Sejarah Masuknya Islam ke Papua

Sejarah Masuknya Islam ke Papua

Oleh : Ade Yamin

islam-papua

Proses masuk dan menyebarnya islam di papua sampai saat ini masih menimbulkan beberapa kerancuan dan polemic, untuk mengurai keruwetan yang menyelimuti sejarah tersebut tentu memerlukan penelitian  yang mendalam dan sangat komprehensif. Beberapa peneliti sebelumnya telah berusaha menjelaskan bagaimana Islam masuk sampai ke Papua, Kasibi, Surwiyadi dalam sebuah makalahnya mengungkapkan.

Penjelasan Suwiryadi memberikan gambaran kira-kira bagaimana Islam dapat tersebar di Papua, melalui berbagai jalur dan model penyebaran, baik melalui jalur perdagangan ataupun jalan akulturasi, meskipun pernyataan Kasibi ini tidak didukung oleh data yang valid. Lebih lanjut mengenai masuknya Islam di Papua, Ali Athwa (2004) mengungkapkan hal yang sama, bahwa Islam masuk di Papua tidak terlepas dari hubungan Papua dengan daerah lain di Indonesia, selain faktor kekuasaan kerajaan Majapahit, diyakini masuknya Islam ke Papua melalui Maluku, di mana pada masa itu terdapat kerajaan Islam berpengaruh di kawasan Indonesia Timur yaitu Kerajaan Bacan, bahkan keberadaan Islam Bacan di Maluku sejak tahun 1520 M telah menguasai beberapa daerah di Papua, pada abad XVI telah tercatat dalam sejarah. Sejumlah daerah seperti Waigeo, Misool, Waigama dan Salawati pada abad tersebut telah mendapat pengaruh dari ajaran Islam, melalui pengaruh sultan Bacan inilah, maka sejumlah pemuka masyarakat di pulau-pulau tadi memeluk Islam, khususnya di wilayah pesisir. Thomas Arnold dalam Athwa (2004) mengungkapkan bahwa beberapa suku Papua di pulau Gebi antara Waigeo dan Halmahera telah diIslamkan oleh kaum pendatang dari Maluku.

 Di Irian sendiri, hanya sedikit penduduk yang memeluk Islam, anbbbgama ini pertamakali dibawa masuk ke pesisir barat (mungkin Semenanjung Onin) oleh para pedagang muslim yang berusaha sambil berdakwah di kalangan penduduk, dan itu terjadi sejak tahun 1606. Tetapi nampaknya kemajuan berjalan sangat lambat selama berabad-abad kemudian… (Athwa, 2004: 44)

Wanggai (2007) juga menyatakan hal yang sama, masuknya Islam ke Papua berasal dari Kesultanan Bacan. Meskipun dalam menelusuri jejak sejarah tersebut, Wanggai kemudian mengklasifikasi sejarah tersebut dengan 7 versi, yaitu versi Papua, versi Aceh, versi Arab, versi Jawa, versi Banda, versi Bacan serta versi Ternate dan Tidore, yang memiliki keunikan masing masing. Masih menurut penelitian Wanggai, Islam menyebar menggunakan saluran perdagangan, sosio-kultural, perkawinan, politik dan pendidikan. (Wanggai 2004:51-87).

Onim (2006) membuat kesimpulan yang berbeda dengan pendapat Wanggai dan Athwa, Onim mengemukakan bahwa Islam sesungguhnya baru ada di daerah ini (Papua) pada abad ke 17, tetapi belum nampak pengaruhnya dimana-mana. Patut dicatat bahwa dalam peta penyebaran Islam dunia walaupun Papua tidak disebutkan atau dicantumkan, tapi dalam kenyataan Kampung Kayu Merah dan Lakahia yang terletak di Distrik Teluk Etna merupakan kampung-kampung Islam paling akhir dalam alur penyebaran Islam dunia yang berhenti di Papua (Onim 2006: 95-96)

Berdasarkan berbagai kesimpulan di atas, tampaknya memang tidak jelas siapa sebenarnya yang membawa Islam pertama kali di Papua, namun dapat dijumpai nama orang yang dapat dianggap pembawa agama ini ke Papua, yaitu Syekh Abdurrauf yang merupakan putra ke 27 dari Waliyullah Syekh Abdul Qadir Jaelani dari kerajaan Samudra Pasai, mengutus Tuan Syekh Iskandar Syah untuk melakukan perjalanan dakwah ke Nuu War (Papua) sekitar abad XIII, tepatnya 17 Juli 1224 (Wanggai 2006: 54-55). Meskipun dapat dijumpai siapakah orang, atau kapan Islam sampai ke Papua berdasarkan penelitian Wanggai, yang menarik justru pernyataan dari Onim, Ia menegaskan bahwa batas akhir penyebaran Islam adalah di Fak-Fak, namun nampaknya pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena masih terdapat satu tempat di Papua setelah abad XXI baru bersentuhan dengan Islam, yaitu di wilayah Pegunungan Tengah Papua, di Wamena.

Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan, tidak ada satupun peneliti yang menjelaskan bagaimana proses Islam sampai ke jantung Pulau Papua di Pegunungan Tengah. Penelusuran jejak masuknya Islam di Pegunungan Tengah, tentu bukan pekerjaan mudah, karena resistensi dari masyarakat Dani sangat tinggi. Dari berbagai upaya yang telah dilakukan, nampaknya keterbukaan adalah hal yang sulit untuk didapatkan, namun dengan berbagai pendekatan dan penjelasan yang dilakukan, beberapa informan akhirnya mau menjelaskan dan menceritakan proses masuknya Islam di Wamena.

Penulis Adalah Dosen STAIN – Al Fatah, Jaya Pura
Sumber : etnohistori.org