterbitkan pada 1988, masih ditulis dalam bahasa Inggris.

Ada orang-orang yang mau terbitkan, tapi masalahnya pada mencari penerjemahnya. Tidak ada yang menerjemahkannya baik dalam bahasa Melayu-kah atau bahasa Indonesia-kah. Karena memang ada yang meminta supaya diterjemahkan.

Batu Aceh

Dalam buku itu, saya mengkatagorikan, setelah melihat-lihat jenis batu itu, saya membagikannya kriteria dari benda berangka tahun. Saya membagikan ke 14 tipe.

Jadi saya namakan tipe itu dengan nama saya: Othman tipe A,B,C,D sampai N. Tujuan saya, supaya selepas ini siapa saja yang menemui Batu Aceh itu dengan mudah dapat mengkatagorikan: tipe apa, ukuran berapa, dan tahun berapa.

Di dalam buku itu ada saya sebutkan, misalnya kalau jenis ini tahun berapa, abad ke berapa. Terutama untuk pengkaji-pengkaji, termasuk di Eropa menganggap suatu sumbangan kajianlah, dan selepas itu, sampai sekarang masih digunakan. Walaupun ada, tak tahulah orang-orang Barat ini, orang Prancis ada juga yang menafikan, ada jenis-jenis tidak termasuk dalam tipe yang saya sebutkan, tapi yang mereka buat itu cuma variasi sedikit perbedaan. Tetapi masih tetap termasuk ke dalam apa yang saya terangkan juga.

Berharap dapat Mimpi di Kuburan

Saya sampai jatuh sakit di Lhokseumawe, tahun 1983, sebab keletihan. Kita tidur tak tentu masa (tidak teratur-red), lebih-lebih kita ke kuburan. Kalau orang Melayu percaya kalau kubur itu “keras”, ada penunggunya. Tapi saya dan rekan saya, arwahnya Halim (Almarhum Abdul Halim Nasir—red), kadang-kadang tidur di makam dengan harapan dapat mimpi siapa yang dikebumikan di bawah situ. Tapi jarang, tak dapatlah, tak bakal tahu, saya cuma ingin merasakan sajalah.

Menantikan Suatu Continuity

Selepas itulah saya balik ke Inggris menulis, dan selesai penulisan pada tahun 1985. Sekitar tiga tahun saya membuat riset dan analisis. Kalau lihat buku saya itu, saya bagikan kepada beberapa bagian dekorasinya, inti-intinya apa. Tapi tidaklah selengkap yang Saudara-saudara buat, termasuk itu bercampur terlalu luas. Jadi, memadailah untuk sumbangan awal. Apa yang Saudara buat itu sudah detail, dan saya anggap itu adalah suatu sambungan. Sambungan terhadap usaha yang telah saya buat yang tidak seberapanya.

Dan dalam ceramah tadi saya sampaikan, buku saya itu ditulis sebelum tsunami, maka saya ingin tahu juga, apa yang akan terjadi selepas tsunami. Jadi, rupanya sudah ada penulisan-penulisan detail seperti ini (sambil memperhatikan Booklet CISAH: “Tinggalan Sejarah Samudra Pasai”—red). Sudah bagus. Saya berminat kalau dapat diterbitkan ya. Sudah ada suatu continuity. Apa yang saya buat sebelum tsunami, dan apa yang Anda semua lakukan selepas tsunami. Jadi sudah lengkap bagian itu kan.

Itulah, saya sangat berminat kalau diusahakan penerbitannya. Mungkin, kalau di sini tidak bisa, dapat diusahakan di Malaysia. Saya ajukan draft-nya dulu. Jadi, kita akan jejal ke beberapa counter penerbit. Tapi, kalau kita mau menjual itu kita harus punya bahan yang perlu untuk promosi itu.

Rekan-rekan di Aceh

Penelitian saya disponsor oleh Kerajaan Malaysia. Masa itu saya bertugas jabatan kerja negara. Dana powership saya dibiayai oleh Kerajaan Malaysia. Jadi, saya pulang buat riset itu saya dapat bantuan daripada Asia Foundation, dari Singapura. Itu kita buat risetlah sedikit. Memanglah, kalau kita buat Ph.D di luar negri itu disyaratkan kita mesti  pulang, mencari bahan. Jadi, kita pulang ke Aceh melihat itu.

Saya teringat masa saya sakit di Lhokseumawe, saya bertemu seorang dokter wanita. Cantik sekali. Katanya, obat yang mujarab adalah air kelapa. Jadi, kalau kita lelah, muntah-muntah, demam, ya air kelapa muda yang paling mujarab, dan saya minum air kelapa muda selama beberapa kali, akhirnya sembuh.

Rekan saya dalam membuat penelitian itu adalah Pak Nurdin di Museum dengan Pak Zakaria Ahmad, kepala Museum pada masa itu.

Mereka juga berminat. Kemudian, mereka datang ke Malaysia dan saya bawa ke beberapa tempat, dan menginap di rumah saya di Kuala Lumpur. Hubungan itulah sejak 1983 keterusan hingga sekarang. Baru-baru ini, saya ke rumah Pak Zakaria, lihat dia sudah agak uzur.

Bisa jadi seronoklah bagi kita membuat penelitian itu, terutama orang muda-mudalah seperti Anda semua. Bagi saya, masa itu sudah berlalulah, sudah halangan tenaga, halangan masa, pegang jabatan, tidak bisa meninggalkan kantor lama-lama ‘kan.

Payung Orang-orang Muda

Ada satu sistem yang kita buat di tempat saya bertugas itu di UM (University of Malaya—red): yang orang-orang tua macam saya ini kita panggil “payung”. Di bawah “payung” ini, ada orang muda-muda yang menjalankan riset. Kami memayunginya, memberi nasehat, apa-apa yang patut.

Jadi untuk riset ini kita mesti ada minat, kalau tidak ada minat mungkin susahlah. Karena berhari-hari duduk di lapangan, meninggalkan rumah dan sebagainya. Tapi hasilnya cukup lumayan. Macam buku saya itu, kalau di Indonesia ini dalam arkeologi, buku saya itu menjadi rujukan di Gadjah Mada (Universitas Gajah Mada, Jogyakarta—red). Saya cukup banggalah, buah pikir saya itu dapat sambutan. Macam Saudara-saudara yang muda ini punya pendidikan agama, bisa membaca cerita-cerita, jadi suatu keistimewaan dan faedah.

Saya nasehatkan, cepat-cepat publish, cepat-cepat terbit. Kerena itu maknanya telah menjadi hak kita, jangan jatuh kepada orang lain yang akan mengambil kesempatan dari usaha yang kita buat. Dia cuma tampalkan namanya saja ‘kan. Tambah pula dengan orang Inggris, orang Barat itu kan, kita jangan percaya apa kata dia kan, sebenarnya hasil kerja siapa.

Dari itulah saya katakan, terbit dulu. Macam Teungku Taqiyuddin, hasil kajiannya harus dipatenkan.

Jadi saya ucapkan, teruskanlah usaha baik Anda, semua untuk memelihara warisan kita kan. Jangan sampai hilang pembangunan ini. Kita tak boleh terlalu banyak memberikan pembangunan fisik saja, kita harus membangun juga spiritual kita, karena itu adalah tamadun kita. Kalau semua warisan ini hilang, mana bukti? Kita selalu mendakwakan kita mempunyai tamadun yang panjang, tapi mana buktinya.

Saudara–saudara semua telah berusaha untuk melestarikan warisan. Itu suatu usaha yang baik, walaupun mungkin untuk masa ini kurang mendapat sambutan. Tapi, kalau benar caranya, benar kaedahnya akan mendapat sambutan pada suatu hari. Orang-orang yang di atas itu saya rasa perlu disadarkan. Jadi tak jemu-jemulah mengaitkan warisan ini menjadi tamadun tinggi. Rajin-rajinlah menulis di koran dan sebagainya.

Kalau orang Melayu katakan, “Belakang parang, kalau berhari-hari diasah akan menjadi tajam. Orang yang tuli, kalau selalu dibisik-bisikkan dia akan dengar baik.”  Itulah lebih kurang nasehat saya. (Mawardi Ismail, Sukarna Putra, Mizuar Mahdi)