Segurat Sejarah Pelabuhan Lada di Julok Aceh Timur

CoverJulok MapsADANYA sebuah lokasi yang disebut Teupin Lada di Gampong Labohan, Kecamatan Julok, Aceh Timur, dapat saja menandakan adanya sebuah pelabuhan untuk pengangkutan lada di zaman dulu. Abdul Jalil, 60, bilal Masjid At-Taqwa, Labohan, memberitahukan nama lokasi tersebut ketika ditanyai mengenai asal-usul nama Labohan—terletak di sebuah aliran sungai bermuara ke Kuala Geuleumpang dalam wilayah Kecamatan Julok.

Labohan merupakan gampong sekaligus pusat kemukiman yang berada di sebelah barat Keude Kuta Binjai, ibukota Kecamatan Julok, hari ini. Kendati Labohan, sekarang,  terlihat sepi, namun tidak tertutup kemungkinan ia merupakan awal sejarah dari salah satu wilayah di pesisir timur Aceh ini. Dilihat dari sisi toponiminya, Labohan, boleh jadi, merupakan salah satu bekas daerah pelabuhan yang terletak antara Tamiang dan Diamond Point, pada masa dulunya.

“Makanya di sini ada sebuah tepian sungai disebut dengan Teupin Lada,” ujar Abdul Jalil kepada misykah.com yang berkunjung ke sana pada Ahad, 23/2/2014.

Teungku Mahdi, khatib Masjid At-Taqwa, Labohan, juga memberikan keterangan bahwa di Labohan, dulunya, terdapat sebuah bangunan Mesjid Tuha (masjid tua). Lokasi letaknya sampai sekarang masih disebut dengan Pulo Mesjid. “Tetapi, Mesjid tuha itu kemudian dipindahkan ke gampong lain, dan terakhir dirobohkan, diganti dengan bangunan baru,” ungkap Mahdi yang juga seorang guru pada sekolah dasar di Kuta Binjai.

Bukti lain Labohan pernah menjadi pusat wilayah Julok, lantaran dijumpai sebuah pemakaman milik keluarga uleebalang (hulubalang) Julok dalam pekarangan Meunasah Gampong Labohan. Pada nisan salah satu makam terdapat epitaf dengan bahasa Jawiy yang menyebutkan:  Teungku Raja Hitam bin Teungku Bentara Cut Lambita (?) Julo’ Besar yang telah kembali ke rahmatullah pada hari Kamis 7 Syawwal 1320 (1902).

Nisan makam teungku raja itam sebelah utara
Nisan makam Teungku Raja Htam di Gampong Labohan, Julok, Aceh Timur.

Menurut Abdul Jalil, makam ini dikenal dengan kubu Teungku Syahid. Mungkin, karena Teungku Raja Hitam telah meninggal dunia dalam peperangan melawan kolonial Belanda di permulaan abad ke-20. Abdul Jalil juga mengakui, keterangan lebih lengkap mengenai Teungku Syahid memang sulit didapatkan. Lagi pula, ahli waris uleebalang ini sudah banyak yang tinggal di luar gampong malah di luar daerah. Dan setahunya, tidak ada saraykata (surat dari istana sultan) yang tersimpan di Gampong Labohan.

Selain kompleks makam, dalam pekarangan Meunasah juga terdapat sebuah bangunan masjid tua yang tampak tidak terurus lagi; dinding-dindingnya yang terbuat dari kayu terlihat banyak yang lapuk. Menurut Mahdi, bangunan masjid ini dibangun setelah Masjid Tuha, sekitar tahun-tahun permulaan abad ke-20. “Besar saya, Masjid ini sudah ada,” tambah Abdul Jalil pula.

Keberadaan Labohan sejak abad ke-19 memang tidak disangsikan lagi. Perannya sebagai pusat wilayah Julok (Julo’) Besar sebagai dimuat pada epitaf juga didukung bukti. Kedudukannya di masa lampau tak ubahnya Keudee Kuta Binjai hari ini. Dalam masa memuncaknya perdagangan lada pada abad-abad sebelum ke-20, Julok yang beribukota di Labohan diperkirakan adalah salah satu wilayah penghasil lada yang utama di pantai timur Aceh.

Namun masa sejarahnya tidak berhenti pada kedalaman waktu sekitar abad ke-19 saja. Julok ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih dalam dari masa tersebut. Kenyataan ini berhasil disingkap lembaga penelitian Center for Information of Samudra Pasai Heritage (CISAH), Lhokseumawe, dalam peninjauannya ke wilayah Kecamatan Julok pada Ahad yang sama.

“Beberapa waktu lalu, Abdul Aziz, warga Gampong Hagu, Lhokseumawe, yang mempunyai keluarga angkat di Julok, telah melaporkan keberadaan nisan-nisan makam bercorak Samudra Pasai di Gampong Ulee Ateung. Laporan itu kemudian kami tindaklanjuti dengan melakukan sebuah peninjauan singkat ke wilayah Julok,” tutur Khairul Syuhada, Koordinator Bidang Ekspedisi dan Data pada CISAH.

Diketahui kemudian bahwa aliran sungai yang menumpahkan airnya ke Kuala Geulumpang di pesisir Kecamatan Julok, merupakan jalur air yang menghubungkan beberapa gampong di tepi kanan sungai, sejak Labohan, Julok Tunong, Manerampak, Ulee Ateung sampai Buket Siraja. Di Manerampak, tidak jauh dari aliran sungai, ditemukan batu nisan yang diyakini sebagai sisa pemukiman dari zaman Samudra Pasai. Kata Khairul, ini sudah menjadi pertanda awal akan adanya sebuah masyarakat yang hidup di tepi sungai Julok sejak periode Samudra Pasai (abad ke-13 sampai ke-16). “Bagi kami, ini suatu hal baru. Karena sebelumnya, tidak pernah ada informasi tentang pemukiman sekuno ini di Julok,” terang Khairul lagi.

Mengikuti arah aliran sungai, ke selatan lalu berbelok ke tenggara, bentang lahan mulai tampak meninggi sampai dengan perbukitan Buket Siraja. Perbedaan topografi ini tampaknya telah menjadi pembatas geografis antara Manerampak dan Ulee Ateung (Ulee Ateung: permulaan pematang). Di Ulee Ateung inilah dijumpai sebuah kompleks makam kuno yang dilaporkan Abdul Aziz beberapa waktu lalu.

Makam-makam dari periode Samudra Pasai berada di sebidang tanah di atas bukit, yang sudah dijadikan perkuburan umum oleh masyarakat setempat. Tanah bukit di sekitar lokasi perkuburan tampak sudah dikeruk dan diratakan. Menurut sumber setempat, di lokasi itu rencananya akan dibangun kompleks perumahan. Sumber tersebut juga mengatakan, banyak makam peninggalan sejarah yang ikut tergulung bersama tanah saat pengerukan dilakukan.

Satu makam di antaranya masih utuh dan sangat khusus, beda dengan lainnya. Pada kedua nisannya terdapat inskripsi, serta dekorasi yang menawan. Kaligrafinya pun tergolong unik. Semuanya mengesankan adanya suatu pengaruh kebudayaan lokal. Namun, kata Khairul, sejauh ini pihaknya belum dapat memperkirakan adanya kebudayaan lokal yang berkembang di Julok sebelum masa Samudra Pasai.

“Sebaliknya, untuk sementara ini kami hanya bisa menduga bahwa pemukiman kuno di Julok ini baru berdiri sejak zaman Samudra Pasai. Mereka yang bermukim di sini adalah orang-orang yang datang dari wilayah Samudra Pasai untuk membuka daerah baru. Mereka, mungkin, hanya menghuni wilayah dari Labohan sampai dengan Buket Siraja saja. Mereka membuka lahan persawahan di sini, dan jika kita perhatikan daerah perbukitan, maka bisa juga diduga tanaman lada sudah mulai dibudidayakan sejak waktu itu,” jelas Khairul seusai peninjauan awal tersebut.

Gampong berikutnya di tepi kanan sungai Julok, setelah Ulee Ateung, adalah Buket Siraja. Toponimi gampong ini sangat menarik. Adakah raja yang telah berkuasa di sini di zaman dulu? Suatu hal yang memang tidak mustahil, tapi tinggalan sejarah yang berhasil diketemukan di gampong ini masih sangat minim. Adanya suatu pemukiman kuno dari zaman Samudra Pasai memang sudah dapat dideteksi, tapi tentang keberadaan penguasanya serta bagaimana sosial-kebudayaan yang terbentuk di daerah ini, masih perlu penyelidikan panjang.

Inskripsi nisan makam di Gampong Ulee Ateung.

1A
1A

أ.

1. لا إله إلا الله محمد رسول الله

2. كل من عليها فان

3. ويبقى وجه ربك

4. ذو الجلال والإ

5. كرام ألا إن لله

6. ما في السموات وما في [الأرض]

Terjemahan 1A: 1. Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah; 2. Segala sesuatu yang berada di atas muka bumi pasti musnah; 3. Dan kekallah Dzat Tuhanmu; 4. Yang memiliki kebesaran dan; 5. kemuliaan. Ingatlah, sesungguhnya bagi Allah; 6. Segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di [bumi].

 

1B
1B

ب.

1. لا إله إلا الله محمد رسول الله

Terjemahan 1B: 1. Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.

 

 

 

 

 

 

 

1C
1C

ج. (زخرفة الإطارات)

 1C. (Hiasan pinggir).

 

 

 

 

 

 

 

 

1D
1D

د.

1. إن الله على كل شيء قدير

Terjemahan 1D: 1. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

 

 

 

 

 

 

2A
2A

أ. (زخرفة الإطارات)

 2A. (Hiasan pinggir).

 

 

 

 

 

 

 

 

2B
2B

ب.

1. اللهم بك لعافية (؟)

Terjemahan 2B: 1. Ya Allah, denganmu untuk keafiatan (?);

 

 

 

 

 

 

 

2C
2C

ج.

1. صبر جميل (؟)

2. الله يوفي أجره

3. لا حول ولا قوة إلا

4. بالله العلي العظـ (كذا)

5. العظيم ما شاء الله

6. كان و ما لم يشاء لم يكن

Terjemahan 2C: 1. Sabar yang indah (?); 2. Allah meyempurnakan balasannya (?); 3. Tiada daya dan kekuatan melainkan; 4. Dengan Allah Yang Maha Tinggi; 5. Lagi Maha Agung.  Segala sesuatu yang Allah kehendaki; 6. pasti terjadi, dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan pernah terjadi.

 

2D
2D

د.

1. إن الله على كل شيء قدير

Terjemahan 2D: 1. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

 

 

 

 

 

 

Inskripsi 1.A. 2-5 adalah firman Allah dalam surah Ar-Rahman ayat: 26-27. Inskripsi pada baris 5-6,  barangkali, dipetik dari surah Yunus ayat: 55, yang maksudnya: “Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya).”

Ayat-ayat serta kalimat-kalimat yang terpahat pada nisan almarhum, yang tidak disebutkan namanya ini, seperti ditujukan untuk penyabaran (ta’aziy) terhadap suatu kemalangan atau musibah. Almarhum tampaknya seorang yang dihormati dan dicintai. Kepulangannya ke rahmatullah menyebabkan duka sehingga dirasa perlu untuk mengingatkan setiap orang yang berziarah ke makamnya bahwa segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi (yakni, kematian almarhum), dan yang tidak dikehendakinya, sama sekali tidak akan terjadi (yakni, keabadian almarhum).

Amatan misykah.com, kubur almahum persis berada di tepi bagian bukit yang belum dikeruk. Sebelah utara dan barat kubur sudah dikeruk sehingga kubur almarhum terlihat seperti berada di pinggir tebing. Kabarnya, pengerukan dihentikan sampai batas kubur itu, tapi tidak diketahui  penyebab pasti penghentian pengerukan! Syukur, kubur peninggalan sejarah tersebut masih utuh dan masih dapat disaksikan.

“Pemda Kabupaten Aceh Timur, kami harap, dapat melestarikannya sebagai salah satu warisan budaya dan sejarah yang penting,” kata Khairul Syuhada. (Tim misykah.com)

 

Lihat foto-foto lainnya:

Majid tua di Gampong Labohan, Julok, Aceh Timur.
Majid tua di Gampong Labohan, Julok, Aceh Timur.
Kompleks makam dari zaman Samudra Pasai di Gampong Ulee Ateung, Julok, Aceh Timur.
Kompleks makam dari zaman Samudra Pasai di Gampong Ulee Ateung, Julok, Aceh Timur.
Kompleks makam keluarga Ulee Balang Julok Besar  di Gampong Labohan, Julok, Aceh Timur.
Kompleks makam keluarga Ulee Balang Julok Besar di Gampong Labohan, Julok, Aceh Timur.
Kuala Geulumpang, muara sungai Julok, di Aceh Timur.
Kuala Geulumpang, muara sungai Julok, di Aceh Timur.
Kompleks makam dari zaman Samudra Pasai di Gampong Mane Ramphak, Julok, Aceh Timur.
Kompleks makam dari zaman Samudra Pasai di Gampong Mane Ramphak, Julok, Aceh Timur.